In Memories

In Memories
part 144



Aditya dan Ziana baru tiba di hotel setelah sebelumnya mereka pergi ke taman kota namun karena cuaca di luar begitu dingin maka Ziana dengan cepat membawa suaminya untuk pulang ke hotel. Ziana tak mau ambil resiko, meskipun ia masih ingin menikmati suasana malam di taman kota yang merupakan kejutan yang sangat indah bagi dirinya.


Setelah menaiki lift dan tiba di lantai paling atas yang merupakan kamar tempat mereka berada. Ziana menempelkan key card dan membuka pintu kamarnya, lagi dan lagi Ziana di buat terkejut dengan kamar yang telah di sulap sedemikian cantiknya. Banyak nya kelopak mawar merah yang terhampar di lantai, bunga kesukaan Ziana dan juga meja makan yang telah di hias berada di dekat kaca balkon yang tertata dengan cantik, aroma teraphy yang menguar sampai menusuk hidung hingga membuat rileks bagi siapa saja yang menghirupnya, dan juga cahaya temaram dari lampu yang sengaja di nyalakan agar membuat suasa romantis terasa begitu kental di dalam kamar hotel.


"Ini pasti kelakuanmu kan suamiku?"


"Apa kau menyukainya?" dengan senyum yang mengembang Aditya menatap hangat manik mata istri yang begitu di cintainya.


"Tentu aku menyukainya, hanya saja aku bingung kita hanya pergi kurang lebih satu jam tetapi kenapa kamar kita bisa jadi secantik ini?" tanya Ziana yang takjub dengan dekorasi yang ada di kamarnya saat ini.


"Dengan kekuatan uang semuanya bisa cepat sweety." Aditya mengelus lembut pipi Ziana. Ia menarik tangan istrinya menuju ke meja makan, Aditya menarik kursi untuk Ziana agar bisa duduk, kemudian ia pun berjalan menuju kursi tempatnya duduk. Perlakuan kecil nan manis yang selalu Ziana suka dari suaminya itu.


"Sebentar aku punya sesuatu untukmu." Aditya merogoh saku celananya dan memberikan kotak berwarna merah hati pada Ziana. Dengan senang hati Ziana pun menerima kotak itu, dan membukanya secara perlahan. Saat kotak itu terbuka, terlihat sebuah arloji saku antik yang bertahtakan batu safir warna merah yang begitu cantik, Ziana membuka arloji tersebut dan terlihat di dalamnya ada foto ia dan Aditya yang tengah tersenyum.


"Hari ini kau memberikanku begitu banyak kejutan hingga aku tak bisa berkata - kata lagi, terima kasih suamiku kau begitu sempurna untukku." Ucap Ziana dengan menggengam tangan suaminya, hingga tak terasa air matanya jatuh dari kedua bola matanya.


"Jangan menangis sweety, aku hanya ingin selalu membuatmu bahagia jika bersamaku. Sebaiknya kita berdansa agar kau tak menangis lagi, bagaimana?"


"Baiklah." saat akan terbangun dari duduknya Aditya merasakan pusing di kepalanya namun ia mencoba menahannya dan tersenyum pada Ziana, ia pun mengulurkan tangannya kepada istrinya agar menyambutnya untuk berdansa bersama.


Ziana pun dengan cepat menyambut uluran tangan Aditya dan mereka pun berdansa bersama.


"Sweety aku ingin bicara tapi jangan kau potong ya kau hanya harus mendengarkanku." ucap Aditya tanpa melepaskan posisi mereka yang kini tengah berdansa.


"Baiklah."


"Sweety jika aku pergi nanti berjanjilah kau harus melanjutkan hidupmu, jangan menangisi kepergianku terlalu lama. Masa depanmu masih panjang kau harus tersenyum menatap masa depan dengan bahagia." terdengar suara isak tangis tertahan dari Ziana mendengar ucapan tak biasa Aditya.


"Apa kau ingin menyerah? apa kau ingin meninggalkanku?"


"Aku hanya bisa berjuang semampu yang aku bisa hanya saja takdir di antara kita yang tak memihak pada kita."


"Tapi aku yakin kau pasti sembuh sayang."


Kakinya sudah tak dapat lagi menopang tubuhnya, ia pun jatuh terkulai di pelukan Ziana yang tengah panik berusaha bangun untuk meminta pertolongan namun Aditya menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya ingin bersama denganmu di detik terakhir hidupku." ucap Aditya yang kini mencium tangan Ziana yang juga berlumuran darah karena ikut mengusap hidung Aditya.


"Aku mohon bertahanlah sayang jangan seperti ini." Ziana terus menangis melihat tubuh lemas suaminya yang tak berdaya.


"Berjanjilah padaku kau harus bahagia bahkan jika ada yang mengusap air matamu kelak, aku rela sweety." tangan Aditya membingkai wajah istrinya yang kini tengah menangis.


"Aku mohon." ucapnya lagi dengan tatapannya yang sendu, dengan menagangguk perlahan Ziana pun menyetujui permintaan suaminya.


"Jangan menangis, meski ragaku tak lagi bersamamu namun hatiku selalu ada bersama denganmu, aku mencintaimu selamanya." tangan Aditya terkulai lemas, matanya terpejam namun terlihat ada kedamaian dalam tidurnya.


Ziana mengguncangkan tubuh Aditya berkali -kali bahkan ia menepuk pipi suaminya dengan terus memanggil suaminya berharap ia akan secepatnya tersadar.


"Aku mohon jangan seperti ini, bangunlah jangan tinggalkan aku sayang. Aku mencintaimu bahkan lebih dari yang kau tau suamiku. Bangunlah untukku sayang." teriak Ziana yang tak bisa lagi untuk membendung perasaannya saat ini.


***


Saat ini di sebuah rumah sakit tempat di mana Aditya mendapatkan pertolongan, namun rupanya takdir Tuhan tak dapat di elakkan lagi. Aditya sudah dinyatakan meninggal dunia oleh dokter, Mom Irene bahkan langsung tak sadarkan diri hingga langsung mendapatkan pertolongan dari dokter, Dad Gamma begitu terpukul hingga tatapannya kosong dengan berusaha tegar untuk istrinya. Bara juga merasakan hal yang sama, ia bahkan jatuh terduduk.


Sementara Lena yang juga ikut menangis tetapi ia kini berusaha menenangkan sahabatnya yang seperti tak bernyawa. Raganya memang ada di sana tapi pikirannya entah kemana, tatapannya kosong hingga sesekali ia menangis pilu. Tangisan pedih kehilangan dari seorang istri yang begitu kehilangan suami yang teramat di cintainya.


Ziana tak pernah beranjak dari tubuh suaminya yang telah terbujur kaku, ia belum memberikan izin bagi siapa pun untuk mengurus jasad suaminya. Ziana berharap Aditya akan terbangun lagi setelah ini.


"Sayangku, jika ini adalah takdir kita maka aku akan berusaha ikhlas melepasmu pergi. Melihatmu tak lagi merasakan sakit, itu sudah membuatku bahagia. Aku yakin saat ini kau ada di sini bersama ku, kau akan selalu melihatku bukan? I love you suamiku." Ziana sadar bahwa yang di inginkan Aditya hanya ke ikhlasannya akan kepergiannya, dengan mengecup kening untuk yang terakhir kalinya, Ziana mencoba untuk berdamai dengan hatinya.


Takdir manusia tak pernah ada yang tau sekalipun kekayaan mengelilinginya, tak ada yang dapat menentang takdir yang sudah di gariskan pada setiap kehidupan manusia.


Maka dari itu janganlah menggantungkan pengharapan pada sesama manusia karena Tuhan sebagai sang pemilik kehidupanlah sebaik - baiknya tempat kita berharap.


"Selamat jalan cintaku, semoga kau mendapatkan tempat terindah di sisiNya. Kau adalah pria baik yang telah membuatku mengerti artinya memiliki dan kehilangan yang sesungguhnya." Lirih Ziana tubuhnya yang terkulai lemas saat melihat tubuh suaminya yang kaku tak bernyawa di depan matanya.