
Jam menunjukkan pukul 5 sore, aku meminta Bian untuk mengantarkan aku pulang, karena sudah cukup lama aku berada di rumahnya. Bian terlihat berat melepas ku pulang, dan enggan mengantarkan aku kerumah ku.
Seperti anak ayam yang akan di tinggal induknya, seolah dia tidak rela membiarkan aku pulang. Bian terus menggelayut manja di tubuhku.
" Bi... sebulan lagi, sabar ya... tinggal sebulan lagi kita pasti akan selalu bersama kemana-mana, di rumah bersama, berangkat kerja bersama, bahkan di tempat kerja juga bersama, jadi sekarang antar aku pulang ya Bi... sudah sore, sebentar lagi Maghrib, aku harus pulang", ujarku sambil mencoba melepas Bian yang masih menyandar padaku.
" Baru pernah aku merasakan waktu sebulan itu menjadi sangat lama Ra.... kenapa sebulan sih Ra, nggak seminggu lagi kita menikahnya".
Aku terkekeh mendengar kalimat protes yang diucapkan Bian. " Seharusnya kamu bilang begitu sama papaku kemarin, waktu papa bilang kita menikahnya sebulan lagi".
" Bukan malah protes sama aku sekarang, lagian sebulan itu nggak lama, kita kan setiap hari ketemu, jadi bukan masalah menunggu waktu satu bulan".
Bian menggeleng, " Justru karena setiap hari kita ketemu, itu membuat aku ingin kita cepat-cepat menikah Ra..., Rasanya tidak bisa lebih lama lagi menahan keinginan ku untuk membahagiakan kamu. Merasakan kenikmatan surga dunia bersama kamu", Bian kembali memelukku dengan sangat erat dari arah belakang.
Aku masih berusaha membujuk Bian agar melepaskan pelukannya, sepertinya akan sulit, dan tidak mudah pulang kerumah di saat Bian manja seperti saat ini.
Baiklah kalau seperti ini terus pasti tidak akan berhasil. " Ayo kita ke kamar", ajakku pada Bian. Bian yang sejak tadi menyender di bahuku langsung berdiri tegak dan menatapku penuh tanya.
" Memangnya mau apa ke kamar?", tanya Bian penasaran.
" Mau buat kamu mengantar aku pulang sekarang, kita ke kamar dan ambil kunci motor, terus kamu antar aku pulang Bi", ucapku meledek Bian.
Aku berjalan ke kamar Bian untuk mengambil kunci motor Bian, aku sudah tahu dimana Bian biasa meletakkan berbagai macam kunci, dari kunci mobil, motor, kunci pintu rumah, dan kunci-kunci yang lain. Ada di belakang pintu kamarnya. Aku pun berjalan cepat untuk mengambil kunci motor Bian.
Jika tidak segera, mungkin aku belum sampai rumah saat maghrib nanti.
Bian mengikuti langkahku masuk ke dalam kamar, saat aku sudah masuk ke dalam kamarnya dan sedikit menutup pintu kamar Bian untuk mengambil kunci motornya. Justru Bian menutup pintu kamarnya dan menarik tubuhku kedalam pelukannya.
Apa sebegitu inginnya Bian menyentuh tubuhku ?, apa semua laki-laki mencintai wanitanya karena ingin menikmati keindahan tubuh mereka?.
" Tetaplah disini Raya, aku sangat mencintaimu, dan aku ingin kita melewati malam ini bersama, biar aku telepon ayahmu dan minta ijin padanya agar kamu menginap disini malam ini".
Apa yang terjadi dengan Bian?, kenapa Bian jadi se agresif ini padaku?, apa karena dia merasa aku sudah menjadi miliknya, sehingga dia tidak menyerah sebelum aku menuruti keinginannya?.
" Baiklah kalau kamu menginginkan aku, toh tinggal sebulan lagi kita menikah. Kau boleh melihatnya sesuka hatimu Bi, tapi ingat, hanya melihatnya. Bukan menjamahnya".
Bian langsung membuka kancing bajuku, hingga terpampang dua gundukan bukit kembar yang padat berisi. Memang aku sudah pernah melahirkan Shaka, tapi aku jarang menyusuinya, karena ASI yang ku hasilkan saat itu masih terlalu sedikit, dan Shaka lebih sering meminum susu formula, dari pada ASI ekslusif dariku.
Bian membelalakkan matanya melihat bagian atas tubuhku yang sudah terbuka sebagian. Tanpa meminta ijin padaku, dia mendekat dan melepas pengait bra ku, sedikit meremas dua bukit kembar ku dengan tangannya. Membuat aku otomatis mendesah karena timbul glenyeran aneh saat Bian meremasnya. Apalagi saat Bian mulai memilin ujung bukit, tubuhku bisa langsung terasa panas, dan aku mulai menggeliat tidak karuan.
Aku masih ingat betul sensasi yang kurasakan ini, sama persis dengan yang kurasakan 12 tahun yang lalu, saat dimana aku belum bisa mengendalikan diri dan ikut terhanyut kedalam kubangan kenikmatan dunia yang hanya sementara.
" Apa kamu mau mencobanya Ra, aku janji hanya akan melakukannya kali ini saja, dan akan menunggu lagi sampai kita menikah nanti".
Sesuai dugaan ku Bian tidak bisa mengendalikan dirinya setelah melihat apa yang belum seharusnya dilihatnya. Aku saja yang terlalu naif dengan menawarinya untuk melihat tubuhku, tanpa harus menyentuhnya, sungguh pemikiran yang konyol.
Yoga saja yang dulu masih kecil dan baru berusia 14 tahun menginginkan untuk menjamah ku berkali-kali setelah melihat tubuhku. Apalagi Bian yang seorang laki-laki dewasa.
Menolaknya akan membuat hubungan kami kedepannya semakin memburuk. Tapi aku tidak bisa mengulangi kesalahan ku, aku pasti akan sangat menyesal jika melakukan kesalahan lagi seperti dulu.
Ya... aku memberikan servis pertama pemuasan batin pada Bian dengan tanganku, ku mainkan miliknya seolah aku pemain lama dan berpengalaman. Tapi memang sedikit banyak aku tahu tentang hal itu saat menonton film luar di YouTube.
Ku lihat Bian terengah-engah dan mengerang hebat saat cairan putih mengalir dari benda pusaka miliknya. Aku tahu Bian sudah orgasme. Itulah yang dibutuhkannya sejak tadi, kenapa dia terus menahan ku dan tidak membiarkan aku pulang, semata-mata karena dia ingin merasakan kenikmatan dunia bersamaku.
Tapi aku belum bisa, aku masih harus menjaga milikku sebulan kedepan, karena itulah ku cari cara agar Bian puas, dan milikku juga selamat dari terjangan benda pusaka miliknya.
Bergetar...
Tubuhku begitu bergetar dan juga menginginkannya, aku wanita normal, dan lagi aku mencintai Bian, aku menginginkan meneguk kenikmatan bersamanya, tapi bukan hari ini, dan bukan dengan cara seperti ini.
Beruntung Bian tidak menerjang ku dan memaksa untuk melakukan penyatuan denganku, dia menerima semua servis yang aku lakukan, dan hasilnya sama, dia mencapai puncak kenikmatan nya. Meski mungkin tidak akan sama dibanding dengan melakukan penyatuan denganku.
Ku dengar adzan maghrib berkumandang. Aku putuskan untuk mencuci tanganku yang sangat bau cairan putih yang keluar dari milik Bian. Aku sengaja meninggalkan Bian yang saat ini terkapar di kasurnya.
Aku harus pulang dan mandi di rumahku, di sini mungkin Bian masih akan berusaha merayuku sebelum mendapatkan keinginannya. Aku keluar tanpa berpamitan, karena Bian masih lemah di kamarnya, mungkin dia sedang menikmati pengalaman pertamanya merasakan kenikmatan yang aku berikan padanya. Biarlah saja, aku berjalan tak jauh dari rumah Bian dan menemukan tukang ojek, aku pulang dengan naik ojek.
Sampai dirumah aku langsung mandi dan sehat maghrib. Mama dan Papa nampak heran menatapku yang datang dengan berjalan sendiri. Aku memang sengaja turun beberapa meter dari rumah, agar Mama dan Papa tidak tahu aku ngojek.
" Kenapa Bian tidak mampir?", tanya Mama setelah melihat aku melipat mukena dan meletakkannya di lemari.
" Tadi sudah waktu Maghrib, jadi dia nggak mampir kerumah, belum Maghrib dan belum mandi, jadi dia langsung pulang. Barang belanjaan Raya juga dibawa kerumahnya karena besok teman-temannya kumpul di rumah Bian".
" Besok Raya berangkat pagi-pagi sekali Ma, Pa, sekitar jam 6, tolong Papa antar raya ke rumah Bian ya Pa".
" Sepertinya tadi Bian kecapean, dan mungkin butuh istirahat , karena itulah Raya melarangnya menjemput Raya besok pagi".
Papa mengangguk mengerti, sepertinya papa dan mama tak menaruh curiga sedikitpun padaku, seandainya papa dan mama tahu apa yang barusan aku lakukan pada Bian. Mama dan papa pasti sangat kecewa padaku.
Yang penting aku tenang karena aku hanya memuaskan Bian saja, aku tidak membuka sedikitpun celana bawahan ku. Siapa yang akan melakukannya jika bukan aku calon istrinya. Aku juga bukan wanita suci yang sok alim dan tidak melakukan dosa. Tapi aku masih berpikir realistis agar tidak terjadi kesalahan lagi.
Saat aku sedang ngobrol dengan papa dan mama, ponselku berdering, Bian meneleponku, sepertinya dia sudah terbangun dari tidurnya.
" Assalamualaikum Bi..., sudah Maghrib?", tanyaku. Aku berjalan masuk ke kamar agar mama dan papa tidak mendengar percakapan ku dengan Bian.
Bian langsung menjawab salam dan memohon maaf padaku atas apa yang terjadi tadi. Bahkan dia mengatakan akan datang kerumah dan meminta maaf pada mama dan papa atas apa yang terjadi tadi. Tapi aku melarangnya. Biarlah ini menjadi rahasia kami berdua. Mama dan Papa tidak perlu diberi tahu. Justru akan menjadi rumit dan panjang ceritanya, jika mama dan papa tahu apa yang tadi kami lakukan.
Aku tahu Bian merasa bersalah, tapi setidaknya kami tidak melakukan sesuatu yang dilarang. Aku hanya berusaha memuaskannya saja.
" Sudah aku maafkan, aku tahu apa yang kamu mau, tapi maaf aku belum bisa memberikan milikku seutuhnya, hanya melakukan hal seperti tadi yang bisa aku lakukan agar kamu tidak terus menuntut. Maaf ya Bi, aku nggak marah kok. Kamu nggak perlu kesini, kamu pasti masih capek, istirahat saja kumpulin tenaga buat perjalanan besok", ucapku.
Kami pun ngobrol panjang lebar di telepon, Bian tidak malu-malu lagi mengatakan jika dia sangat berterimakasih atas servis yang aku lakukan tadi. Dia mengatakan itu kali pertamanya merasakan hal se menyenangkan itu.
Aku paham dan mengerti dengan perasaan membuncahnya saat ini. Dan aku yakin, Bian akan ketagihan dan meminta aku melakukannya lagi. Karena seperti itulah sebuah kepuasan diri, selalu ingin merasakannya lagi dan lagi, seperti sebuah candu.
Karena itulah aku tidak melakukannya tadi, aku tidak mau terkena candu juga, ingin mengulang kenikmatan yang luar biasa yang belum waktunya aku teguk.
Tunggu satu bulan lagi.....