Healing

Healing
115. Tiba Saatnya



Yoga terus melakukan sentuhan lembut di bagian sensitif tubuhku, ini mengingatkan aku dengan kejadian belasan tahun silam, saat Yoga memintaku menyerahkan mahkotaku yang paling berharga. Meski saat itu aku hanya seorang gadis kecil yang lugu, aku bisa merasakan glenyeran aneh yang memaksa otakku untuk menerima semua sentuhan itu.


Karena entah perasaan apa, seolah ada dorongan untuk mendapatkan sentuhan yang lebih dari itu, aku masih ingat dengan benar. Dan saat ini tangan Yoga sudah menjalar ke tempat lain, di dua gundukan padat yang ada di dadaku. Aku mendesis, dan seluruh tubuhku menegang, jujur aku menikmatinya, sama seperti saat dulu Yoga menyentuhku bahkan yang kurasakan saat ini lebih dari yang dulu ku rasakan.


Yoga perlahan merebahkan tubuhku di kasur yang tergeletak di lantai kamarku, mengecup kening, pipi, dan terakhir mendarat di bibirku. Kami melakukan french kiss, sama seperti dulu, tapi kali ini Yoga lebih hebat dibandingkan dulu. Aku dibuat semakin kewalahan dan tak bisa menolak pesonanya.


Benar yang dikatakan Juna semalam, aku seperti terhipnotis oleh bentuk tubuh Yoga yang sixpack, dengan otot yang besar dan kencang, belum lagi kepandaian Yoga memberikan sentuhan di tubuhku, sentuhan yang membuatku terhipnotis dan tak bisa mengelak untuk menolaknya.


Mungkin sudah tiba saatnya aku menyerahkan diri, yang kami lakukan ini bukanlah kesalahan seperti saat belasan tahun lalu kami melakukannya, justru kami sedang beribadah, ya... bukan kesalahan jika kami melakukannya karena kami sepasang suami istri.


Mengetahui aku tidak mengelak dan menerima setiap sentuhannya, Yoga semakin bersemangat dan mulai menanggalkan semua pakaiannya. Siang yang panas ini menjadi saksi pergulatan panas yang kami lakukan di dalam kamar kontrakan yang sangat sempit. Hanya sebuah kipas angin kecil yang sedikit mengurangi rasa panas karena pergumulan yang sedang kami lakukan.


Satu yang kutahu pasti, tak ada percakapan yang terjadi saat kami melakukannya, baik aku maupun Yoga hanya saling menatap dan bergerak seirama. Hingga kami sama-sama mencapai puncak kenikmatan.


Ekspresi bahagia yang membuncah bisa aku lihat di wajah Yoga yang terlihat sedikit lelah, tapi puas.


Yang aku rasakan juga hampir sama, lelah, tapi dalam hatiku ada rasa bahagia dan puas setelah melakukannya. Kami berdua sama-sama tergeletak di atas kasur busa tanpa busana. Yoga masih memelukku dan menutupi tubuh kami dengan selimut.


Karena merasa lelah, kami sama-sama memejamkan mata dan tidur masih dalam keadaan polos tanpa busana, seperti orang yang habis minum obat tidur, kami langsung tertidur dengan pulasnya.


Hingga terdengar adzan ashar, aku baru terbangun dan membuka mataku, saat aku berusaha bangun dari posisiku, Yoga menarik tanganku dan merengkuhku ke dalam pelukannya.


" Mau kemana?, disini saja, aku mau sekali lagi", suara Yoga terdengar seperti anak kecil yang merengek. Bisa-bisanya dia meminta lagi setelah aku setuju melakukannya sekali. Apa karena dia sudah menantikan hal ini sejak lama?.


" Sudah adzan ashar, aku mau mandi dan sholat, aku juga mau menghangatkan makanan yang kita beli di restoran tadi, aku lapar karena lelah", jawabku masih dalam pelukan Yoga.


" Baiklah kalau begitu, kita mandi bersama, aku akan membantumu memakai sabun, apa lukamu tidak pedih terkena air?".


Yoga begitu pandai mencari alasan, bilangnya mau membantu memakai sabun, padahal dia sedang modus, masih belum puas melihat dan menikmati tubuhku.


Aku menggelengkan kepalaku, " Kita mandi sendiri-sendiri saja, kamar mandinya sempit, mana muat mandi bersama, jadi nggak bisa gerak bebas kalau mandi berdua".


" Dan, tadi pagi aku juga sudah mandi, tidak ada masalah, tidak pedih, makanya aku merasa sayang uang 3 juta darimu hanya digunakan untuk mengobati lukaku yang sebenarnya sudah hampir sembuh hanya dengan salep yang ku pakai semalam", ucapku menyampaikan unek-unekku.


Yoga hanya nyengir kuda, " Buat kesehatan sendiri nggak usah pelit. Kalau tidak mau mandi bersama ya sudah, biarkan aku melakukannya sekali lagi disini", ucap Yoga sambil tangannya mulai menyentuh tubuhku lagi.


Ini yang aku khawatirkan, sekali diberi, minta lagi dan lagi, sama seperti dulu, sekali mencoba akhirnya kami sama-sama ketagihan dan ingin melakukannya lagi dan lagi. Selalu mencari kesempatan untuk bisa melakukannya lagi. Tapi tidak ku pungkiri jika berapa kali pun Yoga memintanya, dia bisa membuatku merasakan kenikmatan yang luar biasa, bahkan jujur aku kewalahan mengimbangi permainannya.


Setelah penyatuan kami yang kedua kalinya hari ini, aku langsung pergi ke kamar mandi untuk mandi. Sekarang sudah jam 4 sore, berarti Juna akan sampai rumah sebentar lagi. Jangan sampai Juna curiga dan mengetahui apa yang sudah kami lakukan.


Aku memang menikmatinya, tapi jujur belum ada cinta yang aku rasakan untuk Yoga, masih terlalu samar apa yang sebenarnya aku rasakan, yang ku lakukan hanya sekedar menunaikan tugasku sebagai seorang istri yang baik, yaitu melayani suaminya, itu saja. Belum ada cinta.


Setengah jam aku menghabiskan waktu di dalam kamar mandi, saat aku keluar, kulihat Yoga kembali sibuk dengan ponselnya. Sepertinya karena belum bisa pulang, Yoga jadi sibuk memeriksa laporan perusahaan melalui ponselnya. Aku tidak akan mengganggunya, dan lebih memilih melakukan sholat ashar terlebih dahulu, dan mulai memasak nasi untuk kami makan malam.


Memang kami hanya membeli lauk saja, karena bagiku nasi lebih enak dimakan jika masak sendiri dan baru matang.


Aku sibuk mengeluarkan makanan yang ku simpan dalam lemari es yang ada di ruang tengah, yang sudah ku sulap menjadi dapur, dan ku perhatikan Yoga masih sibuk dengan ponselnya.


Haruskah aku mengingatkannya jika sudah jam setengah 5 lebih, dan waktu sholat ashar hampir habis. Tapi sepertinya dia sedang serius dengan ponselnya.


" Ga... sudah setengah 5 lebih", ucapku mencoba memberi tahunya.


Ponsel Yoga yang tergeletak kembali berdering, dan banyak pesan yang masuk. Karena merasa penasaran, aku melihat salah satu pesan yang masuk, sepertinya urusan pekerjaan. Karena dari yang ku baca pesan itu mengatakan jika negosiasi belum berhasil.


Aku tahu Yoga sangat sibuk, karena dia pemilik perusahaan, belum lagi bisnis lainnya yang tidak aku ketahui, Yoga tidak boleh terlalu lama tinggal disini, karena perusahaannya lebih membutuhkannya ketimbang aku. Aku harus bicara padanya nanti.


Dan setelah makan malam bertiga dengan Juna, aku sengaja menyampaikan apa yang mengganjal dalam pikiranku.


" Ga... Mau sampai kapan kamu tinggal disini?, bukankah kamu punya banyak pekerjaan di kantor?".


" Bukannya aku tidak senang kamu tinggal disini, tapi pekerjaanmu akan terbengkalai jika kamu terlalu lama tinggal disini. Segera pulanglah, lukaku sudah tidak sakit lagi, apalagi kamu sudah mengajakku ke dokter spesialis kulit terbaik. Pasti akan segera sembuh", ujarku.


Juna juga masih berada bersama kami saat aku mengatakannya. Mungkin Juna berpikir aku tidak nyaman tinggal bersama dengan Yoga saat ini.


" Kapan kakak pergi ke dokter kulit, apa dokternya mengatakan luka kakak akan sembuh?", tanya Juna.


Aku mengangguk, " Tadi pagi Yoga mengajakku ke klinik, dan mampir ke restoran untuk beli makanan ini", ucapku sambil menunjuk piring kosong di depan kami. Kami memang baru selesai makan malam, dan belum aku beresi piring kotornya, karena Yoga masih menikmati kepala ikan kakap yang ada di piringnya. " Yoga ulang tahun hari ini", imbuh ku sambil menunjuk kue tart dengan tatapan mataku.


" Apa kamu yakin kamu sudah baik-baik saja?, sebenarnya aku masih mengkhawatirkan keadaanmu Ra, tapi benar katamu, pekerjaanku lagi banyak banget sampai berkas yang harus aku cek sudah menumpuk di meja kerja".


" Seandainya saja dulu kamu memberi syarat lain saat menerima pinanganku, mungkin sekarang aku akan membawamu pulang ke rumah, dan kita tinggal bersama. Tidak perlu kamu tinggal disini dan capek berjualan makanan setiap hari".


" Sayangnya aku setuju dengan syarat yang kamu ajukan, jadi aku harus bisa menepati janjiku untuk tidak melarangmu tinggal disini".


" Mungkin jika proyek terbaruku sudah selesai, dan aku punya waktu luang, aku akan datang kesini lagi . Sukur pas hari libur, jadi Shaka bisa ikut kesini".


Setelah obrolan usai makan malam, Yoga benar-benar pulang malam itu juga, aku memakluminya, karena memang dia harus secepatnya sampai di rumah dan besoknya harus pergi ke kantor.


" Kenapa murung?, nggak lagi merasa kehilangan gara-gara ditinggal sama suami kan?".


Aku tahu pertanyaan Juna sebenarnya sedang meledekku.


" Siapa yang merasa kehilangan karena ditinggal suami, kakak lagi merasa sayang dengan ini", ku berikan nota pembayaran obat di klinik dokter spesialis kulit tadi siang.


" Cuma gara-gara kecoa nemplok di tangan dan air panasnya tumpah, uang 3 juta melayang begitu saja", ujarku.


Juna kemudian mendekatkan diri dan duduk persis di sebelahku.


" Kak, jawab jujur ya.... Apa kakak tidak pengen pulang kampung dan tinggal bersama kak Yoga?, bukankah kakak sudah dapat jatah bulanan dari kak Yoga, jadi buat apa kakak capek-capek jualan disini. Uang kak Yoga itu banyak. Dan satu lagi pertanyaannya, sebenarnya berapa jatah bulanan yang kak Yoga kirim buat kakak?, apa sedikit banget sampai kakak masih tetap kekeh tinggal disini, dari pada tinggal bersama suami?".


Ku hembuskan nafasku pelan, " Sebenarnya kakak bukannya nggak pengen tinggal bersama Yoga, hanya saja belum waktunya. Dan jatah bulanan dari Yoga sudah lebih dari cukup untuk keperluanku selama sebulan, karena dia mengirimkan 10 juta tiap bulan. Itu lebih besar dari laba jualanku satu bulan penuh", jawabku.


" Itu juga lebih besar dari gajiku sebulan di tambah uang lemburan dan intensif", gumam Juna.


" Tentu saja lebih besar, gaji di pabrik paling besar juga 7 juta, sudah dengan uang lembur dan bonus-bonus", batinku.


" Kalau memang kakak merasa capek disini dan pengen pulang kampung, aku setuju kak, lagian kakak kan memang sudah bersuami, jadi memang seharusnya kakak tinggal bersama dengan suami kakak".


Aku menatap Juna curiga, aneh sekali Juna malam ini, kemarin dia masih terlihat tidak suka dengan Yoga. Tapi malam ini sepertinya pemikirannya berubah 180°, apa karena dia baru tahu jika selama ini Yoga menafkahi ku meski kami tak tinggal bersama.