Healing

Healing
140. Curhat 2



Utari menceritakan kehidupan rumah tangganya bersama Bian selama ini yang ternyata penuh dengan cobaan.


Di awal pernikahannya Utari difonis terkena penyakit kista. Utari dan Bian sepakat untuk merahasiakan sakit yang di alami Utari pada keluarga mereka. Dan rutin melakukan pengobatan. Bian selalu setia mendukung Utari untuk berobat hingga sembuh. Saat itulah Utari dengan mudahnya jatuh cinta pada Bian. Mereka berdua jadi sering datang ke tempat praktek dokter Dwi.


Hingga usia satu tahun pernikahan Utari dinyatakan sembuh, merekapun berusaha untuk mempunyai momongan, namun ternyata sudah cukup lama berusaha, mereka masih tetap belum diberi momongan, sampai tiba hari dimana ibunya Bian mengetahui jika Utari pernah menderita penyakit kista.


Ibunya Bian mengira jika Utari lah penyebab dirinya tak kunjung dikaruniai cucu. Dan menyuruh Bian untuk menceraikan Utari dan menikah dengan perempuan lain.


Tapi Bian justru tetap konsisten dengan pernikahannya, tetap mempertahankan Utari sampai sekarang, karena saat melakukan pemeriksaan secara keseluruhan di dokter kandungan. Ternyata Bian lah yang tidak subur.


Karena itulah Bian membuat permintaan pada Utari agar Utari mengajukan gugatan perceraian terhadapnya. Bian menyadari kekurangannya, dan dia bicara jujur pada ibunya jika dialah yang lemah.


Ibunya Bian sangat shock mendengar pengakuan Bian. Seketika teringat atas hinaannya terhadapku dulu, karena itulah beliau meminta tolong pada Bian dan Utari untuk menyampaikan padaku jika beliau berharap bisa bertemu denganku untuk meminta maaf.


Sebagai seorang ibu, beliau merasa jika dirinya sedang dihukum Tuhan atas hinaan yang dia lakukan terhadapku dulu. Padahal sedikitpun aku tidak pernah menyalahkan beliau atas gagalnya pernikahanku dan Bian, aku juga tidak menyimpan dendam, aku menerima hinaan dari nya karena memang yang beliau katakan semuanya adalah sebuah kebenaran.


Aku tidak sedikitpun sakit hati dengan perlakuan yang dilakukan keluarga Bian yang menganggap rendah terhadap keluargaku. Karena saat itu aku sudah terbiasa dengan hinaan dan cacian semacam itu. Tidak kaget dan tidak merasa aneh. Otak dan perasaanku sudah sangat kebal dengan hinaan dan cacian semacam itu.


" Ri.... seperti yang aku katakan waktu itu. Jika kamu benar-benar mencintai Bian, maka pertahankanlah pernikahan kalian. Mungkin kalian hanya sedang diuji lewat jalan itu".


" Teruslah berusaha dan berdoa, minta pertolongan kepada Yang Maha Kuasa, semoga saja doa kalian di dengar dan dikabulkan, dan kalian akan di beri momongan secepatnya".


" Tapi jika ternyata kamu sudah merasa lelah dengan ikatan pernikahanmu, dan ingin menyerah, maka lakukan dengan baik-baik", ucapku memberikan masukan. Aku percaya Utari jauh lebih bijaksana daripada aku, pasti dia tahu harus melakukan apa, hanya saja dia butuh seseorang untuk mendengarkan, agar beban dipundaknya sedikit berkurang.


" Ibu Syifa mau minum", tiba-tiba Syifa merengek minta minum, sehingga aku harus memanggil pelayan untuk meminta air putih tambahan, karena air putih milikku sudah habis sejak tadi.


Tak sengaja aku melihat Yoga dan beberapa orang dengan pakaian rapi masuk ke kafe, mungkin saja mereka melakukan pertemuan di kafe ini. Tapi cukup jauh juga dari kantor Yoga. Aku langsung kembali masuk kedalam bilik, agar Yoga tak melihatku.


Tepat juga tempat yang dipesan Utari, membuatku bisa bersembunyi dari Tiga yang ada di luar.


" Ini air putihnya Nyonya", pramusaji meletakkan segelas air putih dan langsung diminum oleh Syifa.


" Maaf mba, itu tadi ada beberapa bapak-bapak baru masuk, mereka apa sengaja untuk makan siang?, sudah reservasi terlebih dahulu, atau belum?", tanyaku penasaran.


" Maksud Nyonya tamu yang baru masuk tadi?. Beliau pimpinan SY groups, dan kafe ini hanya sebagian kecil dari salah satu cabang dibawah naungan SY groups. Mereka hendak makan siang dan sudah melakukan reservasi terlebih dahulu", terang sang pramusaji.


" Apa Nyonya mengenal beliau?, tentu saja mungkin Nyonya pernah melihatnya, wajah beliau sudah terlalu sering muncul di surat kabar, majalah bisnis, berita online, dan portal pemberitaan lainnya".


Aku hanya mengangguk, " Terimakasih informasinya, kalau boleh tahu di ruang mana mereka reservasi?".


Beruntung ternyata tempat Yoga menjamu kliennya berada di bagian dalam yang lumayan jauh dari pintu masuk, jadi aku dan Syifa bisa keluar dan pulang tanpa ketahuan Yoga.


" Apa pelayan tadi tidak tahu kalau kamu istrinya?", tanya Utari saat aku kembali duduk di samping Syifa.


" Hanya sedikit orang yang tahu aku istri Yoga. Karena aku tidak mau di ekspose terlalu jauh. Latar belakangku yang tidak sebagus latar belakang kamu, membuat aku tidak ingin orang mengenalku".


Utari menatapku sendu.


" Kenapa?, apa ada ucapanku yang salah? bukankah semua yang ku katakan benar adanya?. Aku memang hidup dengan begitu banyak kekurangan".


" Satu-satunya kelebihan ku karena aku dicintai seorang Steve Prayoga Setyawan. Seorang dengan begitu banyak kelebihan, dan kekurangannya hanya satu. Dia mencintai wanita penuh kekurangan seperti ku".


Utari menggelengkan kepalanya. " Steve pasti punya alasan kenapa tidak memperkenalkan pada dunia siapa istrinya, mungkin saja Steve khawatir jika pesaing bisnisnya dengan sengaja akan menggunakan kamu/ istrinya atau anak kalian sebagai sandra, untuk menjatuhkannya".


" Hidup di dunia orang-orang yang melakukan pekerjaan bisnis, di kalangan atas memang sedikit lebih rumit Ra.... Suamimu memang laki-laki yang baik Ra... Jujur aku pernah berusaha mendekatinya dan ingin sekali berciuman dengannya, tapi dia pun menolak hanya sebatas ciuman, padahal status kami waktu itu sudah bertunangan".


" Apa...kamu dan Bian dulu sudah pernah melakukannya Ra?, selama ini aku sangat penasaran. Maksudku sampai sejauh apa hubungan antara kamu dan Bian saat kalian berpacaran dulu?".


Utari mulai penasaran dengan kehidupan di masa lalu, padahal aku tidak berniat menceritakan tentang hubunganku dengan Bian pada siapapun. Apalagi pada Utari yang kini menjadi istrinya.


" Aku dan Bian berhubungan sebatas sewajarnya orang berpacaran pada umumnya, tidak ada yang spesial", ungkapku sedikit berbohong. Bisa jadi masalah besar jika aku memberitahukan pada Utari tentang servis yang pernah aku berikan pada Bian.


" Ibu, Syifa mau pulang, Syifa ngantuk", rengek Syifa. Beruntung sekali membawa Syifa aku jadi ada alasan untuk pergi dari tempat itu.


" Lain kali aku masih bisa bertemu denganmu lagi kan Ra?", tanya Utari saat aku berpamitan pulang terlebih dahulu padanya.


" Mungkin tidak ada lain kali. Sekarang aku sibuk urus Syifa, dan sebentar lagi adikku juga butuh bantuan ku untuk mengurus usaha barunya. Jadi mohon maaf kalau lain kali tidak bisa menemui mu lagi", ucapku mencari alasan yang tepat, agar tidak terkesan menolak begitu saja ajakannya.


" Wah... sayang sekali, padahal kamu teman ngobrol yang asyik".


Aku hanya tersenyum mendengar pujian dari Utari. Aku langsung memesan mobil online melalui aplikasi, tak lama kemudian supir memberitahukan jika mobil sudah di depan kafe.


Aku sengaja menggendong Syifa agar tidak terlalu lamban jalan keluarnya, apalagi Syifa sudah ngantuk, mungkin saja dia akan tertidur di mobil nanti.


" Syifa..!".


Aku langsung membalikkan badan, padahal sudah berusaha jalan cepat-cepat, tapi ternyata tetap kepergok oleh Yoga yang ternyata habis dari toilet umum.


" Jadi kamu ngajak Syifa makan disini?, lama banget ya makan pizza nya, sudah hampir 2 jam sejak kamu minta ijin mau ngajak Syifa keluar", tanya Yoga dengan tatapan menyelidik.


" Syifa makanya lama, dan banyak, makanya sekarang kekenyangan dan ngantuk. Kamu lagi ada meeting disini ya?. Ya sudah sana kembali bekerja, aku mau ajak Syifa pulang, dia sudah ngantuk banget", ucapku.


" Dadah Ayah.... Syifa pulang dulu, makasih udah di ijinin makan pizza disini", ucap Syifa dengan suara yang melemah sambil menguap.


" Ya sudah hati-hati dijalan, jangan mampir-mampir lagi, Syifa sudah ngantuk banget", pesan Yoga padaku.


Aku mengangguk, " Aku pulang duluan, bye...", ucapku keluar kafe sambil menggendong Syifa. Yoga kembali menuju ruang dimana kliennya masih berada di situ karena acara makan yang belum selesai.