
Ini kali pertama aku sholat berjamaah dengan Bian dirumahnya. Tapi sayangnya kehadiran tamu tak diundang yang sedang duduk diruang tamu membuat ke-khusuan sholat ku terpecah. Aku sedang bersama Bian, tapi otakku justru memikirkan laki-laki menyebalkan itu.
"Apa katanya tadi, ingin mencicipi kopi buatanku?, baiklah, akan aku buatkan yang sangat spesial untuk laki-laki menyebalkan sepertinya". Justru itulah yang masuk kedalam pikiranku saat menjadi makmum sholat bersama Bian, maafkan aku calon imam ku, pikiranku sedang penuh dengan kebencian karena melihat orang menyebalkan itu di rumah ini.
Usai sholat maghrib berjamaah aku bercanda sebentar dengan Bian, karena Bian tiba-tiba menyodorkan tangannya untuk bersalaman denganku, kami yang sejak dulu menjadi teman bermain, karena memang sepantaran dan satu angkatan saat sekolah, menjadi tertawa bersama-sama saat Bian menyodorkan tangannya dan membuatku mencium punggung tangannya. Kemudian Bian mengecup keningku dengan bibirnya.
Seperti mimpi, teman sepermainan justru akan berubah status menjadi seorang imam dalam rumah tangga ku kelak. Tapi sungguh terasa nyaman dan tenang saat melakukan sungkeman tadi. Semoga saja Bian adalah pilihan yang paling tepat sebagai pelabuhan terakhir yang akan bersama-sama membangun bahtera rumah tangga hingga akhir hayat ku. Aku berharap tidak banyak badai dan gelombang yang akan datang untuk menguji keharmonisan rumah tangga kami nantinya.
" Kayak berasa sudah punya istri beneran, jadi nggak sabar buat secepatnya halalin kamu Ra...".
Aku hanya mencebik kan bibirku saat mendengar kalimat Bian. Dan Bian langsung mengecup bibirku dengan cepat, kemudian terkekeh.
" Oh iya, aku temenin Steve di luar, tadi Steve bilang pengen nyobain kopi buatan kamu, bisa kan tolong buatkan kopi buat kita berdua?", tanya Bian, dengan sangat sopan.
Aku melepas mukena yang ku pakai, pura-pura bersikap seolah sedang berpikir dan mempertimbangkan untuk menyetujui atau tidak kemauannya.
" Please.... bikinin kopi ya sayang... nanti aku kasih hadiah spesial buat kamu, atau aku kabulkan satu permintaan kamu, apa pun itu", ujar Bian memohon.
Padahal dia tidak perlu melakukan hal itu juga sudah pasti aku tidak keberatan untuk membuatkan kopi untuknya. Justru aku keberatan membuat kopi untuk laki-laki menyebalkan yang sedang duduk diruang tamu saat ini.
" Oke, siap bos, kalau begitu aku ke dapur dulu, sepertinya tadi kulihat ada tempe dan terigu juga di kulkas. Biar sekalian aku goreng buat teman ngopi kalian", ujarku sambil menempelkan keempat ruas jariku di kening dan bersikap hormat.
" Makasih sayang, aku keluar dulu ya nemenin Steve", ujar Bian sambil mengecup pipiku cepat dan berjalan keluar setelah melepas baju muslim dan sarung yang tadi digunakan untuk sholat.
Bian ke ruang tamu hanya memakai kaos oblong dan celana pendek saja karena tamu yang datang adalah teman dekatnya, sudah seperti keluarga dan tidak perlu berpenampilan formal.
Aku berjalan ke dapur, merebus dua gelas air dan membuat racikan kopi spesial untuk Bian dan Yoga, tentu saja dengan takaran yang berbeda. Racikan untuk Bian yang baik adalah satu sendok takar gula dicampur dua sendok takar kopi diseduh dengan air yang baru mendidih. Sedangkan untuk Yoga yang menyebalkan kuberikan tiga sendok kopi tanpa gula. Biar tahu rasa si Yoga, pahit pahit deh itu mulut.
Ku sajikan kopi untuk mereka berdua, tentu saja dengan sangat hati-hati agar tidak tertukar. " Ini kopi spesialnya, semoga sesuai dengan selera kalian, padahal aku buat kopi juga seperti biasa saja, kalau Haidar mengatakan kopi buatanku enak, mungkin dia sedikit berlebihan, terlalu memuji sesuatu yang sebenarnya biasa-biasa saja".
" Aku tinggal ke belakang lagi ya buat bikin gorengan, biar ada teman ngopinya".
Ku tinggal mereka berdua di ruang tamu, biarkan saja kita lihat seperti apa reaksi Yoga saat meminum kopi spesial buatanku untuk nya.
Di dapur aku langsung membuat bumbu gorengan, ku ulek ketumbar, bawang, dan garam sedikit, di campur dengan terigu dan sedikit tepung beras, lalu masukkan potongan daun bawang dan sedikit penyedap rasa. Beri air secukupnya dan masukkan potongan tempe kedalam adonan tepung, langsung goreng di minyak yang sudah panas.
Hanya 8 menit gorengan sudah matang, dan ku sajikan panas-panas bersama kecap berisi irisan cabai dan bawang merah mentah. Rasanya gurih, dan nampol di lidah, apalagi makan malam-malam saat hujan seperti saat ini.
Saat aku keluar, kulihat kopi dari dua gelas itu masih utuh, mungkin karena tadi masih sangat panas karena asapnya masih mengepul, jadi mereka belum meminumnya.
Ku sajikan gorengan beserta kecap pedas di atas meja. " Silahkan dinikmati, buat angetin badan, pas cuaca lagi dingin seperti saat ini", ujarku, sambil mendudukkan diri di samping Bian.
Aku sengaja membuka ikat rambutku dan ku gerai rambutku kedepan agar menutupi bagian dadaku yang terlihat menonjol keluar karena tak memakai bra. Aku tahu betul, sejak tadi Yoga terus menatap kearah dadaku, dia memang laki-laki yang tidak tahu sopan santun, beda dengan Bian yang tidak berani menatap ke daerah dada saat tahu aku tak memakai bra.
" Ayo dicicipi Steve, kopi dan gorengan buatan calon istriku, ternyata menyenangkan punya calon istri, apalagi kalau sudah jadi istri beneran, pasti lebih menyenangkan lagi, ada bantal guling bernyawa yang tiap hari nemenin tidur dan bisa menghangatkan tubuh kalau lagi dingin saat hujan seperti malam ini".
Ku lihat Yoga hanya tersenyum kecut, dirinya mungkin sedang membayangkan kata-kata Bian tentang aku yang akan menjadi bantal guling hidup dan menemani tidur Bian tiap hari.
" Karena itulah aku akan meminta pada ibu dan ayah untuk mempercepat tanggal pernikahan kami, aku sudah tidak sabar ingin Raya menjadi istri sah ku".
" Kamu sendiri bagaimana kabar Utari?, malam minggu bukannya datang ke rumah Utari buat ngapel, malah datang ke rumahku, ada perlu apa kesini?", tanya Bian pada Steve.
Aku juga sebenarnya penasaran apa alasan Yoga datang ke rumah Bian malam-malam saat hujan seperti saat ini.
Bukannya menjawab, justru Yoga mengambil gelas miliknya dan menyeruput kopi buatanku. Ekspresi wajah nya terlihat menahan rasa pahit yang luar biasa. Dalam hatiku aku ingin sekali tertawa melihat ekspresi Yoga saat ini. Namun aku berusaha menahan diri.
" Kenapa?, apa masih panas?", tanya Bian yang juga mencoba menyeruput kopi miliknya yang hangatnya sudah pas untuk diminum.
Yoga menggeleng, " Nggak papa, hanya sedikit kaget dengan rasa kopi buatan Raya, ternyata benar-benar spesial", ucapnya sambil menatapku lekat.
" Aku coba gorengnya ya, mumpung masih hangat". Yoga langsung mengambil gorengan untuk menetralisir rasa pahit di mulutnya.
Ku lihat ekspresi Yoga yang awalnya berhati-hati saat memakan gorengan di gigitan pertama, mungkin dia pikir aku akan mengerjainya lagi. Tapi aku masih baik hati dengan membuatkan gorengan enak yang bisa mengobati rasa pahit di mulutnya.
Yoga langsung memakan dengan lahap gorengan tempe yang aku buat, mungkin karena ternyata rasanya enak, atau agar rasa pahit di mulutnya terobati.
Setelah menghabiskan dua gorengan, Yoga baru menjawab pertanyaan Bian yang tadi.
" Aku sengaja datang kesini karena kemarin cuma aku yang nggak bisa nemenin di acara pertunangan kalian kemarin. Bukan aku sok sibuk Bi, tapi demi kebaikan dan kelancaran acara, aku memang harus tidak hadir", ujar Yoga.
Kalimat Yoga membuatku langsung was-was, apa tujuannya mengatakan hal itu?. Ku lihat Bian juga bingung dengan alasan yang Yoga berikan.
" Maksud kamu apa Steve?", Bian tidak maksud dengan jawaban Yoga.
Aku langsung menatap Yoga dengan tajam, berharap dia tidak memberi tahu apapun tentang kisah kami di masa lalu. Atau semuanya akan menjadi kacau jika dia sampai sengaja menceritakan tentang dirinya yang mengenal keluargaku.
" Tentu saja kamu kan tahu kalau aku juga akan menikah dan sibuk mengurus persiapan pernikahanku, maksudku untuk kebaikan dan kelancaran acara pernikahan ku, aku jadi tidak bisa hadir di acara pertunanganmu".
Jawaban Yoga membuat aku yang tadi tengah menahan nafas, menjadi bisa bernafas lega, ternyata dia hanya menakut-nakuti ku, dia mengerjaiku dengan kata-katanya.
" Oooh begitu...., benar juga sih, memang dari kemarin-kemarin aku kasihan sama Utari, dia semangat banget urus persiapan pernikahan kalian, sedangkan kamu calon suaminya santai-santai saja, seperti kurang bersemangat. Utari itu gadis yang baik, jangan di sia-siakan Steve, meski dia bukan cinta pertamamu, semoga saja setelah menikah, benih-benih cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu, iya kan Ra?".
Bian meminta pendapatku, aku hanya mengangguk setuju.
" Sayang sekali, aku tidak seberuntung kamu Bi, yang mendapatkan cinta dari orang yang kamu cintai, juga mendapatkan restu dari kedua orang tuamu".
" Sebenarnya aku ingin sekali memperjuangkan cinta pertamaku, tapi sepertinya justru dia sekarang membenciku, bahkan tidak sudi lagi melihat wajahku", ujar Yoga.
Aku yang sedang mendengarkan percakapan Bian dan Yoga merasa tersindir. Memang benar sekarang aku sangat membenci Yoga. Bukan tanpa alasan. Karena jika harus di catat dalam sebuah buku, mungkin alasan aku membencinya akan memenuhi halaman demi halaman yang ada. Karena ada 1001 alasan yang membuat aku membencinya, bahkan mungkin lebih dari itu.
" Apa alasannya membencimu?, apa dia sudah mempunyai kekasih lain?", tanya Bian penasaran.
Kulihat Yoga hanya mengangguk, dengan ekspresi wajah yang benar-benar sedih. " Karena itulah aku tidak bisa menolak keinginan ibuku. Saat ini wanita yang sangat aku cintai dan ingin ku perjuangkan, justru lebih memilih laki-laki lain, dari pada memperjuangkan hubungan kami".
Kali ini bisa kulihat Yoga benar-benar sedang merasakan kesedihan. Apa benar dia ingin memperjuangkan aku?, ku rasa dia hanya ingin mempermainkan hatiku lagi.
" Raya, jangan pernah termakan omong kosong Yoga, dia hanya ingin mengacaukan hatimu saja. Tataplah laki-laki yang ada di sampingmu saat ini, dialah calon imam mu yang sesungguhnya. Laki-laki baik dan sangat mencintaimu. Bian", batinku bermonolog.