
Aku mencoba untuk memejamkan mata dan tidur, sudah ku minum satu tablet pereda rasa nyeri, tapi tubuhku masih tetap merasakan panas dan pedih.
Ku nyalakan kipas angin dan ku arahkan ke bagian tubuh ku yang tersiram air mendidih.
" Panas banget ya Ra?, aku antar ke rumah sakit saja ya sekarang?, melihat kamu nggak bisa tidur begitu pasti rasanya panas banget".
Yoga duduk mendekat ke kasur tempatku tidur. Raut wajahnya menunjukkan kecemasan.
" Nggak papa beneran sebentar lagi pasti sembuh", aku masih tetep kekeh menolak ke rumah sakit.
" Biar aku beri salep lagi ya, siapa tahu tadi kamu ngolesin nya terlalu tipis, makanya masih pedih". Yoga masih saja berisik.
" Kalau kamu nggak bisa diam, sebaiknya kamu keluar saja dari kamar ini, aku hanya butuh ketenangan!", akhirnya aku berteriak mengusir Yoga dari kamarku.
Tapi bukannya beranjak keluar, Yoga berdiri dan mengambil salep, mengunci pintu kamar dan menyingkap ujung daster yang sedang ku pakai. Aku tidak bisa berontak, karena akan menambah lukaku terasa pedih jika aku bergerak terus.
Yoga mengoleskan salep lagi di pahaku yang warna merahnya sudah mulai menghitam.
" Aku ini suamimu, kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu saat kita tinggal bersama, itu berarti aku bukan suami yang baik, karena tidak bisa menjaga keselamatan kamu".
" Kamu bisa kan diam sebentar, aku hanya akan mengobati lukamu, meski dalam hati ini tak memungkiri aku ingin sekali menyentuhmu, tapi aku tidak akan melakukan hal itu karena tahu saat ini kamu sedang sakit".
" Bukankah memang sudah menjadi kewajiban ku untuk menjagamu Ra, kenapa kamu masih tetap bersikap seolah kita adalah orang asing, aku ini suamimu, biarkan aku melakukan kewajibanku sebagai seorang suami".
Aku hanya terdiam ketika Yoga mulai menyingkap ujung dasterku, dan mengoleskan salep di luka bakar yang ada di pahaku. Aku mendesis karena rasa pedih yang kembali menjalar.
" Buka lebih tinggi", ucap Yoga.
Aku menggelengkan kepalaku, " Tidak aku... tidak bisa".
Yoga menarik dasterku lebih tinggi hingga terpampang lah dari kaki hingga bagian perutku yang terluka bakar. Bisa ku lihat Yoga menelan salivanya, dan tangannya sedikit gemetar saat mengoleskan salep di bagian perut kebawah.
Untung saja air panas tidak menyiram bagian mis-V ku, sehingga Yoga tak perlu mengoleskan salep di area itu. Meski Yoga sudah melihatnya secara langsung, tapi dia tidak berani menyentuhnya, Yoga hanya mengoleskan salep di luka bakar ku saja.
" Terimakasih", ucapku sambil menurunkan kembali daster ku, ku lihat Yoga mengangguk.
" Jika kamu masih kekeh menolak pergi ke rumah sakit, sebaiknya besok kamu libur jualan saja, sepertinya lukamu cukup lebar, akan terasa sakit jika kamu memaksa untuk banyak bergerak", ucap Yoga sambil menyenderkan punggungnya di tembok kamar dekat dengan kasurku.
" Iya, sudah ku pikirkan, besok aku libur jualan, ini baru ke dua kalinya aku libur jualan, pertama saat menikah denganmu, dan juga besok", ucapku, rasa panas dan pedih di luka bakar sudah mulai mereda. Mungkin benar kata Yoga, tadi aku kurang banyak mengoles salep di lukaku, sehingga rasanya tetap panas dan terbakar.
" Semoga saja besok sudah membaik, tadi entah darimana tiba-tiba ada kecoa terbang dan mendarat di lenganku, aku sedang menuangkan air mendidih ke termos, karena kaget tak sengaja ku lepas pegangan tempat rebusan, malah jadi tumpah ke kaki, dan saat kucoba mundur untuk menghindar, justru aku kepleset dan menyenggol termos hingga tumpah". Aku mencoba menjelaskan apa yang terjadi tadi.
" Mungkin kecoa itu tahu kalau malam ini aku akan tidur di sini, sehingga dia menampakkan diri dan membuatmu terluka, agar aku bisa merawat mu", ucap Yoga.
Aneh sekali, memang aneh, karena tiap hari aku membersihkan kontrakan dan tak pernah menjumpai kecoa, tapi tadi tiba-tiba ada kecoa dan nemplok di lenganku, bukankah itu hal yang aneh?.
" Apa kamu masih sangat membenciku sampai saat ini Ra?. Aku sudah berusaha semampuku untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, semua itu aku lakukan karena kamu Ra...".
" Kamu ingat malam setelah kita menikah?, saat itu ternyata Haidar memberiku obat perangsang, pantas saja keinginanku untuk menyentuhmu begitu kuat, tapi aku berusaha menahannya, aku tidak mau kamu makin membenciku karena aku memaksakan kehendakku".
" Aku ingin kita bersatu lagi karena suka sama suka, aku mau kita berhubungan layaknya suami istri yang saling mencintai. Aku akan menunggu sampai kamu membuka hatimu lagi untukku Ra, kali ini aku akan menunggu dengan sabar ".
" Entah mengapa, sejak dulu sampai sekarang setiap kali berdua denganmu, rasanya hati ini merasa begitu tenang, dan nyaman".
Ucapan Yoga membuatku luluh, aku tahu kejadian saat Haidar memberi Yoga obat perangsang di malam setelah kami menikah, aku tahu Yoga bolak-balik ke kamar mandi berusaha menuntaskannya sendiri dan tidak mau memaksaku melayaninya. Padahal saat itu aku sudah sah menjadi istrinya.
Ku akui sikap Yoga kini sudah lebih bijaksana, dia bisa menahan diri, tidak seperti dulu, maupun satu tahun yang lalu, Yoga masih suka memaksaku melakukan apa yang di inginkannya.
Haruskah aku menyerah, belajar membuka hati dan merelakan diri untuk melayaninya?, aku istri sahnya. Pernikahan kami bukan sebuah sandiwara, tapi selama ini aku tidak pernah melakukan kewajibanku sebagai seorang istri padanya. Sejak menikah aku langsung pergi darinya. Bahkan meninggalkannya saat dia sedang sakit karena di tabrak papaku.
Sudah cukup lama semenjak kami menikah, aku bersikap acuh padanya, tapi Yoga... dia masih terus bersikap baik terhadapku, dia memaafkan aku meski aku tidak pernah melakukan kewajibanku sebagai seorang istri.
" Maafkan aku, mungkin karena penderitaan yang ku alami dulu, semenjak kamu pergi meninggalkan aku saat aku mengandung Shaka, aku jadi begitu membencimu, sulit untuk melupakan semua kenangan buruk yang terjadi saat itu".
" Aku juga ingin menjadi seorang istri yang baik, seperti mama yang melayani papa setiap hari dan tinggal bersama. Tapi aku belum bisa melakukannya, ".
Yoga mendekat ke arahku, dia mengecup keningku dengan begitu lembut dan perlahan merebahkan tubuhku di kasur.
" Tidurlah sudah malam, kamu sedang terluka dan butuh banyak istirahat. Jangan banyak bicara, aku akan menjagamu malam ini".
Ku pejamkan mataku, dan baru kali ini aku hanya berdua dengan Yoga, tapi aku bisa tidur dengan tenang, mungkinkah aku mulai bisa membuka hatiku untuknya?.
Esok harinya aku terbangun karena mendengar adzan subuh berkumandang. Rasanya tidurku begitu nyenyak hingga bangun saat adzan, biasanya aku bangun jam 3 pagi, karena hari ini tidak jualan, aku bangun agak telat.
Ku lihat Yoga sudah mengambil wudhu.
" Apa lukanya masih pedih?, Mau sholat berjamaah?", tanya Yoga.
Aku mengangguk, " tunggu sebentar, aku ambil air wudhu terlebih dahulu, lukanya sudah tidak terasa pedih", jawabku, sambil berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Ini pertama kalinya aku dan Yoga sholat berjamaah semenjak kami resmi menjadi suami istri. Aku bersyukur pernikahan kami membawa dampak baik untuk kami berdua.
" Mau masak apa untuk sarapan nanti?, biar aku masakan", ucap Yoga.
Sejak kapan Yoga bisa masak?, kalau Bian memang dia jago masak, tapi Yoga...?, aku belum pernah melihatnya masak.
" Biar aku saja yang masak, luka bakar ku sudah tidak sakit, sudah mulai layu, kamu duduk saja".
Yoga menggelengkan kepalanya. " Kamu nggak boleh masak, jangan dekat-dekat dengan api dan benda-benda panas dulu, aku tidak mau kamu terluka lagi".
" Aku bisa masak telur dadar dan mie goreng, aku pernah melakukannya, kamu duduk saja dan lihat aku memasak".
Yoga menyuruhku duduk seperti juri di ajang lomba memasak. Sedangkan Yoga mulai mengocok telur dan merebus mie goreng instan.
Seperti chef handal, Yoga juga mencuci beras dan memasukkan ke dalam magic com.
" Bukankah Juna akan sarapan bersama kita?".
Aku mengangguk, memang setiap hari Juna makan denganku.
Dan panjang umur, baru disebut namanya, Juna sudah nongol.
" Loh, kok belum buka warung kak?, apa kakak libur jualan?", Juna bertanya sambil melirik ke arah Yoga yang masih sibuk memberi bumbu pada mie goreng.
" Semalam ada sedikit kecelakaan di dapur, karena itu kakak nggak jualan hari ini", Juna lagi-lagi melirik ke arah Yoga, melihat ekspresi ku dan ekspresi Yoga, mencoba mencari tahu apa yang terjadi semalam.
Akhirnya ku ceritakan apa yang terjadi, takutnya Juna salah sangka terhadap Yoga, mengira aku kenapa-kenapa karenanya, padahal Yoga sedang tidak di kontrakan saat kejadian naas itu terjadi.
" Untung ada Yoga, jadi dia bisa masakan sarapan untuk kita. Kamu tolong buatkan tulisan yang besar di kertas kalau warung makan hari ini tutup", pintaku pada Juna.
Juna langsung mengambil kardus dan memotongnya, menulis sesuai yang aku pinta dan memasangnya di depan warung.
Aku malas menjawab satu persatu pertanyaan para pelanggan, jadi mending membuat pengumuman tertulis dan memajangnya di luar.
" Apa mau pergi ke dokter buat periksa luka bakar di tubuh kakak?", tanya Juna.
" Seandainya kakakmu mau sudah sejak semalam kami ke rumah sakit, kakakmu itu kekeh katanya cukup pakai salep saja, jadi aku tidak mungkin memaksanya".
Justru Yoga yang menjawab, sambil menyajikan mie goreng dan telur dadar di ruang tamu, sementara menunggu nasi yang sebentar lagi akan masak.
" Sudah rapi jam segini, masuk kerjanya jam berapa Jun?, sarapannya tunggu nasi matang ya, sebentar lagi", ujar Yoga.
" Aku bisa sarapan di pabrik, disana ada banyak penjual nasi bungkus tiap pagi, aku sudah kesiangan, harus berangkat sekarang".
" Bukannya aku sedang menolak memakan masakan kak Yoga, tapi karena aku sudah kesiangan, tolong jagain kak Raya, jangan sampai dia terluka lagi", ucap Juna sambil berlalu meninggalkan aku dan Yoga yang tengah duduk di ruang tamu.
Sepeninggal Juna, nasi pun matang, Yoga mengambil dua piring nasi untuk kami berdua. Sungguh aneh, hari pertama tinggal bersama, justru Yoga yang melayaniku dan melakukan tugas seorang istri.