
"Selamat ya lo sekarang udah jadi model di perusahaan ini, nggak nyangka sekarang kita malah jadi partner." Ucap Evan setelah mereka keluar dari ruangan Pak Heri.
Ziana memutuskan untuk menerima tawaran pekerjaan tersebut karena memang tak mengganggu jadwal kuliahnya, ia bisa melakukan pekerjaan jika memang telah selesai jam kuliah jadi jadwal bisa di atur sebelum pemotretan di mulai.
"Makasih ya, tadinya gue nggak begitu ngerti tapi untung ada lo." Jawab Ziana tersenyum.
Mereka terus melangkahkan kaki keluar dari gedung perusahaan yang telah resmi menjadi tempat kerjanya.
"Lo tadi naik apa?" tanya Evan ketika mereka telah ada di luar gedung.
"Taksi." jawab Ziana.
"Ya udah gue antar pulang aja ya, nggak ada penolakan." Evan menggandeng tangan Ziana menuju tempat parkir sebelum Ziana menjawabnya.
"Tapi Van gue di jemput Adik gue, kasian ntar dia kesini gue nggak ada, dia udah di jalan." Bohong Ziana.
"Emang Adik lo nggak sekolah?"
"Ini kan udah jam pulang Van." ajawab Ziana dengan melihat jam di ponselnya.
"Hmmm oke kalau gitu tapi lain kali nggak ada lagi alasan ya." Evan tersenyum ia merasa bahwa Ziana memang seperti menghindarinya.
"Apa sih Van kan kebetulan tiap lo ngajak gue udah janjian." elak Ziana yang tak berani menatap mata Evan yang kini tengah menatapnya.
"Yakin? baiklah kali ini gue menyerah." Ia mengangkat kedua tangannya.
"Dih apa sih lo Van kayak lagi di todong musuh aja tau nggak lo."
"Ya udah gue balik duluan ya, bentar lagi Adik lo dateng kan?"
"Iya bentar lagi paling, oke lo hati - hati di jalan ya." Ziana mengangguk tersenyum melambaikan tangan nya pada Evan.
"Oke, lo juga hati - hati ya. bye." Evan pun menaiki motor besarnya kemudian berlalu pergi.
"Sorry Van gue nggak mau ada kesalah pahaman nanti apalagi kalau sampai Kak Ditya tau." gumam Ziana.
Setelah itu ia pun melangkah menuju ke arah depan gedung untuk mencari taksi. Dan saat ia tengah berdiri mencari taksi ponsel di dalam tasnya bergetar.
Drrrt...drrrrt
"Dimana kamu?" tanya seseorang di sebrang sana.
"Aku arah pulang ini abis dari kampus." Ziana belum mau menceritakan bahwa ia telah resmi bekerja menjadi model di perusahaan Aura kosmetik.
"Nunggu siapa?" tanya Adita karena memang yang menelpon Ziana adalah Aditya.
"Maksudnya?" Ziana yang kaget karena sepertinya Aditya tau kalau ia tengah menunggu di dekat jalan, matanya berkeliling mencari keberadaan Aditya.
"Itu rame pasti lagi di dekat jalan kan."
"Oh iya lagi nunggu taksi lewat, Zian belum bisa jemput belum pulang sekolahnya." Jawab Ziana yang merasa lega jika ternyata Aditya tak tau jika ia tengah berbohong.
"Maaf aku nggak bisa jemput kamu, hari ini jadwalku padat." Lirih Aditya.
"Oh ya ampun tak apa Kak asal sudah mengabariku itu sudah cukup bagiku."
"Kamu tunggu saja di sana akan ku suruh supir untuk menjemput mu." Ucapan Aditya yang akan menjemputnya membuat Ziana kaget.
"Baiklah tapi setelah itu kabari aku."
"Iya Kak aku pergi dulu ya taksi nya sudah ada."
"Hmmm.."
Telpon pun terputus dan Ziana segera masuk ke dalam taksi untuk segera pulang ke rumahnya dan membawa kabar baik yang di tunggu oleh kelurganya.
***
Mobil yang di kemudikan Lena memasuki parkiran rumah sakit, saat yang bersamaan ada sebuah mobil yang seperti terburu - buru datang dari arah yang sama akan menyalip mobilnya tetapi karena lena yang merasa lebih dulu ia pun tak mau kalah dengan cepat menekan pedal gasnya. Karena mobil terlalu mepet maka akhirnya terjadi lah gesekan keras dari ke dua mobil tersebut.
Braaaaakkkk
"Ah mobil gue, kurang asem tuh mobil." teriak Lena tak terima mobilnya penyok. Ia pun memencet klakson agar si pengemudi mobil berhenti.
Dan tak lama mobil di depannya pun berhenti dan keluarlah seorang pria tampan dengan setelan kemeja dan celana bahan dengan rambut berpomade nya menambah kesan pertama orang yang melihatnya pasti terpukau.
Ya ampun ini cowok tampan banget apa ini jawaban dari penantian gue. Ah tidak lihat wajahnya mengingatkan gue sama si patung es cowoknya Zi, datar tanpa senyum, pasti sama menyebalkannya.
Lena menggelengkan kepalanya menyadari akan lamunannya yang tak berfaedah itu.
"Kamu itu punya mata atau tidak, ini rumah sakit bukan tempat balapan." Ucap pria tersebut karena ia juga merasa kesal mobilnya pun ikut penyok.
"Hellloooowww anda yang duluan menyalip mobil saya ya, jadi jangan pernah menyalahkan orang atas kesalahan anda sendiri." Ucap Lena yang tak mau kalah.
"Tidak akan begini ceritanya kalau kamu bisa menyalip mobil dengan benar lihat lah mobil ku rusak."
"Apa mata anda rabun lihat mobil ku juga sama." Lena mulai berkacak pinggang dengan menunjuk bagian mobilnya yang rusak.
"Haisssh baiklah ini akan pernah selesai saya buru - buru ini kartu nama saya, soal permasalahan mobil hubungi saya saja." ia memberikan kartu namanya pada Lena.
Lena yang kesal segera mengambil dan membaca kartu nama pria tersebut.
Ternyata dia seorang dokter di sini pantas saja dia merasa paling berkuasa, oh tidak semudah itu Ferguso lihat nanti akan ku balas kau dokter sombong!!
"Baiklah saya permisi dulu, sudah telat nanti hubungi saja kalau ada perlu."
"Ok baiklah urusan kita belum selesai." Lena pun meninggalkannya dan masuk ke dalam mobilnya begitupun dengan Bara.
Ya yang bertabrakan dengan Lena adalah Bara Abraham seorang dokter yang sekaligus sahabat dari Aditya Erlangga.
"Gara-gara dokter stress gue harus ke bengkel kan, ya ampun Oma gue kelamaan ini." Lena segera memarkirkan mobilnya.
Ia berlari ke dalam rumah sakit dan menuju lift untuk bisa sacepatnya sampai di ruang perawatan Oma Rita yang merupakan Oma dari Ibunya, beliau sedang di rawat karena struk ringan yang di deritanya.
Saat sampai di ruang rawat sang Oma, ia langsung mendapat ceramah panjang dari Oma nya yang cerewet. Hanya tangan Oma yang terkena struk sehingga ia masih dapat mengomel panjang pada cucu nya.
"Kemana saja kamu lele pasti kamu main dulu kan, malas menemui Oma di sini?" Oma nya sudah sedikit pikun, ia selalu salah menyebut nama orang. Sudah sering kali Lena memberitahu Oma kalau lele itu bukan namanya tetapi sekali ingat selebihnya tak ingat.
"Kenapa nama gue selalu nggak jauh dari ikan kalau nggak fari ya lele, issshh kesel gue." gumam nya pelan.
"Maaf Oma tadi Lena kejebak macet kan ini emang jamnya orang pulang kantor jadi pasti macet Oma." lena pun berjalan mendekati Oma.