
Setelah berpamitan Lena pun keluar ruangan untuk segera menemui kekasihnya, yang menunggu di ruang kerjanya.
"Sweety jangan telat makan karena terlalu mencemaskanku, aku tak ingin kau juga ikut sakit." tangan kiri Aditya menyelipkan anak rambut Ziana ke belakang telinga karena kini Ziana sedang duduk di atas bed tempat Aditya tengah bersandar.
"Baiklah suamiku sayang, apa tadi dokter Fiko sudah visit?" tanya Ziana yang kini menatap manik mata suaminya.
"Sudah." Ucapnya dengan tersenyum.
"Bagaimana perkembangannya?"
"Sudah jauh lebih baik, hanya saja besok aku harus kemo lagi." Jawab Aditya menutupi kenyataan yang sebenarnya terjadi, sungguh rasanya saat ini ia ingin sekali berteriak mengeluarkan semua isi hatinya, semua hal yang membuat dirinya merasa tak adil mendapatkan cobaan seperti ini. Tapi ia hanya bisa menutupinya dengan bersikap seolah semuanya tak ada yang perlu di khawatikan. Aditya tak ingin jika membuat Ziana bersedih dan akan terus menangis mengingat kondisinya yang kian memburuk.
Sayangku jika nanti aku telah pergi, janganlah bersedih terlalu lama kau harus melanjutkan hidupmu. Ragaku nanti memang tak lagi bersamamu tapi cintaku akan selalu ada bersamamu. Tuhan jika memang waktuku sedikit lagi bersamanya biarkan aku memberikan kebahagiaan untuknya, jangan biarkan sakitku membuatnya repot mengurusku. Setidaknya aku akan meninggalkannya nanti dengan semua kenangan indah yang akan selalu di kenangnya.
"Hey kau melamun suamiku?" Ziana melambaikan tangannya ke arah Aditya.
"Tidak, aku hanya ingun memandangmu lebih lama lagi. Istriku yang cantik ini pasti akan selalu tersenyum untukku bukan?" Tanya Aditya dengan membelai pipi Ziana lembut.
"Tentu, hanya suamiku yang akan menerima semua hal yang ada pada diriku. Karena aku hanya milikmu."
"Kemarilah." Aditya menggerakkan tangannya agar Ziana mendekat padanya dan dengan segera Ziana pun memeluk hangat suaminya, pelukan yang selalu ia rindukan setiap waktu.
Tak terasa setetes bulir bening jatuh dari kedua mata Aditya, dengan cepat ia pun menghapusnya.
"Biarkan seperti ini dulu, aku sangat merindukanmu." ucap Aditya.
"Sebanyak yang kau maupun, aku akan berikan padamu."
Setelah pelukan beberapa menit berlalu, mereka pun mengurai pelukannya. Aditya tersenyum seolah tak ada yang terjadi, ia bersikap seperti biasa.
"Kau pasti lelah sweety, ayo berbaringlah di sampingku. Kita tidur bersama." Ziana hanya menurut apa yang di perintahkan suaminya, karena sejujurnya matanya sudah tidak bisa di kondisikan lagi. Ia sangat mengantuk, dan tak berapa lama nafas teratur terdengar dari hembusan nafas Ziana.
Aditya menatap istrinya yang kini terlelap tidur di sampingnya, ia terus membelai rambut Ziana.
Tuhan aku titip dia, berikanlah semua hal baik untuknya. Hiasilah harinya nanti dengan senyuman dan kebahagiaan setiap harinya, jangan biarkan ia menangisi kepergianku terlalu lama. Aku titipkan wanita yang paling aku cintai ini, berilah padanya cinta yang lain yang akan membuatnya kuat untuk menghadapi harinya setelah aku pergi.
Setelah itu Aditya pun memeluk tubuh Ziana dan ikut terlelap dengannya di satu bed yang sama. Tanpa mereka sadari ada Mom Irene dan juga Dad Gamma yang menyaksikan interaksi keduanya dari tadi. Ya setelah Mom Irene sadar dari pingsannya ia ingin segera menemui Aditya tapi karena mendengar percakapan antara anak dan menantunya, maka di urungkannnya niat mereka untuk masuk.
Betapa hancur hati Mom Irene, ia menangis tertahan melihat keduanya. Terlebih lagi melihat Aditya yang sangat membuatnya terluka, putra tunggalnya yang di harapkan akan menemani keduanya hingga tua nanti dan memberikannya cucu yang banyak akan pergi di usianya yang masih muda.
Bara yang kini tengah bicara serius dengan Lena membahas tentang kondisi Aditya, langsung berlari karena mendapat telpon dari Dad Gamma jika Mom Irene kembali tak sadarkan diri. Sedangkan Lena mengikutinya dari belakang, berlari menuju ruang IGD.
"Sebentar Dad aku akan memeriksa Mom." Bara langsung masuk ke dalam ruang IGD dan memeriksa kembali keadaan Mom Irene. Setelah beberapa saat Bara keluar dan memberikan kabar mengenai kondisi Mom Irene.
"Dad sebaiknya Mom di rawat dulu, Mom mengalami shock berat. Aku takut jika Mom bisa pingsan berkali - kali jika sadar nanti karena mengingat Ditya. Di sini akan jauh lebih baik, aku bisa memeriksanya setiap saat Dad." ucap Bara menerangkan.
"Bagaimana baiknya saja, Dad ikut saranmu."
"Baiklah, kita pindahkan Mom ke ruangan dulu ya Dad." Dad Gamma hanya mengangguk sebagai jawaban, ia sudah tak bisa berpikir jernih lagi. Kini anak dan istrinya telah terbaring sakit dan dirinya harus kuat untuk keluarganya.
"Sayang sebaiknya kau jaga Mom dulu sebentar ya, aku akan mengajak Dad berbicara dulu." Ucap Bara pada Lena, sejak menjadi sepasang kekasih Bara memang sesekali menyebut tunangannya dengan panggilan sayang.
"Baiklah." Ucap Lena menyanggupi apa yang di ucapkan Bara.
"Dad mari ikutlah sebentar denganku, Mom Irene biar Lena yang menjaganya." Ucap Bara.
Kemudian mereka pun berjalan meninggalkan ruangan IGD, setelah sampai di taman rumah sakit Bara menghentikan langkahnya ia pun mempersilahkan Dad Gamma untuk duduk. Pilihan taman ia jadikan tempat untuk berbicara dengan Dad Gamma agar suasana tak terlalu tegang dan sedikit rileks.
"Dad kondisi Aditya saat ini mulai memburuk kita harus secepatnya ambil tindakan, aku tak yakin jika bisa membujuknya untuk meninggalkan tanah air dan berobat di luar negri. Karena dulu aku sudah mencobanya hanya saja dia tak pernah mau." Ucap Bara frustasi.
"Apa solusinya menurutmu?"tanya Dad Gamma yang sama kalutnya dengan Bara.
"Ziana, kuncinya hanya istrinya. Tapi aku tak bisa lancang memberi tau yang sebenarnya tanpa persetujuan dari Aditya, Dad."
"Bagaimana kalau kau bicara empat mata lagi dengan Ditya, Dad percaya padamu." Dad Gamma memyentuh pundak pemuda yang telah ia anggap sebagai anak kandungnya itu.
"Baiklah Dad besok setelah kemo, aku akan mencoba berbicara dengan Ditya."
"Ya lebih cepat lebih baik, karena kita tak punya waktu lebih banyak lagi."
"Kau harus kuat Dad, karena mereka semua membutuhkanmu."
"Tentu Dad akan berusaha."
Setelah percakapan antara kedua laki - laki dewasa itu berakhir, mereka pun menuju ruang rawat Mom Irene. Lena yang saat ini tengah menunggu Mom Irene hanya bisa menangis tertahan melihat keadaan orang - orang yang ia sayangi sedang berduka karena kenyataan pahit yang terjadi saat ini.
Sungguh sebenarnya tak ada suatu kebetulan di dunia ini melainkan takdir yang telah di gariskan oleh sang Maha Kuasa atas hidup seseorang, hanya saja terkadang manusia lupa jika apa yang telah menjadi ketetapannya merupakan ketidak adilan bagi mereka jika itu menyangkut kesedihan apalagi kehilangan seseorang yang sangat berharga.