Healing

Healing
107. Ijab qobul



Saat aku mulai merasa ngantuk dan mulai memejamkan mata, ku rasakan sebuah tangan mendarat di pundak ku, perlahan menepuk, membuatku kembali terjaga.


" Kenapa tidur disini?, tadi aku ajak tidur di ranjang ku tidak mau, katanya mau ke kamar papa kamu, kenapa malah tidur di lorong seperti ini?, kamu nggak takut tidur disini sendirian?".


Yoga duduk di sampingku sambil menatapku lekat.


" Aku tadi dari kamar papa, tapi panas, jadi aku nyari tempat yang lebih sejuk", jawabku asal.


" Ya sudah ayo ke kamarku. Haidar sudah bangun dan sekarang lagi sibuk mengurus persiapan pernikahan kita besok, jadi kamu bisa menempati kasur satunya yang tadi buat tidur Haidar", ucap Yoga.


Aku menurut saja tanpa protes, malam sudah semakin larut dan menolak pun tidak ada gunanya, Yoga pasti akan tetap menyuruhku tidur di kamarnya.


Dan malam ini kami tidur sekamar meski beda ranjang. Yoga sedang terluka dia tidak mungkin akan melakukan hal yang aneh-aneh padaku. Tangan kirinya diperban, jadi tidak akan terjadi apa-apa meski tidur sekamar.


Benar, malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak di kamar Yoga yang sangat nyaman, kasur yang empuk, kamar yang berbau wangi dan suhu AC yang pas, semuanya mendukungku untuk tidur lelap.


Aku terbangun jam 5 pagi, bahkan Yoga yang membangunkan aku untuk subuh berjamaah. Tunggu....!.


Apa aku tidak salah dengar, Yoga membangunkan aku dan mengajak subuh bersama?. Benarkah yang aku lihat ini adalah Yoga ayah nya Shaka?, calon suamiku?, rasanya aneh dan berbeda saat sholat subuh berjamaah dengannya.


Gerakan sholatnya terbatas karena tangan kirinya masih diperban. Bahkan dia sesekali mendesis menahan sakit saat melakukan ruku atau sujud. Pasti lukanya terasa sakit, tapi ditahannya.


Dan aku baru tahu, jika di kamar VVIP itu juga disediakan mukena dari rumah sakit, atau Yoga yang sengaja menyiapkan untukku?, sepertinya mukena mahal, tidak seperti yang aku pakai semalam yang di sediakan di lemari yang ada di mushola.


" Cium ", Yoga menyodorkan punggung tangannya untuk aku cium.


Ku turuti kemauannya, memang dia sebentar lagi akan jadi imamku, rasanya seperti mimpi.


Yoga tersenyum lebar saat aku mencium punggung tangannya, lalu dia menarik kepalaku agar mendekat dan mencium keningku.


" Maaf atas kesalahan ku di masa lalu Ra... mulai hari ini, setelah kita resmi menjadi suami dan istri, mari kita membuka lembar baru dengan tidak terus mengingat kejadian kelam di masa lalu. Aku berharap kamu bisa sembuh dari luka masa lalu yang aku buat".


" Aku akan bertanggung jawab menyembuhkan lukamu, karena akulah yang sudah menyebabkan luka itu. Aku sendiri yang akan mengobatinya, dengan memberikan kebahagiaan terus menerus padamu, sampai kau lupa masa lalu mu yang menyedihkan", ucap Yoga.


Aku tetap diam tak berkomentar, mari kita lihat saja apa yang akan Yoga lakukan untuk membahagiakan aku.


Haidar mengetuk pintu dengan wajah lusuh dan mata tinggal lima wat, dia kelihatan sangat lelah dan ngantuk.


" Sudah beres semuanya, kalian bisa cek ke TKP, kalau ada yang kurang bilang saja. Nanti aku usahakan untuk memperbaikinya. Tapi bagiku itu sudah keren banget karena semua tenaga terbaik sudah aku kerahkan".


" Sekarang aku mau tidur, gara-gara kalian berdua aku jadi tidak tidur semalaman, awas saja kalau kalian nggak bahagia, sia-sia pengorbanan ku malam ini".


Aku bingung dengan yang Haidar katakan, sebenarnya apa yang dia coba jelaskan?.


Tapi semuanya menjadi jelas saat Yoga mengajakku ke sebuah ruangan di rumah sakit yang bisa dibilang cukup luas, karena luasnya seperti aula di sekolahan Shaka, dan ruang itu sudah di dekorasi untuk pesta pernikahan kami.


Ruangan penuh dengan bunga berwarna putih, terkesan suci dan bersih, benar-benar sangat indah, bahkan sudah ada meja dan kursi pelaminan yang cat dan juga kain pembungkusnya juga berwarna putih, Dekorasi yang simpel tapi elegan memainkan perpaduan kain berwarna putih dan emas.


Aku tidak membayangkan sebelumnya jika pernikahan dadakan ini akan menjadi seperti pernikahan yang sudah lama direncanakan.


" Bagaimana Ra, apa kamu suka dengan dekorasi dan tata ruang untuk pernikahan kita nanti?, kalau ada yang kurang pas di hati kamu, dan tidak sesuai dengan keinginan kamu, katakan saja. Aku akan menyuruh orang untuk menggantinya".


Aku langsung menggeleng kepalaku cepat, " ini sudah lebih dari cukup. Bahkan sangat bagus dan aku suka. Dekorasi pernikahanku dan Bian saja tidak seindah ini", ucapku.


Ya... aku jadi teringat Bian, raut muka Yoga jadi nampak kesal karena aku menyebut nama Bian dan pernikahan kami yang batal.


Aku menggeleng, " Tidak, aku tidak pernah lagi berharap untuk bisa menikah dengan siapapun. Bahkan aku sudah berniat untuk tidak menikah seumur hidupku. Seandainya tidak ada pernikahan kita hari ini, berarti tidak akan ada pernikahan di lain waktu".


" Aku terlalu takut untuk memikirkan tentang pernikahan lagi setelah kegagalan pernikahanku sebelumnya, karena tidak akan ada keluarga yang menerima gadis dengan masa lalu buruk sepertiku".


Yoga kembali berubah lagi, kini ekspresi nya menunjukkan sebuah penyesalan setelah mendengarkan ucapanku.


" Ayo kita ke ruang ganti, di sana kamu bisa pilih mau pakai gaun atau kebaya untuk acara akad nanti, kata Haidar ada beberapa pilihan, jadi kamu pilih sendiri yang menurutmu nyaman".


Yoga menarik tanganku agar mengikutinya memasuki sebuah ruangan yang berukuran 6x6 meter, disana ada kaca yang lebar, seperti tempat senam. Ada beberapa baju yang digantung disana, dan aku melihat semuanya sangat bagus dan indah.


Aku langsung berjalan melihat-lihat beberapa gaun dan kebaya, dan untuk akad nanti, pilihanku jatuh pada kebaya putih yang sangat cantik dan sopan, modelnya tidak terlalu rame, bagian dada juga tidak terlalu terbuka, sederhana tapi terkesan elegan.


" Sudah menentukan mana pilihan mu?".


Aku mengangguk dan menunjuk kebaya yang langsung aku suka pada pandangan pertama.


" Itu akan sangat cantik jika kamu pakai".


Dan ternyata benar sekali ucapan Yoga, hampir semua orang memujiku setelah aku memakai kebaya putih dan wajahku selesai dipoles oleh tim makeup yang diusung oleh Haidar.


Pernikahan benar-benar dilaksanakan jam 10 pagi, setelah jam 9 tadi dokter visit ke ruang papa dan memperbolehkan papa pulang kerumah karena luka lecet di tubuh papa tidak terlalu serius seperti luka Yoga.


Dan jangan ditanya lagi, begitu ada yang mengetahui di rumah sakit akan diadakan pernikahan, ada beberapa orang yang kemarin berada di depan ruang kamar papa dirawat kembali terlihat. Ternyata mereka memang orang-orang yang suka membuat konten.


Tapi aku tidak suka pernikahanku di ekspose berlebihan, kami bukan artis, meski Yoga seorang pembisnis muda yang sedang sering jadi bahan pembicaraan di media elektronik karena belum lama ini mendapatkan piagam penghargaan sebagai pebisnis muda paling sukses tahun 20xx.


Aku meminta pada Yoga agar acara kami menjadi acara yang private, jangan membiarkan orang tak dikenal masuk kedalam ruangan. Dan Yoga mengabulkan permintaanku. Pihak keamanan rumah sakit meminta pada orang-orang pembuat konten untuk pergi menjauh dari ruang akad.


Sejak setengah jam yang lalu aku sudah memakai kebayaku, dan Yoga juga memakai pakaian yang matching dengan kebaya yang aku pakai, pernikahan dadakan terjadi dengan khidmat. Yang paling tidak aku duga. Entah kapan Yoga mengurusnya. Tapi Shaka dan Juna semuanya hadir, Rita dan Hani teman baikku juga ada di ruang ini.


Haidar sudah pasti ada, duduk bersebelahan dengan Riko, Bian, dan Utari pun bisa kulihat duduk di depan yang lain. Aku tak sempat menyapa mereka terlebih dahulu karena penghulu sudah datang, dan pernikahan akan segera di langsungkan. Dan satu lagi yang membuatku merasa bahagia. Bu Ara juga diundang oleh Yoga, memang Bu Ara dulu teman almarhum ibunya Yoga, pantas jika Yoga juga mengenal nya.


Bu Ara tersenyum lebar saat aku menatap ke arahnya, belum sempat kami bertegur sapa, nanti usai ijab qobul aku ingin sekali menyapanya. Malaikat penolongku. Orang yang tak akan pernah aku lupakan jasanya padaku.


Semua tamu menggunakan dress code yang sama, serba putih, membuat pernikahan ini seperti mengusung tema, cinta yang suci dan bersih. Meski sebenarnya tidak demikian. Cinta bersih dari mana, kami berdua juga sama-sama kotor sejak awal. Tapi memang dengan adanya pernikahan ini, semoga bisa membersihkan semua kekeruhan itu.


Aku melirik ke samping, Yoga tidak nampak tegang sama sekali. Mungkin saja karena dia sudah terbiasa memimpin rapat dan bicara didepan orang banyak. Berbeda denganku yang meski setiap hari melayani banyak orang membeli makanan, aku tetap saja merasa grogi, hingga telapak tanganku terasa sangat dingin.


" Sudah siap semuanya?", tanya pak penghulu yang sudah duduk di samping papaku untuk menyaksikan proses ijab qobul yang akan dilakukan.


Papa juga nampak begitu gugup dan grogi, Saat bersalaman dengan Yoga lucunya justru tangan papa lah yang gemetar, padahal yang akan menikah bersikap sangat tenang dan santai.


Satu yang benar-benar membuatku tercengang, benar kata Yoga, ibu tirinya masih sangat muda, saat ayah Yoga masuk menggandeng istri barunya, seperti seorang ayah yang menuntun anak perempuannya. Ini definisi cinta tak memandang jarak umur. Tapi aku kurang yakin sih jika pernikahan mereka berlandaskan cinta, kalau ayah yoga tidak kaya, apa istri barunya itu tetap mau menikah dengan ayah Yoga?. Entahlah...


Semua tamu undangan dan hadirin diminta untuk tertib dan tidak berisik karena ijab qobul akan segera dilakukan.


Papa menatap ke arah Yoga yang duduk tepat di depannya. " Steve Prayoga Setyawan, saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan putri saya Diva Soraya Saputri dengan mas kawin emas seberat 500 gram, rumah beserta isinya, dan uang tunai sebesar 500 juta rupiah dibayar tunai".


" Saya terima nikah dan kawinnya Diva Soraya Saputri untuk diri saya, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai".


Yoga begitu bersemangat melafalkan kalimat sakral yang merubah status kami dari lajang menjadi suami-istri untuk seterusnya.