
Saat ini malam panjang bagi kaum muda - mudi yang biasa di sebut dengan malam minggu. Entah mengapa malam minggu begitu keramat bagi para kaum muda apalagi bagi mereka yang tengah di landa asmara, seperti menjadi suatu kewajiban meski hanya sekedar hang out walau bukan dengan pasangan. Dan hal ini yang tengah di alami oleh Ziana.
Ia tengah bersiap - siap untuk pergi bersama Aditya, setelah di landa rindu berjauhan mereka membuat janji untuk dinner di malam minggu kali ini.
Tok..Tok..Tok
"Zi buka pintunya, itu sudah ada yang jemput." teriak Bu Rina mengetuk pintu kamar Ziana.
"Iya Bu." Ziana pun membuka pintu kamarnya dan melihat sang Ibu tengah berdiri menatap dirinya.
"Kamu mau kemana?"
"Malam mingguan Bu." jawab Ziana cepat.
"Maksud Ibu kamu mau kemana jalan ke arah pintu depan?"
"Bukannya Kak Ditya udah jemput ya, tadi ibu bilang gitu kan?" tanya Ziana heran.
"Kata siapa Ibu nggak bilang gitu kok, cuma bilang ada yang jemput tapi bukan Aditya." jawab Bu Rina dengan meminum kopi panas di tangannya.
"Terus yang jemput Zi siapa Bu?"
"Nyamuk noh pada terbang ke kamar kamu." Bu Rina tertawa kecil kemudian ia duduk di sofa untuk menonton sinetron kesayangannya yang sebentar lagi akan tayang.
"Issh Ibu ini aku kan masih siap - siap di dalam Bu, jadi nggak jelas kan ini dandanannya." Ziana memberengut.
"Lagian kamu dari abis magrib sampai udah setengah 8 apa belum cukup? bersolek apa ngitung beras kamu lama banget."
"Kan aku pengen keliatan cantik Bu."
"Ya ampun anak Ibu yang katanya solehah jadi diri sendiri saja nggak usah aneh - aneh nanti kalau kamu dandan menor malah seperti mau kontes lenong." Bu Rina memberikan petuah nya menjadi mode Ibu peri yang baik hati.
"Bener juga ya Bu, yang ada aku malah di katain aneh karena dandan di atas normal." Ziana ikut duduk di samping Bu Rina sembari menunggu Aditya menjemputnya.
"Apa dia serius dengan mu Zi?" tanya Bu Rina menatap lekat wajah sang putri yang terlihat cantik malam itu.
"Aku nggak tau Bu." Ziana menggelengkan kepalanya dan membenarkan poni samping rambut yang menutupi matanya.
"issh kau ini."
Tok..Tok..Tok
Ada yang mengetuk pintu depan rumah dan dengan segera Ziana berjalan untuk membukanya karena ia yakin itu adalah Aditya.
"Kak Ditya." Ziana menatap Aditya yang tersenyum manis kepadanya.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Aditya ia pun melihat ke arah dalam rumah terlihat dengan jelas Bu Rina yang tengah asyik menonton sinetron kesayangannya.
"Ayo aku sudah siap."
"Aku pamitan dulu pada Ibu mu, dimana Bapa?
"Masuk lah, Bapa sedang ada di pos ronda ada rapat penting." Ziana tertawa kecil saat mengucapkannya.
"Bu saya permisi dulu." Aditya tersenyum
Dalam perjalanan mereka seperti kedua orang yang baru bertemu situasi terasa canggung di antara mereka setelah kejadian waktu itu.
"Apa tangan Kak Ditya masih sakit?" Ziana melihat tangan Ditya yang tengah memegang stir mobil.
"Tidak sakit hanya lukanya belum kering." aditya menoleh menatap Ziana dengan senyumnya yang hangat mencoba menenangkan hati kekasihnya.
"Ah syukurlah."
Setelah berapa menit perjalanan sampailah mereka di cafe untuk menghabiskan waktu santai bersama. Mereka berdua duduk di sudut cafe bagian atas karena dari sana bisa melihat keindahan kota di malam hari.
"Apa urusan Kak Ditya sudah beres di sana?" ucap Ziana membuka obrolan sesaat setelah duduk.
"Hmmm sudah beres di luar dugaan semuanya berjalan dengan cepat."
Tak lama datanglah pelayan cafe untuk menanyakan menu pesanan yang di pilih untuk mengisi perut mereka malam ini. Setelah selesai memesan pelayan cafe tersebut pun pergi.
"Kenapa kau harus menjadi seorang foto model?" tanya Aditya dengan raut wajahnya yang serius.
"Aku tak sengaja mendapatkan pekerjaan itu kak, tapi karena tawaran sudah ada di depan mata maka aku mengambilnya. Aku hanya ingin meringankan beban kedua orang tua ku."
"Aku bisa membiayai kuliah mu sampai akhir."
"Terimakasih Kak tapi aku tak bisa menerimanya." ucap Ziana tersenyum menggeleng.
"Kenapa apa kau takut di sebut memanfaatkan ku?"
"Bukan hanya itu, tapi memang Kak Ditya belum ada hak menanggung semua biaya yang aku perlukan."
"Kenapa kau kekasih ku? aku sanggup membiayai mu." Aditya menautkan kedua alisnya menatap intens Ziana.
"Iya aku tau kau sanggup bahkan lebih dari apa yang aku minta Kak Ditya pasti bisa memberikannya, tapi kau bukan lah suami ku jadi tidak ada hak Kak Ditya atas diri ku sepenuhnya." jawab Ziana dengan senyum yang tak pernah surut dari bibirnya, ia merasa beruntung memiliki Aditya laki - laki bertanggung jawab yang sangat ia impikan sejak dulu.
"Jika begitu mari kita menikah." ucap Aditya dengan menautkan kedua tangannya pada tangan Ziana.
"Menikah?" Ziana membulatkan kedua bola matanya ia tak menyangka perkataan yang keluar dari mulut Aditya saat ini.
"Iya mari kita menikah, aku bukan hanya mencari seorang kekasih tapi aku mencari seorang istri umurku sudah 28 tahun dan sudah seharusnya aku memikirkan arah yang jelas tentang hubungan kita. Aku memang bukan pria romantis, yang memberikan mu kejutan untuk mengajakmu menikah, tapi hanya satu tujuan ku jika kelak kau menjadi istriku akan ku jadikan kau ratu yang pertama dan terakhir untuk selamanya dalam hidup ku." Aditya masih menggenggam erat jemari tangan Ziana yang terasa dingin.
"Tapi apa ini tidak terlalu cepat Kak? Aku baru baru berumur 20 tahun, dan kuliah ku pun belum selesai." Ziana yang kaget akan pernyataan dari Aditya laki - laki dingin yang tak pernah berbicara panjang kali ini ia mengungkapkan isi hatinya dan mengajaknya menikah.
Ya Tuhan harus bagaimana ini, aku belum siap menikah tapi melihat keseriusan di matanya aku juga takut untuk mematahkan hatinya. Mulut sialan kenapa harus membahas soal suami di depan nya, Arrrrggghh bagaimana ini Ibu tolong aku..
"Apa kau benar belum siap atau memang tak mau menikah denganku?" Aditya menunjukan wajah memelas seperti kucing yang sedang meminta makan, ia seperti sedang merajuk.
Apa ini dia memperlihatkan wajah menggemaskannya di depanku untuk yang pertama kalinya. Ah aku sungguh makin tak tega untuk menolaknya, ingin sekali aku membungkus wajah imutnya yang tampan ini.
"Bukan begitu Kak, mana mungkin aku tak mau menikah dengan mu hanya saja berikan aku waktu, permasalahan menikah tidak hanya untuk kita tapi juga keluarga besar kita." Jawab Ziana.
"Itu mudah aku akan meminta mu secara langsung kepada kedua orang tua mu, dan kau tau sendiri kan Mom dan Dad tidak ada masalah dengan niat kita, sekarang apa lagi yang menjadi ganjalan mu?"
Niat kita katanya, itu hanya niat mu aku bahkan sangat terkejut dengan semua perkataanmu.