Healing

Healing
54. Transferan Masuk



Bian kini semakin pandai berciuman, membuatku kewalahan mengimbanginya. Bahkan perlahan Bian merubah posisi kami, dia merebahkan aku di sofa panjang dan mulai membuka kancing baju seragamku dari atas.


Dia berlutut di lantai sambil terus mencium ku, dan tangannya dengan terampil melepas satu persatu kancing bajuku. Ku biarkan Bian melakukan apa yang ingin dilakukannya hingga tersisa satu kancing baju paling bawah. Dan terpampang lah isi dalam bajuku.


Perlahan tapi pasti, Bian membuka pengait bra milikku, dan mulai menikmati pemandangan indah dari dua gundukan padat berisi di bagian dadaku. Bian mulai memainkan ujungnya satu persatu, membuat tubuhku bergetar hebat, dan aku tak kuasa menahan suara lenguhan yang lolos dari mulutku.


Bian melepaskan ciuman di bibirku, dan mulai mengeksplor tubuhku, berpindah mencium pipi, leher dan sedikit demi sedikit semakin turun, dan sampai di bagian dadaku. Aku sampai tak tahan lagi dan meremas rambut Bian yang kini berada tepat di dadaku.


Tok...tok...tok....


" Bi.... aku masuk ya. Mau ngambil laporan belanja minggu ini !", suara Riko terdengar dari depan pintu ruangan Bian.


Bian yang sedang mengulum salah satu ujung dari dua bukit kembar ku terpaksa melepaskannya dengan kesal, untuk menjawab seruan Riko dari luar.


" Nanti saja Ko, kamu kerjain yang lain dulu, kalo mau pulang duluan juga boleh!, nggak usah berisik, buruan pulang sana !", teriak Bian dari posisinya. Tak berniat sedikitpun berpindah posisi, karena sedang merasakan nikmatnya melakukan penjelajahan di tubuhku.


" Tapi hari ini aku harus transfer gaji buat karyawan, nomer rekening mereka kan disimpan di laptop dan print-printannya ada di laci meja kerjamu, buruan buka pintunya!", Riko masih bersikeras meminta masuk ke dalam.


Bian akhirnya beranjak dari posisinya dengan perasaan kesal dan jengkel. Karena sahabat sekaligus managernya justru mengganggu kenikmatan yang sedang di rasakan nya.


Aku pun berpindah posisi duduk di sofa dan membetulkan pakaianku, merapikan rambut dan juga bajuku yang berantakan karena ulah Bian.


Bian berjalan membuka kunci pintu dan membiarkan Riko masuk kedalam ruangan.


" Eh ada Raya disini, sori kalau aku ganggu kencan kalian, lagian masih sore Bi... nanggung belum sholat asar, mending sholat asar dulu, baru di lanjutkan kegiatan kalian berdua, balik saja ke rumah, jangan disini, nggak aman, dan juga nggak nyaman", sindir Riko, sambil cengar-cengir berjalan menuju meja kerja Bian.


Riko mendekat ke meja kerja Bian, dan Bian menghempaskan tubuhnya, duduk di kursi kerjanya, membuka laci yang sama dengan yang tadi aku pergoki Yoga sedang membukanya. Jadi apa isi dari laci itu?.


" Rese banget kamu Ko, sengaja kan ganggu kesenanganku?, awas saja, kalau suatu saat nanti aku mergokin kamu lagi berkencan sama gebetan kamu, bakalan aku balas kejadian hari ini", ucap Bian karena begitu kesal dengan sikap Riko yang membuat kenikmatan yang sedang kami rasakan harus pupus seketika.


" Kalau boleh tahu, apa isi dari laci itu?, sepertinya penuh berisi kertas-kertas penting?", tanyaku mendekat ke meja kerja Bian, dan duduk di pegangan kursi kerja yang sedang Bian duduki, sambil melongok isi kertas itu.


Bian langsung merangkulkan tangannya di pinggang ku, seolah masih enggan berjauhan dariku.


" Yang mana?, apa yang ini?", tanya Bian sambil mengambil kertas di posisi paling atas. " Ini daftar nomor rekening semua karyawan yang bekerja disini, karena hari ini adalah jadwal Riko untuk mentransfer gaji para karyawan".


Aku mengangguk, benar juga, hari ini tanggal kami semua mendapatkan transferan gaji kami. Memang ini hari minggu, tapi kesepakatan awal kerja memang gaji di transfer akhir bulan hari apapun itu.


Jadi apa yang Yoga ingin lakukan dengan memfoto nomor rekening semua karyawan yang bekerja di restoran ini?. Aku terus bertanya-tanya dan penasaran dengan gelagat Yoga yang mencurigakan tadi.


Namun semua rasa penasaran itu terjawab ketika aku sampai di rumah dan sedang rebahan di kamar usai sholat Isa. Aku kira aku mendapatkan transferan gaji karena aku mendapatkan notifikasi masuk dari Bank, namun ada dua notifikasi dari Bank yang masuk.


Ku buka pesan yang pertama. Masuk sekitar satu jam yang lalu. Benar itu adalah pesan pemberitahuan jika gaji ku sudah masuk. Seketika aku langsung tersenyum, karena ternyata benar-benar tidak dipotong sedikitpun gajiku bulan ini, gajiku tetap diberikan secara penuh satu bulan kerja, padahal bulan ini aku banyak ijin dan juga cuti. Ini semua pasti ulah Bian yang menyuruh Riko agar tetap menggaji ku secara penuh.


Dan kubuka pesan yang kedua, yang ternyata baru saja masuk beberapa menit yang lalu. Tadinya ku kira laporan yang sama, karena kadang operator mengirim ulang, namun ternyata ini transfer dari orang lain. Dan betapa terkejutnya aku ketika ku baca nominal yang tertera di layar ponsel.


Lima puluh juta, dari rekening pengirim atas nama Steve Prayoga Setyawan, apa ini tujuan Yoga tadi siang membuka laci meja kerja Bian, dia sedang mencari tahu nomor rekeningku.


Jadi dia tidak bercanda saat mengatakan padaku di bukit berbintang, saat di gunung Rinjani, tentang keinginannya membiayai seluruh kebutuhan Shaka. Sekarang aku harus bagaimana, aku terima atau aku kembalikan saja uang ini?.


" Ra, apa kamu lagi sibuk?, boleh mama masuk?", tanya Mama dengan suara lirih.


Aku membiarkan mama masuk dan duduk di tepian ranjang tidurku.


" Ada apa ma?, apa ada yang mau mama sampaikan?", tanyaku sambil duduk menghadap mama.


" Itu Shaka tadi pas pulang sekolah, bilang sama mama kalau siswa kelas 7 semuanya wajib mengikuti ekstrakurikuler Pramuka. Dan minggu depan ada kegiatan kemah dari sekolahnya. Dia minta uang saku untuk pegangan saat disana selama 3 hari, katanya berangkat Jumat dan selesai hari minggu malam".


" Sebenarnya kalau papa kamu lagi banyak pemasukan, mama nggak bakalan minta sama kamu Ra...", mama nampak tak enak hati karena sudah berulang kali melakukan hal yang sama, belum lama ini, beberapa hari yang lalu mama juga minta uang untuk mengganti ban motor papa yang bocor berkali-kali, mungkin karena itu mama merasa tidak enak.


Aku mengangguk mengerti, " Nggak apa ma, kalau Shaka butuh apa-apa mama bilang saja sama Raya, kan memang Raya yang seharusnya membiayai semua keperluan Shaka".


" Apa mau ke ATM sekarang buat ambil uangnya?, ini gaji Raya bulan ini baru saja masuk. Sekalian kita mampir warung, buat belanja bulanan", ucapku sambil beranjak dari kasur dan memakai celana panjang dan jaket bersiap untuk keluar.


Mama mengangguk dan keluar, melakukan hal yang sama memakai jaket agar tidak kedinginan di motor saat malam-malam begini, ATM terdekat memang ada agak jauh dari rumah, butuh 10 menit dengan berkendara motor, karena ada di depan kantor kecamatan.


Saat ini papa dan Shaka belum kembali dari masjid, usai sholat Isa tadi, mungkin mereka mampir-mampir di rumah tetangga.


Aku berboncengan motor dengan mama untuk pergi mengambil uang. Namun saat aku masuk ke dalam mama tidak pernah mau ikut masuk. Biasanya aku akan tetap mengajak mama masuk, tapi kali ini kubiarkan mama menunggu di depan. Aku mau mengecek, benar atau tidak notifikasi dari Bank tadi.


Dan ternyata benar, ada 57 juta sekian ratus ribu rupiah di dalam ATM ku. Uang 5 juta tabungan yang ku kumpulkan selama ini, dan dua juta lebih gaji yang masuk tadi sore. Yoga benar-benar mengirimkan uang untuk Shaka, entah mengapa hatiku menjadi berdebar dan merasa sangat bingung. Bagaimana baiknya, aku terima atau tidak?.


Tapi sejak tadi bahkan Yoga tidak mengirimkan pesan apapun padaku. Membuat aku semakin bingung bagaimana menghubunginya, karena chat terakhir darinya sudah ku hapus, dan tak ku simpan nomor kontaknya.


Aku dan mama langsung mampir ke warung dekat rumah sepulang mengambil uang dari ATM. Sengaja membeli beras 25 kilo, minyak 5 liter, gula pasir 2 kilo, telur, bumbu dapur, sabun mandi, sabun cuci, shampo dan pasta gigi dan tidak luapa juga kubeli kebutuhan pribadiku lainnya. Memang setiap habis gajian biasanya aku belanja cukup banyak untuk kebutuhan sebulan, biar mama tidak merasa canggung tiap kali harus meminta uang untuk kami makan.


Sekarang pendapatan papa tidak seperti dulu lagi, karena banyak orang yang sudah membeli motor sendiri dan jarang ngojek.


Biasanya habis sekitar 500 ribuan lebih di warung, tapi setidaknya untuk sebulan kedepan kami sudah bisa tiap hari makan nasi, meski lauknya seadanya. Biasanya 500 ribu lagi aku berikan pada mama untuk dipegang, karena setiap hari harus memberi uang saku untuk Shaka, belum kalau Shaka minta uang untuk hal lainnya.


Dan karena tadi ibu mengatakan Shaka akan berkemah Minggu depan, maka aku tambah uang yang ku berikan 200 ribu untuk di berikan pada Shaka. Aku sengaja belum memakai uang pemberian Yoga, aku masih berpikir dan mempertimbangkan untuk memakai uang itu atau tidak.


Satu posisi aku membutuhkan uang itu, tapi di posisi lain, aku takut memakai uang itu, takut yang kulakukan salah, karena meski Yoga adalah ayah kandung Shaka, tapi kami tidak pernah melangsungkan pernikahan. Tentunya jika sampai ada keluarga Yoga yang tahu dan tidak setuju dengan pengiriman uang yang Yoga lakukan, kemudian meminta uang itu dikembalikan, maka aku harus mengembalikannya.


Karena itulah aku takut untuk memakai uang itu. Satu sisi aku bersyukur Yoga masih memikirkan Shaka dan mengakui Shaka sebagai anaknya, meski Yoga belum pernah bertemu, bahkan tidak tahu seperti apa anaknya saat ini, tapi dia tetap bersikukuh untuk membiayai hidupnya, berusaha menjadi ayah yang bertanggung jawab secara finansial.


Karena jujur untuk mempertemukan mereka berdua adalah hal yang paling tidak ingin aku lakukan. Biar saja semuanya tetap berjalan seperti ini, Shaka tak perlu tahu kebenarannya, dan Yoga tak perlu mengenal ataupun bertemu dengan anaknya.


Aku pulang ke rumah dengan membawa banyak sekali belanjaan di motor. Saat hendak melajukan motor untuk pulang, ponselku berdering, Bian melakukan panggilan.


Ku angkat teleponnya, ternyata Bian sudah mengirimkan beberapa pesan sejak tadi, tapi belum ku baca. Ku katakan aku sedang pergi belanja bulanan bersama mama dan meminta maaf karena belum membaca pesan darinya. Bian pun menutup teleponnya.


Saat sampai di rumah dan selesai menyimpan semua belanjaan pada tempatnya, aku kembali ke kamar dan memeriksa pesan dari Bian. Sudah semalam ini Bian minta ijin untuk datang ke rumah, sebenarnya pesannya dikirim jam 8 tadi, tapi.baru aku baca jam 9 malam.


Akhirnya ku telepon Bian dan melarangnya datang, sudah malam, dan besok juga masih bisa bertemu lagi. Aku tahu Bian masih merasa nanggung dengan kegiatan panas yang kami lakukan di ruang kerjanya tadi sore, aku yakin Bian belum mau berhenti jika tidak kebetulan ada Riko yang datang. Mungkin Riko dikirim Yang Maha Kuasa agar kami tidak melanjutkan kegiatan panas kami, yang sebenarnya belum di legalkan.