Healing

Healing
100. Kuat Mental



Usai sholat maghrib, aku dan Juna keluar dari kontrakan, tidak lupa Juna mengunci pintu kontrakan terlebih dahulu dan memberikan kunci itu padaku untuk di simpan dalam tas.


Saat kami keluar, kami berpapasan dengan banyak penghuni kontrakan lain, dan Juna memperkenalkan aku pada para tetangga kontrakannya. Takut mereka salah paham, karena Juna memasukan seorang perempuan yang bukan istrinya ke dalam kontrakan.


Aku mengangguk dan tersenyum pada mereka semua tanpa terkecuali. Hingga aku dan Juna keluar dari gerbang kontrakan, berjalan menuju halte bus yang berada tak jauh dari sini.


" Kakak beli gorengan dimana tadi siang?, apa di warung ujung jalan tempat kita sarapan tadi pagi?", tanya Juna saat kami duduk di halte, menunggu ada bus lewat. Ternyata enak juga tinggal di kota besar, transportasi umum buka 24 jam, tidak seperti di daerah pinggiran yang angkutan umum nya hanya sampai jam 5 sore saja.


" Nggak beli, Kakak dikasih sama tetangga kamu, si Rasid ", jawabku singkat.


Juna mengangguk sambil ber 'oh' panjang. " Jadi tadi siang sempat ngobrol lama sama bang Rasid?".


" Nggak juga, dia yang banyak bicara, kakak lebih banyak diam dan mendapat banyak pertanyaan darinya", jawabku.


Aku mengikuti Juna yang masuk ke dalam bus besar yang berhenti di depan kami. Aku dan Juna duduk bersebelahan karena penumpang di bus tidak terlalu banyak, masih ada beberapa kursi yang kosong. Bus melaju lambat, sehingga Juna bisa memberi tahuku nama gedung-gedung yang kami lewati, dan menunjukkan tempat yang biasa ramai untuk tongkrongan.


Hanya sekitar 20 menit perjalanan, Juna mengajakku turun dari bus karena kami sudah sampai di depan pasar.


Ternyata tidak seperti bayanganku, aku membayangkan pasar di sini seperti pasar di tempat tinggal kami dulu, masih becek kalau habis hujan, dan bau busuk yang menyengat dari tumpukan sampah di samping pasar. Tapi di pasar ini, semuanya tertata rapi dan bersih, tidak ada bau sampah, dan lantainya juga sudah di keramik, tidak becek jika hujan.


Malam ini aku membeli beberapa perabot dapur, tapi belum terlalu lengkap, karena kontrakan Juna yang kecil, mungkin akan terlalu sesak jika membeli banyak perabotan. Kami harus mencari kontrakan baru terlebih dahulu, yang lebih besar agar muat banyak barang.


Seperti rencana semalam, Juna juga membeli kasur busa berukuran sama dengan yang ada di kamar, hanya muat untuk tidur satu orang saja. Tapi kali ini Juna membeli kasur yang bisa di lipat agar saat siang kasur itu berubah fungsi menjadi tempat duduk.


Kami pulang kerumah dengan mencarter sebuah mobil pickup untuk membawa barang belanjaan kami, sekaligus kami berdua ikut pulang dengan mobil itu.


Aku dan Juna belum makan malam, karena itu kami tadi lebih dulu membeli nasi goreng di depan pasar. Namanya nasi goreng gila, yang beli sangat mengantri, dan ternyata yang membuat sangat laris karena nasi goreng itu berasa sangat pedas. Melihat penjual nasi goreng itu membuatku terinspirasi untuk membuat sesuatu yang baru.


Jika nasi goreng se pedas itu begitu banyak peminat, berarti mayoritas masyarakat disini suka makanan pedas. Mungkin aku harus membuat masakan dengan cita rasa yang pedas.


Mobil pickup sampai di depan pintu gerbang kontrakan, ternyata pintu gerbang ini tidak pernah ditutup, aku baru tahu itu, karena memang penghuni kontrakan pulang dan berangkat kerjanya tidak selalu sama, waktu nya bervariasi, ada yang masuk kerja sore dan pulang malam, ada yang berangkat kerja malam dan pulang pagi. Seperti itulah kehidupan di kota besar. Dan aku baru mengetahuinya setelah tinggal disini.


Supir mobil pickup membantu menurunkan barang belanjaan kami, Juna dan aku juga membawa belanjaan di kedua tangan kami. Bahkan Juna harus kembali ke mobil dan mengambil belanjaan yang belum terbawa.


" Apa masih banyak barang yang harus diambil?, kalau iya biar ku bantu", Rasid menawarkan bantuan. Namun aku menggelengkan kepala.


" Makasih, tapi tidak usah, sudah dibawa semua barang belanjaan nya", jawabku sambil membuka kunci pintu kontrakan dan membawa masuk belanjaan yang tadi tergeletak di lantai depan pintu.


Namun Rasid tetap membantu dengan memasukkan belanjaan lain yang masih tergeletak ke dalam ruang tamu.


" Eh bang Rasid udah balik, makasih bang udah dibantuin", ucap Juna yang sedang membawa kasur busa lipat di tangannya.


" Beli kasur lagi lu Jun?, kalo tahu lu mau beli kasur, bakalan gua larang, itu kasur milik gua lu pake aja, kayaknya mulai besok gua tidur di bengkel, biar nggak bolak-balik", ujar Rasid.


" Emang di bengkel ada kamarnya bang?, lagian bukannya sewa kontrakan Abang baru di perpanjang Minggu lalu pas aku mau mudik?, kalau nggak Abang tempati sayang dong biaya sewanya nggak bisa balik", ucap Juna.


" Kalau lu mau nempatin, pake aja Jun, bener kata lu, sayang sudah dibayar sewa setahun kedepan. Duit kagak bisa balik juga, tapi kerjaan di bengkel lagi banyak banget, makanya gua mau tinggal di bengkel dulu sementara waktu, biar bisa garap itu mobil sampe malem disana", terang Rasid.


" Jadi kalau aku tempati, mau disuruh bayar berapa sewanya bang?".


Dari ucapannya sepertinya Juna tertarik untuk menempati kontrakan milik Rasid. Mungkin Juna merasa kontrakannya menjadi sempit karena barang-barang yang aku beli tadi. Tapi mau melarang pun Juna merasa tidak enak padaku. Karena itu Juna setuju untuk menempati kontrakan sebelah yang akan di tinggal oleh pemiliknya sementara waktu.


" Kagak perlu bayar lah Jun, lu udah gua anggap adik gua sendiri, lagian gua kagak tinggal di bengkel tiap hari, nyampe setahun, kalau lagi banyak banget kerjaan aja, kalo udah mulai santai gua balik kesini, kita bisa tidur bareng di kontrakan gua, kan kasurnya gede, muat buat berdua, nggak kaya kasur lu yang kecil".


Juna mengangguk paham." Makasih ya bang, tapi malam ini aku tetap tidur di kontrakan ku dulu bang, mau nyobain kasur baru, besok kalau Abang nggak pulang, kunci kontrakan Abang di titipkan sama kak Raya saja", ucap Juna.


Dan setelah percakapan antara Juna dan Rasid barusan, kedepannya Juna jadi sering tidur di kontrakan sebelah, yang lebih lapang dan tidak banyak perabotan. Aku tidak mempermasalahkan hal itu, dan sebagai gantinya, saat Rasid menitipkan kunci kontrakan nya padaku, dia meminta agar aku setuju untuk menyiapkan makanan untuknya setiap hari, dari makan pagi, siang, dan malam.


Bengkel milik Rasid memang terletak di seberang jalan dari posisi kontrakan, tidak terlalu jauh, jalan kaki sekitar sepuluh menit bolak bali, makanya aku menyetujui untuk mengantarkan makanan ke sana, lumayan dapat pelanggan tetap, padahal baru mulai usaha.


Besoknya aku mulai berjualan, untuk hari pertama alhamdulilah ada beberapa pembeli yang sebenarnya adalah tetangga kontrakan kami.


Dan semakin hari pembeli di warung nasi ku semakin banyak, bahkan bukan hanya penghuni kontrakan sebelah, ada juga pembeli dari lain tempat yang sengaja membeli nasi bungkus di tempat ku. Aku bersyukur jika mereka menyukai masakan ku.


Setiap harinya bertambah terus langganan ku, dari yang awalnya aku hanya memasak 1 kilo beras untuk dijual dan untuk makan sendiri, saat ini dalam waktu sehari aku bisa menghabiskan 3 kilo beras, untuk pagi, siang, dan malam.


Tak terasa aku sudah menghabiskan waktuku di tempat ini selama satu bulan. Rasid sudah kembali pulang ke kontrakan nya, tapi Juna tidak pulang ke kontrakannya sendiri, dia justru lebih memilih tidur berdua dengan Rasid di kontrakan sebelah. Aku tidak mempermasalahkan hal itu, yang penting semuanya tidak ada yang keberatan dan sama-sama merasa nyaman.


Setiap hari aku rutin membuat makanan untuk Rasid seperti pesannya dulu. Rasid bahkan sudah membayar makanan untuk sebulan kedepan di muka. Karena itulah aku tidak enak jika tidak menyiapkan makanan untuknya.


Semakin hari warung nasi milikku semakin ramai pembeli, bahkan di bulan ke tiga, aku bisa menghabiskan beras sekitar 10 kg setiap harinya. Alhamdulillah, aku bersyukur karena ternyata usahaku berjalan lancar.


Kontrakan Juna aku gunakan untuk masak, dan depan kontrakannya sengaja di pasang atap sekitar 3 meter, untuk lesehan jika ada yang mau makan di tempat, tentu saja kami memasang atap setelah meminta ijin pada pemilik kontrakan, dan untung pemilik kontrakan memberi ijin dengan menambah biaya sewa tentunya.


Namun dibalik kelancaran itu, tetap saja ada masalah yang muncul, apa lagi kalau bukan karena kecemburuan dari pemilik warung nasi yang berada tak jauh dari kontrakan. Warung nasi yang dulu menjadi langganan Juna, kini pembelinya sepi karena banyak yang pindah menjadi langganan di warung ku.


" Jangan diambil hati kak, mereka itu datang kesini dan marah-marah karena merasa langganannya dicuri sama mba, padahal semua orang kan berhak memilih sendiri dimana akan membeli makanan, kita tidak memaksa mereka makan disini, mereka sendiri yang menilai mana warung makan yang rasanya lebih enak dan harganya lebih terjangkau".


" Seharusnya pemilik warung yang di ujung jalan itu membenahi rasa masakannya, dan mengambil untung tidak terlalu besar sehingga pelanggannya tidak kabur, bukannya datang kesini dan marah-marah ke kakak begitu. Untung saja ada Bang Rasid di rumah, jadi bisa bantu belain kak Raya, coba kalo nggak ada bang Rasid, mungkin kakak kena mental di labrak pemilik warung nasi di ujung jalan".


" Besok terus jualan saja seperti biasa, karena persaingan usaha itu sudah biasa Kak, jangan takut karena ancaman pemilik warung makan ujung jalan. Kalau mereka masih bertindak seperti tadi siang, kita bisa laporkan ke pak RT".


Aku mengangguk, memang ini bukan pertama kalinya ada orang yang mendatangi rumah dan marah-marah padaku, mental ku sudah kuat, dan terbiasa karena hal seperti itu dulu sering aku alami. Jadi tentu saja esok harinya aku tetap belanja bahan makanan ke pasar dan tetap membuka warung nasi. Bisa kasihan pelanggan ku jika aku tidak jualan, mereka bisa kelaparan karena tidak sempat mencari sarapan.


Bahkan kadang ada juga anak SMP yang disuruh ibunya membeli nasi bungkus tiap pagi, karena ibunya harus berangkat kerja pagi-pagi sekali dan tidak sempat masak untuk keluarga nya. Kadang jika melihat anak berseragam SMP membuatku teringat dengan Shaka. Entah bagaimana kabar Shaka sekarang.


Karena nomor telepon ku ganti setelah tinggal dua minggu disini. Ponselku hilang saat aku ke pasar. Waktu coba menghubungi nomorku masih aktif, tapi tidak ada yang mengangkat panggilan, dan keesokan harinya nomorku sudah tidak aktif lagi, mungkin ponselnya mati kehabisan baterai, atau di temukan seseorang dan nomornya di buang. Entahlah...


Mungkin ini lebih baik, untukku benar-benar membuka lembaran baru. Lagian saat aku menghubungi Yoga untuk menanyakan kabar Shaka, Yoga tidak pernah sekalipun mengangkat teleponku. Bahkan pesan dariku juga diabaikan.