
Acara berlanjut dengan makan kue bersama-sama, memang hanya makan kue dan cemilan, karena tadi sudah sarapan di rumah, dan masih sangat kenyang karena tadi sarapan lumayan banyak. Ternyata nasi Mandhi yang dibuat Puput memang rasanya sangat enak dan gurih, apalagi daging kambingnya yang dimasak hingga empuk, tidak membuat mulut susah saat menggigit dan mengunyahnya.
" Hari ini kan Syifa sudah capek main-main di taman bunga dan di kebun sayuran, jadi besok kita nggak usah kemana-mana lagi ya?, mending istirahat dan main-mainnya di Fila saja... sambil lihat ayah, kakek, Om Juna, dan kak Shaka mancing di kolam ikan dibelakang fila. Ikannya sudah gede-gede banget, karena lama tidak di pancing, jadi besok kita bisa bakar-bakar ikan di samping kolam. Gimana?".
Syifa menatapku lekat saat aku mengajaknya bicara di perjalanan pulang dari taman bunga. Memang sudah jam 11 siang, matahari sudah terasa semakin panas di kulit, kami semua memutuskan kembali ke Fila. Dan lokawisata taman bunga pun dibuka untuk umum setelah pekerja membersihkan tempat yang kami gunakan untuk memberi kejutan ulang tahun Shaka.
" Syifa terserah ibu saja, kan Syifa masih kecil, jadi Syifa ikut-ikutan sama yang sudah besal", ujar Syifa dengan lugunya.
Mungkin karena lelah, Syifa merengek minta digendong pulangnya, tapi lagi-lagi maunya digendong Puput, padahal aku, mama, Yoga, dan yang lain semuanya sangat bersedia jika Syifa kecil minta digendong. Karena sudah jarang sekali Syifa mau di gendong, dia suka kemana-mana jalan sendiri.
" Nggak papa, digendong sama saya Nyonya, kan nggak jauh-jauh amat dari sini ke Fila. Sebentar lagi juga sampai. Non Syifa juga nggak terlalu berat", ucap Puput.
Dan saat sampai di rumah, Syifa sudah tertidur dengan sangat pulas di gendongan Puput. Ternyata tadi dia minta di gendong karena merasa ngantuk. Pantas saja tidak mau jalan sendiri, biasanya Syifa kalau kemana-mana minta jalan sendiri, dan jarang minta digendong. Meski terkadang tetap aku gendong kalau lagi pergi ke tempat-tempat ramai.
" Syifanya sudah saya tidurkan di kamar Nyonya, saya permisi karena mau masak untuk makan siang", ucap Puput sambil pamit menuju ke dapur.
Apa dia tidak punya rasa capek?, padahal sejak pagi terus bermain-main dan menuruti semua keinginan Syifa, yang tentunya sangat melelahkan. Dan baru saja menurunkan Sifa dari gendongannya, sekarang dia sudah langsung ke dapur untuk masak, pasti sangat melelahkan. Aku harus membantunya masak sekarang.
" Mau kemana sayang?", Yoga yang melihatku menuju dapur bertanya, karena langkahku yang ku buat lebih cepat dari biasanya.
" Aku mau bantu Puput masak buat kita makan siang, kasihan dia sudah capek bantuin jaga Syifa sejak pagi", ucapku sembari meninggalkan Yoga yang hendak masuk ke kamar. Aku tidak mau mendengarkan Yoga protes ini dan itu, karena aku merasa kasihan pada Puput.
Dan saat ini, aku dan Puput masak bersama di dapur, awalnya Puput melarangku ke dapur apalagi untuk membantunya masak, karena dia khawatir akan dimarahi Yoga. Tapi aku menjamin jika dirinya tidak akan dimarahi siapapun. Karena itu real kemauanku sendiri, aku sudah sangat ingin masak lagi. Seperti merasakan kangen sesuatu karena begitu lama tak bersua.
Setelah sekian lama tidak masuk ke dapur dan memasak, akhirnya hari ini di Fila ini aku kembali melakukan hal yang dulu pernah menjadi mata pencaharian ku selama hampir dua tahun, yaitu memasak.
Ada rasa bahagia karena kembali memegang pisau, penggorengan, sodet, wajan, dan alat-alat lain yang sudah hampir 4 tahun ini tak pernah aku sentuh.
Jika di rumah, selama ini Yoga memang tidak memperbolehkan aku untuk masak, karena bisa membuatku kecapekan, dan satu alasan lagi yoga melarangku masak, dia tidak ingin tubuhku ini terkena air atau minyak panas lagi seperti dulu.
Tapi jika dipikir-pikir, bukankah gara-gara dulu aku terkena air panas akhirnya kami bersatu lagi. Memang tidak masuk akal jika di ceritakan, tapi memang seperti itulah kisah yang sebenarnya.
" Nyonya, apa nyonya sering masak juga di rumah?, gerakan Nyonya saat masak sangatlah luwes, tidak seperti istri orang kaya yang takut terkena minyak panas atau khawatir jarinya tergores pisau", tanya Puput saat dia sedang memasukkan daun bawang ke dalam sup dan memindahkan sup ke dalam wadah untuk disajikan.
" Sejak tinggal di rumah Yoga, aku sudah tidak pernah diperbolehkan kecapekan, apalagi saat pindah dulu aku sedang hamil muda, dan Yoga sangat protek menjagaku. Sampai Syifa lahir, dan Syifa sebesar itu, aku masih tetap tidak di ijinkan masak".
" Apa kamu percaya kalau hari ini pertama kalinya aku diijinkan masak oleh Yoga setelah hampir 4 tahun aku tidak masak. Rasanya begitu menyenangkan bisa memegang sodet dan wajan lagi", ungkapku saking bahagianya.
Puput menatapku heran, " Apa Nyonya punya hobi masak?, tapi kenapa Tuan melarang Nyonya masak, kan masak bukan pekerjaan yang berat dan tidak terlalu melelahkan?", tanya Puput sambil menaburi bawang goreng ke atas sup.
" Beberapa bagian tubuhku, seperti perut, paha, dan kaki seperti terbakar, saat itu aku sudah menikah dengan Yoga, dan Yoga melihat semua luka di tubuhku, sampai dia membuat keputusan jika dia tidak mau aku terkena air mendidih seperti dulu lagi, karena itulah dia melarangku ke dapur", terangku.
" Berarti Tuan sangat mencintai Nyonya, dan tidak mau nyonya terluka".
Kami berdua selesai masak dan menghidangkan masakan hasil kolaborasi kami berdua di atas meja makan.
Menu siang ini juga begitu menggugah selera, ada sop buntut, sambal, tahu dan tempe goreng, kentang balado dan kerupuk kulit.
Aku akui Puput sangat multi talent, dia pandai memasak dan berbagai menu masakan dia kuasai, dia sangat sabar dan bisa membuat Syifa merasa nyaman saat bersamanya, dia juga asyik dijadikan teman ngobrol.
Buktinya baru dua hari aku mengenalnya, kami sudah bisa sedekat ini, sampai aku menceritakan hal yang belum pernah aku ceritakan pada siapapun tentang kejadian naas tersiram air panas dulu.
" Baru jam 12 kurang seperempat, ternyata masak berdua jadi selesai lebih cepat, terimakasih sudah membantu saya Nyonya", ucap Puput dengan tulus.
" Padahal sudah fakum tidak masak hampir 4 tahun, tapi nyonya masih sangat terampil dan cekatan saat masak tadi. Apa dulunya nyonya itu seorang chef atau koki?", tanya Puput yang menebak-nebak apa pekerjaanku di masa lalu.
Aku menggeleng, " Bukan chef atau koki hebat yang mempunyai sertifikat, aku hanya seorang tukang masak biasa, punya warung nasi, hanya sepetak luasnya.
" Justru tukang masak yang seperti itu yang jago masak Nyonya, karena sehari bisa praktek masak berkali-kali dengan menu yang berbeda. Tapi kenapa aku seperti belum percaya kalau nyonya hanya memiliki warung makan, bukan restoran besar", ujar Puput sambil menata piring dan sendok di meja makan.
" Aku bukan siapa-siapa sebelum menikah dengan Yoga, jadi kamu harus percaya dengan ceritaku tadi, karena semuanya adalah kebenaran", terangku, sambil meninggalkan Puput yang masih terpaku di samping meja makan.
Aku pergi dari ruang makan, memanggil anggota keluargaku untuk makan siang dan menikmati masakan yang aku dan Puput masak.
" Sepertinya aku sangat familiar dengan rasa semua masakan ini, karena dulu hampir setiap hari makanan masakan dengan cita rasa seperti ini".
" Apa kakak masak sendiri?", tanya Juna sambil menatapku, kemudian melirik ke arah Puput.
Puput yang sedang berdiri sambil menuangkan air putih di gelas kami langsung menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena membiarkan aku membantunya, dia juga takut dimarahi.
" Yang masak Puput, kakak cuma sedikit membantunya, kalau rasanya sama atau mirip dengan masakan kakak, itu berarti Puput jago masak", ujarku menyombongkan diri.
" Mereka berdua tadi habis berkolaborasi, kakak kamu yang langsung ke dapur saat baru sampai dari perkebunan tadi", ujar Yoga.
Aku hanya nyengir kuda mendengar Yoga turut menjelaskan. Berarti dia tidak marah padaku, meski tadi sudah membantu Puput masak di dapur.