
Hanya 30 menit Shaka dan mama sudah kembali ke rumah sakit dengan membawa dua kantong plastik berisi begitu banyak makanan.
" Kalian dapat dari mana makanan sebanyak itu, pagi-pagi begini?", tanyaku merasa heran, apalagi mama dan Shaka pergi belum terlalu lama.
Mama tersenyum lebar, " Mama juga baru tahu kalau ada penjual jajan dan makanan untuk sarapan yang sangat lengkap tak jauh dari sini. Shaka yang kasih tahu mama".
" Dulu waktu ada acara menginap di sekolahan, ada temanku yang mengajakku ke pasar itu, kebetulan pasarnya buka setiap hari dan makanan disana sangat beraneka ragam. Yang penting siapkan perut buat menampung semua makanan itu", Shaka menjelaskan sambil mengeluarkan makanan-makanan itu dari dalam kantong plastik.
Saat ini meja persegi panjang yang ada di ruangan tempat ku dirawat penuh dengan berbagai macam makanan.
" Cobalah cicipi semua makanan ini Ra, sedikit-sedikit saja, kalau kata orang dulu itu namanya mapasan, ibu yang baru melahirkan mencicipi berbagai macam makanan sebelum tali pusar si bayi lepas", ujar mama menjelaskan.
Aku ingat hal itu, karena dulu saat melahirkan Shaka, mama juga membelikan beberapa macam jajan pasar untuk ku makan, tapi tentu saja tidak sebanyak saat ini. Dulu mama juga membelinya di pasar, dan yang dibelinya benar-benar jajan pasar jaman dulu.
Tapi untuk yang sekarang, banyak jajan yang kekinian juga, mungkin itu Shaka yang membeli, ada kebab, sempol, cimol, cireng, leker, dan jajan yang lain tidak bisa ku sebut satu persatu.
" Karena ibu baru melahirkan itu masih belum boleh kecapekan, dan mempunyai bayi itu jelas akan melelahkan, mulai hari ini mama akan menemani Raya untuk mengurus bayinya", ucap mama pada Yoga.
Yoga terlihat kurang setuju, " Tapi nanti mama yang akan capek, Yoga bisa menyewa baby sitter yang bisa membantu Raya merawat bayi kami", ucap Yoga mengungkapkan alasannya merasa keberatan. Ternyata dia tidak enak jika harus merepotkan mama.
Dulu saat Shaka lahir, mama yang juga membantu merawat, sekarang kami punya bayi lagi, mama juga yang menawarkan diri untuk membantu merawat lagi.
" Ini kemauan mama sendiri, mama tidak keberatan merawat cucu mama lagi, sudah dua anak dan satu cucu yang mama urus sejak bayi, jadi mama sudah sangat berpengalaman, tidak diragukan lagi. Apalagi ini cucu mama sendiri, makanya mama mau merawatnya, jangan dirawat baby sitter, mama jauh lebih berpengalaman. Dan lagi kalian jadi nggak perlu bayar baby sitter kalau mama yang merawat bayinya".
" Mama tahu uang tidak jadi masalah untuk kalian, tapi mama ingin membesarkan cucu mama sendiri, bukan di besarkan orang lain, biar kelak cucu mama semuanya menjadi orang-orang yang memiliki kepribadian yang baik".
Karena mama begitu bersikeras untuk merawat putri kami, aku dan Yoga akhirnya mengikuti kemauan mama. Sudah tidak diragukan lagi, mama memang sangat berpengalaman. Dan Yoga juga bersyukur karena nasihat mama lah Shaka jadi tidak membenci Yoga meski dia anak yang sudah ditinggal pergi belasan tahun oleh sang ayah.
" Apa papa tidak keberatan mama mau membantuku merawat putriku?", tanyaku pada papa yang sejak tadi hanya diam tak berkomentar.
" Justru papa yang memberi saran pada mama, dan mama juga sepemikiran dengan papamu", ujar Mama.
" Benar, mama mu akan papa antar ke rumahmu tiap pagi, dan akan papa jemput malam harinya, kalau malam kan biasanya waktunya tidur, pastinya tidak masalah mama pulang kerumah dulu kan?", ujar Papa.
Aku tahu mama tidak setuju untuk tidur di rumahku, dan aku tidak mempermasalahkan hal itu.
Mama yang menawarkan diri merawat cucu perempuannya, jadi mama mau tinggal dirumah ku, atau pulang setiap malam aku tidak masalah.
Aku dirawat di rumah sakit hanya sehari semalam, karena aku melahirkan secara normal dan alhamdulilah aku dan bayiku dalam keadaan sehat, esok harinya aetela melalui pengecekan keseluruhan, dokter Adrian memperbolehkan aku untuk pulang ke rumah.
Tentu saja masih disuruh kontrol sebulan sekali. Apalagi si kecil juga butuh di vaksin, makanya dokter Adrian menyarankan untuk kontrol tiap bulan.
Ada untungnya juga punya tetangga seorang dokter kandungan, jadi bisa tanya-tanya sewaktu-waktu jika terjadi apa-apa.
Sabtu pagi kami pulang ke rumah, semua penghuni rumah menyambut kepulangan ku dan bayiku, namun Yoga sangat protektif, karena sebelum pulang tadi dokter Adrian mengingatkannya agar tidak membiarkan setiap orang mencium atau menyentuh bayi kami. Karena bayi yang baru lahir masih sangat rentan dengan virus dan bakteri.
Dan saat hendak turun dari mobil, Yoga yang tadinya menuntunku langsung berseru pada semua ART di rumah untuk tidak mencium atau menyentuh bayi kami berlebihan. Ada-ada saja tingkahnya.
Sebegitu protektif nya dia pada bayi kami, tapi ada benarnya juga, kalau bukan kami sebagai orang tuanya yang menjaganya, lalu siapa lagi?.
" Semua yang mau lihat putriku diperbolehkan, tapi tida boleh cium atau pegang, cukup melihat saja, paham?!".
" Langsung bawa kamar saja ma, biar Dede istirahat yang tenang, di kamar kan tidak berisik", ucap Yoga pada mama yang sedang menggendong putri kami.
Mama juga menurut saja, langsung membawa putriku masuk ke dalam kamar.
Sore harinya Juna datang kerumahku bersama dengan Mala dan keluarganya, keluarga Mala memang sudah seperti keluarga sendiri, Mala sudah ku anggap seperti adikku sendiri, mereka yang banyak membantu saat aku tinggal di kontrakan dulu.
Mala membawakan hadiah baju-baju bayi yang sangat lucu, dan juga bantal untuk menyusui, dia begitu pengertian sampai kepikiran membawakan semua ini untukku.
Saat ngobrol di kamar berdua saja dengan Mala, dia juga mengatakan jika semua perabotan rumah tangga yang aku tinggal di kontrak Juna sudah dibawa olehnya.
Mala mengikuti saranku dengan membuka warung makan sendiri, karena sering memperhatikan saat aku sedang masak, dia jadi cepat terampil, dan saat membuka warung makan sendiri di dekat tempat bapaknya berjualan martabak, sebagian besar pelanggan ku kini menjadi pelanggan tetapnya.
Apalagi sebelumnya para pelanggan warung nasiku sudah mengenal Mala, yang sering membantuku menjaga warung. Karena itulah mempermudah Mala mendapatkan pelanggan.
Sayangnya Mala dan keluarganya tidak bisa lama bertamu di rumahku, mereka langsung pulang malam harinya. Karena harus melanjutkan rutinitas mereka yang harus berjualan besok, baik bapak maupun anaknya.
Juna yang sengaja tetap tinggal, malam ini menginap di rumahku, dan tidur bersama Shaka. Karena hari sabtu dan minggu Juna libur kerja.
Baru esok harinya, sekitar jam 8 malam, Juna pergi dari rumahku untuk kembali ke kontrakan karena esok harinya, hari Senin Juna harus kembali bekerja.
" Kamu kenapa Ga?, kok sejak tadi aku lihat kamu seperti banyak pikiran begitu, apa lagi ada masalah pekerjaan di kantor?", tanyaku saat aku dan Yoga sudah sama-sama berbaring di kasur.
Yoga menggelengkan kepalanya, " Aku teringat pesan Juna tadi, dia mengingatkan aku untuk menjaga putri kita dengan sangat hati-hati. Mengingat kesalahan yang pernah aku lakukan padamu dulu. Juna khawatir jika hukum karma masih berlaku".
" Apa kamu masih menyimpan rasa benci padaku meski hanya secuil Ra...?, aku tahu kesalahan yang ku perbuat padamu sangatlah fatal".
Yoga menggenggam tanganku, sambil menatapku lekat.
Apa dalam hatiku masih ada rasa benci pada Yoga?, aku sendiri tidak tahu, tapi setelah aku terpaksa menikah dengannya, menjalani hidup bersama dengannya, aku jadi tahu jika Yoga bukanlah orang yang jahat. Yoga sebenarnya baik dan sangat perhatian, hanya saja dulu dia tidak berdaya, dan belum bisa mandiri.
Dengan semua yang dilakukan Yoga padaku setelah kami hidup bersama, aku rasa semua kebencian dan dendam yang dulu tertanam di hatiku, perlahan telah menghilang dan bahkan berubah menjadi rasa nyaman dan aman setiap kali aku berada bersamanya.
Aku sudah kembali mencintai Yoga seperti dulu, semua kesalahan Yoga di masa lalu sudah aku maafkan.
Ku gelengkan kepalaku dan mengecup bibir Yoga. " Aku sudah tidak menyimpan sedikitpun kebencian dalam hatiku padamu, kita berdoa saja, semoga putri kita akan selalu dikelilingi oleh orang-orang baik, semoga Yang Maha Kuasa melindunginya dari segala bentuk kejahatan".
" Kesalahan yang kita lakukan dulu, semoga saja tidak berimbas pada putri kita. Bukankah sebaiknya kita tidak khawatir berlebihan, itu tidak baik", ucapku.
Yoga mengangguk sambil merengkuhku kedalam pelukannya.
" Terimakasih banyak bidadariku...".
Aku langsung merasa nyaman dan damai berada di samping Yoga.
Kami memejamkan mata bersama untuk istirahat malam ini. Beruntung putri kecil kami sangat anteng, dan hobi tidur, bangun sebentar ku beri ASI, sudah anteng, makanya bagiku merawatnya tidaklah sulit.
Beda dengan saat Shaka bayi, Shaka sebentar-sebentar lapar dan nangis minta ASI, sampai aku yang dulu masih kecil sangat kewalahan mengASIhi nya.