Healing

Healing
105. Negosiasi



Di dalam salah satu toilet umum yang ada di rumah sakit, aku duduk di atas kloset duduk yang sengaja tak kubuka. Setelah ku kunci pintu toilet, ku ambil ponselku untuk menghubungi Juna.


Mungkin aku harus mendengarkan pendapatnya, siapa tahu aku menemukan jalan keluar yang terbaik, sekarang sudah masuk waktu maghrib, tapi anehnya Juna tidak menghubungiku, atau dia over time. Mungkin saja begitu, tapi jika benar Juna lembur, diwaktu maghrib biasanya ada jeda waktu istirahat untuk sholat dan makan. Karena itulah aku tetap menelepon Juna.


" Wa'alaikum salam", jawab Juna setelah mendengar salam dariku.


" Maaf kak, lupa nggak ngabari, hari ini aku lembur sampai jam 9 malam, mungkin sampai rumah jam 10 an, ini Mala kirim pesan sama aku katanya kakak balik ke kampung dan titip kunci kontrakan padanya. Baru aku baca pesan nya. Memangnya ada kepentingan apa kakak tiba-tiba pulang?", tanya Juna.


Aku pun mulai menceritakan kepada Juna yang terjadi, secara singkat tentunya, karena ini juga Juna telepon sambil makan, supaya waktu istirahat yang hanya setengah jam bisa digunakan untuk makan, ngobrol dan juga sholat.


Juna mendengarkan sambil mengunyah makanannya, suaranya yang tengah mengunyah bisa kudengar dari ponselku.


" Terus kakak sendiri bagaimana?, apa kakak akan menerima syarat yang diberikan oleh kak Yoga?, kalau Juna si sama seperti papa, menyerahkan keputusan di tangan kak Raya, karena kedepannya kakak lah yang akan menjalani hidup bersama laki-laki itu".


" Kalau dalam hati kecil kakak masih ada sisa cinta untuk kak Yoga, terima saja syarat itu, mungkin dengan menikah dan hidup bersama, sisa cinta yang tinggal sedikit bisa tumbuh menjadi besar lagi jika di pupuk dengan perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh kak Yoga untuk kakak saat hidup bersama setelah pernikahan".


" Tapi jika dalam hati kakak yang tersisa hanya ada kebencian, tidak ada sedikitpun rasa cinta yang tersisa. Maka jangan setuju dengan syarat itu. Menikah berlandaskan keterpaksaan itu tidak akan bahagia, dan aku ingin kehidupan kakak tetap bahagia untuk seterusnya ".


Kalimat Juna tidak memberikan bantuan apapun, dia sama saja seperti papa yang menyerahkan keputusan padaku. Justru membuatku semakin bingung, aku sebenarnya masih mencintai Yoga atau tidak. Perasaanku sendiri aku tidak bisa mengetahuinya. Ini cinta, atau sekedar simpatik.


Yang jelas sekarang berarti ada dua kubu disini, yang pertama mama dan Shaka yang meminta aku untuk setuju dengan syarat yang Yoga ajukan, yang kedua papa dan Juna yang menyerahkan keputusan padaku.


Lalu aku harus bagaimana mengambil keputusan. Mungkin kah aku masih mencintai Yoga?. Tapi selama setahun aku tak bertemu dengannya dan tak mendengar kabarnya, aku merasa baik-baik saja, tak ada rasa rindu ataupun sedih karena berjauhan seperti halnya orang yang sedang jatuh cinta. Entahlah....


Sudah terlalu lama aku di dalam kamar mandi, aku keluar dan menuju musholla yang ada di rumah sakit. Di sana tinggal sedikit jamaah yang sedang sholat, karena memang sudah masuk akhir waktu sholat maghrib.


Ku tunaikan tiga roka'at dan berdoa meminta petunjuk. Tak lama aku duduk sambil berdoa di dalam mushola, kulihat seorang muadzin berdiri dan mengumandangkan adzan Isa. Waktu rasanya berjalan begitu cepat.


Aku langsung ikut jama'ah sholat Isa, dan saat jama'ah lain sudah keluar dari masjid, ku lihat seorang ibu-ibu paruh baya masih duduk sambil bersimpuh dan berdoa. Kucoba untuk mendengarkan doanya yang sesekali diselingi isak tangis.


Ternyata masalah nya sama dengan mama, suaminya baru saja kecelakaan, hanya saja setelah aku berhasil mendapatkan informasi dari salah satu perawat, ternyata suami ibu-ibu yang sedang berdoa di dalam adalah seorang supir mobil ekspedisi, dan korbannya tewas di tempat.


Keluarga korban langsung menuntut hukuman mati terhadap suami ibu tersebut. Karena bagi keluarga korban, nyawa harus dibayar dengan nyawa, itu menurut keluarga korban. Tapi karena itu kecelakaan karena rem mobil yang blong, bukan sengaja menabrak, suami ibu itu dikenai pidana penjara selama 10 tahun, tentu saja setelah keadaannya dinyatakan sehat oleh pihak rumah sakit baru dimasukkan penjara.


Ibu itu selesai berdoa dan keluar dengan bersikap seolah semuanya baik-baik saja.


" Loh nak, kenapa masih disini ?, tadi saat ibu masuk, ibu lihat kamu sedang khusuk berdoa. Dan sekarang masih disini juga, semoga keluargamu yang sedang sakit dan dirawat disini segera diberi kesembuhan. Yang penting terus berdoa dan berusaha, pasti Allah akan memberikan jalan keluar yang terbaik. Tidak mungkin Yang Maha Kuasa memberi kepada kita cobaan, diluar kemampuan kita. Ibu juga mendoakan semoga semua cobaan yang sedang kita rasakan akan segera berakhir", ucap ibu itu padaku seolah dirinya begitu kuat dan memberiku nasehat serta memberi semangat padaku.


Padahal tadi aku tidak sedang berdoa, melainkan sedang merenung memikirkan keputusan apa yang akan aku ambil.


Dan dirinya lah yang sedang membutuhkan dukungan dari seseorang. Semoga saja dia diberi kekuatan untuk menghadapi cobaan yang menimpa keluarganya.


Jika melihat dan menyaksikan musibah yang terjadi pada orang lain, ternyata banyak yang memiliki masalah jauh lebih berat dari masalah yang aku hadapi.


Aku jadi malu karena selama ini menganggap bahwa hidupku lah yang paling susah dan menyedihkan. Padahal masih begitu banyak di luaran sana yang hidupnya lebih berat dari ku.


Masalah terbesarku yang sebenarnya, sudah terjadi di masa dulu, hanya saja sulit untuk melupakan, ibarat sekarang pribadiku terbentuk karena pernah mengalami sakit hati yang amat sangat. Tapi mungkin tidak seharusnya aku terus bersikap seperti ini. Aku harus berusaha memaafkan.


Seperti keluarga korban kecelakaan dari suami ibu tadi yang meninggal dunia, menuntut nyawa di bayar nyawa, pasti begitu juga jika keluarga Yoga tahu, Yoga terluka karena papaku, pantas jika mereka menuntut papa untuk bertanggung jawab dan hendak melaporkan ke pihak berwajib.


Itu tidak boleh terjadi, karena jika sampai itu terjadi, mama bisa stress berat, dan darah tinggi nya bisa kumat.


Baiklah aku akan mencoba bernegosiasi dengan Yoga, jika memang tidak bisa dengan hal lain dan aku harus menikah dengannya demi mama dan Papa, maka sebagai putrinya aku harus rela melakukan apapun.


Ku ketuk pintu kamar, tak ada suara, di dalam kamar hening, akhirnya ku buka pintu kamarnya, tapi Yoga tidak ada di ranjangnya, kamarnya kosong, kemana mereka, aku bahkan sampai lupa tidak meminta nomor mereka yang bisa dihubungi tadi.


Padahal aku sudah berniat untuk setuju dengan syarat yang Yoga berikan, tapi mereka malah sudah tidak ada. Kalau terlalu lama tidak bertemu, mungkin aku akan berubah pikiran lagi.


Akhirnya aku menuju ruang papa di rawat, namun justru di depan ruang papa sedang ramai dengan orang-orang yang mengintip lewat pintu dan jendela kamar, ada juga yang sambil merekam kejadian di dalam dengan ponselnya.


" Ada apa pak?, maksudku ada kejadian apa di dalam?", tanyaku pada salah satu orang yang sedang mengintip dari jendela sambil merekam kejadian di dalam dengan ponselnya.


" Itu mba, ada orang sakit lagi mau ngelamar ke calon mertuanya yang sama-sama lagi dirawat. Dengar-dengar si lagi belum dapat restu, makanya lama banget di dalam, sampai sama perawat dan keamanan di suruh balik ke kamarnya yang di ruang VVIP, tapi nggak mau, katanya sih masih mau nunggu si ceweknya memberikan jawaban. Cowoknya teman yang punya rumah sakit ini, orang kaya, suka sama anaknya orang miskin, malah orang miskinnya yang jual mahal, lumayan kan mba dibikin konten, bakal rame nanti di sosmed dan TokTok".


" Kalau saya di posisi bapak-bapak itu, bakal langsung saya terima lamaran dari pemuda itu. Wong pemudanya banyak luka di wajahnya saja kelihatan ganteng, apalagi kalau sudah sembuh, pasti tambah ganteng, sudah jelas kaya, soalnya kata perawat tadi, pemuda itu dirawat di ruang VVIP, kelihatan cinta banget itu cowok sama putrinya bapak-bapak itu", ucap si bapak panjang lebar.


Benarkah begitu kelihatannya?, dasar bapak-bapak nggak ada bedanya sama ibu-ibu, suka berkomentar dan membuat penilaian sendiri


" Memangnya dari mana bapak bisa melihat kalau cowok itu cinta banget sama putrinya bapak-bapak miskin itu?, memangnya bapak kenal sama mereka?", aku akhirnya protes dengan orang yang sok tahu itu.


" Ya tahu lah mba, mana ada pemuda kaya dan tampan yang mau sama anak orang miskin kalau bukan karena cinta banget. Pasti cuma itu alasannya. Mungkin anak bapak-bapak itu cantik, soalnya apa lagi yang dicari pria kalau bukan kecantikan jika ceweknya itu miskin".


Ucapan yang begitu jujur dan tetap masih sok tahu.


" Maaf permisi saya mau lewat, papa saya dirawat didalam, permisi ya, tolong beri jalan", ucapku saat hendak masuk ke dalam kamar dimana papa di rawat.


Semua orang menatapku dan berbisik, entah apa yang mereka bisikkan, mungkin menilai aku menurut versi mereka masing-masing.


" Haidar, tolong ajak Yoga ke kamarnya sekarang, aku akan memberikan jawabannya disana", pintaku pada Haidar yang berdiri dibelakang kursi tempat Yoga duduk.


Haidar masih belum ngeh dengan apa yang aku ucapkan, tapi Yoga cepat tanggap, dan langsung berjalan mengikuti ku menuju ke kamarnya.


" Aku mau kita ngobrol berdua saja di kamar, ada yang ingin aku bicarakan sebelum memberikan keputusan yang sudah aku buat".


Yoga setuju dan menyuruh Haidar tetap di luar. Sedangkan Shaka sudah pulang saat maghrib tadi, karena Yoga melarangnya menginap di rumah sakit, cukup Haidar saja yang menemaninya bermalam di rumah sakit.


Ku tutup pintu setelah Yoga duduk di tepian ranjang tempat tidur nya.


" Mau bicara apa?, kamu setuju, tapi ada syarat juga?", tebak Yoga, dan itu benar.


Aku mengangguk. Dan Yoga langsung berjingkrak memelukku dengan sebelah tangannya.


" Sebutkan syaratnya", ucap Yoga.


" Dilarang melakukan kontak fisik, itu yang pertama. Kamu tidak boleh menyentuhku tanpa izin dariku, apa bisa dimengerti?".


Yoga mengangguk, berarti paham.


" Setelah menikah aku harus segera kembali ke kota, disana ada banyak orang yang setiap harinya bergantung padaku. Aku buka warung disana, itu syarat kedua", ujarku memberi tahu.


Yoga nampak berfikir. " Buat apa menikah kalau tinggal nya sendiri-sendiri, syarat yang kedua aku nggak setuju. Aku saja memberimu hanya satu syarat, karena itu biar adil aku hanya akan setuju dengan satu syarat darimu".


Wah, Yoga tidak bisa diajak bernegosiasi, dia masih tetap semaunya sendiri.