In Memories

In Memories
part 128



Tangan Lena yang dingin karena gugup saat dalam genggaman tangan Bara membuat dirinya menjadi salah tingkah apalagi kini Bara tengah menatap dirinya dengan intens. Jantungnya seakan berhenti berdetak, perasaan kesal pada pria yang tadi sempat ia umpat dalam hatinya berubah drastis, kini hanya rasa bahagia yang melingkupi hatinya.


"Bagaimana apa kau mau menerimaku? tanya Bara sekali lagi ia mengulang pertanyaan yang sama karena Lena yang tak kunjung memberi jawaban.


"Apa jawaban yang kau inginkan?" Lena malah balik bertanya pada Bara.


"Tinggal jawab ya kenapa harus berputar membalikan pertanyaan."


"Kau ini, selalu membuat moodku hancur. Apa kau tak sadar jika pernyataan cintamu sungguh aneh?" Lena pun mengerucutkan bibirnya dan melepaskan tangannya yang ada di genggaman tangan Bara, tapi dengan cepat Bara menarik kembali tangan Lena ke dalam genggamannya.


"Ah baiklah aku minta maaf aku yang salah, jadi intinya kau menerimaku kan?"


"Kau sudah menjawabnya sendiri."


"Oh begitu ya." Bara pun tersenyum mengingat betapa absurdnya pernyataan cinta mereka.


Jika di ingat saat pertama kali mereka bertemu memang keduanya selalu terjebak dalam situasi yang absurd. Dan sekarang pernyataan cinta keduanya pun terjadi begitu saja tak seperti kebanyakan pasangan lainnya, yang sengaja membuat moment indah agar tak mudah di lupakan.


Gue dari dulu berharap jika nanti akan ada hari dimana gue akan di lamar dengan begitu romantisnya, seperti drakor yang sering gue liat, tapi ternyata ekspektasi gue ketinggian. Ah sudahlah terima nasib saja.


"Kenapa denganmu? apa kau terpaksa menerimaku?"


"Tidak, apa kau tak pernah menonton drama atau sinetron mungkin?"


"Buat apa, aku tidak suka acara seperti itu."


"Oh pantas saja, aku sarankan sekali - kali kau harus menontonnya."


"Untuk apa?"


"Untuk referensi hidup kita ke depannya." Lena merasa kesal dengan semua jawaban Bara, ia memutar bola matanya jengah.


"Oh akan ku coba nanti." Ucap Bara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa tidak peka dengan apa yang di maksud oleh Lena.


Akhirnya tunangan rasa asing itu sudah berganti menjadi satu rasa yang sama, mereka yang kini tengah mulai mengenal lebih dekat lagi calon pasangan hidup yang akan saling menemani saat suka dan duka nantinya. Semoga apa yang menjadi harapan mereka akan gambaran hidup ke depannya bisa satu irama tanpa adanya perdebatan yang selau hadir di antara keduanya.


***


Esok harinya merupakan hari libur, itu berarti Aditya berada di apartemennya meskipun setelah kembali dari rumah sakit ia tetap bekerja seperti biasanya hanya saja kini dirinya tak pernah membawa mobil sendiri tapi Ziana lah yang selalu mengantar jemput dirinya selama Aditya dalam proses pengobatannya.


Ting,,Tong


Suara bell berbunyi di apartemen Aditya, dengan segera Ziana berlari ke arah pintu depan untuk membuka pintunya karena ia yakin yang datang kali ini adalah mertuanya.


Ziana menekan handle pintu dan menariknya untuk membuka pintu. Dugaannya benar karena kini di depan matanya berdiri kedua mertuanya yang memandangnya dengan mata berkaca - kaca dan langsung memeluknya erat.


"Tahan emosinya ya Mom, bersikaplah seperti semuanya baik - baik saja." Ziana berbisik di saat Mom Irene memeluknya.


"Baiklah." Mom Irene pun mengurai pelukannya, kemudian Ziana pun mencium tangannya dan bergantian ia pun mencium tangan Dad Gamma yang tampak tenang.


"Sebaiknya kita masuk, Kak Ditya sedang menonton televisi. Tolong bantu aku Mom dan Dad." Ziana tampak memohon dengan mata yang mengiba agar semuanya berjalan seperti sebelumnya.


Mom dan Dad hanya mengangguk sebagai jawabannya, mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam apartemen. Di lihatnya Ditya yang masih tampak fokus pada televisi, ia masih belum menyadari jika mereka tengah berjalan ke arahnya.


Mom Irene berdiri diam mematung saat melihat putra yang dari dua hari yang lalu ia tangisi, kini melihatnya secara langsung membuat ia kembali lemah, rasanya ia ingin memeluk putranya dan menangis di hadapannya. Dad Gamma dengan cepat menggengam tangan Mom Irene dan menatapnya, ia menggelengkan kepalanya memberi kode pada Mom Irene agar tak menumpahkan tangisannya.


Mom Irene pun mengangguk dan mengatur nafasnya kemudian ia menghampiri Aditya dan menjewer kupingnya seperti biasa.


"Aw sakit." Aditya pun melihat siapa orang yang berani menjewer kupingnya.


"Mom." Ia terlonjak kaget dari duduknya melihat kedatangan ke dua orang tuanya.


"Kenapa kau kaget melihat kedatangan Mom dan Dad? dasar anak nakal setelah menikah kau bahkan tak pernah menghubungi kami, apa kau sudah lupa jika kau masih mempunyai orang tua?" Mom Irene menyilangkan ke dua tangannya di depan dada, ia bersikap seolah kesal terhadap putranya itu.


"Maaf Mom dan Dad aku sibuk akhir - akhir ini, jangan marah ya." Aditya memeluk Mom Irene dengan harapan Mommynya itu tak jadi marah padanya.


Jangan seperti ini putraku, Mom sudah tak tahan lagi air mata ini tak pernah kering menangisimu. Kau bahkan tak ingin membagi bebanmu dengan kami.


"Apa ini sebuah rayuan?" tanya Mom Irene.


"Ya ini rayuanku untukmu Mom." Aditya tersenyum lalu ia menghampiri Daddynya dan memeluknya erat. Pelukan hangat dari kedua orang tuanya merupakan sentuhan hangat yang saat ini di butuhkan Aditya agar ia bisa kuat menjalani hari esok.


*Sungguh aku merindukan kalian Mom, Dad. Kalian adalah penyemangatku setelah istriku.


Putraku, kau harus kuat berjuanglah untuk kita di sini, setidaknya sekarang kami akan selalu berada di dekatmu. Kau tak sendirian lagi*.


Anak dan Daddy yang saling berpelukan dan saling bermonolog dalam hati mereka masing - masing. Sungguh untuk bisa baik - baik saja saat keadaan tidak baik - baik saja itu sulit. Tapi semuanya harus tetap bisa mengendalikan diri agar Aditya tetap tenang dan tak memikirkan hal lain yang akan menjadi beban pikrannya bertambah.


"Bagaimana kabarmu dan menantuku?" Tanya Dad Gamma yang kini sudah mengurai pelukannya dengan Aditya.


"Kabar kami baik." ucap Aditya yang kini menggenggam tangan Ziana erat seolah sedang mencari kekuatan pada istrinya. Ziana melihat genggaman tangannya dan menatap Aditya yang tengah tersenyum seolah tak ada yang terjadi.


"Apa yang Mom bawa?" Aditya menunjuk dengan dagunya beberapa papper bag yang teronggok di lantai karena lupa Ziana pun langsung menganggkatnya.


"Masakan Bi Mar, makanan kesukaanmu semua. Saat Mom mengatakan jika akan mengunjungimu, Bi Mar langsung memasak untukmu." Mom Irene pun segera membantu Ziana menuju dapur untuk segera menatanya di meja makan.


"Wah sudah lama aku tak makan masakannya, bagaimana kabar Bi Mar?"


"Baik, sesekali menginaplah di masion jika perlu kalian pindah ke sana."


"Nanti jika ada waktu kami akan menginap di mansion." Jawab Aditya.


"Sayang bujuklah agar ia mau tinggal di mansion karena kami juga akan tinggal di sana lagi." Bisik Mom Irene pada Ziana yang masih sibuk menata hidangan.


"Baiklah Mom nanti aku akan coba membujuknya." jawab Ziana.