Healing

Healing
125. ' IBU '



" Eemph.....", aku ingin sekali mengejan saat ini, seperti ada dorongan dari dalam tubuhku yang membuatku merasa ingin mengejan.


" Jangan mengejan dulu Mba, disimpan dulu tenaganya buat nanti. Kalau mba mengejan terus, nanti bisa bengkak jalan lahirannya, terus nanti bisa saja pas mau melahirkan tenaganya sudah habis lebih dulu", ucap si perawat sambil memasang selang infus di tanganku, karena aku terlihat pucat dan lemas. Memang tenagaku terasa terkuras karena sejak tadi seperti ingin mengejan.


" Maaf, bagaimana caranya biar istri saya cepat melahirkan?, biar dia tidak terlalu lama merasa kesakitan ?", Yoga nampak sangat khawatir melihatku berulang kali menarik nafas panjang, dan mengeluarkan pelan-pelan lewat mulut dengan ekspresi menahan sakit.


Aku juga sebenarnya sudah menahan agar tidak mengejan, tapi sudah ditahan tetap ingin mengejan terus, entah bagaimana.


" Coba Mas pilin ****** istrinya, mungkin itu sudah cukup membantu ", ujar Bu Bidan tanpa malu.


" Ini bukan hal yang vulgar ya Pak, dalam dunia medis memang seperti itu", ujar perawat menjelaskan.


" Haruskah aku melakukannya?", tanya Yoga masih terus menggenggam tangan ku.


Aku menggelengkan kepalaku, bukannya aku tidak mau dibantu, tapi aku malu jika Yoga melakukannya didepan orang lain, yang adalah perawat dan Bu bidan.


" Kalau terasa kontraksi lagi, ambil nafas panjang, dan keluarkan perlahan melalui mulut, itu akan mengurangi rasa sakit saat kontraksi", Bu bidan memberi tahuku sambil mengecek lagi jalan lahiran.


Bidan mengatakan jika jalan lahir sudah pembukaan penuh, dan aku diperbolehkan mengejan jika kembali terasa kontraksi di perutku.


Aku ingat semalam Yoga menyarankan agar aku melakukan persalinan secara cesar, karena dia tidak mau aku merasakan kesakitan yang amat sangat. Dan dalam pemikiran Yoga, persalinan cesar prosesnya akan lebih cepat.


Padahal bagiku itu tidak benar, proses pemulihan persalinan sesar lebih lama dibanding lahiran normal, apalagi keadaanku dan janin dalam perutku semuanya baik-baik saja, bukankah lebih baik jika aku melahirkan secara normal, jika aku mampu.


Seorang bidan dan seorang perawat sudah berdiri di ujung ranjang bawah untuk membantu proses persalinan ku.


Yoga berdiri dengan gemetar di sampingku, sambil memegangi tangan kananku yang juga berpegangan kuat padanya. Bisa kulihat Yoga juga menahan air mata yang hendak lolos dari kelopak matanya dengan sesekali menengadah ke atas.


Jadi seperti ini rasanya melahirkan ditemani oleh suami. Ada haru yang muncul karena merasa suamiku begitu menghawatirkan keadaanku. Dia menangis melihat aku yang kesakitan saat hendak melahirkan anaknya.


Aku sudah tidak iri lagi dengan teman-temanku yang melahirkan ditemani suami mereka. Karena saat ini aku sudah tahu seperti apa rasanya.


Sejak sampai di sini tadi, Yoga tak sekalipun berkata-kata, dia langsung saja masuk dan mencium kening, pipi dan juga bibirku, dia menyapu bersih wajahku dengan bibirnya. Seolah memberi tahu jika dia sangat menyayangiku. Genggaman tangannya memberiku kekuatan untuk lebih bersemangat lagi.


Dan saat aku kembali merasakan kontraksi, aku pun mengejan sekuat tenaga, ku remas genggaman tangan Yoga dengan begitu kuat, namun bayiku belum keluar, baru ketubannya yang pecah.


" Ayo Bu, semangat, sedikit lagi mau keluar ini bayinya, rambutnya sudah kelihatan, ayo Bu langsung mengejan yang kuat kalau bayinya ngajak keluar", Bu bidan memberiku semangat.


Dan saat aku kembali merasakan kontraksi lagi, aku kembali mengejan sekuat tenaga, sampai aku menjerit, hingga terasa sesuatu yang besar keluar dari jalan lahir, bayiku keluar dan terdengar suara tangis yang sangat keras.


" Eaaa.....eaaaa....!", bunyi tangis bayi memenuhi ruang bersalin. Tak terasa air mata menetes dari kelopak mataku, air mata bahagia karena sudah berhasil berjuang melahirkan buah hatiku, begitu juga dengan Yoga yang sudah tak bisa lagi membendung air matanya dan terus berterimakasih sambil menciumi wajahku.


Alhamdulillah hirobbil'alamiin, aku bisa melakukannya lagi, untuk kedua kalinya aku berjuang melahirkan seorang bayi yang sangat lucu.


Setelah dibersihkan dan di lakukan pemeriksaan, putri kecilku di tidurkan di dadaku agar merasa hangat, saat itu Yoga mendekat dan membisikkan adzan di telinga kanan putri kami.


Aku semakin terharu melihat momen ini, momen saat suamiku mengadzani anak kami yang baru lahir. Dalam hati aku bersyukur dan merasa begitu bahagia dengan momen ini.


Setelah perawat membersihkan aku dan bayiku, kami dipindah ke ruang rawat inap. Dan tentu saja Yoga memilih kamar terbaik untuk kami.


Shaka yang sejak tadi menunggu persalinanku dan mendengarkan dari depan ruang bersalin langsung menghambur memelukku saat kami sampai di kamar rawat inap. Dia menangis sesenggukan seperti anak kecil yang takut ditinggal pergi ibunya.


Ibu


Aku tidak salah dengar karena habis melahirkan kan?, Shaka memanggilku dengan panggilan 'ibu'. Dia sudah merubah panggilannya padaku. Aku sangat bersyukur akan hal itu. Akhirnya setelah sekian lama dengan sabar berharap Shaka merubah panggilannya, dan hari ini dia melakukan, Shaka memanggilku 'ibu'.


Saking bahagianya aku tidak bisa berkata-kata, kami berdua hanya saling berpelukan dan menangis bersama. Sampai kami tidak sadar jika mama dan papa sudah berada di dalam kamar dan menyaksikan adegan mengharukan yang sedang terjadi dikamar itu.


Mama mendekat dan memeluk kami berdua.


Yoga juga menyaksikan momen mengharukan itu sambil berdiri di samping box bayi.


" Shaka sudah mau manggil Kak Raya dengan sebutan ibu, kenapa?", aku bisa mendengar suara ibu yang bertanya pada Shaka di depan kamar.


Ya... saat ini perawat sedang membersihkan tubuhku yang masih terdapat banyak sisa darah usai aku melahirkan, juga hendak mengganti pakaian ku dengan pakaian yang bersih, dan semua keluargaku disuruh keluar kamar, kecuali Yoga. Yoga sejak tadi belum mau pergi menjauh dariku, dia seolah ingin selalu berada di dekatku.


Aku mencoba mendengarkan percakapan mama dan Shaka, karena sebenarnya aku juga ingin tahu apa alasan Shaka terbuka hatinya untuk memanggilku 'ibu'.


Ku pasang telinga ku baik-baik, semoga saja si kecil anteng, tidak tiba-tiba menangis, agar aku bisa mendengar dengan jelas percakapan Shaka dan mama di depan.


" Tadi saat aku menunggu didepan ruang bersalin, aku melihat ibu-ibu lain yang juga hendak melahirkan, tapi sayangnya dia mengalami pendarahan begitu banyak sebelum melahirkan. Aku melihat ibu itu sangat kesakitan dan berusaha untuk menahannya. Lalu dokter Adrian bilang ibu itu kekurangan darah karena pendarahan terus menerus, jika terlalu lama dan tidak segera di transfusi, nyawanya bisa melayang. Tapi untung saja dia segera dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan penanganan medis, jadi bisa tertolong".


" Apa memang orang melahirkan itu sangat menyakitkan Ma?, aku jadi berfikir, jika bekerja menjadi dokter itu ternyata pekerjaan yang sangat mulia, bisa menyembuhkan orang sakit, bisa menyelamatkan nyawa orang. Sekilas aku jadi ingin menjadi dokter setelah aku dewasa nanti", ucap Shaka.


Aku bisa mendengar Shaka masih memanggil mama dengan panggilan yang sama, tidak berubah menjadi nenek, meski dia merubah panggilan padaku menjadi 'ibu'.


Jadi itu alasan Shaka merubah panggilannya padaku, dia merasa jika perjuangan seorang ibu yang melahirkan sangatlah besar, karena nyawalah taruhannya.


Jadi seorang dokter, Shaka menemukan tujuan hidupnya gara-gara mengantar dan menemaniku melahirkan disini. Aku bersyukur cita-cita putraku begitu mulia. Semoga saja apa yang menjadi keinginan baiknya akan tercapai.


Perawat selesai membersihkan tubuhku dan mengganti pakaianku dengan yang bersih. Yoga menyibukkan diri dengan menatap putri kecil kami yang sudah dibedong rapi dan tidur nyenyak di dalam box bayi.


" Sudah selesai ya Bu Raya.... kami permisi", ucap perawat yang baru saja membantuku membersihkan diri.


Memang aku masih tiduran sejak tadi, kata dokter Adrian pasca melahirkan belum boleh langsung duduk, harus tetap tiduran selama 6 jam, boleh bergerak miring ke kanan atau ke kiri jika merasa panas punggungnya.


Setelah 6 jam, dan merasa keadaan tubuh baik-baik saja maka diperbolehkan untuk duduk dan setelah beberapa saat baru diperbolehkan berdiri dan berjalan jika merasa keadaan tubuh baik-baik saja.


Yoga langsung kembali mendekat padaku karena perawat sudah keluar dari kamar.


" Apa kamu ingin makan sesuatu?, biar aku suruh Shaka mencarikannya bersama mama".


Aku memang sangat lelah dan lapar setelah mengerahkan seluruh tenagaku untuk mengeluarkan bayi dari perutku.


" Boleh, aku memang lapar sekali sejak tadi, beli apa saja terserah Shaka dan mama, yang penting bisa membuatku kenyang", ujarku sambil meringis karena kurasakan gumpalan darah keluar dari jalan lahir.


Sekarang baru jam 5 pagi, aku belum mendapatkan jatah makanan dari rumah sakit, mungkin saja penjual makanan di luar sana juga belum ada, masih terlalu pagi, karena itulah aku mengatakan makanan apa saja terserah yang bisa di temukan sepagi ini, yang penting bisa mengenyangkan perut ku.


Yoga langsung keluar dan memanggil Shaka, bicara dengan cepat dan Shaka langsung mengangguk dan pergi bersama mama begitu Yoga selesai bicara.