
Aku kaget saat terbangun dari tidurku dan melihat ke sekitar, aku sudah tidak lagi di mobil Yoga, tapi berada di atas kasur yang empuk dengan selimut tebal yang terasa sangat lembut di kulit. Ini bukan kamarku, kamar ini terlalu luas dan terlalu bagus dibanding kamar milikku. Dan semua perabotan di kamar ini semuanya terlihat masih baru dan mahal.
Kamar yang luasnya sama dengan luas rumah mamaku. Ya... memang kamar ini sangat luas, dan aku seorang diri disini. Di atas ranjang yang lebarnya dua kali ranjang di kamarku, ada televisi di depan ranjang yang dibiarkan menyala menayangkan lagu-lagu populer jaman dulu, lagu pop yang booming di era tahun 20xx. Tahun dimasa aku masih di bangku SMP.
Pasti ini ulah Yoga, aku yakin itu, karena dialah yang bersamaku tadi. Apa yang dia rencanakan dengan membawaku ke sini?, apa ini rumah ibunya?, tapi tidak mungkin, karena Yoga tahu persis, ibunya tak menyukaiku.
Lalu dimana aku?.
Dan perasaan apa ini?, aku merasa agak sedikit aneh dengan tubuhku, detak jantungku berdebar lebih cepat, hawa panas dari dalam tubuh, padahal AC di kamar menyala, rasanya aku pernah mengalami hal ini, seperti saat dulu Yoga melakukan sentuhan-sentuhan di tubuhku. Ya.... tubuhku seperti menginginkan sebuah sentuhan dan penyatuan. Aneh sekali....
Ku singkirkan selimut tebal yang menutupi tubuhku, aku masih berpakaian lengkap, hanya jaket tebal ku yang dilepaskannya. Berarti Yoga tidak berniat jahat terhadapku. Dan aku tidak perlu marah-marah, karena Yoga sudah membantuku tadi. Aku hanya perlu mencarinya dan bertanya apa tujuannya membawaku kemari, bukannya mengantarkan aku ke rumahku.
Yang kutuju adalah pintu kamar, karena aku harus segera keluar dan bertemu dengan Yoga, namun sebuah lukisan dinding berukuran besar yang terpajang di tembok atas kepala ranjang kamar, menarik perhatianku. Lukisan itu sangat mirip dengan wajahku dan juga wajah Yoga, seperti sebuah foto kami berdua.
Kapan Yoga membuatnya, aku tidak tahu, tapi sepertinya wajah di lukisan itu terlihat lebih muda beberapa tahun dari wajah kami saat ini. Mungkin Yoga sudah membuatnya cukup lama.
Namun karena lukisan itu, aku jadi tertarik dengan benda-benda lain yang berada di kamar ini, ku urungkan niat untuk keluar dari kamar, dan ku putar tubuhku mendekat ke lukisan lain yang ada di tembok kamar dekat televisi. Lukisan yang berukuran lebih kecil, seorang gadis dengan seragam OSIS SMP yang sangat mirip wajahnya dengan wajah ku dulu.
Entah mengapa begitu banyak lukisan yang terpajang di dinding kamar yang luas ini, dan semuanya mirip sekali dengan wajahku. Apa iya Yoga benar-benar masih mencintai aku?, apa iya dia selama ini masih terus memikirkan aku?. Rasanya aku tidak percaya, jika Yoga benar-benar berharap bisa kembali bersamaku.
Tapi kenapa saat memikirkan hal itu, hatiku mendadak terasa sakit, luka yang tak berdarah ini seperti kembali terasa, dan justru itu membuatku semakin berusaha untuk membencinya. Apa karena aku takut hatiku yang lemah ini kembali mencintainya?. Aku juga takut benteng pertahanan yang sudah aku bangun kokoh selama ini runtuh hanya dalam sekejap.
Kami sama-sama akan menikah, hanya dalam hitungan hari, aku akan menjadi milik orang lain, dan Yoga pun akan menjadi pasangan orang lain. Akan terlalu banyak orang baik yang tersakiti jika sampai aku menuruti keinginannya untuk bersatu kembali. Tapi entah mengapa dengan hatiku saat ini, aku seperti merindukan Yoga...
Tidak boleh.... aku tidak boleh egois dan menyakiti hati siapapun, aku harus tetap membenci Yoga, sampai kapanpun, dan tidak ada yang namanya cinta lama bersemi kembali. Tidak ada lagi rasa cinta di hati ini untuk Yoga.
" Cantik kan?".
Aku yang sedang menatap lukisan dengan wajah yang sangat mirip denganku langsung menengok kebelakang, entah sejak kapan Yoga berdiri di belakangku, aku melamun dan tak mendengar langkah kakinya memasuki kamar ini.
" Apa?", aku yang sedang melamun jadi bingung apa maksud pertanyaannya.
" Cantik kan?, gadis yang ada di lukisan itu?. Sekedar informasi, dia itu cinta pertamaku loh...", bisik Yoga di dekat telingaku.
Sungguh aku kaget dan langsung berdebar saat nafas hangatnya menerpa kulitku. Dan rasa menggebu-gebu dalam tubuhku semakin menjadi, aku seperti orang aneh yang menginginkan sentuhan dan belaian.
" Ini rumah kita. Jadi kamu mau pulang kemana?. Beberapa tahun lalu aku membangun rumah ini, dan semuanya atas nama kamu, tanah dan bangunan ini adalah milik kamu, karena semua ini hasil kerja keras yang aku kumpulkan dengan keringatku sendiri, di awal aku merintis usahaku".
" Aku sudah punya keniatan dari dulu masa kita masih bersama, saat kita masih sekolah, jika suatu saat nanti aku bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri, aku akan membuat rumah untuk keluarga kecilku. Dan itu berarti buat Kamu dan Shaka".
Langsung ku gelengkan kepalaku, " Aku dan Shaka bukanlah keluargamu, dan rumah ini, bukanlah rumahku, tolong antarkan aku pulang. Ini sudah terlalu malam, dan pasti keluargaku khawatir karena aku tidak pulang-pulang".
Entah mengapa tubuhku terasa semakin aneh, melihat Yoga aku justru fokus pada tubuhnya, Yoga terlihat sangat tampan dan mempesona. Bibirnya, sungguh indah dan aku ingin dia tiba-tiba menarikku kedalam pelukannya seperti saat di bukit bintang, atau di ruang kerja Bian. Ya Tuhan... apa yang terjadi pada diriku ini. Kenapa aku terus ingin disentuhnya. Aku harus buru-buru pergi dari rumah ini, atau aku tidak bisa menahan keinginan aneh yang keluar dari tubuhku ini.
Aku jadi semakin gelisah mendengar perkataan Yoga yang menyebut aku dan Shaka sebagai keluarga kecilnya. Apalagi tanah, rumah dan seisinya, semuanya diatasnamakan sebagai kepemilikan ku. Aku tidak mau menerima ini semua, aku tidak mau Yoga terus bersikap baik terhadapku, aku tidak mau termakan bujuk rayunya lagi, ini pasti hanyalah godaan setan karena semakin mendekati hari pernikahanku.
" Kamu tenang saja Ra... aku sudah memberi kabar mama dan papa kalau kamu menginap di rumah teman, dan pada Bian juga sudah kuberi tahu jika kamu sudah pulang ke rumah. Maaf kalau aku lancang membuka ponsel kamu".
" Tadi aku bingung bagaimana mengantar kamu ke rumah mama kamu, karena kamu tidur, dan aku tidak tega membangunkan kamu yang tidurnya pules. Jadi aku bawa kamu ke sini Ra, sekalian biar kamu bisa melihat rumah kamu. Tenang saja, kamu bisa tinggal disini bersama Shaka dan mama papa kamu, semua berkas dan surat kepemilikan ada di laci lemari itu, semua itu atas nama kamu. Aku tidak akan tinggal disini, jika kamu tidak mengijinkannya".
Aku semakin tidak nyaman dengan semua yang dikatakan Yoga. " Sudah cukup Ga, kamu sudah berlebihan, sejak tadi aku tetap diam dan hanya mendengarkan apa yang kamu katakan, karena aku pikir kamu akan berhenti setelah aku diam. Tapi kamu masih tetap mengatakan hal yang sama".
" Ingat ini baik-baik, aku bukan keluargamu, begitu juga dengan Shaka, tidak pernah sekalipun aku menganggap kamu bagian dari keluargaku, aku lelah mendengar semua omong kosong yang kamu katakan tadi. Aku mau pulang sekarang, ke tempat tinggalku yang sesungguhnya. Aku tidak mengharapkan kamu melakukan semua hal ini Ga, kamu hanya buang-buang waktu dan tenaga kamu saja. Tidak usah lagi memikirkan hidupku atau hidup Shaka. Aku sudah terbiasa hidup tanpa kamu sejak adanya Shaka. Dan kehadiranmu justru membuat hidupku tidak tenang, kamu.....".
Yoga tiba-tiba memelukku dengan sangat erat, aku menikmatinya, karena inilah yang aku harapkan sejak tadi, yaitu Yoga tiba-tiba memelukku, tapi apa sebenarnya yang terjadi pada tubuhku ini sehingga aku merasakan bahagia dan nyaman, saat berbuat sebuah kesalahan besar. Saat aku menyadari jika yang kami lakukan salah, aku berusaha untuk melepaskan diri.
" Jangan Ga, kita bisa melakukan kesalahan lagi jika kamu terus seperti ini, aku harus segera pulang Ga", jujur aku menginginkan Yoga memaksaku, entah mengapa tubuhku ingin sekali merasakan kembali sentuhan darinya. Tapi akal sehatku masih bisa membuatku menahan getaran aneh dari dalam tubuhku.
Dan yang terjadi, Yoga tetap memelukku dengan sangat erat, aku bahagia karena perlakuannya, tubuhku menerima, tapi hati dan pikiranku menolak keras.
" Aku juga sudah cukup sabar menghadapi sikap kamu yang terus-menerus menolak semua pemberianku Ra..., aku melakukan semua ini atas dasar kemauan ku sendiri, aku ingin bisa membahagiakan orang-orang yang aku cintai, orang-orang yang aku anggap penting dalam hidupku. Aku tahu kenapa kamu terus menolak dan menghindar dariku, karena kamu takut akan jatuh cinta lagi padaku, kamu takut akan merasakan perasaan yang dulu sama-sama kita rasakan".
" Dan saat ini kesabaranku sudah habis, jika kamu tidak bisa ku buat menyerah dengan cara halus, maka aku terpaksa harus melakukannya dengan cara yang lebih kasar. Aku sungguh-sungguh masih mencintaimu Raya".
Itulah kalimat terakhir yang Yoga katakan hingga saat aku sadar kami berdua sudah sama-sama berada di atas ranjang. Yoga mencium bibirku dengan sangat rakus dan bersemangat. Dan entah mengapa tubuhku menerima semua perlakuan nya terhadapku, ciuman dan sentuhan itu.... aku menginginkan sesuatu yang lebih dari ini. Apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhku ini. Kenapa justru sekarang tubuh ini menikmati setiap perlakuan Yoga padaku. Sentuhan dan ciuman Yoga membuat aku merasa sangat bahagia dan sejenak melupakan Bian yang akan menjadi suamiku hanya dalam hitungan hari.
Tubuhku bergetar hebat saat Yoga mulai memasukkan tangannya ke balik pakaian ku, dan melakukan sentuhan-sentuhan lembut di bagian sensitif tubuhku. Entah mengapa aku sangat menikmatinya.....