Healing

Healing
38. Tamu Pagi Hari



Pagi-pagi sekali aku bangun dari tidurku, usai subuh ku cek kembali barang-barang yang harus aku bawa sesuai instruksi dari Bian kemarin. Ada cukup banyak juga barang yang harus dibawa, padahal yang di rumah Bian juga ada lumayan banyak.


Aku lebih dulu membantu mama masak dan mencuci baju. Sudah jadi rutinitas ku melakukan pekerjaan membantu tugas rumah tangga bersama Mama.


Papa dan Shaka belum kembali dari masjid, mungkin ada kultum usai subuh, makanya agak lama sampai di rumahnya. Dulu biasanya papa pergi ke masjid bersama Juna, namun setelah Juna pergi bekerja di kota besar, kini Shaka yang menggantikan Juna menemani papa ke Masjid tiap pagi.


" Ra... ingat pesan mama, kamu jangan melakukan hal-hal yang aneh saat di gunung, kata orang-orang yang pernah naik gunung, di gunung itu daerah yang pingit, dan harus dihormati. Nggak boleh ngomong sembarangan, nggak boleh melakukan hal-hal yang tidak baik, kamu mengerti maksud mama?".


Aku mengangguk paham. " Iya ma, Raya tahu, mama tenang saja, meski ini pendakian Raya yang pertama, tapi ini entah yang keberapa kali bagi Bian dan teman-temannya, jadi mama tenang saja, Raya pergi bersama para ahli".


Mama mengerti dengan penjelasan ku. Aku berpindah ke kamar mandi untuk mencuci baju, hari ini cucian tidak terlalu banyak, jadi hanya sebentar saja aku sudah menyelesaikan tugas mencuci, tak lupa langsung ku jemur cucian di samping rumah.


Saat aku selesai menjemur baju, kudengar suara seorang perempuan mengucapkan salam sambil mengetuk pintu rumah. Aku pun bergegas ke depan dan melihat siapa perempuan yang bertamu sepagi ini.


Ternyata Utari, dari mana Utari bisa tahu alamat rumahku?, atau jangan-jangan dia datang bersama Yoga?, bisa gawat kalau Mama dan Papa melihat Yoga datang kerumah. Karena Utari dan yang lain tidak ada yang tahu jika keluargaku mengenal Yoga.


" Wa'alaikum salam", jawabku dengan berlari kecil masuk ke rumah dan membukakan pintu untuk Utari.


" Selamat pagi Raya...!", Senyum cerah terlihat jelas di wajah cantik Utari yang pagi itu terlihat sangat kasual, memakai celana jeans navy dengan atasan kaos putih di padu kemeja kotak-kotak besar.


" Pagi Ri...., kamu kok bisa tahu rumahku?", pertanyaan pertama yang keluar dari mulutku sangatlah konyol, tapi aku memang ingin tahu Utari tahu rumahku dari siapa. Karena saat ini Utari seorang diri di depan rumah.


" Aku nggak dipersilahkan masuk dulu nih?". Utari tidak menjawab, justru balik bertanya.


Pertanyaan Utari membuatku tertawa lepas, benar juga, sejak tadi kami masih berdiri di pintu, bahkan aku belum mempersilahkan Utari untuk masuk.


" Iya maaf maaf... aku sampai lupa mempersilahkan kamu masuk, ayo masuk Ri, ini rumah mama dan papa aku, mohon maklum karena rumahnya kecil dan sempit. Duduklah...", Ku persilahkan Utari untuk duduk terlebih dahulu.


" Ada tamu siapa Ra pagi-pagi begini?".


Papa baru pulang dan langsung bertanya siapa tamu yang datang, karena papa melihat mobil putih yang terparkir di depan jalan raya yang menuju gang rumah kami.


" Ini teman Raya Pa, namanya Utari, dia mau ikut pendakian juga bareng Raya", jawabku.


" Selamat pagi Om, saya sengaja datang kemari karena mau jemput Raya Om, biar sekalian berangkat ke rumahnya Bian, soalnya rumah ini kelewatan, jadi sekalian saya jemput".


Utari tersenyum dengan ramah dan tutur katanya begitu sopan, papa terlihat senang aku bergaul dengan Utari.


" Dari rumah sudah sarapan apa belum?, apa mau ikut kami sarapan dulu?, tapi masakannya cuma seadanya nak Tari".


Papa mengajak Utari untuk sarapan bersama keluarga kami, sejak tadi Shaka terus menatap wajah Utari, memang seperti itu kebiasaan Shaka jika mengenal orang baru, akan terus di tatap agar tidak melupakan wajahnya.


Seandainya Shaka tahu yang sebenarnya, jika wanita cantik dihadapannya adalah calon ibu tirinya. Calon istri dari ayahnya.


" Memang belum sarapan Om, tapi saya sudah bawa roti bakar dan susu di mobil, buat sarapan di jalan, nggak enak juga kalau kelamaan disini, teman-teman nanti nungguin kita". Utari menolak secara halus dengan alasan yang masuk akal dan tidak menyinggung perasaan yang menawarinya.


" Kalau begitu aku ganti baju sebentar ya Ri", aku menatap Utari yang sudah duduk di kursi ruang tamu. Dan kutinggal masuk ke kamar. Aku sebenarnya belum sarapan nasi, tapi tadi sudah sempat makan singkong, jadi lumayan kenyang.


" Kakak teman Kak Raya?, kok Shaka baru pernah lihat wajah kakak?, apa Kakak karyawan baru di restoran tempat Kak Raya kerja?", suara Shaka bisa terdengar sampai ke kamarku.


Utari menjelaskan siapa dirinya dan bagaimana bisa mengenalku. Aku bisa mendengar percakapan Papa dan Mama yang baru keluar dan menyajikan teh manis hangat dan singkong rebus untuk Utari.


Dari suara mereka bahkan terdengar tidak percaya jika aku berteman dengan seorang dokter. Untung Utari menjelaskan dirinya adalah tunangan Steve, sahabatnya Bian, bukan menyebut dengan nama Yoga, jadi mama dan papa tidak tahu jika Utari adalah gadis yang sudah dijodohkan dengan Yoga, calon istrinya Yoga...ayah biologis Shaka.


" Aku sudah siap Ri..., tapi diminum dulu teh nya, biar perut kamu anget".


Utari mengangguk dan meminum teh hangat buatan mama hingga tandas. Dan aku berpamitan pada mama papaku untuk berangkat bersama Utari.


Papa sangat mengijinkan aku pergi dan bergaul dengan Utari. Apalagi setelah mengetahui siapa Utari dan latar belakang dirinya, ayah semakin setuju aku mengikuti pendakian kali ini.


Deg.....


Itu mobil Yoga, aku masih ingat betul mobil Alphard warna putih yang waktu itu aku masuki secara terpaksa di parkiran hotel, karena Yoga yang memaksaku.


" Kenapa berhenti Ra?, itu ada Steve dan Riko di dalam mobil, kita sengaja berangkat bareng dan jemput kamu. Riko yang kasih tahu alamat rumah kamu sama aku, karena aku dengar, waktu acara pertunangan kamu kemarin, cuma Steve yang nggak bisa hadir ya?, maaf ya Ra... Steve memang sangat sibuk orangnya".


" Tapi tadi Riko dan Steve nggak mau keluar, katanya takut justru jadi lama kalau mereka ikut turun dan bertemu dengan kedua orang tua kamu".


" Soalnya mereka berdua kan cowok, datang bertamu ke rumah gadis pagi-pagi sekali hanya akan membuat banyak pertanyaan dan bisik-bisik tetangga", ujar Utari. Ucapannya memang sangat benar, dan aku setuju hanya Utari yang turun.


Aku memang tidak bisa melihat siapa yang ada di dalam mobil karena kaca mobil yang gelap jika dilihat dari luar. Utari membuka pintu belakang dan mempersilahkan aku masuk setelah dirinya masuk.


Terpaksa aku masuk lagi ke mobil ini, ini karena ada Utari dan Riko di dalamnya, seandainya tidak ada mereka berdua aku pun tidak sudi masuk ke mobil itu .


" Pagi Ra... kok Utari lama dirumah kamu?, apa kalian ngerumpi dulu?", tanya Riko yang duduk di kursi depan di samping Yoga yang mengemudikan mobil.


" Bukan ngerumpi sama Raya, tapi ngobrol sama mama dan papanya raya, juga sama adik laki-laki Raya yang ganteng", ujar Utari menjelaskan.


" Mama dan Papa Raya asyik kok diajak ngobrol, mereka juga sangat baik. Cuman aku kok melihat mata adik Raya justru mirip siapa ya... seperti tidak asing, tapi siapa....", Utari nampak berfiki.


Aku bisa mengetahui jika sejak tadi Yoga diam-diam terus menatap ke arahku dari kaca spion.


Tentu saja mata Shaka mirip dengan ayahnya, Yoga... calon suamimu. Tapi sepertinya Yoga tidak curiga, mungkin Yoga kira adik laki-laki yang Utari sebut adalah Juna.


" Sudah tidak ada yang ketinggalan?, sekarang kita berangkat ke rumah Bian", ucapan Yoga dingin dan datar, sama seperti saat kemarin kumpul di restoran, ku pikir setiap bersama dengan Utari, Yoga jadi bersikap dingin.


Berbanding terbalik dengan sikapnya jika hanya sedang berdua saja denganku, dia begitu agresif. Dan suka memaksa.


" Sudah dibawa semua kan Ra, barang bawaannya?", Utari mengulang pertanyaan Yoga, karena tadi aku tetap diam tak menjawab.


" Sudah kok, sebenarnya barang-barang yang akan dibawa sebagian sudah ada di rumah Bian", jawabku seperlunya. Aku bisa melihat ekspresi Yoga dari kaca spion, seperti menahan amarah.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, hanya perjalanan sekitar 7 menit, kami sampai di rumah Bian, saat ini baru setengah 7, Bian terlihat sedang memanasi mobilnya, karena kami hendak memakai mobilnya menuju bandara.


Aku keluar dari mobil Yoga terlebih dahulu saat sampai di depan rumah Bian. Bian yang melihatku keluar dari mobil Yoga langsung menghampiri dan memelukku pelan, tak lupa mengecup kening dan bibirku sebagai tanda selamat datang. Aku yakin ada hati yang terbakar melihat adegan barusan. Bian kini benar-benar semakin berani mengumbar kemesraan bersamaku di depan teman-temannya.


Tapi biarlah, toh memang kami sebentar lagi akan menikah dan jadi suami istri, jadi yang tidak suka boleh tutup mata, biar tidak merasa tersiksa.


" Mana tas kamu Ra?, biar aku bawain ke dalam".


Ku biarkan Bian membawakan tas ranselku dan membawanya ke dalam.


" Masuk dulu bro... aku sudah bikin kopi buat kalian, sama nunggu Haidar belum sampai disini itu anak". Bian mengajak yang lain masuk, sambil membawa ranselku masuk kedalam rumah.


Yang lain ikut turun dan ngopi terlebih dahulu sambil menunggu Haidar datang.


Bian masuk ke ruang tengah, membantuku mengemas barang-barang ku ke dalam tas agar muat banyak barang bawaan. Ternyata tas besar yang kemarin dibelikannya untukku sangat berguna, tinggal nanti aku kuat atau tidak menggendong tas besar sambil menaiki gunung .


" Tenang, nggak berat kok tasnya, kalau kamu keberatan nanti aku bawain tasnya pas naik gunung", ucap Bian.


" Beneran ya Bi, nanti kalau aku keberatan kamu yang bawain", gumamku.


" Tentu saja sayangku... jika pas nanti disana kamu minta digendong juga aku lakukan, apa sih yang nggak buat kekasih hatiku".


Pagi-pagi Bian sudah menggombal, hanya karena kemarin sudah kuberikan kepuasan batinnya, sekarang dia jadi semakin cinta padaku.