
Setelah kegiatan panas yang mereka lakukan, akhirnya mereka terlelap dengan saling berpelukan. Di dalam kamar yang di desain dengan nuansa modern kini mereka berada, Ziana benar - benar di perlakukan dengan sangat lembut oleh Aditya. Ucapan Aditya yang akan selalu membuatnya bahagia sampai saat ini telah ia buktikan, dan Itu membuat Ziana makin jatuh cinta pada suaminya. Aditya yang dulu sangat dingin padanya kini berubah lembut memanjakan dirinya.
Drrttt..drtt
Bunyi ponsel di atas nakas yang terus bergetar membuat tidur lelap mereka terganggu, dengan mata yang masih terpejam Aditya meraba mencari ponselnya.
"Hallo." dengan suara serak khas orang bangun tidur Aditya mengangkat ponselnya.
"Ditya kau sudah lupa pada Mommy?" ucap Mommy Irene di seberang sana.
"Ada apa Mom?"
"Nanti malam Mom tunggu di mansion, bawa menantu kesayangan Mommy. Awas kalau kau tak datang." Panggilan pun berakhir dengan Mommy yang memutusnya sepihak.
"Mommy selalu berbuat seenaknya." gumam Aditya yang kembali melanjutkan tidurnya mendekap erat tubuh Ziana.
"Siapa Kak?" Ziana terbangun saat Aditya berbicara di telpon.
"Mommy menyuruh kita ke mansion nanti." Aditya terus mendekatkan wajahnya pada ceruk leher Ziana, saat tengah asyik menciumi leher Ziana tiba - tiba perut Ziana berbunyi dengan sangat nyaring.
Kruyukkk...
"Kau lapar sweety? tanya Aditya.
Ziana hanya mengangguk, ia kini bersandar di dada bidang suaminya. Perasaan hangat dan nyaman jika kita bersandar pada orang yang tepat, merasa mendapat tempat berlindung terbaik.
"Baiklah kita bersiap sekarang untuk makan di luar, apa kau mau aku gendong lagi?" tanya Aditya yang kini tengah membelai lembut rambut Ziana.
"Tidak aku bisa sendiri." ucapnya dengan cepat karena ia tak mau harus melakukan kegiatan yang akan sangat menguras tenaganya saat kini dirinya terasa sangat lapar. Ziana langsung berlari ke arah bathroom secepat kilat dengan selimut yang melilit pada tubuhnya, ia terlalu malu jika harus berjalan tanpa sehelai benang pun meski di hadapan suaminya sendiri.
Aditya terkekeh melihat kelakuan istrinya saat ini, baginya pemandangan seperti saat ini merupakan hal yang paling membahagiakan dirinya. Perasaan membuncah karena terlalu bahagia akan kehidupannya kini, dulu dirinya selalu sendiri dengan perasaan hampa yang selalu menyergap nya di kala ia sedang santai.
Setelah mereka selesai membersihkan diri dan bersiap pergi, kini mereka tengah berada di dalam mobil yang di kemudikan Aditya.
"Kau mau makan apa?" tanya Aditya yang tengah fokus menyetir.
"Aku ingin makan di mall XX, ingin merasakan lagi pacaran halal dengan suami ku." jawab Ziana dengan tersenyum mengedipkan sebelah matanya.
"Kau memanggil ku apa?"
"Suamiku."
"Mulai sekarang panggil aku seperti itu, karena aku bukan Kakak mu." ucap Aditya dengan senyum yang terus mengembang dari bibirnya.
Duhh ini mulut kenapa selalu saja berbicara tanpa filter, nah begini kan jadinya si patung es ini selalu memanfaatkan situasi yang ada setiap aku salah bicara. Astaga apa aku harus memanggilnya seperti itu juga jika di hadapan orang lain? meski dia suami ku tapi aku malu jika harus memanggilnya begitu.
Selang beberapa menit sampailah mereka di mall XX, saat memasuki resto yang ingin mereka kunjungi dari arah belakang ia mendengar namanya di panggil seseorang.
"Hey Zi !!" Ziana yang merasa namanya di panggil seseorang pun mulai berbalik badan ia dan suaminya kini hanya memakai pakaian santai juga sandal rumahan karena tadinya niat mereka hanya ingin makan untuk mengisi perutnya tetapi saat di jalan tadi Ziana berubah pikiran dan ia ingin menikmati waktu berdua bersama Aditya.
"Hai Yola." sapa Ziana melihat teman sekolahnya dulu yang selalu tak mau kalah dari nya itu.
"Apa kau tak malu berpakaian seperti itu ke mall besar seperti ini? ah kenalkan pacar ku dia adalah seorang direktur di anak cabang perusahaan Erlangga Corp." Ia pun menarik tangan pacarnya yang kini tengah berdiri gugup melihat pemilik dari Erlangga Corp tengah berdiri di hadapan nya. Aditya memberikan kode mata dan gelengan kepalanya kepada anak buahnya itu agar diam.
Saat tangan Ziana akan menyalami tangan kekasih Yola, dengan cepat Aditya yang menggantikan tangan Ziana untuk bersalaman dengannya.
"Ardi." ucapnya dengan suara yang sedikit pelan.
"Aditya."
Setelah berjabat tangan, Yola yang dari tadi tak menganggap Aditya ada karena pakaian nya yang di anggap seperti orang biasa dan merasa tak selevel dengannya. Sementara itu Ardi pacar Yola yang terus ia banggakan hanya menunduk tak berani menatap Aditya yang tengah berdiri menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Zi kau pasti tau kan pacarku itu memimpin anak cabang perusahaan Erlangga Corp, salah satu perusahaan terbesar di negara ini. Dan aku sebentar lagi akan menikah dengannya. Kau pastikan harus hadir ya?" ucap nya dengar terus tersenyum dan menepuk tangan Ardi merasa bangga dengan pekerjaan pacarnya.
"Iya aku pasti datang kau berikan saja undangannya nanti." ucap Ziana dengan senyum dan ia berusaha menahan agar tak tertawa mendengar Yola yang terus mengoceh tentang perusahaan suaminya itu, seperti seorang seles yang tengah mempromosikan barang dagangannya.
"Kau pasti tak akan bisa membayangkan betapa besar pengahasilan calon suami ku itu, oh iya kau tau nanti setelah menikah kita akan tinggal di perumahan elit masih milik perusahaan calon suami ku itu."
"Ah iya itu pacar mu ya, Kok kalian kompak pakai sendal rumah ke mall segede ini sih, tampan kalau nggak ada duit buat apa?" ucap Yola berbisik di telinga Ziana.
"Bukan dia bukan pacarku, tapi suami ku." Ziana meraih tangan suaminya dengan mesra.
"Kami baru menikah beberapa hari yang lalu."
"Ah aku tak tau, kalau beberapa hari yang lalu berarti aku sedang ada di luar negri maaf ya." ucap Yola dengan sombong.
"Tidak apa, ah iya suami ku mana dompet mu?" Ziana menengadahkan tangannya untuk meminta dompet suaminya dan dengan kening yang berkerut karena tak mengerti Aditya pun memberikan dompetnya pada istrinya itu.
Ziana pun memberikan kartu nama suami nya yang ada di dalam dompet itu kepada Yola. Di sana terdapat no telpon kantor dan juga jabatan suaminya.
"Itu adalah kartu nama suamiku, jika kau tak percaya tanyakan saja pada calon suami mu itu. Dan lihatlah ini adalah beberapa kartu Atm suami ku bahkan ada beberapa black card seperti yang kau lihat saat ini." ucap Ziana memperlihatkan isi dompet suaminya pada Yola.
Bagaimana ekspresi Yola? ia sangat shock melihat teman yang selalu lebih darinya kini mendapatkan berkali lipat dari calon suaminya yang dari tadi ia banggakan.
"Aduh kepalaku." Yola terus saja memegang leher dan kepalanya bergantian karena rasa shock yang ia dapat saat ini melihat saingannya yang tak dapat ia kalahkan.