
Di perusahaan Erlangga Corp.
"Apa maksud Mom?" Aditya mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Kau apakan Elena, hmm?" tanya Mom Irene.
"Oh aku tidak melakukan apa pun." Aditya menjawab acuh pertanyaan mommy nya, ternyata ini ada kaitannya dengan perjodohannya waktu itu.
"Tidak mungkin dia menangis merasa di permalukan oleh mu!! kalau memang kamu sudah punya calon kenalkan pada Mom, dan Mom ingin lihat siapa wanita yang tidak beruntung mendapatkan laki - laki dingin seperti mu." Mom Irene berjalan menuju sofa.
"What!!! kenapa Mom menilai anak sendiri seperti itu?" Aditya pun duduk di depan Mom Irene.
"Memangnya kau seperti apa?" Mom Irene mencibir putra nya itu.
"Kalau memang kamu sudah punya calon, Mom akan berhenti mengenalkan semua anak gadis temannya Mom."
"Benarkah?" tanya Aditya tak percaya.
"Tentu saja Mom akan berhenti jika benar kamu mencintai gadis itu dan serius dengannya."
"Mom tunggu kedatangan mu, dan awas saja kalau kamu mengenalkan orang yang berbeda, karena Mom sudah tau Ditya!!" Ancam Mom Irene sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangannya.
"Shitt!!!!" Aditya mengusap kasar rambutnya.
***
"Kenapa lo ngelamun?" Lena mengagetkan Ziana yang tengah duduk termenung setelah jam mata kuliahnya selesai.
"Gue harus ke perusahaan orang itu lagi, mengembalikan baju sialan ini." umpat Ziana kesal.
"Ya tinggal di balikin aja udah kan beres." Lena berbicara dengan terus memoleskan bedaknya.
"Gue maless nih, anter ya?"tanya Ziana menatap sahabatnya, ia berharap jawabannya bisa melegakan hatinya.
"Kapan, sekarang?" Lena malah memberikan pertanyaan balik.
"Iya lah kuliah kita udah bereskan."
"Masalahnya hari ini gue harus ikut keluarga gue ada acara tunangan nya saudara gue, kalau besok gimana?"
"Emmm iya udah nggak apa-apa gue sendiri aja, lebih cepat lebih baik biar urusan gue cepat beres." Ziana menarik napasnya pelan.
"Tapi beneran nggak apa- apa kan lo? kalau nggak siap biar besok aja bareng gue." Lena menatap Ziana dengan lekat, ia juga sebenarnya tidak tega untuk membiarkan Ziana pergi sendiri.
"Tenang aja gue pasti bisa, cuma anterin doang kan dan udah beres deh." ucapnya tersenyum.
"Gitu dong semangat ok!!" Lena berusaha menyemangati memegang bahu Ziana erat.
"Semangatt!! gue kayak mau berangkat perang aja haha.." Ziana menyadari tingkah konyolnya yang gugup terlalu berlebihan hanya karena akan bertemu seorang Aditya.
***
Sampai lah Ziana pada tujuannya meski rasa malas untuk menginjakan kakinya di tempat seseorang yang sangat menyebalkan baginya.
Dengan langkah terpaksa Ziana berjalan menuju lobby perusahaan Erlangga Corp, dan menghampiri bagian respsionis.
"Selamat siang mba ada yang bisa kami bantu?" karyawan bername tag Fira tersenyum bertanya pada Ziana.
"Siang juga mba, saya mau tanya ruangan Pak Aditya di sebelah mana ya? saya lupa lagi." Ziana tersenyum canggung.
"Apakah anda sudah membuat janji?"
"Emm saya..." saat Ziana bingung untuk memberikan jawaban dari arah depan nya ia melihat sekertaris Angga. Dengan lantang ia memanggil sekertaris Angga.
"Sekertaris Angga!!" Ziana melambaikan tangan memanggilnya.
"Aku hanya ingin mengembalikan baju Kak Ditya, ini aku titip aja ya?" Ziana menyodorkan paper bag di tangannya.
"Sebaiknya Nona sendiri yang menyampaikan nya pada Tuan. Beliau ada di ruangannya, mari saya antar." sekertaris Angga mempersilahkan Ziana untuk berjalan terlebih dahulu.
"Oh baiklah." Ziana menyetujuinya dan mulai berjalan untuk naik ke dalam lift menuju ruangan Aditya.
Setelah sampai pada lantai yang di tuju mereka langsung menuju ruangan Aditya.
Tok..Tok...Tok
"Masuk." terdengar suara bariton yang mulai familiar di telinganya.
"Tuan ada Nona Ziana ingin bertemu." sekertaris Angga berkata setelah masuk ke dalam ruangan aditya.
"Hmmm.." Aditya mengangguk.
"Silahkan Nona.." sekertaris Angga mempersilahkan gadis itu masuk, setelah itu ia pamit pergi keluar dari ruangan atasannya.
Ziana berjalan menuju ke meja tempat dimana aditya berada.
"Ini aku ingin mengembalikan pakaian Kak Ditya yang waktu itu." Ziana menyodorkan paper bagnya ke atas meja kerja Aditya. Dengan gerakan yang tanpa di sadarinya paper bag yang ia simpan menyenggol gelas air minum dan membuat air nya tumpah mengenai laptop aditya.
"Astaga!!!" Ziana panik dan mengelap laptop Aditya dengan tisu yang ada di atas meja kerja tersebut.
"Kamu!!!" tunjuk Aditya dengan tatapan mata yang tajam menatap Ziana.
***
"Assalamualaikum." Pak Risman yang baru datang dari berdagang masuk ke dalam rumah.
"Waalaikum salam." Bu Rina yang sedang menyetrika pun menjawab salam dari suaminya.
"Ko baru pulang Pak?"
"Iya bu tadi ada yang langganan bapak minta antar buat beli keperluan hajatan nya, jadi ibu itu nyarter mobil kita untuk membawa barang belanjaan nya."
"Ini bu alhamdulilah di kasih rejeki lebih." Pak Rismam menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu.
"Alhamdulilah Pak kebetulan si Zian lagi butuh uang buat keperluan kegiatan camping di sekolahnya." jawab Bu Rina setengah berlari melihat Pak Risman meletakan sejumlah uang di meja.
"Nggak bohong lagi dia bu?" Pak Risman memicingkan mata seolah tak mempercayai lagi kegiatan sekolah dadakan goib putranya itu.
"Tadi ibu sudah telpon pihak sekolah ternyata benar ada pak, tenang aja ibu nggak akan kena tipu anak kurang asem itu lagi, padahal kan pak dulu bali nya di kubur pake bumbu lengkap. Kenapa jadinya itu anak satu kurang asem terus heran ibu??"
Bu Rina kembali menyetrika setelah membawa uang yang Pak Risman berikan.
Kalau nggak langsung di ambil uangnya bisa raib sama tuyul milenial, anak itu memang selalu bikin emak naik darah untung cakep dan pintar kalau nggak ada nilai plus nya di lelepin lagi aja ke dalam perut. batin Bu Rina.
"Ibu ini bisa aja sama anak sendiri, mungkin memang nurun dari ibunya." Pak Risman menimpali dan berniat pergi sebelum tanduk sang istri naik.
"Enak aja si bapak kalau ngomong di kira si Zian nggak nurun dari bapak nya apa?" Bu Rina misuh - misuh dengan tetap melanjutkan pekerjaan nya.
"Tapi biar bagaimana pun ibu tetap cantik, bapak makin sayang." jurus andalan Pak Risman jika istrinya sudah mengomel tak jelas.
"Halah si bapak gombal mu sudah nggak mempan." cibir Bu Rina.
"Halah si ibu tapi suka kan." Bapak terus menggoda Bu Rina.
"Masuk kamar mandi pak kumur- kumur mulutnya pake detergen biar bersih nggak ada kata gombalan lagi di mulutmu pak." meski begitu Bu Rina tetap saja tersenyum mendengar gombalan receh Pak Risman.
Pa risman tidak mau ambil pusing soal kelakuan Zian yang selalu membuat istrinya mengomel sepanjang waktu yang penting anaknya nakal masih dalam batas kewajaran apalagi di sekolahnya Zian berprestasi. Itu saja sudah sangat membuatnya bangga dan terharu.
Mempunyai ke dua anak yang pandai, berprestasi dan menurut pada orang tua itu adalah penyemangat yang selalu menjadikan nya lebih semangat untuk terus mencari rejeki yang halal.