
" Sengaja datang ke sini, atau ada urusan deket sini, jadi mampir?", Riko duduk bersama Yoga di sofa panjang depan televisi.
" Ada urusan deket sini, karena ngelewatin rumah Bian sekalian mampir", jawab Yoga singkat.
Aku melihat mereka berdua saling menatap, tatapan Yoga yang merasa kesal dan tatapan Riko yang seolah mengejek Yoga, mereka sahabat tapi saat ini seperti seorang musuh. Karena meski duduk bersebelahan, tapi mata mereka seolah sedang berperang.
" Maaf, kalau kalian pada masih mau disini, aku pamit pulang dulu, soalnya mama dan papaku sedang menjenguk adikku di perkemahan, aku harus segera pulang karena mama ngirim pesan nyuruh aku nyalain lampu rumah. Hari sudah semakin sore, khawatir sampai rumah sudah gelap".
" Makasih ya Ko sudah nemenin aku kesini, besok aku bawakan bekal lagi sebagai tanda terimakasih untuk bantuan hari ini", ucapku sambil tersenyum penuh kemenangan.
Riko mengacungkan ibu jarinya, " Dengan senang hati Ra, tiap hari dibawain bekal juga aku nggak masalah", canda Riko sambil terkekeh.
" Berani bayar berapa mau tiap hari dibawain bekal?, sudah dikasih hati mau minta jantung!" gumamku sambil berlalu.
Aku keluar dari rumah Bian dengan membawa motorku sendiri, malam minggu di rumah sendiri tanpa mama, papa, dan Shaka, juga tanpa Bian juga, mungkin aku akan tidur lebih awal malam ini.
Sepanjang jalan hanya itulah yang terpikir olehku, hingga aku sampai di rumahku dan benar, rumah masih terkunci, dan kunci di simpan di tempat biasa kami menyimpannya.
Aku masuk setelah membuka kunci rumah, langsung ku nyalakan semua lampu, dari teras, sampai belakang rumah, karena sejak aku tersesat di hutan saat pendakian kemarin, jujur aku jadi takut dengan tempat yang gelap.
Seolah semua suara seram akan terdengar, dan bayangan-bayangan yang sebenarnya tak ada, menjadi seperti ada. Karena itulah sekarang aku tidak suka dengan tempat gelap.
Adzan berkumandang, lagi-lagi ponselku berdering, ada pesan dari mama yang mengabari ku mungkin akan sampai rumah sampai larut malam, karena acara api unggun baru akan dimulai jam 8, mama juga bercerita bahwa Shaka akan tampil menyanyi sambil bermain gitar saat acara api unggun nanti.
Aku bahagia mendengarnya, putraku akan tampil lagi, tapi aku tidak disana, jujur aku ingin melihatnya, tapi tadi Bian mengirim pesan jika malam ini akan menginap di rumah orang tuanya lagi.
Usai sholat maghrib aku memilih merebahkan diri di karpet yang ada di ruang tengah sambil menyalakan televisi keras-keras, bukan untuk aku tonton, tapi untuk teman agar suasana menjadi berisik, setidaknya hal itu bisa mengurangi rasa takutku. Sedangkan aku sendiri sibuk bermain game di ponselku.
Bian mengirim beberapa foto undangan pernikahan kami yang sudah jadi, dan sudah ada di rumah orang tuanya. Semuanya memang ibunya Bian yang memilih, aku yang hanya punya budget sedikit tentu saja berniat memesan undangan yang biasa saja, lagian temanku kerjaku tidak banyak, dan teman bermain tidak punya sama sekali, menyedihkan sekali kan?, seorang gadis yang tidak mempunyai teman. Karena itulah aku tidak terlalu ambil pusing untuk urusan undangan.
Sebenarnya kisah berawal dari masa SMP yang sebenarnya aku memiliki beberapa teman dekat, dan semuanya menjauh seketika saat aku membuat kesalahan bersama Yoga, sebenarnya orang tua merekalah yang melarang mereka bermain denganku, mungkin khawatir akan ketularan jejak buruk ku jika tetap berteman denganku.
Hingga aku berhasil menyelesaikan sekolahku yang tertunda, dan mulai bekerja, waktuku habis hanya untuk kerja dan kerja, tak berniat lagi mencari teman, kecuali teman kerjaku, Rita dan Hani yang lebih muda usianya dariku. Kami dekat karena setiap hari bertemu di tempat kerja.
Dan sesekali jalan-jalan keluar bersama jika ada waktu luang, tapi itu juga sangat jarang, karena kami lebih suka menghabiskan waktu luang untuk beristirahat setelah capek bekerja.
Ku dengar suara ketukan pintu dari depan, sepertinya ada tamu yang datang malam-malam begini, mungkin tetangga atau teman Papa, ku kecilkan suara televisi dan berjalan keluar, tamu itu tidak mengucapkan salam, sehingga ku intip dari jendela depan, seorang laki-laki, tapi tidak terlihat wajahnya karena dia berdiri begitu dekat dengan pintu, menghadap ke pintu.
" Maaf cari siapa ya Pak?, mama dan papa lagi nggak di rumah", seruku dari balik pintu, tanpa membukanya, tamu itu terlalu mencurigakan menurutku, sedikit bersikap waspada tak ada salahnya kan?, sekarang posisinya aku sendiri, dan tetangga juga cukup jauh. Lebih baik aku berhati-hati.
" Ini ada titipan buat Shaka, harus saya serahkan pada siapa ya mba?", ucap orang itu dengan mengangkat kantong plastik berisi tiga buah box, sepertinya martabak atau sejenisnya.
Suara orang itu terdengar aneh, seperti sengaja di besar-besarkan. Tapi titipan buat Shaka apa ya?, aku penasaran juga, akhirnya ku buka pintu rumahku, dan orang itu tersenyum dengan sangat lebar, senyuman kemenangan karena lagi-lagi berhasil menipuku.
Tangannya begitu cepat menahan pintu yang hendak ku tutup lagi, dan seperti biasa dia masuk tanpa ijinku dan menutup pintu rumahku dan menguncinya.
Bungkusan yang dibawanya di lepas dan terjatuh di lantai begitu saja, sedangkan kedua tangannya mendorongku ke tembok belakang pintu, mengungkung ku dengan tubuhnya yang kekar dan tinggi berotot.
" Ngapain kamu kesini !, keluar dari rumahku, atau aku akan berteriak!", ancam ku pada Yoga.
Aku paham dengan apa yang dimaksud Yoga dengan menutup mulutku, itu berarti kami akan kembali berciuman. Tidak-tidak, aku tidak mau, langsung ku tutup mulutku dengan tangan kananku. Namun justru Yoga semakin tertawa lepas.
" Ternyata sekarang kamu jadi lebih pintar Ra, belum aku tutup mulutmu, kamu sudah berinisiatif menutup mulutmu sendiri, tenang saja, kalau kamu bisa diajak kerja sama, aku tidak akan melakukan hal-hal yang tidak kamu suka".
" Aku kan hanya meminta kamu nemenin aku ke tempat Shaka berkemah, itu bukanlah hal yang sulit, kenapa kamu terus saja menolak?. Aku mau melihat putraku berkemah, tidak akan aku menemuinya, kamu saja yang bertemu dengannya, aku hanya akan melihat dari jauh, dan bawa itu untuknya, bilang saja kamu yang beli di jalan, itu martabak manis 3 box, bisa untuk Shaka dan teman-teman satu regunya".
Yoga terus bicara memberi tahu rencananya yang ingin ke perkemahan dan melihat Shaka berkemah.
" Tapi ada mama dan papaku di sana, mereka pasti akan marah kalau tahu aku datang kesana sama kamu, kenapa kamu nggak kesana sendiri saja, aku kan sudah kasih tahu kamu dimana Shaka berkemah!", ucapku ketus.
" Kamu ini ibu macam apa?, ayah dari putramu ingin pergi bersama dan menengok putra kita yang sedang berkemah malah kamu tolak, mau dengan sukarela, dan dengan cara halus, atau harus aku paksa nih Ra?", ancam Yoga, dengan nada suara yang dibuat begitu rendah.
Aku sungguh tidak tahu jalan pikiran laki-laki yang ada di hadapanku ini, sejak dulu kebiasaannya memaksakan kehendak belum juga hilang, tapi kalau aku tidak menurutinya, dia akan tetap memaksa dengan cara yang lebih ekstrim. Apa sebaiknya aku antar saja dia ke perkemahan?.
" Oke, aku temani kesana, tapi aku bawa motor sendiri, kamu bawa mobil sendiri mengikuti ku dari belakang. Aku tidak mau mama dan papa banyak bertanya bagaimana aku bisa sampai disana sendiri malam-malam begini"
Yoga nampak menggelengkan kepalanya, " nggak bisa begitu dong Ra, kamu pikir aku laki-laki macam apa yang membiarkan seorang gadis naik motor sendirian malam-malam begini. Aku yang akan memboncengkan kamu, pakai motor kamu. Dan nanti aku bisa pulang sendiri, tenang saja, supir pribadiku bisa aku hubungi kapan saja selama 24 jam".
Yoga begitu pandai mencari alasan agar kami bisa berboncengan motor, orang kaya memang tidak perlu bingung hanya sekedar urusan pulang dan pergi, ada supir pribadi yang selalu siap 24 jam melayaninya.
" Tapi nanti bisa ada teman aku, atau teman kamu yang lihat, aku nggak mau ambil resiko", ucapku menolak.
" Nggak ada, aku sudah bawa masker, dan buat kamu juga sudah ada, nggak akan ada yang mengenali kita jika melihat di jalan, pakai masker, jaket dan helm, sudah dijamin aman".
Yoga masih saja membujuk agar aku mau berboncengan dengannya.
" Ayo buruan, sudah semakin malam, nanti malah jadi kemalaman sampai kesananya".
Yoga memakaikan masker menutupi mulutku dan melepaskan kungkungan nya.
" Aku ganti baju dulu", ucapku singkat saat Yoga membebaskan aku, dan aku langsung masuk kamar, tak lupa menguncinya terlebih dahulu. Sengaja aku ganti dengan kaos panjang dan celana jeans hitam panjang, naik motor malam-malam begini pasti akan sangat dingin.
Sengaja ku pakai jaket tebal yang dibelikan Bian saat hendak mendaki gunung kemarin, agar saat Yoga mengerem mendadak dan mencari kesempatan dalam kesempitan tidak ada yang akan di dapatkannya, karena jaket ini benar-benar menutup lekuk tubuhku dengan sempurna.
Saat aku keluar dari kamar, Yoga sudah berdiri di teras rumah, kantong plastik berisi martabak manis sudah tergantung di motorku.
" Kamu kesini pakai motor?", tanyaku saat melihat motor Yoga, ninja warna merah yang terparkir di depan rumah. Bagaimana tadi aku tidak mendengar suara motor berhenti di depan rumah?, apa karena aku menyalakan televisi dengan suara yang keras?.
" Iya, kenapa?, mau naik motorku saja?, aku bawa motor karena males jalan dari jalan raya kesini kalau bawa mobil, nanti akan di ambil kok motornya sama orang suruhan ku kalau kita pakai motor kamu. Tapi kalau mau pakai motorku aku tinggal kabari orang suruhan ku tidak jadi ngambil motor ke sini".
Aku langsung menggeleng, " Pakai motorku saja, aku kan pulangnya sendiri, kalau bawa motor kamu, mama dan papa jelas akan bertanya-tanya", ucapku sambil memasangkan kunci motorku setelah mengunci pintu rumahku.
" Ingat, jangan sampai kamu menampakkan batang hidungmu disana, itu kalau kamu benar-benar sayang sama Shaka", ucapku mengingatkan Yoga.
" Iya beres tuan putri, aku tidak akan menampakkan diri saat di sana", ucap Yoga, sambil naik ke motorku dan menyalakan mesin motornya.