
Sampai di rumah, Aku langsung berjalan menuju dapur, mengambil piring dan juga mangkuk untuk wadah sambal.
" Aduh Non Raya, ngapain ke dapur, tinggal panggil bibi saja, nanti kalau Tuan tahu non ke dapur bibi bisa dimarahin", Bi Tuti langsung mendekat ke arahku saat melihat aku mengambil piring dari dalam lemari.
" Nggak bakal dimarahi bi, ini cuma ngambil piring dan mangkuk saja, apa bi Tuti mau temenin Raya makan rujak?, lihat nih Bi, Yoga belinya banyak banget, nggak bakalan habis kalau makan sendirian".
Bi Tuti melihatku mengeluarkan mangga muda dari wadah, wajahnya langsung mengkerut, berekspresi masam, seolah membayangkan rasa mangga muda yang sangat masam.
" Ini manis Bi, coba aja, nggak asem enggak", ucapku sambil menyodorkan piring berisi mangga muda pada bi Tuti. Mang begitu yang dikatakan oleh penjualnya, kalau mangga mudanya nggak kecut.
" Makan itu nanti Ra.... kamu kan belum makan siang, kita makan siang dulu, baru kamu boleh makan mangga muda itu".
Yoga sudah berganti pakaian santai dan menyusulku ke dapur. Cepat sekali dia berganti pakaian, padahal baru beberapa menit aku masuk dapur, Yoga sudah nongol dengan penampilan berbeda dari sebelumnya.
" Bi Tati tolong siapkan makan siang kami, jangan biarkan Raya makan mangga muda sebelum dia makan nasi dulu, aku nggak mau dia sakit perut".
Bi Tati langsung mengangguk patuh, Bi Tuti dan Bi Tati menyiapkan makan siang untuk kami berdua, tak ada yang berani membantah perintah Yoga, entah mengapa semua ART sangat patuh pada Yoga .
Aku yang sudah sangat menginginkan makan mangga muda harus sedikit bersabar untuk menikmatinya. Semoga bayi dalam perutku tidak ngiler nantinya.
Saat semua makan siang tersaji di meja makan, aku langsung menyantap hidangan dengan cepat, agar aku lebih cepat selesai makan dan segera memakan mangga muda yang aku inginkan. Tentu saja aku makan setelah mengambilkan nasi dan lauk untuk Yoga.
" Pelan-pelan saja, kamu makan kaya orang dikejar deadline saja. Harus cepat-cepat selesai".
Yoga mengomentari cara makan ku yang seperti orang kelaparan, tapi aku tidak memperdulikan nya. Tujuanku aku harus cepat menyelesaikan makan siangku.
Aku selesai makan nasi dan mengambil piring berisi mangga muda yang tadi sudah ku siapkan, aku mulai menikmati segarnya mangga muda dengan sambel yang pedas, benar-benar sesuai impian.
" Apa seenak itu mangganya?, aku jadi penasaran", ucap Yoga sambil ikut mengambil mangga yang kemudian dicelup ke dalam sambal.
Yoga langsung membulatkan matanya, entah karena dia kepedesan, atau karena ke enakkan.
Dan kejadian lucu pun terjadi, Yoga yang melarang ku makan mangga muda banyak-banyak, justru dia sendiri makan mangga muda lebih banyak dariku. Memang mangga muda ini tidak kecut sama sekali, rasanya manis dan segar, si penjual rujak tidak berbohong pada kami, mangga mudanya memang manis.
Selesai makan mangga muda bersama, Yoga mengajakku ke kamar, untuk sholat berjamaah dan tidur siang.
Tapi di atas kasur aku masih duduk-duduk santai sambil bermain game di ponselku. Memang sejak tinggal di rumah ini, aku mendownload banyak game di ponselku, karena tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan apapun, aku jadi menghabiskan waktuku untuk bermain game.
Awalnya aku menghabiskan waktu dengan berselancar di dunia maya, namun lama-kelamaan aku merasa bosan, karena yang muncul informasi yang sama setiap harinya.
" Kenapa nggak tidur?, apa kekenyangan?", tanya Yoga yang sudah lebih dulu merebahkan dirinya di kasur.
Aku mengangguk, rasanya begah kalau habis makan langsung tiduran, lagian perutku makin besar, tidurnya sudah mulai terasa nggak nyaman", ujarku.
Yoga yang sudah rebahan akhirnya mengikuti ku duduk berdampingan. Dia mengelus perutku yang mulai membuncit karena usia kandunganku memasuki minggu ke 16. Besok adalah hari akan di adakannya acara selamatan empat bulanan untuk kehamilanku.
" Makasih ya, sudah bersedia menjadi ibu dari anakku lagi, aku sangat bersyukur karena kamu akhirnya mau menerima aku, meski harus dipaksa terlebih dahulu di awal. Setidaknya sekarang kamu sudah mencintaiku lagi, iya kan?".
Yoga menatapku sambil mengelus perutku dengan tangan kanannya.
" Meski kamu dulu sudah menghancurkan hidupku, tapi kamu bertanggung jawab untuk memperbaikinya. Kamu yang berandil paling besar dalam proses merubah hidupku selama ini".
" Seperti roller coaster, dulu kamu yang menjatuhkan hidupku sejatuh-jatuhnya, dan sekarang kamu juga yang mengangkat kehidupanku di atas. Ibarat kamu yang menyakiti, kamu juga yang menyembuhkan".
" Seandainya dulu aku sudah mempunyai wewenang seperti sekarang, aku pastikan kamu tidak akan pernah merasakan kepedihan Ra, sayangnya dulu aku masih kecil dan tidak mempunyai kuasa apapun. Maafkan aku Ra", Yoga memelukku dari samping dan menyandarkan kepalanya di lenganku.
Aku hanya bisa mengangguk mendengar permintaan maafnya yang sangat tulus.
" Ga, kalau boleh tahu, tadi aku kan habis mengikuti pertemuan wali murid di sekolahnya Shaka. Aku bisa lihat siswi-siswi disana sangat cantik dan elegan. Pasti dari jaman dulu kita SMP juga sudah seperti itu kan... tapi kenapa kamu malah tertarik padaku?".
Akhirnya aku mengutarakan pertanyaan yang sejak dulu aku simpan dalam pikiranku.
" Karena kamu mirip seorang peri penolong, wajahmu yang cantik, dengan kulit putih dan mata sipit, aku langsung jatuh cinta sama kamu begitu melihat kamu pertama kali".
Jawaban Yoga tidak memuaskan rasa penasaranku.
" Seandainya dulu kita tidak melakukan hubungan terlarang, mungkinkah kamu masih terus mencariku dan menginginkan aku menjadi istrimu seperti sekarang?".
Yoga menggelengkan kepalanya, " Aku tidak akan mencarimu dan memaksamu menikah denganku, karena pasti kamu yang akan mencariku dan menjadi salah satu wanita yang mengagumi ku seperti kebanyakan wanita di luar sana", ucap Yoga dengan begitu percaya diri, aku bahkan sampai menggelengkan kepalaku.
Seandainya tidak melakukan kesalahan, mungkin tidak ada yang berkesan dalam hubungan kami dahulu, seperti sewajarnya anak SMP yang berpacaran. Namun karena kesalahan itu, Yoga jadi tidak bisa mencintai wanita lain, dia yang pada dasarnya bersifat bertanggung jawab, akan terus berusaha menjadikan aku istrinya, karena dia tahu, dialah yang pertama kali menyentuhku. Dan aku mengandung putranya.
Siang ini kami mengobrol cukup lama, dan mengungkapkan isi hati masing-masing yang selama ini kami simpan sendiri. Aku sudah tidak lagi menyalahkan Yoga sepenuhnya jika dulu dia pergi meninggalkan aku, dia melakukannya karena terpaksa.
Dia harus berjuang dan berusaha menjadi orang sukses sehingga bisa menentang kedua orang tuanya dan menikahiku seperti yang sudah dia lakukan sekarang.
Rencana untuk tidur siang akhirnya batal karena kami ngobrol sampai sore dikamar.
Usai maghrib mama dan papa datang ke rumah untuk menginap disini dan memberi tahu bi Tuti dan Bi Tati apa saja yang harus dibeli besok untuk acara selamatan.
Aku senang karena semua terlihat sangat berantusias mengurus acara selamatan empat bulanan besok, termasuk Shaka dan Papa yang turut membantu Pak Surya dan Pak Roso membuat anyaman kulit ketupat menggunakan daun kelapa.
Seandainya saja Shaka tahu bagaimana dulu saat dia empat bulan dalam perutku, aku mau keluar rumah saja sama mama tidak boleh karena perutku yang mulai membuncit. Shaka tidak pernah sekalipun mendapatkan doa dari acara selamatan seperti ini, hanya aku dan keluargaku saja yang mendoakan keselamatan Shaka tiap usai kami sholat.
Tapi aku beruntung karena Shaka lahir dengan sempurna, tidak kurang suatu apa, padahal aku sudah meminum pil penggugur kandungan, tapi alhamdulilah tidak memberi efek sama sekali pada janin dalam perutku. Shaka adalah anak yang kuat semenjak masih dalam perutku.
Mama menyerahkan paperbag berwarna hitam padaku, awalnya aku penasaran apa yang dibawa mama, namun saat ku intip isinya aku langsung menyimpannya di kamar ku.
Ya... mama membawa kotak perhiasan milikku, perhiasan yang menjadi maskawin saat pernikahanku. Selama ini memang aku tidak pernah menanyakan tentang perhiasan ini, bukan apa-apa, aku hanya kurang nyaman saja memakai perhiasan berlebihan. Apalagi kalung yang Yoga berikan untukku begitu bling-bling, karena ada banyak permata di kalung itu. Jika dipakai untuk sehari-hari mungkin terlihat berlebihan, itu pantasnya dipakai untuk pergi ke pesta.
Apalagi aku sekarang sedang hamil, kata dokter kandungan ku menganjurkan agar aku tidak memakai perhiasan emas berlebih.
Malam ini suasana rumah terasa lebih hangat karena Shaka banyak bercerita pada mama dan papa tentang hal-hal menarik yang terjadi di sekolahnya. Aku merasa Shaka lebih dekat dengan kakek dan neneknya, ketimbang denganku yang ibunya. Tapi tidak papa, memang sejak Shaka kecil sudah dekat dengan mama dan papaku.
Semoga acara selamatan besok bisa berjalan lancar, ini pertama kalinya akan ada acara di rumah ini, karena dulu saat Yoga membeli rumah ini, tidak mengundang tetangga untuk datang, tapi hanya membagikan bingkisan untuk beberapa rumah terdekat sajam. Dan belum pernah Yoga menyelenggarakan acara yang mendatangkan banyak tamu. Karena dulu Yoga seperti seorang singgle parent, meski sudah menikah, tapi aku sebagai istrinya tinggal jauh.
Demi meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan seperti gunjingan para tetangga, dan lain sebagainya.