
" Wah sayang sekali tidak bisa bertemu hari ini, padahal sejak tadi Bian memaksaku ikut agar bisa berkenalan dengan kalian berdua".
Sengaja aku berpura-pura tidak mengenal Yoga, toh mereka bertiga juga tidak tahu jika aku mengenal Yoga. Tapi jelas akan ku buka kedok Yoga yang sebenarnya pada teman-temannya dan juga calon istrinya. Tapi bagaimana caranya, aku belum memikirkannya.
Hanya saja seolah hati ini seperti tidak rela melihat gadis baik-baik seperti Utari menikah dengan laki-laki penipu seperti Yoga. Bukan karena aku cemburu dan iri, kenapa bukan aku yang menikah dengan Yoga, bukan karena itu. Lebih ke perasaan prihatin dan kasihan pada calon istrinya yang tidak tahu karakter mereka yang sesungguhnya.
" Maaf ya... maklum Steve itu lagi mengembangkan bisnisnya, jadi sibuk terus, padahal sudah dekat dengan hari pernikahan, tapi masih terus sibuk bekerja", Utari meminta maaf mewakili calon suaminya.
" Kalau begitu kita balik ke restoran dulu ya Ri... salam buat Steve kalau kalian ketemu", Riko berpamitan untuk kembali ke restoran. Jam makan siang begini memang biasanya restoran sedang ramai. Dan kami bertiga harus segera kembali.
" Iya, pasti aku sampaikan, ini aku juga harus kembali ke rumah sakit, makasih ya buat bantuan kalian".
Kami berjalan menuju parkiran bersama, saat aku berjalan sejajar dengannya, aku sengaja menanyakan sesuatu hal pada Utari.
" Dimana kamu dan calon suamimu saling mengenal?, apa kalian teman sekolah juga seperti aku dan Bian?".
Sebenarnya aku penasaran juga dimana Yoga menemukan gadis baik dan cantik yang mau menjadi istrinya.
Utari langsung bercerita dengan sukarela.
" Sebenarnya dulu kami satu kampus, aku mengenal Steve karena dia sangat populer di kampus, dia tinggi, tampan dan aktif di organisasi, banyak sekali mahasiswi yang menyukainya, termasuk aku yang juga kagum padanya, tapi dari sepengetahuanku dia tidak pernah pacaran. Entah apa alasannya".
" Dan setelah kami wisuda, ada sebuah acara di rumah sakit tempatku bekerja, semacam family gathering begitu, ibunya Steve yang jadi bidan di rumah sakit tempatku bekerja mengajak keluarganya, begitu juga dengan aku yang mengajak ayah dan ibuku di family gathering itu, aku tidak pernah menyangka jika ayahku mengenal ayah Steve yang seorang TNI".
" Sejak pertemuan itu kedua keluarga kami jadi dekat, dan orang tua kami sepakat untuk menyatukan kami berdua, tentu saja aku tidak mungkin menolak. Bahkan aku sangat senang bisa menjadi calon istri Steve, teman-temanku banyak yang kaget dan memberiku selamat saat kemarin undangan pernikahan kami dibagikan, kami memang belum lama bertunangan baru 3 bulan, tapi buat apa juga tunggu lama-lama, kami berdua sudah sama-sama dewasa dan cukup umur, kami juga sudah sama-sama punya pekerjaan yang mapan".
" Aku merasa sangat beruntung dan tidak menyangka, jika seorang idola kampus akan menjadi suamiku".
Sungguh aku sangat prihatin dengan kebahagian palsu yang sedang Utari rasakan. Dia belum mengenal Yoga dan keluarganya dengan baik.
Atau mungkin memang sikap keluarga Yoga selalu baik pada mereka yang sesama orang kaya dan berpangkat?. Mungkin mereka memperlakukan aku dengan tidak baik karena aku berasal dari kalangan yang berbeda dengan mereka.
" Kalian asyik banget ngobrolnya, bisa di lanjut kapan-kapan lagi kan?, soalnya sekarang kita harus kembali ke restoran dulu", Bian menarik tanganku dan merangkul bahuku mendekat padanya.
" Oh iya-iya, maaf ya, maklum cewek-cewek kalau sudah ngobrol pasti jadi lupa waktu. Aku senang sekali bisa berkenalan dengan Raya, kamu teman yang asyik diajak ngobrol. Kalau lain kali ada kesempatan bertemu lagi, kita lanjutkan obrolan tadi ya Ra...".
Aku mengangguk menyetujui keinginan Utari, " tentu saja, dengan senang hati, sampai jumpa lagi di lain kesempatan".
Utari masuk kedalam mobilnya, begitu juga dengan aku, Bian dan Riko, kami masuk ke dalam mobil Bian.
Saat dalam perjalanan aku sengaja mencari informasi tentang Yoga di saat dia SMA dan kuliah.
" Apa sekeren itu kah calon suami Utari?, sepertinya dia sangat menyukai perjodohan yang dilakukan kedua orang tua mereka?", tanyaku sengaja memancing agar Riko atau Bian bercerita tentang Yoga.
" Tentu saja, karena kami berempat itu disebut F4 versi Indonesia. Aku, Riko, Steve, dan Haidar, kami jadi idola baik saat masih di SMA maupun saat kuliah", ujar Bian.
" Kisah percintaan Bian dan Steve itu agak mirip, karena mereka berdua sama-sama punya cinta pertama saat di SMP, kamu itu cinta pertama Bian, dan saat SMA maupun kuliah, Bian tidak pernah berpacaran, sama halnya dengan Steve, dia juga mengatakan sudah jatuh cinta pada pacar pertamanya. Padahal Steve berpacaran saat masih SMP, tapi sepertinya perasannya pada sang pacar sudah sangat dalam, karena Steve juga tidak pernah berpacaran baik saat SMA maupun kuliah. Karena itulah aku mengatakan kisah mereka berdua mirip".
Ku dengarkan Riko yang bercerita tentang Yoga dan Bian saat SMA dan kuliah. Namun hatiku justru jadi merasa tidak tenang, jadi Yoga tidak berbohong kalau selama ini dirinya tidak berhubungan dengan perempuan lain.
Benarkah dia begitu mencintaiku?, jika iya, mengapa Yoga mau di jodohkan dengan Utari?, setelah mendengarkan cerita Riko justru membuat begitu banyak pertanyaan muncul di pikiranku.
Suara Bian membuyarkan lamunanku.
" Aku mendapatkan cinta pertamaku, dan akan menikah dengannya. Orang tuaku memberikan restu, dan begitu juga dengan orang tua Raya. Sedangkan Steve, dia bilang orang tuanya tak merestui hubungan dirinya dengan pacar pertamanya. Justru menjodohkan Steve dengan Utari, dan orang tua pacar pertamanya juga tidak menyukainya, bahkan Steve mengatakan dia diusir oleh ibu sang cinta pertamanya", ucap Bian sambil mengelus-elus kepalaku, dengan penuh kasih.
" Sebenarnya Utari nggak jelek sih, dia juga pinter, bisa untuk memperbaiki keturunan menikah dengan Steve yang juga lumayan keren, tapi kalau Steve nya terpaksa karena khawatir ibunya bisa bertindak nekad, sama saja nggak bahagia, karena tidak bisa bersatu dengan orang yang sebenarnya dia cintai", ujar Bian.
Obrolan kami terhenti karena kami sampai di restoran. Aku turun dari mobil, begitu juga dengan Bian dan Riko.
" Bener banget ucapan kamu bro..., aku juga melihat Steve nggak sebahagia kamu, dia seperti terpaksa, buktinya saja dia kaya nggak semangat buat mengurus persiapan pernikahan mereka, beda sama Utari yang begitu semangat mengurus semua persiapan pernikahan, Utari nampak sangat bahagia di jodohkan dengan Steve".
Riko masih melanjutkan obrolan, saat kami berjalan masuk kedalam restoran.
Aku langsung memisahkan diri dengan Bian dan Riko yang berjalan menuju ruangan mereka.
" Aku langsung bantu-bantu yang lain ya, sepertinya teman-teman yang lain lumayan sibuk", ucapku sambil berjalan ke dapur.
Riko dan Bian mengangguk dan masih mengobrol melanjutkan yang tadi, aku sebenarnya penasaran dengan obrolan mereka, tapi aku tidak mungkin bersantai seperti mereka berdua, seorang bos dan manager. Aku cuma pramusaji di sini.
" Baru balik Ra?, tolong antar pesanan di meja 28 ya Ra, aku mau nganter meja 13 dulu", Rita langsung membagi tugas padaku, aku tahu teman-teman sedang keteter karena aku pergi sejak tadi. Tapi tidak ada yang berani protes, karena bos yang mengajakku pergi keluar restoran.
Tidak ada yang berani berkomentar juga, apalagi bertanya dari mana dan habis ngapain. Semua tetap diam sambil sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Aku yang harus tahu diri, jangan ke enakan bersantai. Dan langsung bergabung dengan teman-teman yang lain sibuk melayani pengunjung restoran yang sedang banyak.
Sampai jam 3, baru tamu terlihat agak sepi, kami para pramusaji dan koki bisa sedikit bernafas lega, karena bisa beristirahat.
" Sebenarnya kamu tadi diajak meeting di mana sih Ra?, kok lama?", Rita duduk di sebelahku di kursi tamu, karena tamu yang tersisa tinggal beberapa meja saja. Kami tinggal menunggu mereka selesai makan dan membereskan piring kotor bekas mereka makan.
" Dari hotel XYZ, hotel paling besar di kota ini, apa kamu pernah masuk kesana?", tanyaku pada Rita.
Rita nampak menggelengkan kepalanya, kami dari kalangan orang biasa memang tidak pernah masuk-masuk ke hotel berbintang yang megah, karena kehidupan kami disibukkan dengan pekerjaan di restoran dan istirahat di rumah setelah pulang. Karena rasa lelah yang harus kami sembuhkan dengan beristirahat.
Kalau ada waktu libur dan jalan-jalan juga paling ke alun-alun, taman, atau GOR, tidak pernah bermain-main ke hotel. Ngapain ke hotel?, tidur dirumah yang gratis saja sudah bisa nyenyak apalagi kalau sudah merasa sangat capek setelah seharian bekerja.
" Kamu ketemu sama yang pesen masakan dari restoran kita buat acara nikahannya?, aku dengar cowoknya pembisnis muda, dan ceweknya dokter gigi di rumah sakit daerah".
" Beruntung banget ya Ra... kenapa selalu saja, orang kaya berjodoh dengan orang kaya. Coba ada pembisnis yang datang ke restoran ini dan jatuh cinta padaku, seperti di sinetron-sinetron atau FTV itu", Rita mulai menghayal, korban sinetron.
Mendengar keluh kesah Rita aku justru menjadi tertawa sendiri.
" Makanya, kamu dandan yang cantik kalau mau berangkat kerja, biar kalau ada pengunjung cowok yang tajir makan di restoran ini, bisa langsung jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu".
Aku meninggalkan Rita yang masih duduk dengan wajah ditekuk dan bibir manyun, karena aku harus membereskan meja bekas pengunjung yang baru saja keluar.
" Sana cuci muka, biar agak kinclong itu muka, jangan di tekuk terus seperti itu", candaku saat melewati tempat Rita duduk.
Rita memang yang paling dekat denganku diantara teman-teman karyawan restoran yang lainnya, karena kita sama-sama seorang pramusaji dan letak rumah kami juga tidak terlalu jauh, jadi sesekali main ke rumah. Meski Rita dua tahun lebih muda dariku, tapi kami masih terlihat sepantaran. Apa yang kami bahas selalu nyambung, hanya saja Rita suka nonton sinetron seperti emak-emak, dan jika dia sedang menceritakannya adegan di sinetron aku hanya mendengarkan saja, karena di rumah aku jarang sekali menonton televisi.
Dulu televisi di kuasai Juna, dan sekarang di kuasai Shaka. Karena itulah aku jarang nonton televisi.