
Pagi-pagi saat mendengar adzan subuh aku terbangun dari tidurku, usai sholat aku sengaja keluar dari kamar, niatnya ingin jalan-jalan ke taman yang berada di depan penginapan untuk menghirup udara segar, mumpung masih berada di pegunungan. Harus memanfaatkan waktu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Ku bangunkan Utari, namun setelah subuh Utari kembali rebahan di kasur sambil menyelimuti rapat tubuhnya. Katanya sangat dingin dan malas keluar kamar.
Akhirnya aku keluar sendiri, dan berjalan menuju taman yang ada di depan penginapan. Rasanya paru-paruku terisi begitu banyak oksigen saat berada di taman, begitu lega dan nyaman.
Ku lihat Haidar dan Riko sudah berada di taman lebih awal. Mereka sedang menikmati kopi dan beberapa macam gorengan yang ada di meja bundar yang ada di depan kursi yang mereka duduki.
" Sendirian Ra?, Utari mana?, mau ngopi?", tanya Haidar.
Aku mengangguk, " Boleh juga, tapi kalau ada susu coklat saja, jangan kopi", ucapku. Haidar nampak berjalan memesankan susu coklat panas di warung yang ada di pinggiran taman.
" Cobain nih, tadi sih masih panas, sekarang sudah agak dingin", Riko mendorong piring berisi beberapa macam gorengan padaku.
Aku duduk di kursi yang masih kosong bergabung dengan Riko dan Haidar, menikmati gorengan hangat dan susu coklat panas yang tadi dipesankan oleh Haidar.
" Utari masih tidur, atau nggak mau keluar?", tebak Riko.
" Sudah aku ajak, tapi nggak mau keluar, lagi rebahan di kasur, katanya males keluar, dingin banget disini. Kalian bangun pagi banget, atau malah nggak tidur semalaman?", tanyaku sambil mengambil pisang goreng yang masih hangat.
" Tidur kok, tapi cuma satu jam, sayang kalau lagi liburan tapi cuma di pakai buat tidur terus. Kan tidur bisa dilanjut nanti pas di pesawat. Kamu nggak bangunin Bian Ra?", tanya Riko.
Aku menggeleng.
Sebenarnya tadi saat di depan pintu kamar Bian aku sudah berniat untuk mengetuk pintu kamar Bian, dan membangunkannya, tapi aku teringat saat semalam membangunkan Bian di tenda, justru Yoga yang keluar. Aku tidak ingin hal itu terulang lagi. Akhirnya ku urungkan niatku membangunkan Bian.
" Biar saja dia bangun sendiri, semalam kan tidur larut banget, mungkin saja dia masih tidur pules, takut kalau di bangunkan malah jadi sakit kepala", ucapku beralasan.
" Ternyata enak juga makan pisang goreng sama susu coklat panas pagi-pagi begini, apalagi dengan pemandangan hijau dan udara segar. Saat pulang nanti aku pasti merindukan tempat ini", gumamku.
Aku melihat Riko dan Haidar yang kasak kusuk seperti ada sesuatu yang ingin mereka bahas.
" Ra.... apa boleh kita berdua menanyakan sesuatu hal yang agak pribadi sama kamu?", tanya Riko dengan ekspresi wajah yang serius.
" Tanya apa?, tanya saja, kalau aku bisa jawab, pasti akan aku jawab", ujarku.
Riko pun langsung duduk mendekat , menggeser kursinya ke arahku, begitu juga dengan Haidar. Mereka dua merapat sedekat mungkin sambil celingukan ke kanan dan ke kiri melihat keadaan sekitar.
Sebenarnya apa yang ingin mereka berdua tanyakan?, kelihatan serius banget, justru aku jadi khawatir.
" Kemarin malam, saat di tenda pos, sebenarnya aku dan Haidar belum tidur waktu kamu panggil-panggil Bian untuk keluar tenda. Aku kira kamu sengaja membangunkan dia karena ingin mengajaknya jalan-jalan sebentar berduaan. Tapi saat aku membuka sedikit tenda justru aku melihat Steve yang pergi bersama kamu. Bahkan Steve menggendong tubuh kamu berjalan cukup jauh ke dalam semak-semak", ucap Riko.
Aku langsung shock mendengar pengakuan Riko, jadi Riko dan Haidar sebetulnya melihat aku dan Yoga yang pergi dari tenda semalam. Bahkan dia melihat Yoga yang menggendong ku. Mereka berdua mengatakannya pada Bian atau tidak tentang apa yang mereka lihat semalam. Aku hanya menelan saliva karena rasa gugup yang tiba-tiba muncul.
" Apa kalian berdua keluar dari tenda dan mengikuti kami?", tanyaku dengan suara lirih, dan nada berhati-hati.
Haidar langsung mengangguk cepat. " Maaf karena kami mengikuti kalian berdua. Jujur aku dan Riko sangat penasaran dan kaget dengan semua yang kami lihat kemarin, tapi karena kami berada cukup jauh dari posisi kalian berdua, aku tidak bisa mendengar percakapan kalian. Hanya saja kami kaget karena ternyata Steve sudah sangat dekat denganmu".
Untung saja mereka berdua tidak mendengar apa yang aku dan Yoga bahas, jika mendengar maka mereka akan tahu jika aku dan Yoga punya seorang anak.
" Ra... aku melihat saat Steve memaksa untuk memelukmu dan juga mencium mu. Juga saat kamu menamparnya. Kami berdua melihat semua itu. Jujur kami sangat kaget dan juga bingung dengan semua yang kami lihat".
" Kami berdua sangat tahu, bagaimana sikap Steve selama ini terhadap seorang gadis, dia sangat dingin, bahkan untuk menyentuh pun tidak pernah, kecuali bersalaman. Kamu sendiri tidak pernah melihat Steve menggandeng tangan Utari calon istrinya kan?, seperti itulah Steve yang cuek dan dingin pada semua perempuan".
" Makanya kemarin malam, aku dan Riko sangat kaget, melihat Steve menggendong kamu, memeluk kamu dan sampai mencium bibir mu. Apa mungkin kamu itu pacar, sekaligus cinta pertama Steve saat SMP, yang sering di ceritakan nya pada kami Ra...?".
" Dan lagi, saat pertunangan kamu dan Bian, Steve menolak untuk ikut dengan alasan yang nggak jelas dan dibuat-buat. Apa itu juga ada hubungannya dengan semua ini?", tanya Haidar.
Pisang goreng yang sangat nikmat dan masih setengah sekarang justru jadi sangat susah untuk aku telan. Akhirnya ku letakkan pisang goreng itu di tatakan gelas yang digunakan sebagai tatakan susu coklat milikku.
Aku justru bingung mau bagaimana bercerita pada kedua pemuda di sampingku ini, mereka berdua sahabat Steve, tapi juga sahabat Bian.
" Kami hanya ingin dengar penjelasan kamu Ra, karena kamu yang memegang kunci persahabatan kami disini, sebenarnya kamu itu siapa?", tanya Riko dengan suara lirih dan tatapan tajam.
" Aku tidak bisa menjelaskan apapun pada kalian, tapi yang jelas, Bian lah yang aku cintai sekarang, dan Bian lah yang akan menjadi suamiku. Tentang Yoga, dia hanya masa laluku, dan tidak akan merubah apapun".
" Aku minta pada kalian berdua, mohon dengan sangat jangan beri tahu Bian tentang apa yang kalian lihat kemarin malam. Aku benar-benar tidak berniat mengkhianati Bian, Yoga yang memaksaku, dan posisiku semalam sangat lemah. Aku tidak tahu kalau Yoga akan melakukan hal senekat itu. Aku juga tidak mau merusak persahabatan kalian berempat".
" Jujur aku sangat kaget saat tahu Yoga dan Bian bersahabat, aku merasa dunia ini begitu sempit. Tapi aku tidak mau merusak persahabatan mereka, karena itulah aku bersikap seolah baru mengenal Yoga".
" Aku juga tidak mau menyakiti hati Utari, dia gadis yang sangat baik dan tulus mencintai Yoga, jangan sampai pernikahan mereka gagal, aku tidak mau disalahkan dan menjadi penyebab dari semua kekacauan itu".
" Bisa kan kalian berdua membantuku, untuk tetap diam?", tanyaku pada Riko dan Haidar yang masih menatapku dengan tatapan mata yang tak bisa ku artikan.
" Wah... asyik banget pagi-pagi begini sudah ngobrol di taman sambil ngopi, nggak ngajak-ngajak kamar sebelah, mana ada cewek cantik yang nemenin, bikin iri kita berdua saja!", seru Bian yang tiba-tiba datang dari arah penginapan bersama Yoga. Haidar dan Riko langsung menggeser kursi mereka sedikit menjauh, agar tidak terlalu mepet dengan kursi ku.
Kami bertiga berusaha bersikap seperti biasa, meski aku masih sangat gugup.
" Mau nyobain susu coklat punyaku Bi?, tapi ini sudah agak dingin, atau mau dipesenin kopi juga?, Haidar yang tadi pesenin ini", ucapku saat Bian menarik kursi dan mendorong posisi Riko dari sampingku, untuk menaruh kursinya dan duduk di sampingku.
" Mau aku pesenin kopi juga?", tanya Haidar.
" Biar aku saja yang pesenin kopi sekalian buat Bian. Apa mau pada sarapan sekalian?", tanya Yoga.
" Sarapan nanti saja, masih terlalu pagi, baru jam setengah 6, lagian sepertinya calon istri kamu belum keluar dari kamar, nggak kelihatan disini", ujar Bian.
Yoga berjalan memesan kopi untuknya dan Bian, juga menambahkan beberapa gorengan lagi. Haidar dan Riko saling menatap memberi kode, entah apa yang mereka berdua diskusikan.
" Ngobrolin apa tadi, dari jauh kelihatan seru banget, kok pas di deketin malah pada diam?", tanya Bian penasaran.
Aku sampai bingung mau mencari jawaban apa yang tepat dan masuk akal.
" Nggak bahas apa-apa, cuma lagi nyari info sama Raya kalian berdua sudah ngapain aja, tapi Raya nggak asyik, dia nggak mau jawab pertanyaan kita ya Ko...?", ucap Haidar beralasan.
Riko mengangguk, " Soalnya yang sering aku lihat di restoran, si Bian kayak ekornya Raya, kemana-mana pasti ngikutin. Nggak tahu ya kalau dirumah", ujar Riko menambahkan.
Jadi itu yang mau dijadikan alasan apa yang sejak tadi sedang kami bahas. Oke aku sudah diberi jalan, jadi tinggal ikut mengalir saja.
" Kalian berdua ini, kepo...!, kaya anak kecil saja, mana mau raya cerita. Nanya itu sama aku saja, pasti juga nggak bakalan aku jawab", ujar Bian sambil terkekeh.
" Oh iya Bi, ngomong-ngomong kita balik jam berapa dari sini?", tanyaku pada Bian.
" Belum pesen tiket pesawat sih, jadi nyari penerbangan yang siang saja, biar kita santai disini".
" Kalian berdua libur kan hari minggu begin?", tanya Bian pada Haidar dan Yoga.
" Libur, tenang saja", jawab Haidar.
" Mau seminggu lagi disini juga aku nggak masalah", jawab Yoga.
" Wisssh yang jadi bos, bebas mau libur berapa hari juga nggak bakalan ada yang marahin, beda sama kita yang cuma karyawan ya Ko...", ujar Haidar.
Riko hanya mengangguk, " kalau aku dan raya terserah sama Mas Bos, kan yang ngajakin kesini Mas Bos, iya kan Ra...?", tanya Riko.
Ku anggukkan kepalaku, " Iya terserah Mas Bos, tapi kalau kelamaan liburan nggak enak juga sama teman-teman karyawan yang lain, nanti dikira nepotisme", ujarku.
" Nggak sampai selama itu kok, tenang saja, nanti siang kita pulang, jadi besok bisa mulai masuk kerja", ujar Bian.
Aku dan Riko mengangguk bersamaan.