Healing

Healing
23. Cerita Serem



Aku kembali ke restoran dengan bermacam-macam dugaan, setelah mendengar cerita nenek pemilik rumah tadi, rasanya aku jadi kasihan kepada beliau, Semoga saja suatu hari nanti kami berdua bisa bertemu lagi.


" Kenapa di bawa pulang lagi Mba Raya?, apa ada yang isinya rusak?", tanya Hani saat melihat aku membawa satu box makanan yang tadi ku antarkan, Hani memang sudah lebih dahulu sampai di restoran.


Tentu saja Hani sampai lebih dulu, jarak kirimnya lebih dekat, dan dia juga pasti langsung kembali ke restoran usai mengirim makanan, tidak seperti aku yang harus menemani dan mendengarkan cerita dari pemilik rumah terlebih dahulu.


" Nggak rusak, aku dikasih satu sama yang pesan, karena untuk dibagi-bagikan kepada teman-temannya yang diundang di acara ulang tahunnya, terus aku dikasih satu, ya aku terima. Lumayan bisa dibawa pulang buat Shaka", ujarku.


Hani nampak manggut-manggut paham, " Mba Raya... mumpung tamu belum rame, aku mau cerita sedikit nih, tentang pemilik rumah yang tadi aku kirim makanan".


Aku mengangguk, " Kenapa?, apa ada kejadian lucu?", tanyaku seolah tidak mengenal mereka yang sedang Hani ceritakan.


Hani langsung menggeleng cepat, " Bukan kejadian lucu, tapi kejadian serem", ujar Hani.


Hani kemudian menarik tanganku keluar dari restoran. Kemudian menceritakan kejadian serem yang di sebutnya tadi. Sengaja menjauh dari keramaian agar tidak ada orang lain yang mendengar ceritanya.


" Tadi waktu aku masuk kerumah yang sangat besar itu, kan yang bukain satpamnya ya Mba, terus aku bawa masuk nih motornya sampai depan teras". Hani nampak menghirup nafas panjang.


" Pas di teras tak sengaja aku mendengar percakapan antara dua orang ibu-ibu, tapi di ruang samping ruang tamu yang ada pintu masuknya juga, karena penasaran ku intip melalui celah tirai yang sedikit tersingkap, ternyata kedua ibu-ibu itu sudah berumur, tapi masih terlihat cantik".


" Eh.... bukan percakapan, mungkin lebih tepatnya mereka saling berdebat, dari cara bicara dan tampilan sepertinya mereka istri pejabat atau mungkin mereka sendiri yang pejabat, soalnya masih pakai seragam dinas warna krem begitu", ujar Hani dengan ekspresi serius.


" Apa yang kamu dengar?", tanyaku penasaran.


" Aku mendengar ibu-ibu yang lebih tua itu memarahi ibu-ibu yang nampak lebih muda darinya. Apa mba Raya tahu percakapan apa yang aku dengar?".


Aku menggeleng, karena memang aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.


" Ibu tua memarahi ibu muda yang sudah berani memberi obat penggugur kandungan untuk menggugurkan janin di perut perempuan, yang sudah dihamili sama anak laki-laki dari ibu yang lebih muda itu".


Aku langsung melotot, tentu saja aku kaget dengan yang Hani ceritakan barusan.


" Selama ini aku sering melihat adegan-adegan seperti itu di sinetron, sudah jadi hal biasa, tapi kalau di dunia nyata seperti ini, baru kali ini aku menemui kejadian seperti itu. Aku benar-benar takut dan ngeri. Kok bisa ibu-ibu cantik dan berduit itu tidak menyuruh anaknya bertanggung jawab saja, tapi justru memberi obat penggugur kandungan kepada wanita yang dihamili anaknya. Menurutku pasti ibu-ibu itu takut nama baiknya tercemar", tuduh Hani, karena Hani hanya mendengar sepotong kisah saja, karena kisah yang sebenarnya aku yang mengetahui keseluruhan nya.


" Karena sudah ilfil duluan dengan ibu-ibu yang berada disana, usai menurunkan makanan, aku langsung pulang, untung aku tidak perlu menunggu pembayaran karena semuanya sudah dibayar melalui transfer, rasanya ngeri berada di sana lama-lama".


Hani bercerita dengan menggebu-gebu, aku tak menyangka Hani akan mendengar kisah masa laluku di rumah itu. Siapa ibu-ibu tua yang dimaksud oleh Hani, Apa Bu bidan Ara, karena dia satu-satunya orang lain yang mengetahui tentang kisah masa lalu ku meminum obat penggugur kandungan.


" Yah... sayang banget dong, kamu ngantar makanan ke rumah orang kaya, tapi malah nggak dapat tip", ujarku berlagak merasa kasihan pada Hani. Dan berpura-pura tidak tahu dengan orang yang sedang di bahas mereka. Karena orang itu sebenarnya adalah aku.


Hani justru melotot, " Ih... Mba Raya ini bagaimana, mana mau aku terima uang tip dari orang jahat seperti itu, nggak mau aku makan duit pemberian orang jahat, sama saja dengan pembunuh kan kalau mengugurkan kandungan. Aku sih sudah ngeri duluan", ucap Hani sambil memutar bola matanya.


Aku tersenyum melihat ekspresi Hani saat ini.


" Oh, ini lagi dengerin cerita Hani pas tadi nganter makanan", jawabku sambil berjalan kembali masuk ke dalam restoran.


Bian mengikuti di belakangku, " Aku kira kamu lagi cerita ke Hani kalau kita sudah jadian", bisik Bian lirih.


Aku menengok menatap Bian, " Buat apa aku cerita sama Hani?, tanpa menceritakan pada siapa pun, mereka semua pasti akan tahu dengan sendirinya, jika sikap kamu sejak pagi terus saja begini, dimana-mana ngintilin aku terus, aku ke kanan, kamu ikut ke kanan, aku ke kiri kamu juga ngikut ke kiri, terus saja mengekor di belakangku seperti bayangan ku saja", ucapku sambil memanyunkan bibir.


Bian terkekeh mendengar ucapanku, " Aku sendiri bingung dengan perasaanku, tidak tahu kenapa, rasanya pengen dekat-dekat sama kamu terus, bahkan mau libur hari ini sampai nggak jadi, saking kangen dan pengen ketemu sama kamu", ucap Bian, entah asli atau hanya gombalan belaka.


" Terus gimana tanggapan ibu kamu saat kamu menceritakan hubungan kita semalam?", Aku memang sudah sangat penasaran sejak semalam, apa tanggapan dari ibu dan ayahnya Bian.


" Semuanya beres, mereka kan sayang sama aku, dan juga sudah mengenal kamu, jadi tentu saja ayah dan ibu langsung setuju. Kamu tunggu saja beberapa hari lagi kami pasti datang kerumah kamu", ucap Bian dengan penuh keyakinan. Aku tersenyum mendengar kalimat nya, karena memang jawaban itu yang ingin ku dengar.


Bian menarik aku masuk ke dalam ruang meeting, lalu menutup pintu ruang itu, Bian langsung memelukku begitu erat, " Buat penyemangat, rasanya aku butuh di carge sebentar dengan memeluk kamu Ra...".


Aku meringis sambil membalas pelukan dari Bian. " Ya sudah sini aku kasih transferan energi, biar pacarku jadi semangat lagi", ucapku lirih.


Kami berpelukan cukup lama, hanya saling memeluk dan memberi semangat. Aku tahu ada sesuatu dari bagian bawah tubuh Bian yang lama-lama menegang, sehingga aku lebih dulu melepaskan pelukannya.


Aku bukan gadis polos yang tidak tahu apa reaksi jika laki-laki dan perempuan itu saling berpelukan erat dan cukup lama. Apalagi masa-masa pacaran dan saling jatuh cinta, aku sudah pernah mengalami jauh sebelum ini, dan aku tidak mau kami berdua kebablasan, aku cukup belajar dari pengalaman, karena aku tidak ingin mengulang masa lalu kelamku, aku bukan orang bodoh yang akan terperosok pada lobang yang sama.


" Sudah jangan kelamaan, takut lama-lama kamu nggak bisa mengontrol diri. Aku keluar dulu, di luar sudah ramai", ucapku sambil keluar dari ruang meeting, aku tidak mau membuat Bian semakin bertindak lebih jauh lagi, karena sekarang kami berdua sedang berada di ruang meeting restoran.


Aku tahu Bian seperti tidak rela melepaskan aku untuk kembali bekerja, wajahnya langsung berubah masam saat aku keluar dari ruang meeting.


Tamu sudah mulai berdatangan karena sudah jam 11 lebih, sebentar lagi pasti restoran penuh, aku dan Hani langsung sibuk memberi buku menu dan mengantar makanan dari meja ke meja.


" Sebaiknya kamu nggak ceritain apa yang kamu dengar tadi sama siapapun Han, apalagi sama Mas Bos dan Mas manager, soalnya tadi mereka bilang, anak dari pemilik rumah yang kamu anterin makanan, adalah sahabat mereka berdua, kalau sampai kamu ceritakan cerita yang tadi kamu kasih tahu sama aku, berarti secara tidak langsung kamu ngasih tahu Bian dan Riko kalau sahabatnya sudah menghamili anak gadis orang, dan ibunya yang katanya super baik itu ternyata adalah orang jahat, yang ternyata tidak jauh berbeda dengan seorang pembunuh".


" Kalau kamu bercerita pada orang lain, dan Bian atau Riko tahu, bisa-bisa kamu merusak hubungan persahabatan mereka"


Aku sengaja mengajak Hani berdiskusi di dapur dengan suara lirih saat kami berdua menunggu masakan yang akan kami antar ke meja yang berbeda selesai di hias oleh sang koki.


" Apa iya yang mba Raya katakan?, jadi cowok pemilik rumah itu, yang menghamili seorang gadis adalah sahabat Mas Riko dan Mas Bian?, apa mungkin Mas Bian dan Mas Riko nggak tahu tentang hal itu?, atau jangan-jangan mereka tahu, dan bersekongkol untuk merahasiakan kebenarannya? ", ekspresi Hani terlihat masih tidak percaya.


Aku menghentikan obrolan, dan pergi meninggalkan Hani sambil membawa beberapa piring di atas nampan untuk ku antarkan ke meja pemesan


Entah apa yang dipikirkan Hani sekarang, mungkin dia jadi berpikir jika sahabat Riko dan Bian seperti itu, apa mungkin sebagai sahabat, mereka berdua tidak tahu dengan kelakuan sahabat dekatnya?, karena biasanya dalam suatu persahabatan itu tidak ada rahasia.


Hani memang tidak tahu jika kejadian itu sudah terjadi belasan tahun yang lalu, saat Riko dan Bian belum mengenal Yoga.