
Saat aku dan mama menyiapkan kudapan, dan Yoga bersama papa tengah membakar daging dan sosis, tiba-tiba saja Shaka dan Juna berhenti mengejar-ngejar Syifa karena Syifa tak sengaja menabrak dua orang tamu yang baru saja datang.
" Maaf Om", ucap Syifa sambil menengadah ke atas menatap wajah orang yang tidak sengaja baru saja ditabraknya. Syifa memang sudah menabrak bapak-bapak yang seumuran dengan ayahnya. Namun justru orang yang di tabrak Syifa itu berjongkok agar wajahnya sejajar dengan Syifa, dan Syifa tidak menengadah terus ke atas.
" Halo cantik... waaaah... bidadari dari mana ini masih kecil sudah cantik banget dan juga pandai bersopan santun, langsung mengucapkan maaf saat melakukan kesalahan. Apa boleh Om minta kenalan?, siapa namanya?", tanya Bian dengan wajah ramah dan senyum yang tulus.
Syifa yang belum kenal dengan Bian hanya menatapnya dengan lekat, tidak berani mendekat dan menerima uluran tangan Bian untuk bersalaman dan berkenalan. Bahkan Syifa mundur beberapa langkah dan menarik tangan Shaka yang berdiri beberapa langkah dibelakangnya.
Ternyata Bian dan Utari benar-benar datang memenuhi undangan ku tadi sore. Padahal aku hanya berbasa-basi, sekedar memberi tahu alasan kenapa kami berada di puncak. Tapi ternyata mereka berdua benar-benar datang dengan membawa sesuatu di tangan Utari, bisa aku lihat dari logo yang tertera di paper bag, logo restoran yang sangat familiar untukku, karena aku pernah menjadi karyawan disana cukup lama.
Ya... restoran milik Bian, lalu apa Bian sudah buka cabang restoran di sekitar sini?, bukankah dari restoran Bian butuh 4 jam perjalanan menggunakan rute paling cepat untuk mengantarkan makanan sampai kesini.
" Apa ini Shaka?, wajahnya makin kesini makin mirip banget sama ayah kamu jaman masih SMA dulu. Sudah lama sekali tidak bertemu, sekarang sudah jadi pemuda yang sangat tampan, pasti nurunin ayahnya ini, jadi cowok idola di sekolah, wah kak Bian bahkan kalah tingginya". Bian memberi kode pada Utari agar menyerahkan paper bag yang di pegang nya pada Shaka.
Dan Utari memberikan paperbag besar itu sambil mengucapkan selamat ulang tahun pada Shaka. " Selamat ulang tahun ya, semoga panjang umur dan sehat selalu, dan apa yang kamu cita-cita kan akan terkabul".
" Terimakasih banyak", ujar Shaka sambil menerima paperbag besar dari Utari.
" Itu isinya brownies coklat yang resepnya sama dengan yang disajikan saat merayakan keberhasilan kamu, saat jadi juara kelas waktu kelulusan SD dulu. Tak menyangka bisa bertemu lagi denganmu saat kamu sudah tumbuh dan beranjak dewasa", ucap Bian.
Shaka langsung membuka paperbag dan mengintip brownies kukus itu dengan ekspresi wajah yang tidak bisa ku artikan.
Ada raut wajah bahagia, sedih, haru, dan gundah yang muncul secara bersamaan di wajah Shaka. Aku juga bisa melihat dia menahan air mata yang memenuhi kelopak matanya agar tidak keluar.
" Dulu brownies dari kak Bian adalah kue paling enak yang aku makan, dan itu pengalaman pertama aku memakan kue yang mahal, terimakasih", ucap Shaka.
Memang benar, saat itu adalah pertama kalinya kami sekeluarga makan di restoran, dengan menu makanan yang mahal. Dan momen itu tentu saja tidak akan mudah dilupakan begitu saja. Apalagi Bian memberikan cukup banyak makanan enak untuk kami.
Dan dulu... brownies kukus itu memang habis dimakan Shaka, dia begitu senang saat menikmati pemberian dari Bian. Shaka juga yang terus berusaha mendekatkan aku dengan Bian, saat dia belum tahu apa-apa tentang rahasia hidupnya.
Mama menyikut lenganku dan memberi kode agar aku mempersilahkan Bian dan Utari untuk duduk.
Yoga dan Papa tentu saja merasa terkejut dengan keberadaan Bian dan Utari disini, karena tadi aku belum sempat memberitahukan padanya jika aku bertemu dengan Bian dan Utari di jalan sore tadi.
Bian mendekat ke arah papa dan Yoga mengajak mereka yang sedang sibuk membakar daging untuk bersalaman.
" Sudah lama tidak bertemu Pa".
Papa menerima uluran tangan Bian, dan Bian berganti mengulurkan tangannya pada Yoga. Yoga menatap untuk beberapa saat, baru dia menerima uluran tangan Bian bersalaman dan melepaskan dengan cepat jabat tangan mereka.
" Sebenarnya kami mau datang sejak tadi, tapi nunggu kurir nganterin brownisnya lumayan lama. Teringat bagaimana dulu Shaka sangat menyukai brownis itu saat aku mengantarkannya ke rumah", ujar Bian, seolah ingin memberitahukan pada Yoga jika dulu dirinya dekat dengan Shaka.
" Terimakasih sudah repot-repot datang sampai kesini", ucap Yoga sambil menatap Bian dan Utari bergantian. Suasana yang hangat dan penuh keceriaan justru berubah menjadi canggung dan serba salah.
Beberapa menit kemudian kami semua berkumpul sambil menikmati makanan yang sudah kami siapkan tadi, semua duduk memutar di tepian tikar yang sengaja di pasang di atas rerumputan taman.
" Sebenarnya ini hanya makan malam biasa, karena tanggal ulang tahun Shaka tepatnya besok", ucap mama yang merasa tidak nyaman dengan suasana canggung yang terjadi saat ini.
Bagaimana mungkin bisa merasa nyaman jika mantan calon suamiku dan mantan calon istri Yoga berada di sini, di acara keluarga kami.
Seperti sebuah sinetron dengan judul bertukar pasangan. Sangat rumit jika dipikirkan.
Utari tidak terlalu banyak bicara karena semasa bertunangan dengan Yoga, dia tidak terlalu dekat dengan Yoga yang selalu bersikap dingin padanya.
Aku beruntung dulu tak mengulangi kebodohan ku lagi, berhubungan badan dengan laki-laki yang belum sah menjadi suamiku. Jadi meski ada rasa canggung dan malu karena dulu antara aku dan Bian sudah sama-sama mengetahui setiap seluk beluk lekuk tubuh masing-masing, setidaknya aku tidak melakukan kesalahan karena tidak melakukan penyatuan dengannya.
Cinta... entahlah, aku tidak tahu isi hatiku sendiri, mungkin saat ini perasaan cintaku sudah ku curahkan sepenuhnya untuk keluarga ku. Aku tidak ingin membuat kesalahan dengan mencoba bermain api. Bisa hangus terbakar jika aku mencoba bermain api.
" Tidak papa ulang tahunnya dimajukan sehari, meskipun tanggal lahirnya besok. Shaka senang karena bisa berkumpul dengan keluarga dan dengan orang-orang yang menyayangi Shaka", ucap Shaka sambil menyuapi Syifa sosis bakar.
Saat yang lain sedang makan dalam kesunyian, aku pamit pergi meninggalkan mereka semua dan memisahkan diri karena Syifa tiba-tiba rewel dan minta tidur. Memang sudah malam, dan melewati jadwal jam tidur Syifa, makanya aku membawanya masuk ke dalam Fila.
" Maaf saya masuk dulu buat menidurkan Syifa", pamitku pada semua.
Tak butuh waktu lama untuk membuat Syifa tidur, hanya berjalan menggendongnya dari taman depan menuju ke dalam kamar saja Syifa sudah tidur sendiri, efek tadi merasa capek setelah kejar-kejaran dengan Juna dan Shaka. Juga karena habis makan 4 sosis bakar, pasti Syifa sudah merasa kenyang dan tidurpun tenang.
Aku keluar dari kamar menjumpai Utari yang sedang berdiri di ruang tengah, seperti tengah mencari-cari sesuatu.
" Apa mau ke kamar mandi?, sebelah sini kalau mau ke kamar mandi", ucapku memberi tahu, memangnya mau apa lagi Utari masuk?, dugaan ku mungkin dia mau buang air kecil.
" Ini bukan pertama kalinya aku masuk kesini, mungkin ke 5 atau 6 kali, jadi aku tahu disana ada kamar mandi, tapi aku tidak berniat pergi kesana", ujar Utari sambil mengingat-ingat.
" Aku kesini ingin bertemu dan ngobrol berdua saja denganmu, sudah lama sekali kita tidak saling berhubungan, aku tidak punya nomor ponselmu. Tapi... tentu saja aku tidak bisa mengajakmu ngobrol berdua disini sementara yang lain sedang berkumpul di depan".
" Bolehkah aku minta nomor ponselmu?", Utari menyerahkan ponselnya agar aku menuliskan nomorku di ponselnya.
Ku terima ponsel Utari, dan ku ketikkan 12 digit angka yang sudah ku hafal di luar kepala. Dulu memang aku sengaja mengganti nomorku saat tinggal di kontrakan Juna, saat itu ponselku yang dulu hilang. Aku membeli ponsel baru, dan juga kartu perdana. Memulai kehidupan baru dengan tidak berhubungan dengan siapapun teman dari masa laluku. Hanya keluargaku saja yang mengetahui nomor ponselku.
Tapi sekarang hal itu sudah tidak perlu lagi, aku sudah tidak perlu bersembunyi dari siapapun, bahkan Yoga berusaha memperkenalkan aku pada dunia, jika aku adalah istrinya. Karena itulah tidak masalah jika Utari kuberi nomorku.
" Aku coba telepon ya", ujar Utari.
Dan ponselku yang ada di saku langsung bergetar.
" Itu nomorku, disimpan ya".
Aku hanya mengangguk dan pergi keluar untuk bergabung dengan yang lain, meninggalkan Utari yang masih sibuk mengetik di layar ponselnya.
Entah apa sebenarnya rencana Utari, dan entah apa yang ingin dibahasnya berdua denganku. Aku kira urusanku dengannya sudah selesai beberapa tahun yang lalu. Apa masih ada urusan yang belum terselesaikan?, entahlah....
" Cepet amat, apa sudah tidur Syifanya?".
Aku menjawab pertanyaan mama dengan anggukan.
" Makanlah, ini spesial buat istriku yang paling cantik, aku bakar dengan bumbu spesial ditaburi cinta", Yoga sengaja menggodaku di depan Bian, dan tentu saja Utari yang baru saja bergabung merasa risih mendengar apa yang diucapkan Yoga.
Sudah pasti saat dirinya yang menjadi tunangan Yoga dulu, tidak pernah mendapatkan gombalan seperti itu. Karena ngobrol saja jarang dan hanya seperlunya.
Aku tetap diam karena merasa tidak enak dengan yang lain, namun justru Yoga menusukkan garpunya di daging yang katanya bertabur cinta, dan menyodorkan ke mulutku.
" A.... dong sayang, kamu harus makan banyak, biar kuat mengurus Syifa", ujar Yoga semakin menjadi.
Aku pun membuka mulutku, dan menerima suapan dari Yoga segera, sebelum Yoga bersikap lebih menjadi lagi.