Healing

Healing
87. Mantan Teman



Selama setengah jam, aku masih tetap berdiri tegak menatap Utari tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kubiarkan dia untuk sedikit mengurangi beban berat dan rasa sakit di hatinya dengan menangis.


Menangis memang tidak menyelesaikan masalah, tapi dengan menangis kadang perasaan sedih, yang awalnya terasa sangat buruk akan menjadi sedikit lebih baik, karena itulah yang kadang aku lakukan jika suasana hati ku sedang buruk. Dengan menangis sejadi-jadinya, tanpa sepengetahuan orang lain tentunya.


" Raya, apa yang kamu lakukan disini?, kenapa tidak pulang kerumah sudah malam, mama kamu nyuruh papa nyusul kamu ke sini. Apa Bian sudah pulang?, dan siapa dua orang itu?. Apa mereka tamu mu?". Papa ternyata menyusulku, mungkin karena sudah jam 9 lebih, dan aku belum pulang-pulang, membuat yang lain jadi khawatir.


" Ini... iya..., teman Raya pa", aku bingung harus menjawab apa.


" Kenapa malah pada ngobrol disini, silahkan mampir ke rumah, sudah malam, tidak baik anak perempuan berada di luar rumah. Apalagi sepertinya sedang sakit ya?", ajak Papa seraya menatap Utari yang masih duduk di kursi roda dengan wajah pucat.


" Mari silahkan mampir ke rumah kami?, kenapa kamu malah membiarkan teman kamu yang lagi sakit tetap diluar malam-malam begini Ra....".


Sepertinya papa lupa dengan Utari, memang Utari baru pernah main ke rumah sekali saat mau berangkat mendaki gunung Rinjani. Dan saat itu keadaan Utari sehat dan begitu ceria, pantas saja jika papa lupa atau pangling dengan Utari yang sekarang.


" Maaf Om, kalau boleh saya mau ngobrol sama Raya di mobil saya sebentar. Om bisa tunggu kami di dekat mobil sebentar bersama suster selama kami ngobrol".


Akhirnya Utari bicara juga, meski masih dengan suara yang lemah, dan kulihat papa mengangguk, papa tidak keberatan menungguku di dekat mobil Utari. Saat aku masuk ke dalam mobil mengikuti Utari, sang suster tetap menunggu di luar bersama papa. Terlihat papa mengobrol dengan suster itu, entah apa yang mereka bicarakan.


" Apa kamu tidak berniat untuk minta maaf terlebih dahulu padaku?. Kenapa kamu diam saja saat melihatku. Kamu terkejut ya, karena aku datang ke sini malam-malam begini?".


Utari bicara dengan nada yang lembut, tidak seperti kekhawatiran ku di awal, aku kira dia akan marah-marah dan mencaci maki ku. Aku kira dia akan menamparku, dan menjambak rambutku seperti di sinetron-sinetron. Tapi itu semua tidak terjadi. Bahkan sekarang kami duduk berdekatan sambil saling menatap.


" Kenapa kamu nggak marah sama aku?, kenapa kamu tidak menampar pipiku atau menjambak rambutku, kenapa kamu tetap bersikap baik padaku setelah semua kepahitan yang sudah kamu rasakan karena diriku?".


" Harus berapa kali aku mengucapkan permintaan maaf sama kamu untuk bisa membuat kamu memaafkan semua kesalahanku Ri?, bahkan aku sudah mempersiapkan diri untuk mendengar cacian, makian, dan umpatan darimu. Aku sadar sudah menjadi teman yang sangat buruk untukmu. Dari awal aku tidak berani mengatakan yang sebenarnya. Karena aku tidak mau merusak persahabatan dan pertemanan kita semua".


Aku tak bisa lagi menahan air mata yang sejak tadi sudah tertahan di pelupuk mataku, dari awal Utari menangis hingga terisak, aku sudah merasa sangat sakit hati. Aku melihat kesedihan yang begitu mendalam di wajah Utari. Sebagai sesama perempuan, aku pun bisa ikut merasakan betapa sakitnya di bohongi. Karena aku pernah merasakan hal itu sendiri.


" Ra... sebenarnya kamu tidak perlu meminta maaf padaku, aku memang sempat marah sama kamu, aku berpikir Tuhan tidak adil kepadaku, karena Dia membuat Steve lebih mencintaimu ketimbang padaku. Aku iri, aku cemburu dan aku marah saat tahu jika gadis yang dicintai Steve adalah kamu, orang yang ku kenal dan sudah ku anggap teman baikku".


" Tapi saat aku mendengar pengakuan Steve tentang apa yang sudah dilakukannya pada mu dulu, rasa marah, benci, kecewa, dan cemburu kepadamu berubah menjadi rasa kasihan. Aku tak bisa bayangkan bagaimana hancurnya kamu saat dulu Steve dan keluarganya angkat tangan dari masalah pelik yang menimpa kalian".


" Aku tidak pernah nyangka Bu Herni sejahat itu, bahkan dia juga membohongiku dengan mengatakan sejak dulu Steve tidak pernah dekat dengan gadis manapun".


" Tujuanku datang ke sini, hanya ada satu hal yang ingin aku tanyakan sama kamu Ra... apa kamu masih mencintai Steve Ra, tolong jawab sejujurnya?".


Pertanyaan Utari membuatku langsung menggelengkan kepalaku cepat. " Sudah sejak lama, lama sekali, aku tidak mencintai nya. Sejak aku kecewa dengan sikapnya. Rasa cinta dan sayang yang dulu kumiliki untuk nya sudah hilang dan sudah ku kubur dalam-dalam beserta dengan semua luka yang ku rasakan".


" Kalau boleh jujur, saat itu aku hampir menyerah, jika bukan karena dukungan keluargaku, aku pasti sudah melakukan hal yang buruk".


Utari menghembuskan nafas panjang. " Aku sendiri tidak tahu kenapa, meski sudah mengetahui keburukan Steve, aku tidak ingin membatalkan pernikahanku dengannya. Meski aku tahu di hati Steve hanya ada kamu, tapi aku tidak mempermasalahkan hal itu, selama hanya aku, dia dan kamu yang tahu, jangan sampai orang tuaku mengetahui hal ini".


" Keluargaku keluarga terpandang, begitu juga dengan keluarga Steve yang merupakan orang-orang berpengaruh di wilayah ini. Pernikahan kami berdua tidak mungkin akan di batalkan begitu saja, itu bisa mencemarkan nama baik keluarga kami".


" Aku tidak masalah harus menyimpan rahasia ini, jika memang ini jalan yang terbaik. Tapi satu hal aku minta sama kamu Ra, jangan pernah lagi bertemu dengan Steve, setelah kita menikahi pasangan kita masing-masing, mari kita membuka lembaran baru dengan bersikap seolah kita tidak pernah saling mengenal. Mungkin itu adalah jalan keluar terbaik yang bisa kita pilih".


Utari memelukku, aku pun membalas pelukannya, ku rasakan Utari menepuk punggungku perlahan. Mungkin ini adalah pelukan perpisahan, karena kedepannya kami akan hidup menjadi orang asing yang tidak saling mengenal.


Aku keluar dari mobil Utari, dan suster yang tadi bersama Utari masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi. Ternyata dia teman Utari di rumah sakit, karena Utari bekerja sebagai dokter gigi di sana.


Papa mengajakku kembali ke rumah tanpa bertanya apapun, papa memang tidak pernah memaksaku untuk menceritakan apa yang terjadi padaku, sebelum aku menceritakannya sendiri dengan suka rela. Papa menghormati privasi ku, tapi dengan senang hati akan mendengarkan jika aku butuh seseorang untuk menjadi pendengar yang baik.


" Ternyata gadis tadi teman kamu yang dulu datang menjemputmu saat mau ke pendakian ya?, papa sama sekali tidak mengingatnya, seandainya saja tadi suster itu tidak mengatakan jika gadis tadi adalah dokter gigi di rumah sakit. Papa jadi ingat teman kamu yang jadi dokter gigi yang datang waktu itu saat suster itu memberi tahu. Apa dia sedang sakit?".


Aku mengangguk, " Dia mungkin kecapekan karena mau menikah juga dua hari lagi", jawabku singkat, saat ini kami sudah sampai di teras rumah.


Papa menatapku heran, " Jadi kalian akan menikah di hari dan tanggal yang sama?. Wah kebetulan sekali bisa sama seperti itu. Tapi jadi tidak bisa saling menghadiri acara pernikahan yang lain, karena bersamaan".


Aku hanya mengangguk, benar sekali, tidak bisa saling menghadiri, karena itulah yang kami inginkan, status kami saat ini adalah mantan teman, jadi tidak diharapkan kehadirannya di pesta pernikahan masing-masing. Karena jika sampai ada yang hadir, hanya akan mengacaukan acara saja, entah aku yang hadir ke sana, atau mereka yang datang ke pernikahanku, sama saja hanya akan membuat kekacauan.


" Kalian dari mana saja?, bikin Mama khawatir. Papa ini disuruh nyusulin kamu, malah lama banget nggak balik-balik. Hampir saja mama nyuruh Juna untuk nyusulin kalian", mama langsung menghampiri ku yang baru saja masuk ke dalam rumah.


" Tadi ada teman Raya datang, tapi papa suruh mampir nggak mau orangnya. Malah minta ijin ngobrol sama Raya di mobilnya, jadi papa nungguin mereka di samping mobil", ujar Papa berusaha menjelaskan.


" Teman Raya siapa?, Rita?, atau Hani?, sejak kapan mereka punya mobil?".


Mama memang tahunya yang sering datang ke rumah kalau bukan Rita ya Hani.


" Bukan keduanya, teman Raya yang jadi dokter gigi itu, yang dulu jemput Raya pas mau naik gunung", papa masih berusaha menjelaskan.


Ku lihat mama berusaha mengingat-ingat.


" Raya tidur dulu ya Ma, Pa, Raya lagi nggak sholat, jadi mau langsung tidur, sudah ngantuk", pamitku pada mama dan papa.


" Ini anak, lagi di ajak ngobrol malah main masuk kamar begitu saja. Mama belum selesai nanya nya Raya".


Mama meninggikan suaranya karena aku sudah menutup pintu kamarku rapat.


" Besok lagi ma, Raya sudah ngantuk dan capek banget, di catat dulu pertanyaannya, besok sampaikan sama Raya, pasti Raya jawab satu persatu", ujarku dari dalam kamar.


Mama sepertinya marah, karena terdengar suara papa yang membujuk mama untuk pergi dan tidak menggangguku yang mau tidur.


" Sudah ayo Ma, kita tidur juga, bukankah kegiatan besok itu sangat padat, katanya mama mau bikin kue, terus bikin apa saja macem-macem, jangan tidur kemalaman biar besok nggak ngantuk terus".


Suara papa yang terakhir terdengar, sekarang rumah sudah menjadi sunyi, aku membuka ponselku yang sejak tadi aku tinggal di kamar. Ada panggilan tidak terjawab sampai 27x panggilan dari Yoga.


Untuk apa lagi dia menghubungiku, aku sudah sangat lelah hari ini, terlalu banyak drama yang terjadi hari ini. Aku butuh istirahat untuk menjernihkan pikiranku. Ku matikan ponselku agar tidak ada yang mengganggu istirahat ku malam ini. Ku letakkan ponsel di atas nakas, dan ku pejamkan mataku. Semoga saat terbangun esok hari, semuanya akan menjadi lebih baik.