
Sarapan hari ini agak kesiangan, karena jam sudah menunjukkan pukul 8 lebih seperempat, semua ini gara-gara Yoga yang tidak terima hanya dengan satu ronde permainan, sehingga makan waktu lama, dan sarapan pun telat.
Shaka tidak memberi komentar apapun meski aku dan Yoga lama berada di kamar, Shaka mengira kami terlambat dan lama di kamar karena habis berdiskusi tentang ijin yang akan kami berikan untuk Shaka mengikuti kegiatan camping. Padahal kami hanya sebentar membahas hal itu. Lebih lama pemanasannya.
" Ayo sekarang kita makan, ini sudah terlalu siang. Oh iya...makasih kak Shaka, sudah bangunin Syifa, dan bantu Syifa cuci muka".
Syifa memang sudah berkumpul bersama kami di meja makan, tapi masih dengan wajah mengantuk dan berulang kali menguap.
" Ayah sama ibu habis ngapain sih?, Syifa sampai capek nungguin ayah sama ibu kesini. Kalau tahu bakal lama, tadi Syifa tidul lagi aja, kak Shaka sih... nggak ngebolehin Syifa panggil ibu ke kamal", gerutu Syifa. Syifa memang paling tidak suka jika di suruh menunggu. Tapi karena Shaka melarangnya untuk memanggilku ke kamar, Syifa nurut dan menunggu aku dan Yoga keluar sendiri.
Semua diam dan ruang makan sunyi, hanya suara piring yang sesekali berdenting terkena sendok dan garpu.
Namun usai kami makan, Shaka langsung menanyakan keputusan ayahnya. Dia sudah menantikan jawaban dari keputusan Yoga , dapat ijin atau tidak.
" Maaf Yah... Bu... apa sudah membuat keputusan?, Shaka boleh kan ikut camping?", tanya Shaka yang kemudian menyeruput air putih di gelas yang ada di depannya.
" Ayah ada urusan mendesak keluar sebentar, ayah sudah memberi tahu ibumu apa keputusan ayah, dan apa saja syarat yang harus kamu lakukan".
Yoga langsung berdiri dan pergi ke luar membawa mobilnya. Memang sejak tadi ada telepon masuk saat kami masih bercinta di kamar. Namun Yoga mengabaikan bahkan merasa panggilan telepon itu mengganggu kenikmatan kami. Namun setelah kami selesai mandi dan keluar kamar, Yoga mengecek ponselnya dengan ekspresi wajah yang serius. Mungkin saja ada sesuatu hal yang terjadi di suatu tempat, karena Yoga langsung keluar usai makan.
" Memangnya ayah ada urusan apa Bu?", tanya Shaka.
Aku hanya menggelengkan kepala karena memang aku tidak tahu.
" Ayah kamu dari tadi dapat telepon dari seseorang, tapi ibu nggak nanya dari siapa".
" Terus apa ayah kasih ijin Bu?".
" Dengan syarat.....", jawabku.
" Apa syaratnya?".
" Pertahankan prestasi kamu jadi juara kelas, harus juara pertama seperti sebelumnya. Tidak boleh turun meski di peringkat ke 2, apa kamu mampu?", tanyaku.
" Tentu saja aku akan jadi juara kelas lagi, aku janji Bu".
Shaka menjawab dengan sangat percaya diri, mungkin memang dia sudah mendapatkan nilai-nilai yang bagus sebelumnya, karena itulah Shaka langsung menyetujui syarat itu.
" Terimakasih banyak Bu, sudah mau membujuk ayah untuk memberi ijin, aku tidak akan membuat kalian kecewa".
" Besok aku akan langsung kasih tahu Adel kalo aku akan ikut camping".
Shaka tiba-tiba memelukku dengan erat saking bahagianya mendapatkan ijin untuk ikut camping.
Dan akhirnya hari-hari yang ditunggu Shaka pun tiba, dia mengemas baju-bajunya ke dalam ransel besar yang sengaja dibelinya beberapa hari yang lalu untuk acara camping ini.
Ransel hitam dengan polet biru di bagian depan, senada dengan baju hitam dan celana cargo warna navy yang dipakainya.
" Shaka berangkat dulu Yah.... Bu....", pamit Shaka dengan wajah sumringah dan semangat 45.
Shaka mengangguk cepat. Beberapa detik menatap Yoga yang tidak memberikan pesan apa-apa pada Shaka. Shaka mengira ayahnya memberi ijin karena terpaksa, berkat bujukan ku, sehingga Yoga tidak berkata-kata saat Shaka berpamitan padanya.
Aku menyadari sejak beberapa hari yang lalu Yoga bersikap lebih pendiam, tidak seperti biasanya, sepertinya sedang ada masalah yang dia hadapi di kantor. Tapi entah masalah apa itu. Aku tidak berani bertanya, karena menanyakannya juga tidak bisa merubah apapun, aku tidak tahu menahu perihal urusan pekerjaan Yoga.
" Ga.... apa kamu nggak pengen cerita sesuatu padaku?", sengaja aku mengatakan hal itu, siapa tahu Yoga mau bercerita. Dan mungkin karena Yoga sudah tidak tahan dengan otaknya yang disuruh berpikir keras, dia pun memberi tahuku perihal masalah yang tengah dihadapinya.
Aku mendengarkan keluh kesah Yoga tentang masalah yang sedang dihadapinya, aku sendiri tidak bisa memberikan solusi apa-apa, aku tidak tahu menahu tentang urusan tanah dan pajak, seperti yang sedang di keluhkan yoga padaku, tapi yang aku bisa adalah mendengarkan suamiku berkeluh-kesah, aku berharap setidaknya bisa meringankan beban suamiku.
" Makasih ya Ra.... seja kemarin aku merasa seperti ada beban berat yang ku pikul di pundak ku, tapi setelah bercerita kepada mu, aku merasa seperti ada sedikit beban yang terlepas, dan beban di pundak ku terasa lebih ringan sekarang".
Aku senang Yoga mengatakan hal itu, setidaknya tujuanku menjadi pendengar setia curhatannya sudah berhasil.
***
Shaka POV
Aku berhasil mendapatkan ijin mengikuti kegiatan camping sekolah. Awalnya aku sudah khawatir ayah tidak mengijinkan aku pergi, karena dia terlihat tidak suka aku mengikuti kegiatan yang bisa membuatku kecapekan. Aku paham maksud tujuannya baik.
Namun setelah dibujuk ibu cukup lama, akhirnya ayah memberikan aku ijin mengikuti kegiatan camping, sebagai gantinya, aku diharuskan menjadi juara kelas lagi tahun ini. Itu bukan masalah besar untukku, karena memang tahun-tahun sebelumnya akulah yang selalu menjadi juara kelas.
Ini camping kedua ku semenjak aku masuk SMA, dulu ikut kemah waktu awal masuk SMA dan itu sudah dua tahun yang lalu. Saat itu juga pesertanya dari semua siswa diwajibkan ikut. Berbeda dengan saat ini, hanya anggota pecinta alam saja yang ikut. Dan hanya mendirikan beberapa tenda.
Aku memang mengikuti kegiatan camping ini untuk membuktikan pada Adel, teman sekelas ku, jika aku bukan pengecut. Aku berani keluar malam, dan tidur di tenda. Selama ini Adel memang teman yang proaktif, tapi juga rival terberat ku, dia yang selalu berada di peringkat dua di kelas. Dan dia juga aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
Meski dia seorang perempuan, tapi sikap dan perilakunya tidak seperti perempuan lain pada umumnya, dia terlalu berani dan banyak bicara.
Sangat berbeda dengan Puput, gadis manis yang bekerja di Fila milik nenekku, dia gadis yang tidak banyak bicara, tapi tindakannya menunjukkan jika dia gadis yang cerdas. Sikapnya yang sopan dan ramah, membuat siapa saja yang mengenalnya akan mudah untuk akrab.
Bukan hanya orang dewasa, bahkan anak kecil seperti adikku Syifa juga bisa dengan mudahnya langsung akrab dengan Puput. Apalagi ibu yang langsung membuat keputusan ingin mengajaknya ikut pulang ke rumah. Aku langsung protes waktu itu, bukan karena aku tidak suka Puput tinggal dim rumah kami, justru aku khawatir jika tinggal bersama mungkin lama kelamaan aku bisa tertarik dengan gadis kampung yang masih sangat lugu itu.
Aku teringat ucapannya saat berjalan pulang dari kebun bunga, di hari ulang tahun ku yang ke 17.
" Selamat ulang tahun Tuan muda, semoga tuan muda diberi umur panjang, kesehatan, dan keberuntungan dalam hidup. Karena orang pintar, orang sukses, dan orang kaya itu masih kalah dengan orang yang beruntung".
Itulah doa yang gadis kampung itu ucapkan untukku, memang terdengar sederhana, tapi setelah aku pikir ulang dan berkali-kali aku pikirkan lagi, makna dari kalimat sederhana itu sangatlah dalam.
Memang benar, orang kaya, orang pintar, orang sukses, itu semua kalah oleh orang yang beruntung. Setelah aku paham dengan makna dari harapannya itu, aku berulang kali mengamininya. Berharap Yang Maha Kuasa menjadikan aku seorang yang beruntung.
Dan aku rasa memang aku sudah menjadi orang beruntung semenjak aku bertemu dengan ayah kandungku. Beliau selalu menuruti semua yang ku mau, bahkan kadang aku belum minta, ayah Yoga sudah lebih dahulu memperolehnya untukku. Karena itulah aku merasa menjadi anak yang sangat beruntung.
Dulu siapa lah aku ini, hanya seorang putra tukang ojek, yang untuk makan sehari-hari saja bingung. Uang saku pas-pasan, kadang bahkan aku tidak jajan di sekolah, karena uang saku aku gunakan untuk memfotokopi tugas. Rasanya sangat miris hidup seperti itu. Aku selalu bertekad menjadi orang sukses agar bisa membahagiakan kedua orang tuaku.
Namun Tuhan berkehendak lain, belum aku menjadi orang sukses, Tuhan sudah mengirimkan ayah Yoga yang senantiasa mencukupi semua kebutuhanku, memberikan semua keinginan ku.
Karena itulah saat ini aku sudah merasa menjadi orang yang sangat beruntung. Semoga saja kedepannya aku akan tetap menjadi orang yang beruntung.