
"Tuan besok jika kondisi anda lebih baik kita akan melakukan kemo lagi."ucap dokter Fiko.
"Berapa lama lagi?" tanya Aditya.
"Maksud anda Tuan?"
"Berapa lama lagi sisa hidupku?" Tanya Aditya dengan nada tinggi.
"Setelah kemo yang akan kita lakukan nanti ada jalan operasi yang bisa kita tempuh, jika operasinya berhasil maka kemungkinan besar anda bisa sembuh total."
"Dan jika gagal?" Mata Aditya menatap tajam dokter Fiko.
"Anda jangan putus asa Tuan kondisi.." belum sempat dokter Fiko melanjutkan ucapannya namun Aditya kembali bicara.
"Berapa lagi sisa hidupku?" Aditya menekan kata - katanya dengan tatapan seolah akan menelan hidup siapa pun yang ada di hadapannya.
"Ditya jangan seperti ini." Bara ikut berbicara melihat situasi sudah mulai tak terkontrol.
Aditya mengangkat tangannya memberi tanda untuk Bara agar ia terdiam, tatapan tajam Aditya membuat dokter Fiko gemetar. Ia berusaha menelan salivanya dengan susah payah.
"Kurang lebih 3 bulan, kanker yang ada sudah menyebar dengan cepat dan bahkan kini sudah mulai menyerang otak sehingga menyebabkan anda sakit kepala hebat."
Mendengar ucapan dokter Fiko seakan memupus semua harapannya akan masa depan yang telah ia impikan dengan istrinya. Aditya hanya diam, tak ada pergerakan apapun darinya selama beberapa menit dan Bara yang sangat shock mendengar penuturan rekannya tentang kondisi sahabatnya itu merasa lemas bahkan ia merasa tubuhnya terasa tak bertenaga.
"Apa dengan operasi bisa memperpanjang waktuku sedikit lebih lama?" tanya Aditya setelah ia merasa lebih tenang.
"Tentu bahkan bisa memungkinkan untuk anda sembuh."
"Mungkin tapi belum ada yang bisa sembuh dari leukimia yang sudah menyebar sepetiku kan?" Aditya tersenyum miring, ia seolah tengah menertawakan garis hidupnya yang begitu miris.
"Setidaknya kita harus berusaha Ditya." ucap Bara memberi support padanya.
"Kalian pergilah dan jangan katakan apa pun hal ini pada siapa pun, aku ingin sendiri." ucap Aditya dingin.
Bara dan juga dokter Fiko pun keluar ruang rawat, mereka mengerti jika ini adalah pukulan terberat bagi Aditya. Apa yang kini di alami Ditya adalah hal paling berat, bahkan seseorang dengan uang yang melimpah dimana - mana tak dapat membeli kesehatannya sendiri.
Bagaimama kau tanpa aku nantinya sweety, bukan kematian yang aku takutkan tapi meninggalkanmu sendiri yang lebih membuatku takut.
Hingga tanpa terasa buliran bening itu terjatuh, Aditya tau ini adalah titik terendahnya dalam hidup. Kebahagiaan yang selama ini ia miliki seakan tak
pernah ada dalam hidupnya hanya karena penyakit mematikan yang kini menggerogoti tubuhnya.
Bara dan juga dokter Fiko yang tengah berjalan di koridor rumah sakit sedang membicarakan perihal mengenai Aditya. Mereka bahkan sedang membahas tentang perkiraan hidup Aditya dan di saat yang bersamaan Mom Irene juga Dad Gamma yang tadinya akan menyapa Bara seakan di buat terkejut oleh obrolan keduanya.
"Apa maksudnya ini Bara?" Tanya Mom Irene yang sudah berlinang air mata.
"Mom Irene, Dad Gamma?" Bara pun sama terkejutnya karena tak menyangka jika orang tua Aditya ada di belakangnya dan mendengar semua ucapannya. Bara memanggil orang tua Ditya seperti halnya Ditya, karena mereka sudah sangat dekat hingga tumbuh bersama membuat keduanya sudah bagai saudara kandung.
"Tenang dulu Mom ini hanya perkiraan saja, semuanya tetap kembali pada yang di atas." Bara mencobaa menenangkan Mom Irene yang tengah menangis tersedu - sedu.
"Dad akan pindahkan pengobatan Ditya ke swiss. Ada kenalan Dad di sana, maaf bukan menyepelekan kinerja dokter di sini hanya saja kami ingin memberikan yang terbaik untuk anak kami." ucap Dad Gamma.
"Aku mengerti Dad, biarkan Ditya untuk saat ini Dad. Ia masih terguncang butuh waktu untuk sendiri, dan seperti biasa jangan katakan ini padanya bahkan pada Ziana sekalipun, itu pesannya."
"Baiklah." Mereka pun memilih untuk pergi ke ruang kerja dokter Fiko untuk menenangkan lebih dulu Mom Irene yang tak henti menangis.
"Dad bagaimana dengan anak kita? Mom tak ingin dia pergi Dad, lebih baik Mom yang mati langkahnya masih panjang. Dia baru saja bahagia kenapa ini harus terjadi padanya Dad." Kini Mom Irene menangis di pelukan Dad Gamma dengan posisi duduk.
Tangisan Mom Irene begitu menyayat hati siapa pun yang mendengarnya, Ibu mana yang tak akan terpukul mendengar kenyataan bahwa anak yang ia sayangi terkena sakit parah dan akan meninggalkannya.Tak lama tubuh Mom Irene lemas hingga tak sadarkan diri.
"Mom bangun Mom?" Dad Gamma berusaha menyadarkan Mom Irene dengan menepuk pipinya beberapa kali. Dengan cekatan kedua dokter itu segera membaringkan Mom Irene dan memeriksa keadaannya.
"Tidak apa Dad, Mom hanya shock." ucap Bara.
"Ya Tuhan ujianMu begitu berat untuk keluarga kami." Gumam Dad Gamma dengan mengelus puncak kepala istrinya.
***
"Kenapa hati gue sesak banget ya Len? Kok rasanya gue kaya sedih banget ini." Tanya Ziana yang sudah mengahabiskan sarapannya.
"Wajar Zi mungkin karena apa yang terjadi hari ini." jawab Lena.
"Iya kali ya soalnya gue takut banget sesuatu yang buruk terjadi sama Kak Ditya. Makanya gue selalu kepikiran."
"Jangan terlalu banyak di pikirkan ya Zi, gue yakin lo pasti bisa lewati ini semua. Badai pasti berlalu." Lena menepuk punggung tangan Ziana untuk menyalurkan semangatnya.
"Iya semoga semuanya cepat berlalu." lirih Ziana.
"Lo nggak sendiri Zi, masih banyak orang yang sayang sama kalian. Apa pun yang terjadi lo harus tetap menjadi penyemangat buat Kak Ditya."
"Lo bener, makasih ya Len." Ziana memeluk tubuh sahabatnya itu, sesungguhnya hati dan jiwanya sangat rapuh melihat suami yang begitu ia sayangi tengah berjuang antara hidup dan mati, begitulah yang ia tau dari setiap artikel yang di bacanya. Ziana selalu mencari tau semua hal yang terkait dengan penyakit suaminya, tapi tak satu pun kabar baik yang dari akhir pengobatan penyakit mematikan itu.
Maka sekeras apa pun ia berusaha untuk baik - baik saja tapi kenyataan yang ada bahwa ketakutannya semakin hari semakin tak terkendali. Di setiap Aditya terlelap tidur, Ziana selalu ketakutan jika suaminya tak akan pernah bangun lagi.
"Sebaiknya kita kembali sekarang, gue takut Kak Ditya butuh gue." Ucap Ziana setelah mengurai pelukannya.
"Ok yuk." Keduanya pun beranjak pergi meninggalkan kantin rumah sakit untuk menuju ruang rawat Aditya.
Setelah sampai di depan pintu Ziana menarik handle pintu dan melihat Aditya yang tengah bersandar di atas bed, ia tersenyum saat melihat Ziana masuk.
"Sudah selesai sweety?" tanya Aditya.
"Sudah, dimana Kak Bara kenapa tak ada di sini?" tanya Ziana manik matanya berusaha mencari sosok Bara.
"Aku yang menyuruhnya keluar, tadi aku ingin istirahat sebentar."
"Kalau begitu aku permisi dulu mencari Kak Bara." jawab Lena yang sebenarnya mendapat pesan dari Bara untuk menemuinya di ruangannya.