
" Benar kamu Raya kan?!", Haidar langsung menghampiri ku dan menatap wajahku dengan seksama.
" Kamu kemana saja selama ini Ra....?. Sudah satu tahun kita tidak bertemu, jadi kamu putrinya pak Tono?, ternyata dunia begitu sempit. Aku, dan yang lain selama ini terus mencari mu, kami bertanya pada teman-teman kerjamu tidak ada yang tahu kamu pindah ke mana".
" Memang satu kesalahan kami, kami tidak berani datang ke rumah orang tua mu dan bertanya pada mereka. Ternyata yang menyerempet dia adalah ayahmu".
Benarkah apa yang Haidar katakan, dia dan ketiga sahabatnya mencariku, tapi untuk apa mereka mencariku?, urusanku dengan mereka sudah selesai saat pernikahanku dengan Bian batal. Jadi aku pikir selama ini mereka sudah tidak ada lagi urusan denganku.
Kalau memang Yoga mencariku, kenapa pesan dariku tak pernah dia balas?, haruskah aku percaya dengan kata-kata Haidar tadi?.
Haidar nampak sangat senang bertemu dengan ku lagi, ternyata yang papa tabrak adalah bos nya Haidar, tadi mama dan papa bilang yang bersikukuh untuk melaporkan papa adalah asisten dari orang yang ditabrak papa, berarti aku tinggal meminta pada Haidar untuk membatalkan tuntutan nya terhadap papaku.
" Em.... apa aku boleh minta tolong sama kamu, kali ini saja?", tanyaku to the points. Tidak ada waktu untuk basa-basi, aku harus segera menyelesaikan urusan tabrakan ini. Karena aku harus segera kembali ke kota, pelanggan ku akan kasihan jika aku terlalu lama di kampung
" Minta tolong apa?, tentang tuntutan terhadap papa kamu?", tebakan Haidar benar-benar tepat.
Aku langsung mengangguk, " Bisakah kamu membatalkan tuntutan untuk papaku?, papa kan tidak sengaja, beliau juga sama-sama terluka. Kalau saja lubang di jalan itu tidak tertutup genangan air, mungkin saja Papaku bisa menghindar dan tidak menyeruduk bos kamu". Ucapku sambil melihat kearah ranjang, disana ada seorang laki-laki yang tangan kirinya di pasangi gips, sehingga tidurnya miring ke kanan membelakangiku dan Haidar.
" Tapi papa kamu tetap saja bersalah Ra.... karena beliau menabrak dia yang sedang berjalan di pinggir jalan. Aku coba tanya pada nya, apa dia setuju atau tidak membatalkan tuntutannya kepada papa kamu".
Belum Haidar menanyakan perihal tuntutan pada bos nya, aku melihat mama berteriak histeris di depan kamar sembari memanggil nama Shaka.
" Shaka....!, sayangku....".
Aku juga bisa mendengar tangis mama yang langsung pecah. Aku buru-buru keluar dari kamar dan melihat Mama sedang memeluk Shaka dengan begitu erat. Sedangkan Shaka masih berdiri dan nampak bingung untuk bersikap bagaimana.
" Sayang.... kemana saja kamu selama ini?", mama bertanya pada Shaka sembari menangis tersedu-sedu.
" Mama sangat rindu sama kamu, lihatlah, satu tahun tidak bertemu kamu tumbuh dan berkembang dengan cepat, mama sudah kalah tinggi sama kamu. Apa kamu datang karena mendengar papa kecelakaan?. Papa dirawat diruang cempaka, bukan disini, yang dirawat disini adalah orang yang menjadi korban kecelakaan yang papa alami".
Mama seolah menarik Shaka untuk mendekat padaku yang masih berdiri terpaku di pintu kamar. Aku tahu Shaka bingung harus bersikap bagaimana, karena aku juga bingung harus bagaimana.
" Jadi ayah ditabrak oleh papa?", ucap Shaka sambil melewati ku masuk kedalam kamar rawat.
" Ayah kenapa tidak menyapa Kak Raya, dia sudah ada disini, apa ayah tidak akan menunjukkan wajah ayah pada kak Raya?".
Aku begitu terkejut saat Shaka masuk dan memanggil orang yang sedang terbaring membelakangi aku dengan sebutan ayah.
" Ayah....?", ucapku mengulang kalimat Shaka.
Haidar langsung menghampiri ku sambil tersenyum lebar, " Yang ditabrak papa kamu itu Steve, ayolah Steve tunjukkan wajahmu pada Raya, bukankah kamu bilang kamu sangat merindukan nya".
Kulihat Yoga bergeser dari posisinya dan menunjukkan wajahnya padaku. Aku langsung menatap mama, khawatir mama marah-marah seperti dulu saat melihat Yoga datang ke rumah.
" Apa mama tidak tahu kalau yang papa tabrak itu Yoga?".
Mama langsung menggeleng. " Saat mama dikabari papa sudah dibawa kesini, pihak rumah sakit yang mengabari mama jika papa kecelakaan dan menabrak orang, bahkan mama belum melihat secara langsung korban yang ditabrak papa, karena asistennya terus yang keluar dan menemui mama".
" Lagian asistennya itu menyebut nama korbannya itu Steve, bukan Yoga, makanya mama nggak tahu", jawab mama sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mama tidak marah-marah lagi karena sekarang Shaka dirawat oleh Yoga, sudah satu tahun lamanya sejak aku pergi dan tinggal di kontrakan Juna. Karena itulah mama memaafkan Yoga, karena Yoga menunjukkan sikap baiknya dengan bertanggung jawab atas hidup Shaka seterusnya.
" Kalian bisa kan tidak menuntut papaku ke pihak berwajib?, papaku juga terluka, apa kalian tega, orang tua seperti papaku harus mendekam dipenjara?, kasihan mamaku jika papa benar-benar dipenjara, mama akan tinggal sendirian".
" Aku akan bayar seluruh biaya rumah sakit, dan biaya kontrol sampai kamu sembuh",!ucapku pada Yoga, setelah sekian lama kami tak saling bertemu, saat ini aku berhadapan dan bertatapan langsung dengannya.
Bagaimana bisa orang yang papaku tabrak itu adalah Yoga, dunia begitu sempit.
" Aku sudah bilang pada Haidar untuk membatalkan tuntutan nya, saat aku tahu yang menabrak ku itu adalah papa kamu, tapi Haidar kekeh mau mengajukan tuntutan", ucap Yoga.
" Lagian kamu nggak ngasih tahu aku jika yang nabrak kamu itu papanya Raya, pantas saja kamu terus nyuruh aku yang ketemu dengan mamanya Raya", Haidar tidak mau disalahkan.
" Jangan-jangan kamu sengaja biar mamanya Raya nelepon Raya dan nyuruh Raya balik kesini?", tebak Haidar.
Aku bisa melihat wajah Yoga yang menyeringai lebar.
Syarat?, apa lagi ini, pakai syarat segala, aku menengok ke mama dan mama memberi kode setuju dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Ya sudah aku akan menuruti syarat yang kamu mau, tapi kamu harus membatalkan tuntutan terhadap papa ku, dan kamu bayar sendiri biaya rumah sakit kamu, dirawat dikamar sebagus ini, pasti mahal biayanya", ujarku sambil menatap sekeliling kamar.
Sungguh kamar rawat yang mirip dengan sebuah apartemen, semuanya lengkap, dari televisi, kulkas, AC, kamar mandi di dalam, bahkan ada dua kasur, satu untuk pasien dan satu untuk tidur yang jagain.
" Apa syaratnya?", tanyaku mendekat ke arah Yoga.
Aku melihat Yoga lagi-lagi menyeringai sambil menatap Shaka dan Haidar secara bergantian.
" Kamu harus mau menikah denganku secepatnya. Aku mau kita menjadi keluarga seutuhnya Ra", ujar Yoga.
Aku sampai mencubit pipiku, aku sedang mimpi atau tidak, bagaimana bisa dia meminta aku untuk menikah dengannya sebagai syarat agar tuntutan terhadap papa di batalkan.
" Apa tidak ada syarat lainnya?, kalau begitu aku lebih memilih membayar biaya perawatan kamu, dan menyewa pengacara untuk papaku", jawabku dengan kesal.
Haidar nampak menyeringai. " Mau pakai pengacara sebagus apapun papa kamu bakalan tetap disalahkan, karena saksi mata kejadian tabrakan itu ada banyak, belum lagi ada cctv di bagian depan mobil yang terparkir tak jauh dari lokasi yang merekam detik-detik kecelakaan itu terjadi".
Aku menatap Haidar heran, sejak kapan dia berada di kubu Yoga?, bukankah dulu dia dan Riko sangat membenci Yoga saat melihat Yoga menciumku di bukit berbintang.
Mama menunjukkan ekspresi wajah memohon padaku agar setuju dengan syarat yang di berikan oleh Yoga.
" Aku mau bicara berdua denganmu diluar", ucapku pada Haidar.
Haidar berjalan mengikuti ku keluar kamar, mama juga keluar dari kamar meninggalkan Yoga dan Shaka yang saling menatap penuh isyarat.
" Kamu lupa apa Dar, Utari akan sangat marah kepadaku, begitu juga dengan Bian, dia akan sangat marah jika tahu aku menikah dengan Yoga", ujarku sambil berkacak pinggang.
" Nggak ada yang akan marah Ra... mereka berdua sudah bahagia dengan pernikahan mereka, makanya kalau pergi jauh itu jangan los kontak, menghilang bagaikan lenyap di telan bumi, biar kamu bisa tahu berita dan kabar dari sini", ujar Haidar, aku justru bingung dengan ucapannya.
" Maksud kamu apa Dar?", tanyaku meminta penjelasan.
Haidar merengkuh pundak ku agar aku mendengarkan apa yang akan di katakannya.
" Dengarkan aku baik-baik. Bian dan Utari sudah menikah sekitar enam bulan yang lalu, kamu tahu kan keluarga mereka saling mengenal, karena itulah setelah gagalnya pernikahan kalian, keluarga Bian dan keluarga Utari melakukan perjodohan antara mereka berdua".
" Bian dan Utari yang waktu itu sedang sama-sama dalam masa sulit dan bersedih, tidak punya pilihan selain menerima perjodohan mereka", terang Haidar.
" Apa karena itulah kenapa sekarang kamu dan Yoga kembali berhubungan baik?, kamu sudah tidak marah padanya?" tanyaku.
Haidar menggelengkan kepalanya," Sebenarnya jika dari awal aku tahu kisah kalian, aku tidak akan pernah marah pada Steve, dia hanya berusaha memperjuangkan kamu, berusaha menunjukkan bahwa dia ingin bertanggung jawab atas kesalahannya di masa lalu".
" Kalau menurutku, sebaiknya kamu setuju saja menikah dengan Steve, dia serius benar-benar masih mengharapkan kamu".ucap Haidar meyakinkanku.
" Tolong restui hubungan mereka Bu, Steve dari dulu hanya mencintai Raya, saya sebagai saksinya, saya temannya sejak masih SMP, karena itulah saya berani jamin, selain putri ibu, Steve tidak pernah jatuh cinta dengan wanita lain", ucap Haidar pada mamaku.
Mama nampak bingung saat diajak bicara, mungkin yang ada dipikirannya sekarang adalah bagaimana caranya agar papa tidak di tuntut dan tidak masuk penjara. Bahkan mama sampai memohon padaku agar aku setuju dengan syarat yang Yoga berikan.
Tapi tidak semudah itu, aku punya kehidupan baru di tempat baru, disana banyak orang yang bergantung pada ku, untuk memasak dan memberi mereka makan. Kasihan pelanggan ku jika aku menikah dan tinggal disini.
" Biar aku ngobrol berdua dengan Yoga di dalam, ada yang ingin aku katakan", ujarku sembari masuk ke kamar Yoga.Shaka keluar dari kamar karena Haidar memanggilnya untuk keluar.
" Jika aku setuju untuk menikah, bagaimana dengan ayah dan ibumu?", tanyaku, karena memang dari dulu mereka tidak merestui hubungan kami.
" Makanya kalau pergi jangan hilang kontak, kamu tidak dengar kabar ibuku meninggal kena serangan jantung saat pernikahan ku dan Utari batal ?, sekarang ayahku sudah menikah lagi dengan istri barunya yang usianya hanya selisih 3 tahun denganku".
" Ibu tiriku masih sangat muda Ra... baru 30 tahun, kamu dan dia pasti nyambung kalau ngobrol".
Aku menutup mulutku merasa tidak percaya dengan berita yang baru saja ku dengar. Jadi Bu Herni sudah meninggal, padahal beliau masih muda.
" Karena itulah dulu aku tidak sempat membalas pesan darimu Ra.... maaf", ucap Yoga.
Jadi itu alasannya Yoga tidak membalas pesanku, karena dia dalam masa berkabung. Begitu banyak kabar yang tidak aku tahu selama ini.