Healing

Healing
116. Hamil



Jam satu dinihari Yoga meneleponku, memberitahukan bahwa dirinya sudah sampai di rumah dengan selamat. Tentu saja aku bersyukur untuk hal itu, tak ku pungkiri saat hendak tidur tadi aku sempat mengingatnya, mengkhawatirkan perjalanannya menuju rumah. Dan berdoa untuk keselamatannya.


" Alhamdulillah kalau kamu sampai dengan selamat, sekarang istirahatlah, sudah larut malam, kamu pasti lelah setelah berkendara selama 5 jam, aku juga mau tidur lagi, lumayan masih ada waktu 2 jam untuk memejamkan mata", ucapku dalam percakapan melalui telepon dengan Yoga.


" Seandainya saja tadi kamu ikut pulang ke rumah bersamaku, pasti nggak akan terasa lelah melakukan perjalanan berdua denganmu, apalagi setelah sampai rumah kita bisa melakukan seperti yang tadi siang lagi, hehehe... pasti setelah itu kita berdua akan tidur dengan nyenyak. Huh.... baru saja sampai rumah aku sudah merindukanmu lagi Ra....".


Yoga mulai mengatakan kata-kata manis untuk merayuku. Seandainya kami tinggal bersama, mungkin badanku akan remuk karena harus melayani keinginan Yoga yang sedang menggebu-gebu. Mungkin sehari bisa berhubungan badan berulang kali, dan pasti tubuhku yang akan remuk.


" Kok kamu diam Ra...., apa kamu sudah tidur?, aku ngomong sendirian dong dari tadi?".


Aku sengaja tak menanggapi ucapan Yoga, karena aku tidak tahu harus bagaimana menanggapi ucapannya yang menjurus itu. Lebih baik aku diam, untung saja ini panggilan telepon, bukan video call, jadi Yoga tak bisa melihat apa yang sedang ku lakukan.


Lebih baik Yoga mengira aku sudah tidur, sehingga dia pun menutup teleponnya terlebih dahulu.


Sudah setengah dua, aku masih berharap bisa memejamkan mata dan tidur, namun sayang sekali, rasa kantukku sudah hilang entah kemana. Dan sekarang aku tak bisa tidur lagi. Mungkin saja karena tadi siang aku tidur cukup lama, makanya sekarang sudah tidak ngantuk lagi.


Akhirnya kuputuskan untuk bersiap-siap pergi ke pasar lebih awal. Setelah hari kemarin libur jualan, hari ini kita memulai lebih awal.


Kembali berjualan makanan seperti biasanya selama 4 hari, dan di akhir pekan Yoga kembali datang, tapi hanya seorang diri, tidak mengajak Haidar ataupun Shaka, dia hanya ingin menemuiku dan menuntaskan hasratnya saja. Tentu saja lagi-lagi aku harus melayaninya, karena akulah istrinya.


Yoga sampai jam 5 sore di kontrakan ku dan dini hari kembali pulang ke rumahnya. Katanya karena sudah sangat merindukan aku, dan tidak bisa menahan lagi untuk bertemu dengan ku, makanya dia datang, tapi di sisi kain dia sedang sibuk dengan pekerjaannya di kantor, karena itulah Yoga bela-belain ke kontrakan ku dan kembali ke rumahnya tengah malam, setelah mereguk kenikmatan bersamaku hingga beberapa kali melakukan hubungan badan.


Dan sejak saat itu, kini hampir tiap akhir pekan Yoga datang untuk meminta jatahnya. Sebenarnya lama-lama aku merasa kasihan padanya. Hanya demi menemuiku dia harus menempuh perjalanan jauh selama 5 jam perjalanan. Haruskah aku berhenti jualan dan mendamping Yoga tinggal bersamanya?.


Hingga bulan kedua saat Yoga mengatakan bahwa proyek terbaru nya hampir selesai. Yoga memutuskan untuk menginap dan tidur di kontrakan ku. Malam harinya kami tidur di kontrakan paling ujung yang sudah selesai direnovasi.


Kontrakan ini lebih besar dan lebih nyaman di banding kontrakan ku. Apalagi baru di renovasi, semuanya masih serba baru, dari lantai, cat tembok, plafon, hingga perabotan seperti kasur dan tirai semuanya baru.


Dan malam ini terasa berbeda dari hari biasanya, saat aku bangun jam 2 dini hari, untuk mandi sebelum pergi ke pasar. Entah kenapa kepalaku terasa sangat pusing dan berdenyut, belum lagi rasa mual yang tiba-tiba muncul.


Aku harus berkali-kali ke kamar mandi untuk muntah-muntah, sampai akhirnya aku tidak jadi pergi ke pasar, dan justru Yoga mengajakku ke rumah sakit sekitar pukul 3 dini hari.


Yoga sangat khawatir mengetahui keadaanku, Yoga memang sudah melarang ku berjualan sejak seminggu yang lalu, tepatnya saat akhir pekan lalu, karena melihat wajahku yang nampak pucat dan kurusan, apalagi tenagaku yang rasanya melemah. Seolah aku hanya pasrah tiap kali aku dan Yoga berhubungan intim. Karena memang aku merasa lebih mudah lelah ketimbang sebelumnya.


Mungkin saja aku menjadi mudah merasa lelah, karena dulu aku selalu tidur nyenyak dan tidak harus melayani suamiku, jadi meski lelah, tapi di imbangi dengan istirahat yang cukup, sedangkan sekarang aku harus melayani suamiku yang jika datang bisa sampai 3 kali mengulang pergumulan panas bersamaku. Sedangkan siang harinya aku harus tetap melakukan rutinitas ku yang sangat padat, dari belanja ke pasar, masak, berjualan dan serentetan rutinitas yang harus kulakukan setiap hari.


Yoga langsung membawaku ke IGD agar segera di tangani oleh dokter, karena khawatir aku keracunan makanan atau salah makan sesuatu.


Dan semua kekhawatiran itu berubah seketika begitu dokter memberitahukan kami penyebab aku mual, muntah, dan merasa mudah lelah.


Ternyata aku hamil.


Harusnya aku bahagia mendengar berita baik, aku akan mempunyai anak, karena itulah yang diharapkan oleh semua pasangan setelah menikah. Tapi entah apa yang aku rasakan saat ini, justru aku merasa seperti belum siap untuk mempunyai anak.


Selama ini aku menuruti keinginannya untuk berhubungan badan karena aku istrinya, tapi belum ada rasa cinta di dalamnya, dan jika sekarang aku hamil, berarti anak ini terbentuk tidak dilandasi rasa cinta. Hanya itu yang aku sayangkan, aku berharap aku hamil setelah aku kembali mencintai Yoga seperti dulu. Tapi ternyata yang terjadi tidak selalu sesuai dengan yang di harapkan.


Aku baru menyadari jika sudah dua bulan ini aku tidak datang bulan. Dan dokter menganjurkan agar mulai saat ini aku tidak boleh terlalu banyak kegiatan yang membuatku kelelahan.


Dan Yoga... dia harus segera kembali pulang untuk mengurus perusahaannya.


Karena khawatir dengan keadaanku yang sedang hamil muda dengan fisik yang lemah, Yoga memintaku untuk setuju ikut pulang kampung dan tinggal bersamanya, karena jika tinggal di rumah Yoga, aku bisa istirahat total, di rumah itu sudah ada ART yang mengerjakan semua pekerjaan rumah. Dan aku tidak perlu melakukan apapun kecuali makan dan tidur di rumah itu.


" Sekarang kamu bisa pilih, mau dirawat di rumah sakit dengan suster yang akan aku pekerjakan khusus untuk merawat dan menjagamu. Atau kamu mau ikut pulang ke rumahku, agar kamu bisa istirahat total di rumah".


" Aku tidak mau kamu kecapekan dan terjadi hal-hal yang tidak di inginkan pada calon anak kita".


Pilihan itu lumayan sulit, tapi jujur yang sedang kurasakan sekarang setelah mengetahui jika aku sedang hamil adalah tinggal bersama dengan ayah si calon bayi yang ada di perutku.


Dulu aku sudah pernah hamil dan tinggal tanpa suami, tanpa merasakan kehangatan sebuah keluarga kecil, bahkan aku di kurung berbulan-bulan di dalam rumah agar tidak ada tetangga yang tahu perubahan bentuk tubuhku, rasanya seperti seorang tahanan.


Dan saat ini, aku tidak mau lagi hamil tanpa perhatian dan kasih sayang dari seorang suami. Aku ingin janin dalam perutku ini mendapatkan limpahan kasih sayang bukan dari ibunya saja, tapi dari ayahnya juga.


Karena itulah setelah kupikir-pikir mungkin sebaiknya aku menuruti Yoga untuk ikut pulang ke rumah dan tinggal bersama dengannya.


" Baiklah, aku ikut pulang ke rumah bersamamu, tapi kita ke kontrakan dulu untuk memberi tahu Juna, dan mengambil baju-bajuku".


Setelah ku pikir-pikir aku memang harus berada di dekat suamiku.


Dokter memperbolehkan aku pulang, dan Yoga langsung membawaku ke kontrakan, sampai di kontrakan jam setengah 6 pagi, ternyata Juna sudah duduk di bangku yang ada di warung depan kontrakan ku.


" Kakak dari mana?, apa terjadi sesuatu?, Kakak hari ini tidak jualan lagi?", itu pertanyaan Juna saat melihatku keluar dari mobil dengan di gandeng oleh Yoga.


Aku duduk di bangku yang ada di samping Juna.


" Kakak harus pulang ke kampung, dan mulai hari ini kakak tidak jualan lagi. Warung makan akan kakak tutup", ucapku tanpa memberi tahu Juna jika aku tengah hamil muda.


" Apa kakak mau tinggal bersama dengan kak Yoga?, Kaka sudah membuat keputusan?", tanya Juna lagi.


Aku pun mengangguk. " Iya, kakak mau belajar menjadi istri yang baik, ini kemauan kakak sendiri untuk tinggal bersama Yoga. Kamu bisa bongkar warung ini, dan tempati lagi kontrakan kakak. Jangan numpang di kontrakan Bang Rasid terus, nggak enak sudah merepotkannya selama ini".


" Lalu berikan ini pada Mala, ini gaji terakhirnya, bilang pada Mala, kalau dia hobi masak, cobalah untuk buka warung makan sendiri, karena kakak harus menutup warung makan kakak".


Ku serahkan amplop berisi uang untuk Mala yang selama ini selalu datang untuk membantuku masak dan jaga warung.


Juna mengangguk, " Nanti akan ku sampaikan pada Mala. Semoga kakak bahagia hidup bersama kak Yoga".


Juna beralih menatap Yoga, " Aku titip kak Raya ya kak, akhir-akhir ini dia gampang sakit dan mudah sekali kecapekan. Aku setuju banget kalau kak Raya pulang kampung dan tinggal bersama suaminya. Jadi ada yang menjaganya setiap waktu. Dan lagi dia tidak akan kecapekan lagi seperti jika dia tinggal disini".


Setelah berpamitan pada Juna, aku masuk ke kontrakan dan mengemas baju-bajuku. Semua perabot dan alat-alat memasak aku tinggal di kontrakan. Ku katakan pada Juna, jika perabotan ini membuat sempit kontrakan dan mau diberikan pada Mala aku tidak papa.


Justru aku akan merasa senang jika peralatan masak ku tidak terbengkalai dan ada yang memakainya untuk masak.


Akhirnya setelah 5 bulan pernikahan, aku dan Yoga akan tinggal bersama di rumahnya, layaknya sepasang suami istri pada umumnya.