
Ziana yang tengah melakukan pemotretan sangat terkejut, melihat Aditya yang tiba - tiba hadir saat ia masih melakukan sesi pemotretan. Ia gugup saat tatapan Aditya menatap tajam dirinya dengan kedua tangan yang bersilang di depan dadanya.
"Zi kok diem ayo gaya yang lain, biasanya kamu nggak pernah mati gaya." ucap Dean sang fotografer.
Ziana menatap ke arah Aditya dengan pandangan mata yang tak berkedip, sehingga seluruh team yang saat itu tengah fokus ikut mengarah pada tatapan mata Ziana.
"Boleh aku minta waktu sebentar Kak Dean?" tanya Ziana yang saat itu sudah seperti tak bernyawa, wajahnya terlihat pucat meski kini ia tengan memakai riasan yang cukup tebal.
"Ok lanjut model yang lain dulu." Teriak Dean memberikan perintah kepada model yang lain agar bersiap untuk melakukan sesi pemotretan.
Ziana berjalan ke arah Aditya yang masih dengan posisi yang sama, ia tak bergerak sedikit pun dan tetap menatap tajam Ziana yang seolah tengah ketahuan berbuat salah pada nya.
"Kak Aditya kok bisa di sini?" tanya Ziana setelah ia berdiri di samping Aditya.
"Ikut aku." Aditya menarik tangan Ziana untuk keluar dari ruangan studio tempat pemotretan berlangsung, ia hanya menurut saja tanpa berusaha berontak karena ia tau jika mode wajah datar Aditya seperti sekarang itu berarti Aditya sedang dalam mood yang buruk.
Aditya baru melepaskan tangan Ziana saat mereka tengah sampai di rooftop gedung perusahaan. Ia memandang lekat Ziana dan kedua tangannya memegang pundak Ziana yang terlihat bingung.
"Dengarkan aku, keluar dari pekerjaan ini aku tak mau semua orang menikmati keindahan wajah dan tubuh mu, meskipun aku belum resmi menjadi suami mu tapi aku adalah calon suami mu yang sebentar lagi akan memiliki mu seutuhnya. Dan aku tak akan pernah membiarkan seekor nyamuk pun menikmati tubuh mu." Ucap Aditya yang masih berada di posisi yang sama.
"Tapi aku sudah terikat kontrak Kak, mana bisa aku membatalkannya?" Ziana yang kini mengerti arah tujuan Aditya menghampiri dirinya sampai ke perusahaan tempatnya bekerja.
"Itu mudah, aku bisa mengurusnya."
"Kakak pasti harus membayar penalti karena aku memutus kontrak secara sepihak dan tanpa alasan yang jelas."
"Dengarkan aku tanpa meminta persetujuan mu, aku bisa langsung memutus kontrak secara sepihak dengan perusahaan ini, tapi aku ingin mendengar langsung jawaban dari mu."
"Baiklah." jawab Ziana mengangguk pelan.
"Apa kau setengah hati melakukannya?" ujar Aditya yang melihat adanya keraguan dari Ziana.
"Bukan, bukan aku ragu Kak hanya saja nanti Kak Ditya harus membayar biaya ganti rugi dan itu sangat besar nominalnya Kak. Nanti sayang uang nya." Ziana tersenyum polos setelah mengucapkannya.
"Ya Tuhan aku pikir apa, itu tak menjadi soal sekali pun aku harus mengeluarkan separuh saham ku akan ku bayar. Karena aku tak rela jika wajah dan tubuh mu menjadi konsumsi publik." Aditya menepuk keningnya dan menghela nafas pelan mengingat jawaban Ziana yang di luar prediksinya.
"Baik lah ayo Kak." Gantian Ziana yang menarik tangan Aditya untuk turun ke bawah.
"Mau kemana?" tanya Aditya mengerutkan keningnya.
"Katanya mau memutuskan kontraknya, kan aku juga harus ikut untuk mendatangani suratnya."
"Tidak usah, Angga yang akan mengurusnya." Aditya pun melangkah pergi meninggalkan Ziana di belakang.
Ya ampun kenapa aku bisa suka dengan pria dingin yang posesif seperti dirinya, lihat saja aku bahkan dia tinggal. Ku pikir setelah menjadi kekasihnya ia akan bersikap jauh lebih lembut setiap saat, ternyata hanya saat otaknya normal saja tetapi saat konslet seperti ini aku bahkan ia lupakan.
"Kak Ditya apa kau melupakan sesuatu?" teriak Ziana kesal.
"Tidak ada." jawab Aditya dengan wajah tanpa merasa bersalah.
"Kau meninggalkan bayangan dirimu." Ziana pun berlalu pergi meninggalkan Aditya.
"Bayanganku?" Aditya mengerutkan keningnya bingung.
"Ada apa dengan mu?" Aditya menyusul Ziana dan mensejajari langkahnya.
"Tidak aku hanya baru ingat katanya di sini sering ada penampakan Mba Kun yang sering menyerupai wujud manusia, dia sangat suka pada pria tampan dan pasti selalu mengikuti kemana pun ia pergi." terang Ziana dengan terus berjalan.
Demi apapun Aditya yang tak pernah takut dengan siapa pun, meski masalah besar datang padanya ia pasti akan mampu menghadapinya. Tapi ia adalah pria penakut, apalagi di tempat yang gelap.
Dengan cepat ia menggenggam tangan Ziana, itu membuat Ziana ingin tertawa keras. Ziana adalah gadis pemberani sama seperti Zian adiknya ia tak pernah takut atau pun percaya dengan hal semacam itu.
"Kenapa Kak?" tanya Zian yang kini tengah berpura - pura dengan menatap wajah Aditya yang berkeringat dan pucat.
"Tidak ada hanya saja aku lupa belum makan, ayo kita pergi untuk mencari makanan."
"Baiklah Kak, tapi balik ke studio dulu ya barangku masih ada di sana."
"Tidak perlu nanti Angga yang akan mengambilnya, kita langsung berangkat saja." Aditya terus menggenggam tangan Ziana hingga sampai di parkiran dan mereka pun masuk mobil untuk segera pergi meninggalkan perusahaan Aura Kosmetik.
***
"Akhirnya hari ini Oma bisa keluar dari rumah sakit juga, itu berarti aku bisa segera bebas tidak harus bolak - balik ke rumah sakit lagi." gumam Lena yang saat ini tengah memarkirkan mobilnya di parkiran samping rumah sakit.
"Hallo Oma bagaimana hari ini sudah siapkan pulang ke rumah?" tanya Lena begitu sampai di ruang rawat Oma Rita.
"Siap, apa Oma sudah cantik?" tanya Oma dengan bergaya centil bak Abg yang sedang kasmaran.
"Tentu Oma selalu tetap cantik." ucap Lena dan seketika memalingkan wajahnya dan memotar bola matanya jengah.
"Ayo Oma kita pakai kursi roda ya biar Oma nggak capek jalan." Lena membantu Oma turun dari ranjang rumah sakit untuk naik ke kursi roda.
Setelah itu Lena mendorong kursi roda nya, keluar dari ruang perawatan Oma Rita. Saat tengah mendorong kursi roda dari arah berlawanan Bara yang baru saja keluar dari ruang prakteknya, mereka pun berpapasan pandangan mereka beradu dan melangkah di koridor yang sama tanpa bisa saling menghindar.
"Hey dokter tampan, sini." Oma melambaikan tangannya ke arah Bara agar ia mendekati mereka.
"Iya Nyonya ada apa?" Bara menghampiri mereka dengan senyum manis di wajahnya.
"Sudah di bilang panggil saya Oma Rita, bukan Nyonya. Oh ya dokter ini kenalkan cucu saya." Oma menarik Lena yang masih kaget mendengar perkataan Oma Rita.
Mereka berdua pun berjabat tangan seolah baru saling mengenal dengan senyum canggung di wajahnya.
"Bara."
"Lena."
"Akhirnya kalian bertemu juga,ah kalian sangat serasi tidak sia - sia kami menjodohkan kalian, lihat kalian manis sekali."
"APAAA!!! Bara dan Lena berteriak bersamaan mendengar pernyataan dari Oma Rita, dengan mata membulat dan mulut yang terbuka.