Healing

Healing
149. Merajuk



Raya POV


Hari ini aku menghabiskan waktuku bersama dengan Shaka sejak pagi sampai menjelang sore, aku sengaja melakukan itu karena besok Shaka sudah pergi ke Jogja. Bagaimanapun aku tidak ingin Shaka merasa begitu kaget saat berada jauh dari aku dan Yoga.


Selama ini Shaka memang belum pernah hidup dan tinggal sendiri, karena itulah sebagai seorang ibu aku merasa khawatir dengan keadaan putraku nantinya.


Setelah belanja kami makan siang bersama di sebuah kedai cepat saji, makan siang yang akhirnya menjadi ajang reuni antara aku dan Kiki, teman masa kecilku dulu.


Kami pulang dan sampai rumah jam 3 sore. Syifa sempat merajuk dan marah padaku, karena tidak mengajaknya pergi bersama. Bahkan Syifa tidak mau bertanya pada Shaka, mungkin karena kami berdua pergi bersama seharian. Semoga saja ngambeknya Syifa cepat sembuh, karena besok Shaka sudah pergi, akan terasa aneh jika berpisah saat Syifa dalam keadaan ngambek.


" Syifa cantik, kak Shaka bawain Syifa coklat sama marshmellow kesukaan Syifa, bolehkah Kak Shaka masuk?"


Ternyata Shaka mencoba masuk ke kamar Syifa dengan membawakan dua batang coklat dan dua bungkus marshmellow yang sengaja dibelinya di minimarket sebelum maghrib tadi.


Aku yang hendak mengajak Syifa makan malam bersama jadi mengurungkan niatku, dan lebih memilih untuk berdiri melihat kakak beradik itu saling berdamai. Untung saja Shaka sudah besar dan dewasa saat aku memberinya seorang adik, sehingga selama ini tidak pernah ada drama perkelahian atau rebutan mainan seperti keluarga lain yang punya anak dengan jarak usia yang dekat.


Saat Shaka bayi aku hanya fokus mengurus Shaka, begitu juga saat Syifa bayi, aku pun hanya fokus mengurus Syifa, karena itulah aku bisa merasakan kebahagiaan dan rasa bangga tiap kali anak-anakku mempunyai kemampuan baru, dari belajar tengkurap, kemudian bisa merangkak, duduk, bisa berjalan, sampai saat ini, setiap anak-anakku mempunyai kemajuan, aku merasa sangat bahagia.


Apalagi pencapaian Shaka bisa melebihi ekspektasi yang aku bayangkan. Selama ini menjadi siswa di SMA tempat Shaka sekolah saja sudah berat persaingannya. Tapi Shaka membuktikan dia bisa menjadi lulusan terbaik. Dia mendaftar di universitas ternama di Jogja, itupun dia bisa diterima melalui jalur prestasi. Bukankah semua itu sebuah keberuntungan yang amat sangat besar untukku.


Jika di ingat-ingat lagi, Shaka yang tidak diharapkan kehadirannya oleh semua orang, hingga aku dipaksa untuk menggugurkannya saat masih menjadi segumpal darah. Shaka yang setelah lahir hanya dipandang sebelah mata oleh orang lain. Kini dia menjadi anak yang hebat. Dia menjadikan dirinya sebagai seorang yang berhasil, sehingga mengubah cara pandang orang lain terhadapnya.


Aku menyadari, tidak lain dan tidak bukan semua itu karena dukungan Yoga sebagai ayahnya. Aku yang dulu menganggap Yoga sebagai laki-laki pengecut, pembohong, dan sangat menyebalkan. Tapi nyatanya setelah kami hidup bersama, Yoga menunjukkan seperti apa sifat aslinya padaku. Semua yang aku pikirkan dulu ternyata salah besar.


Yoga adalah lelaki yang tulus, dia setia dan bertanggung jawab. Laki-laki yang sangat menyayangi keluarganya. Dan juga pekerja keras. Aku yang dulu menolak, bahkan sampai dipaksa menikah dengan Yoga, justru sekarang merasa sangat beruntung. Untung saja dulu aku mau dipaksa, dan mau menikah dengan Yoga meski dengan perasaan yang terpaksa.


Lumayan lama aku berdiri di depan pintu kamar Syifa. Mendengarkan Shaka yang berusaha meminta maaf dan mengambil hatinya Syifa dengan bermodalkan coklat dan marshmellow kesukaan adiknya.


Ku pasang lagi telingaku, agar bisa mendengar percakapan mereka berdua dari celah pintu.


" Jadi besok kak Shaka sudah pergi ke tempat yang jauh?, apa Syifa boleh ikut sama kakak?"


Suara Syifa terdengar nyaring, sejak bisa mengucap huruf 'r' dengan benar, Syifa memang semakin percaya diri saat bicara dengan orang lain.


" Nggak boleh ikut, kan kakak pergi buat sekolah, disana bukan untuk main-main, dan nggak ada anak kecil juga di sekolahan baru kakak, semua seumuran kakak, bahkan banyak yang lebih tua dari kakak".


" Syifa dirumah saja, jagain ibu dan ayah, karena kakak berada di tempat yang jauh, dan nggak bisa jagain ayah dan ibu, maka tugas menjaga ayah dan ibu kakak serahkan pada Syifa".


Aku sempat tersenyum mendengar ucapan Shaka, sampai membuat Yoga yang sedang lewat ikut-ikutan nguping pembicaraan Shaka dan Syifa bersamaku.


" Kalau Syifa kangen sama Kak Shaka gimana?, apa Syifa boleh main ke Joja?".


" Tentu saja Syifa boleh main ke Jogja, tapi jauh tempatnya, jadi kalau mau main nunggu ayah sedang nggak sibuk kerja, soalnya buat ke sana butuh waktu 7 jam perjalanan. Jadi misal Syifa berangkat dari rumah jam 7 pagi, Syifa baru akan sampai tempat tinggal kakak yang baru itu sekitar jam 2 siang".


Aku mengintip melalui celah pintu, ku lihat ekspresi Syifa yang nampak sedang berpikir.


" Kok lebih lama ke Jogja dari pada ke puncak sih Kak?, seharusnya Kak Shaka sekolahnya di daerah puncak saja, yang deket Fila, jadi kalau kangen kak Shaka, Syifa bisa main ke Fila sekalian ketemu sama mba Puput, hihihi", ucap Syifa sambil cekikikan.


Aku tersenyum mendengar kepolosan Syifa, cara berfikir nya begitu simpel. Tapi ada benarnya juga, jika tinggal di puncak bisa nyari tempat kuliah yang dekat Fila, jadi nggak perlu jauh-jauh ke Jogja.


Kenapa aku malah jadi terpengaruh dengan ucapan anak kecil seperti Syifa, mungkinkah Shaka juga memikirkan hal yang sama?.


" Nggak bisa begitu Syifa sayang... Kan di puncak sudah banyak yang kenal Kak Shaka, sudah banyak yang tahu jika kakak adalah anak ayah Yoga, nanti nggak ada bedanya sama tinggal dan melanjutkan sekolah disini. Kakak cuma pengen cari teman baru yang belum mengenal kakak sebelumnya, biar Kaka punya lebih banyak teman lagi".


Syifa nampak mengangguk paham.


" Kalau sudah besar nanti, Syifa juga mau sekolah di Jogja seperti kak Shaka, biar Syifa punya banyak teman seperti kak Shaka".


" Ini Syifa simpan dulu ya Kak, Syifa mau makan coklat dan marshmellow nya besok saja, sekarang Syifa lapar dan pengen makan nasi. Kita makan di luar yuk bareng ayah dan ibu?", ucap Syifa sambil menyimpan coklat dan juga marshmellow pemberian Shaka di laci meja belajarnya.


Aku langsung berdiri dan menarik tangan Yoga untuk pergi ke ruang makan, agar tidak ketahuan jika kami berdua sedang menguping pembicaraan mereka sejak tadi.


" Pelan-pelan dong sayang, bisa jatuh kalau jalannya buru-buru begini", Yoga menahan tanganku agar tidak berlari menuju meja makan.


" Selamat malam kesayangan ibu dan ayah...", sapa ku saat Syifa dan Shaka sudah berada dekat dengan meja makan. Aku dan Yoga tentu saja langsung memposisikan diri duduk manis di tempat duduk kami masing-masing.


" Ibu sedang menyapaku atau menyapa kak Shaka?, pasti kesayangan ibu itu kak Shaka kan?, tadi saja ibu pergi berdua saja sama kakak, nggak ajak-ajak Syifa ".


Aku tersenyum dalam hatiku, ternyata Syifa masih marah padaku, padahal aku kira setelah Syifa memaafkan Shaka, berarti dia sudah memaafkan aku juga, ternyata tidak begitu, Syifa belum memaafkan aku, dan masih merajuk.


" Ibu menyapa kalian berdua sayang... kan kalian berdua anak-anak ibu. Ibu minta maaf lagi deh sama Syifa.... kan tadi ibu pergi ke sekolahan kak Shaka untuk menghadiri acara sekolah, bukan jalan-jalan. Ibu janji deh... besok-besok Syifa bakal ibu ajak jalan-jalan berdua saja sama ibu, kemanapun Syifa mau".


Syifa duduk di sebelahku sambil mengulurkan tangannya, " Oke deal, ibu harus menepati janji ibu akan jalan-jalan berdua ke tempat yang Syifa mau".


" Dasar putri ayah Yoga, pandai sekali memanfaatkan situasi", gumam ku.


Yoga langsung tertawa keras mendengar aku menggerutu.


" Iya ibu janji", ucapku sambil menerima uluran tangan Syifa.


Setelah mengucapkan itu dan bersalaman, baru Syifa mau memaafkan aku dan kami makan malam bersama-sama.