
Matahari perlahan naik membuat sinarnya mampu menembus kulit karena teriknya sang surya siang ini, sebagian orang yang tengah berjalan ataupun yang berada pada kendaraannya memilih untuk singgah di cafe atau di warung kecil hanya untuk melepas dahaga mereka karena cuaca yang begitu panas.
Di suatu sudut ruangan tengah berdiri dengan begitu gagahnya seorang pria dalam balutan jas mahal dan juga jam tangan mewahnya, ia tengah bersiap untuk menjemput sang kekasih hati. Aditya tersenyum saat rapat hari ini selesai dengan tepat waktu. Ia berjalan keluar dari ruangannya, dan menuju lift khusus petinggi perusahaan. Mobil telah terparkir manis di depan lobby perusahaan karena supir telah di beritahukan oleh sekertaris Angga untuk menyiapkan mobil begitu rapat selesai tadi.
Aditya langsung naik ke dalam mobil, ia menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya untuk menuju kampus Ziana. Di tengah perjalanan ia menelpon pengawal bayangan Ziana dan menanyakan keberadaan istrinya itu. Sengaja Aditya tak menelpon Ziana karena ia ingin memberikan surprise pada nya, tadinya supir lah yang akan menjemputnya tapi karena rapat selesai sebelum jam makan siang maka ia memutuskan untuk menjemputnya sendiri.
Mobil sport merahnya memasuki area kampus banyak orang melihat dengan mata tak berkedip melihat mobil sport miliknya karena memang di antara mobil lain di kampus hanya mobilnya lah yang mencuri perhatian.
Aditya pun memarkirkan mobilnya, kemejanya yang di gulung sampai siku dan sepatu pentofel nya yang mengkilat, jam mahal di tangannya juga tak lupa kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya yang mancung. Aditya pun keluar dari dalam mobilnya, tak ada satu orang pun yang tak ingin melihatnya hampir semua mata memperhatikannya apalagi kaum perempuan sampai ada yang berteriak histeris.
Dengan langkah pasti ia terus melangkahkan kakinya menuju taman kampus karena Ziana kini berada di sana. Ia melihat Lena yang tengah berbincang dengan istrinya karena posisi Ziana yang membelakanginya maka ia tak menyadari kehadiran suaminya.
"Ehm.."
Aditya mencoba menyadarkan Ziana dengan suaranya. Saat itu juga Ziana menoleh dan melihat pria jangkung nan tampan berada di hadapannya.
"Suami ku, kok bisa ada di sini?" tanya Ziana dengan mata membulat karena tidak percaya dengan apa yang di lihatnya kini.
"Aku ingin menjemput mu." Ucapnya dengan senyum manisnya.
"Tapi kan bisa di depan, kalau seperti ini kau harus berjalan jauh."
"Tidak masalah, jadi ayo kita berangkat." Aditya menengadahkan tangannya dan Ziana pun menyambutnya.
"Gue duluan ya Len."
"Ah kau pasti kan jika tunangan mu sedang bekerja ya, karena tadi aku melihatnya sedang bersama seorang wanita di ujung jalan sana." ucap Aditya pada Lena.
"Aku tidak peduli sekali pun dia berkencan dengan wanita lain."
"Hanya sekedar pemberitauan saja." Aditya pun melangkah pergi dengan menggandeng tangan Ziana.
Sepanjang jalan menuju ke arah parkiran kampus mereka yang masih setia menatap wajah tampan Aditya tak mau menyia - nyiakan kesempatan walau pun mereka melihat ada wanita cantik yang tengah di gandeng olehnya. Bagi sebagian wanita beranggapan bahwa melihat lelaki tampan adalah salah satu cara untuk mensyukuri keindahan ciptaan Tuhan.
"Apa benar dokter Bara pergi kencan dengan wanita lain?" tanya Ziana saat mereka tengah berjalan.
"Tidak, aku hanya asal bicara." Jawab Aditya dengan santainya.
Ziana hanya menggeleng kan kepalanya tak menyangka mendengar jawaban suaminya, sekarang manusia es itu sudah mulai ada rasa peduli pada orang lain. Walaupun entah apa yang akan terjadi selanjutnya pada Bara dan Lena atas ucapan tak bertanggung jawab dari suaminya itu.
"Apa hari ini tidak sibuk, sampai bisa menjemput ku ke kampus?" tanya Ziana dengan menoleh melihat Aditya yang tengah fokus menyetir mobilnya.
Ya Tuhan beruntungnya aku mempunyai suami tampan dan baik sepertinya, entah kebaikan apa yang ku perbuat di masa lalu sehingga aku bisa mempunyai pasangan hidup sepertinya.
"Rapat selesai sebelum jam makan siang jadi aku bisa langsung menjemputmu." Aditya menoleh dengan sebelah tangannya memegang tangan Ziana dan mencium nya lembut.
"Ah syukurlah berarti nanti tak ada lembur kan?"
"Ada, lembur dengan mu." Ia mengedipkan sebelah matanya menggoda istrinya yang tersenyum dan tengah tersipu malu mendengar jawaban darinya. Tak bisa di pungkiri selama suaminya lembur, ia merasa kehilangan tidak ada tempatnya untuk sekedar bersandar dan bercerita apa pun sebelum tidur.
Setelah beberapa saat mereka pun sampai di cafe tempat yang telah di reservasi oleh Angga sebelumnya jadi mereka hanya tinggal duduk dan menyantap makanan karena sebelumnya sekertaris Angga sudah mengatur semuanya.
Sementara itu di kampus Lena merasakan hatinya seperti ada yang menggores setelah Aditya mengatakan jika Bara tengah jalan dengan wanita lain.
"Tidak, aku bahkan tak peduli sekalipun dia berciuman dengan wanita lain di depan ku." Lena berusaha untuk tak terbawa perasaan nya ia tak ingin jika harus kalah dengan hatinya.
"Hey hati jangan lemah ya, ingat siapa orang yang sedang kau pikirkan sekarang adalah orang yang sangat sombong dan percaya diri. Sangat tak pantas untuk kau tunduk padanya, jadi lawan lah. Semangat." Lena bermonolog sendiri karena ucapan Aditya seolah terngiang terus di telinganya.
"Ah sebaiknya aku pergi makan dan ke salon pasti itu akan membuatku lebih baik dan tak memikirkan manusia sombong itu lagi." dengan melangkah cepat Lena pun pergi meninggalkan taman kampus untuk segera menuju mobilnya dan merealisasikan apa yang ada dalam pikirannya yaitu pergi makan dan ke salon.
Hatcihh..hatcihhh
Bara yang kini tengah makan siang bersama rekan kerjanya pun terus menerus bersin, hingga hidungnya memerah.
"Siapa yang sedang membicarakan ku. Awas saja kalau si Lele yang membicarakanku sudah pasti dia banyak mengumpatku sampai aku tak berhenti bersin seperti ini." gumam Bara yang tengah mengusap hidungnya dengan menggunakan tisu.
"Kau tidak apa - apa?" tanya rekannya yang bernama Fiko.
"Nih lap lagi ingus mu hampir keluar tuh." Fiko memberikan tisu pada Bara yang tengah sibuk memijit hidungnya.
Dan semua kejadian itu tak luput dari penglihatan Lena, Ia yang baru saja akan mengisi perutnya di cafe yang sama dengan Bara saat ini.
"Oh my gosh." teriaknya tak sadar, hingga Bara menoleh ke arahnya karena merasa tak asing dengan suara cemprengnya.
Masih mending jalan sama cewek, gue bisa lawan dan gue pastiin pasti lawan gue tumbang tapi apa yang gue lihat ini, masa b*tang sama batang? gue ngerasa nggak berguna jadi cewek.Ya Ampun masa calon gue h*omreng sih. Pengen nangis di pojokan ini.
Bara memejamkan matanya ia tau pasti apa yang di pikirkan Lena, gadis yang selalu membuat kesimpulan seenaknya terhadap dirinya, yang kini tengah menatapnya dengan tatapan penuh tanya.