
Aditya pulang menuju appartementnya dengan suasana hati yang sangat baik. Di sepanjang perjalan pulang tadi ia tak hentinya terus tersenyum, rasanya ingin ia bawa Ziana bersamanya tapi ini memang belum waktunya.
Saat tengah tersenyum memikirkan Ziana, ponsel di sampingnya bergetar saat ini ia sedang duduk di mini bar dan langsung ia angkat video call yang merupakan panggilan dari Mommy nya.
"Ada apa Mom?" tangan kanan nya memegang ponselnya dan tangan kirinya memegang botol air minum.
"Sepertinya Mommy mencium bau - bau aroma cinta ini, akhirnya putra Mom merasakannya juga." Mom Irene tertawa menggoda putra kesayangannya.
"Apa maksud Mom?" Aditya mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Mom tau semuanya Ditya, semuanya." Mom Irene menekankan kalimatnya agar Aditya mengerti.
"Ckk.."
"Mom sengaja tidak menghubungi mu selama ini agar kau bisa berpikir lebih dewasa mengambil keputusan yang tepat, dan syukurlah semua sesuai dengan harapan meskipun kau sangat terlambat Ditya." Ucap Mommy yang dengan terus menggelengkan kepalanya merasa heran dengan sikap aditya yang terkesan plin plan.
"Aku tau Mom."
"Kau tau Ziana gadis yang baik Mom sudah menyelidiki semua nya, Mommy selalu selangkah lebih maju dari mu. Kau tau itu?" Mommy menyipitkan matanya dengan menunjuk layar ponselnya seolah Aditya tengah berdiri di hadapannya.
"Iya aku terlalu lambat mom." Aditya sedikit menunduk mengingat beberapa kali ia menyakiti hati Ziana.
"Ah sudah lah memang itu kelemahan mu, awas saja jika kau menyakiti atau pun putus dengan calon menantu Mom. Akan Mom coret kau dari ahli waris." Mom Irene dalam mode mengancamnya.
"Whattt!!!!!" Aditya kaget mendengar apa yang di ucapkan Mommy nya itu.
"Mom sibuk sudah dulu ya hari ini Mom ada jadwal perawatan,byee." dan panggilan pun berakhir.
"Apa dia benar Mommy kandungku?" gumam Aitya dengan berjalan menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya.
Sementara itu di rumah sederhana yang masih berkumpul keluarga Ziana yang belum puas mendengar jawaban dari putri mereka, terus saja mengorek informasi mengenai status aditya dan Ziana.
"Kalau iya kenapa? terus kalau nggak kenapa?" tanya balik Ziana yang mulai jengah mendengarnya.
"Isssh kamu ini tinggal jawab aja muter mulu, gedek Ibu lama - lama, mulai besok kamu yang masak di rumah ini." Ibu Rina yang sudah mulai hilang kesabarannya pun mulai memberi ancaman.
Zian yang langsung melotot tajam mendengar perkataan Ibunya dengan cepat mengelengkan kepalanya.
Jangan sampai ini orang masak, bisa hancur dapur di rumah dan lagi nasib kesejahteraan perut gue terancam. Nggak bisa gue nggak mau jadi kelinci percobaan masakannya, yang entah dapat ilham dari mana resep masakan nya.
"Lo tinggal jawab aja coba ih, mau lo bangun tiap pagi terus." Zian mencoba memprovokasi.
Ziana mulai menghela nafasnya pelan dan melihat ke arah Bapak yang hanya seperti patung tak dapat berkomentar apa pun.
"Iya Zi pacaran dengannya Bu." Jawab Ziana pada akhirnya.
"Nah kan tinggal jawab gitu doang dari tadi susah amat kamu."
"Ya sudah bubar semua Ibu juga udah ngantuk." dengan wajahnya yang tanpa merasa bersalah Bu Rina meninggalkan mereka bertiga yang tengah menatap kepergiannya.
"Bapak juga ngantuk mau nyusul Ibu." Bapak pun melakukan hal sama.
"Apa lo ngantuk juga sana balik lo ke kamar." ketus Ziana lalu ia pun berbalik dan membuka pintu kamarnya.
"Ishh awas lo kalau butuh gue, ah yang jelas kesejahteraan perut gue sekarang aman terkendali."
Ziana yang berada dalam kamarnya kini juga melakukan hal yang sama dengan Aditya, ia tersenyum kala mengingat kejadian tadi yang ia alami dengan kekasihnya itu.
"Ah rasanya gue masih seperti mimpi bisa menjadi kekasihnya."
Saat tengah asiknya melamun ia di kejutkan oleh getaran ponselnya dari dalam tas.
Drrrrt...drrrrttt.
Panggilan video call dari Aditya dan dengan cepat ia mengangkat nya.
"Kau sedang apa?" tanya Aditya di sebrang sana dengan menyandarkan tubuhnya pada headboard tempat tidurnya.
"Aku sedang memikirkan Kak Ditya." Jawab Ziana dengan tanpa ada rasa malu sedikitpun.
Aditya tersenyum tipis mendengar jawaban Ziana. Mereka terus saja mengobrol via video call yang tanpa mereka sadari waktu berlalu begitu cepat hingga mereka pun menyudahi nya untuk segera menjemput mimpi indah di malam yang juga terasa indah bagi mereka berdua.
***
Pagi hari seperti biasa rutinitas kali ini di mulai dari teriakan Bu Rina yang membangunkan ke dua anaknya. Karena pintu kamar yang berdampingan maka ke dua tangan Bu Rina mengetuk secara bersamaan.
"Zian, Ziana bangun kalian bantu Ibu nyuci!!" beberapa menit tetap tak ada jawaban dari ke dua nya.
"Baiklah lihat saja jika dalam hitungan ke tiga kalian tidak ada yang keluar, tidak ada jatah makan dan jajan untuk kalian!" teriakan 7 oktaf BubRina di keheningan pagi ini melebihi lengkingan suara si Rembo ayam kesayangan Pak Risman.
Belum sempat menghitung pintu ke dua nya terbuka bersamaan dengan kondisi yang sama mengenaskan. Rambut yang acak-acakan, mata yang setengah terbuka karena masih menahan kantuk dan baju yang kusut tak berbentuk.
"Cepat cuci muka kalian dan bantu Ibu di belakang." Bu Rina berbalik melangkah pergi ke belakang.
Satu jam setelah semua nya beres membantu mengerjakan perintah Ibu nya, kedua nya bergegas untuk segera bersiap-siap untuk pergi. Zian ke sekolah dan Ziana ke kampus.
"Hari ini kamu jadi ke peruusahaan kosmetik itu Zi?" tanya Bu Rina ketika tengah sarapan bersama.
"Jadi Bu, mungkin nanti setelah pulang dari kampus."
"Semoga kontrak lo bisa seumur hidup, jadi kita nggak perlu lagi nyuci biar Ibu punya karyawan." Zian ikut menimpali.
"Dasar anak nakal bantu Ibu segitu aja kamu udah ngedumel terus." Ibu pun menjewer telinga Zian.
"Aduh sakit Bu." Ucap Zian meringis.
"Mana ada kontrak seumur hidup emang gue nggak bakal tua, kecuali kalau gue di kontrak jadi istri pemilik perusahaannya pasti otomatis kontrak seumur hidup." cicit Ziana menimpali Zian.
"Amin aja deh biar cepet, ntar gue salah ngomong dapat jackpot lagi." Ziian melirik Ibu nya yang sedang melahap sarapannya.
Setelah sarapan mereka pergi dengan menaiki motor, jalanan yang ramai membuat lalu lintas sedikit macet karena ini merupakan jam sibuk orang berangkat untuk beraktifitas.
Ziana turun dari di depan gerbang kampus, tepat saat ia akan melangkah suara seorang pria memanggilnya.
"Zi tunggu." pria itu berteriak ia kemudian melajukan motor besarnya agar bisa berbicara dengannya.
"Evan." Ziana tersenyum.
"Lo nggak apa-apa kan waktu acara itu kita baru ketemu lagi sekarang?" tanya Evan dengan melepas helm nya.
"Oh iya waktu itu sorry lupa ngabarin, gue di jemput Zian ada keperluan mendadak." Ziana tersenyum canggung.
"Emm gitu ya udah kita bareng aja ke dalamnya." Ucap Evan.