Healing

Healing
77. Di Butik



Mulai pagi ini, Bian tak lagi menjemputku ke rumah, sesuai perintah papa semalam, aku berangkat kerja dengan Juna. Sebenarnya pagi-pagi aku sudah memanaskan motor matic yang biasa ku pakai, motor yang malam minggu kemarin mogok sepulang dari perkemahan.


Rencananya pagi ini aku akan berangkat ke restoran membawa motor sendiri, namun papa dan mama melarang. Entah karena apa, padahal dulu setiap hari aku juga berangkat kerja dengan membawa kendaraan sendiri, sebelum Bian mengantar jemput aku setiap hari. Kata mama demi keselamatan diriku, aku harus diantar Juna sampai hari terakhir aku berangkat ke restoran sebelum cuti.


Tinggal dua hari aku berangkat kerja, hari ini dan besok, karena hari rabu aku sudah mulai mengambil cuti. Jadi dua hari ini Juna akan menjadi driver pribadiku.


" Apa kak Raya benar-benar merasa bahagia akan menikah dengan Kak Bian?, entah mengapa, sejak melihat kakak pulang kerja kemarin, aku justru melihat kecemasan di wajah kakak".


" Kata mama, Kak Bian sudah tahu tentang masa lalu kakak, dan tentang siapa Shaka, lalu apa lagi yang kak Raya cemaskan jika hal paling rahasia dan paling buruk sudah di ceritakan pada kak Bian?".


Saat di atas motor Juna sengaja menanyakan hal yang sejak kemarin mengusik pikirannya. Aku masih belum yakin akan menceritakan tentang Yoga atau tidak, masalahnya semalam Juna mengatakan sangat membenci Yoga, dan mungkin bisa saja Juna menghabisi Yoga jika mengetahui Yoga masih sering datang dan menemui ku, bahkan mengusik hidupku. Alangkah baiknya aku tetap diam dan merahasiakan ini semua. Demi ketenangan bersama.


Bukan aku memikirkan keselamatan Yoga, tapi aku lebih memikirkan bagaimana nasib Utari jika Yoga kenapa-kenapa mendekati hari pernikahan mereka, aku hanya berusaha memahami apa yang di rasakan oleh Utari jika sesuatu terjadi dengan calon suaminya.


Aku memang sakit hati, aku marah, aku juga sangat membenci Yoga, tapi sudah tidak separah dulu. Setelah aku mengetahui jika ternyata Yoga melakukan hubungan terlarang itu hanya denganku, Yoga bukan playboy yang dekat dengan banyak wanita. Hanya aku yang dicintainya, berulang kali Yoga berusaha membuatku yakin bahwa dirinya memang tidak pernah melupakan aku. Dan Yoga berusaha bertanggung jawab untuk semua kesalahan nya di masa lalu.


Karena sakit hatiku, bukan berarti aku menginginkan Yoga untuk merasakan hal yang sama, aku tak menginginkan Yoga merasakan sakit yang ku rasakan. Aku tidak sejahat itu. Aku masih punya hati nurani.


" Aku tidak mengkhawatirkan apa-apa, mungkin itu hanya perasaanmu saja Jun, karena kemarin pekerjaanku di restoran cukup banyak dan melelahkan, makanya wajahku terlihat lesu dan seperti orang khawatir".


Juna tak menanggapi, sepertinya semakin dia dewasa, Juna menjadi laki-laki yang sangat peka dengan keadaan sekitar. Kehidupan masa kecilnya yang cukup sulit, memang membentuk Juna menjadi pribadi yang sangat peka terhadap sekitar.


" Kalau memang kak Raya belum mau bercerita padaku, aku tidak masalah, yang penting jika memang ada yang masih mengganjal di hati kakak, Juna siap mendengarkan keluh kesah kak Raya, sukur-sukur Juna bisa bantu mencari solusinya".


Aku dan Juna sampai di depan restoran. Ternyata Bian sudah sampai terlebih dahulu dan berdiri menungguku di samping pintu masuk. Kenapa tidak sejak kemarin-kemarin Bian bisa berangkat lebih awal, kan aku jadi nggak perlu nungguin lama di rumah.


" Pagi Juna, makasih ya sudah bawa Raya dengan hati-hati dan selamat sampai sini".


Aku hanya menggelengkan kepalaku mendengar ucapan Bian pada Juna, yang terlalu berlebihan.


" Pagi juga calon kakak ipar, maaf nggak mampir, aku langsung balik ya kak, mau ke sekolahan dulu nanti, mau minta legalisir fotocopy ijazah. Sama ada janji mau ketemu sama teman-teman masa SMA. Mumpung lagi mudik". Bian mengangguk-angguk mendengar ucapan Juna.


" Aku balik dulu ya Kak".


Juna berpamitan padaku dan langsung melajukan motornya meninggalkan aku yang masih berdiri di depan restoran bersama Bian. Bian langsung merangkul ku untuk masuk ke dalam restoran.


" Semalam nggak bisa tidur, makanya hari ini bisa berangkat lebih awal. Sudah nggak sabar pengen lihat kamu berada di samping ku tiap bangun tidur di pagi hari Ra...".


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Bian. Aku juga mengharapkan hal yang sama.


_


_


Dua hari berlalu dengan cepat, dan tiba saatnya aku mulai cuti. Sebenarnya tetap berangkat kerja juga tidak masalah, karena persiapan di rumahku akan dimulai hari Kamis besok. Mama dan papa memang tidak membuat undangan untuk teman, kerabat dan juga tetangga karena khawatir akan ada yang membahas tentang masa laluku jika mengundang banyak orang.


Karena itu mama dan papa hanya mengundang tetangga di hari Jum'at nya saat pesta pernikahan usai ijab qobul di kantor KUA. Memang acara dibuat sesederhana mungkin, dan kedua orang tua Bian juga setuju dengan hal itu.


Mereka tidak mempermasalahkan jika pesta pernikahanku dan Bian di buat sederhana. Karena akan ada pesta lain di rumah kedua orang tua Bian esok harinya, tepatnya malam minggu, ayah dan ibu Bian membuat acara di rumah mereka dan mengundang banyak tamu, dari keluarga, kenalan, dan juga teman beliau berdua.


" Mau aku temenin ngambil baju ke butik?, katanya nggak baik kalau kak Raya dan kak Bian pergi nya berduaan saja, biasanya yang ke tiga itu setan", ucap Juna sok tahu.


Namun justru membuatku terkekeh, " Kalau kamu ikut, berarti kamu jadi yang ketiga dong Jun, alias jadi setan nya".


" Tapi nggak papa sih kamu ikut, jadi nanti ada yang bantu bawakan gaun nya, lumayan berat juga gaun pengantin dan kebaya nya, kalau ada kamu kan jadi nggak berat, ada yang bawain", ucapku sambil berjalan membuka pintu rumah.


" Kita ke butik sekarang Jun, Bian mengirim pesan sudah otw ke butik, paling sebentar lagi dia sampai butik", ucapku.


" Loh, kak Bian nggak jemput kakak ke sini?, aku kira kita ke butik pakai mobil kak Bian karena pulangnya mau bawa gaun dan kebaya", ucap Juna.


" Bener banget, pulangnya baru Bian anterin kakak sampai rumah, sekalian bawa baju pakai mobilnya, tapi berangkat sendiri-sendiri, soalnya Bian tadi dari hotel RST buat ketemu klien terlebih dahulu, karena beda arah makanya kakak suruh Bian langsung ke butik, kasihan muter-muter kalau jemput kakak dulu di rumah".


Juna mengangguk paham. Dia pun setuju untuk mengantarkan aku ke butik.


Sampai di butik, aku langsung masuk ke dalamnya, Bian menungguku dengan berduduk santai di dalam.


" Juna mana?, nggak ikut masuk?", tanya Bian saat melihatku masuk.


" Juna masih di parkiran, lagi markirin motor, nanti juga kesini, kita langsung ketemu sama karyawan sini, biar langsung di packing kebaya dan gaunnya, jadi nggak perlu lama-lama disini".


Bian mengangguk dan kami langsung melakukan pembayaran sewa kebaya dan gaun. Saat kami duduk santai sambl menunggu karyawan butik memasukkan kebaya dan gaun ke dalam koper besar dengan sangat hati-hati, Juna masuk ke dalam butik langsung menuju ke arah ku dengan nafas memburu.


" Kak Raya, bisa kita bicara sebentar?", bisik Juna di telingaku.


Apa yang terjadi pada Juna?, kenapa dia datang-datang terlihat sangat marah dan emosi?, padahal tadi di depan masih baik-baik saja.


" Bi... aku keluar sebentar ya Bi", pamit ku pada Bian. Bian hanya mengangguk dan menatap curiga dengan sikap Juna yang aneh.


" Apa kakak tahu siapa yang tadi aku lihat?, aku tadi melihat bajingan itu di parkiran bersama seorang gadis".


Jadi Juna melihat Yoga kesini bersama Utari, kenapa bisa mereka datang di hari yang sama. Aku harus bagaimana agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.


" Mungkin kamu salah lihat Jun, Bagaimana bisa dia disini, keluarga mereka sudah pindah ke kota lain. Mungkin karena kamu terobsesi ingin sekali bertemu dengan nya, makanya orang lain pun kamu lihatnya wajahnya jadin mirip seperti wajahnya"


" Lagian sudah belasan tahun kamu tidak melihatnya bagaimana bisa kamu masih ingat wajahnya?, pasti dia sudah banyak berubah, entah dari wujud fisik, maupun wajahnya", ucapku berusaha membuat Juna setuju bahwa yang dilihatnya bukan Yoga.


" Sebaiknya sekarang kamu balik dulu saja Jun, kak Raya dan Kak Bian nanti segera nyusul balik ke rumah".


Untung saja Juna menuruti permintaan ku, dan segera pulang membawa motor matic ku. Dan baju kebaya dan gaun pengantin sudah selesai dikemas di koper. Aku langsung mengajak Bian ke rumahku.