Healing

Healing
110. Sudah Ada Yang Punya



Esok hari sekembalinya aku dari kampung, aku langsung berjualan seperti biasa, begitu banyak pelanggan yang menanyakan darimana aku, karena warung libur selama 3 hari. Hanya ku jawab jika aku habis pulang kampung. Tanpa memberi tahu untuk apa aku pulang kampung.


Tidak harus aku jelaskan pada semua orang apa saja yang aku lakukan, bukankah setiap orang berhak punya privasi masing-masing. Begitu juga denganku, aku masih belum siap memberitahu mereka jika aku sudah menikah.


Pernikahanku terjadi karena sebuah kompromi, bukan karena saling jatuh cinta, karena itulah aku masih belum siap mengumumkan pernikahanku pada orang-orang yang ku kenal disini.


Hari demi hari aku jalani dengan suasana damai dan indah seperti sebelumnya. Rutinitas yang sama setiap harinya dari bangun pagi, pergi ke pasar, masak, menjaga warung sambil melayani pembeli, semua itu membuat waktuku tidak ada yang terbuang percuma.


Setiap hari aku harus bekerja dan bekerja, tidak ada waktu bersantai, dan aku menikmatinya. Hingga satu bulan sejak aku kembali dari kampung, aku kedatangan tamu pemilik kontrakan. Beliau memberitahu kan jika anaknya minta kuliah di luar negeri, dan butuh biaya besar. Dan terpaksa menjual seluruh kontrakan miliknya termasuk yang ku tempati.


Untuk kontrakan ku memang tidak perlu membayar lagi sampai perjanjian dengan pemilik lama selesai. Tapi bagi yang bayar bulanan harus bertemu dengan pemilik baru.


Aku dengar pemilik baru akan merenovasi kontrakan menjadi lebih bagus dan kekinian, karena itu ada beberapa kamar yang sengaja tak disewakan untuk mulai direhab.


Beberapa pekerja yang merehab kontrakan mulai datang setiap hari, menambah jumlah pelanggan di warung makan ku, kebanyakan dari mereka datang dari kampung, dan hanya pulang sebulan sekali ke rumah mereka untuk mengobati kangen pada anak istri mereka.


Aku mendengar banyak cerita dari para pekerja itu yang membicarakan bos mereka, siapa lagi kalau bukan pemilik baru kontrakan ini. Aku mendengar jika pemilik baru masih muda dan sangat tampan, baru menikah beberapa bulan yang lalu, tapi tinggal sendiri-sendiri, tak tinggal bersama dengan istrinya.


Karena itulah sang bos jarang sekali terlihat tersenyum dan bahagia, sepertinya karena sama-sama sibuk dengan pekerjaan mereka, hubungan Sang bos dengan istrinya tidak terlalu baik, dan jarang berkomunikasi. Itulah yang sering di bicarakan oleh para pekerja renovasi.


Hampir setiap hari para pekerja itu membeli makan di warungku, karena itulah aku mulai mengenal mereka dan bertanya-tanya dari mana asal mereka. Dan ternyata mereka berasal dari tetangga kampung kelahiranku. Hanya saja aku tidak mengatakannya, jika aku berasal dari kampung sebelahnya. Aku tidak ingin ada orang yang mencari tahu dimana asalku dan mendengar kisah masa laluku.


" Mba Raya apa sudah menikah?, pasti beruntung banget yang jadi suami mba Raya, sudah cantik, pinter masak, pasti suaminya bakalan beruntung banget punya istri dengan paket komplit".


" Kalau belum ada yang punya, mau dong saya daftar, meski duda beranak satu, tapi saya itu orang nya dijamin setia, karena alasan saya cerai sama istri gara-gara istri yang selingkuh, main belakang pas saya tinggal merantau buat nafkahin dia. Bukan saya yang selingkuh, tapi saya di selingkuhi", ucap salah satu pekerja yang juga setiap hari makan di warungku.


Pekerja itu langsung dapat sorakan dari temannya yang lain.


" Seandainya masih singgel pun mana mau mba Raya sama kamu, makan disini saja masih ngutang, nikah sama kamu cuma menambah beban hidup", ucap yang lain.


Aku hanya tersenyum mendengar gurauan mereka.


" Maaf memang saya sudah ada yang punya, cuman belum tinggal bersama saja", ucapku sambil menunjukkan cincin pernikahanku pada mereka.


" Tuh... kan bener dugaan ku, wanita secantik dan sesempurna mba Raya sudah pasti ada yang punya", lagi-lagi mereka saling bergurau satu sama lain.


Rasid yang memperhatikan aku sejak tadi dari depan kontrakannya baru mendekat setelah para pekerja renovasi pergi dari warungku.


" Beneran yang kamu bilang Ra?, kamu sudah ada yang punya?, apa itu cincin pernikahanmu?, kalau begitu dugaan ku waktu itu bener dong?, yah telat dong kalau begitu...", ujar Rasid sambil menghembuskan nafas panjang.


Belum sempat aku menanggapi ucapan Rasid, dua pria berpakaian rapi masuk kedalam warungku sambil berseru mengatakan pesan makanan untuk mereka berdua.


" Nasi sama ayam, telor balado, orek tempe, sayur buncis, tempe, dan tahu dua porsi mba cantik", ujar pria yang baru datang saat melihat ke etalase kaca yang berisi masakanku, suara yang sangat familiar bagiku. Dan sudah lumayan lama tak ku dengar suara itu.


Senyuman menggoda juga langsung terlihat di bibir kedua pria tampan itu.


Haidar dan Yoga, mereka berdua akhirnya menemukan keberadaan ku, semenjak menikah dengan Yoga, ini pertama kalinya aku kembali bertemu dengannya.


Tangan Yoga sudah tidak diperban, tentu saja sudah sembuh, kejadian itu juga sudah beberapa bulan yang lalu. Aku senang karena dia sudah sehat.


" Mba cantik kok malah ngelamun?, terpesona ya lihat ketampanan kita berdua?", lagi-lagi Haidar membuatku semakin salah tingkah.


Ku ambilkan makanan untuk Haidar dan Yoga sesuai pesanan Haidar tadi, ini kali pertama Yoga memakan makanan yang ku masak sendiri. Sudah sore, sebentar lagi maghrib, mereka berdua berangkat jam berapa dari rumah, jam segini baru sampai, sepertinya mereka membawa mobil sendiri, aku bisa melihat mobil putih Yoga di halaman kontrakan, depan kontrakan memang cukup luas karena biasa digunakan untuk meletakkan jemuran baju para penghuninya.


Ku serahkan piring berisi makanan pada Haidar dan Yoga, Haidar langsung meminta dua gelas air putih untuk minum.


" Minum air putih ngambil sendiri Mas, itu sudah disiapin gelas sama galon di meja, nggak perlu diladeni juga kan air putih gratis".


" Dari mana mas yang merasa sok tampan?, sepertinya bukan orang sini?, apa sengaja mau makan, atau mau menggoda Raya?", Rasid yang kemudian bertanya sambil menatap Haidar dan Yoga dengan lekat.


" Kita berdua dari rumah, sengaja kesini mau makan, sekalian pengen kenalan sama mbak cantik pemilik warung makan, yang kecantikannya sudah jadi trending topik dimana-mana. Pantas saja warungnya rame, penjualnya cantik, apalagi rasa makanannya enak". Haidar justru sengaja menggodaku agar Rasid semakin emosi.


" Memang benar kan?, masakannya sedap di lidah, ditambah lagi penjualnya sedap dipandang mata", lagi-lagi Haidar menggodaku di depan Yoga dan Rasid.


Rasid nampak tidak senang dengan ucapan Haidar.


" Situ kalau mau makan, makan saja, jangan banyak omong, pemilik warung sudah ada yang punya!", seru Rasid merasa kesal dengan sikap Haidar.


" Iya tahu, memang situ siapanya sampai segitunya, bukan suaminya kan?", ujar Haidar.


" Memangnya kenapa?, situ mau daftar jadi suaminya?, kagak bakalan diterima, kalau iya daftar berarti situ orang ke 38 yang daftar jadi suaminya, nih kalau dihitung yang sudah di tolak Raya sampai sore tadi sudah ada 37 orang".


Aku sampai melongo dan menutup mulutku, sempat-sempatnya Rasid mencatat siapa saja yang sudah mengajakku menikah.


" Waduh.... banyak bener yang ngajak kamu nikah Ra... apa pada nggak tahu kalau kamu sudah punya suami?".


" Heh bang... itu 37 baru yang orang sini, belum yang dikampung, dulu suaminya juga sempet di tolak sama dia".


Ucapan Haidar membuat Rasid mendekat kepada ku.


" Jadi lu udah kenal sama ni orang Ra...?, kalian sekampung?, apa dia macem-macem sama lu?, gua kasih pelajaran kalau lu nyuruh gue buat kasih pelajaran sama ni orang", ucap Rasid kesal.


" Dia teman suamiku Bang..., aku sudah kenal lama, nggak perlu dikasih pelajaran, dia orang baik ", ucapku.


Rasid makin melongo merasa tak percaya jika aku benar-benar sudah bersuami. Aku tahu Rasid menaruh perhatian lebih padaku sejak awal aku pindah ke kontrakan ini. Tapi aku tidak tertarik sedikitpun pada Rasid.


Sikap Rasid begitu baik padaku dan juga Juna, meski dia mengatakan sudah menganggap kami seperti saudara, tapi mana ada saudara tanpa ikatan darah, yang jelas-jelas ada ikatan darah saja kadang bersikap acuh.


Tujuanku pindah ke kota, ke kontrakan ini karena aku tidak ingin lagi hidup penuh dengan masalah. Aku butuh ketenangan dan tidak ingin lagi mempunyai masalah percintaan. Karena hal seperti itu sungguh membuatku merasa lelah fisik dan juga pikiran. Buang-buang waktu dan tenaga.


" Dan kalau pengen kenal sama suaminya, nih yang lagi ke enakan makan sampai nggak peduli dengan keadaan sekitar".


Haidar menunjuk Yoga yang masih asyik menikmati makanannya.


" Beneran Ra?, dia suami lu?", tanya Rasid kembali melotot.


Aku mengangguk membenarkan ucapan Haidar.


" Dan sekedar informasi, kalau semua kontrakan disini sekarang adalah miliknya, teman saya ini yang menjadi pemilik baru semua kontrakan didaerah sini", ucap Haidar.


Aku menutup mulutku merasa tidak percaya, jadi pemilik kontrakan yang baru itu adalah Yoga. Aku mengerti jika dia punya banyak uang dan mampu membeli apa saja, tapi kontrakan ini?, untuk apa dia membeli kontrakan disini yang letaknya jauh dari kampung halaman kami.


" Apa benar yang Haidar katakan Ga?", aku memilih bertanya langsung pada Yoga, sejak tadi dia diam tak ikut bersuara.


Yoga mengangguk, " Semua itu aku lakukan karena kamu Ra, kamu betah banget tinggal disini, makanya aku beli tempat ini, biar kamu makin betah tinggal di kontrakan yang sudah jadi milik pribadi".


Aku tidak heran dengan sikap Yoga yang demikian, hanya saja mungkin kedepannya Yoga akan sering datang kesini, mungkin tiap bulan, atau bahkan tiap Minggu. Karena sekarang tempat ini adalah miliknya.


" Kalo lu punya suami yang ganteng dan tajir macam begini, ngapain lu masih buka warung makan dan jualan nasi yang untungnya nggak seberapa?, tapi kerjaannya kagak ada istirahat nya Ra?"


Aku tidak menjawab pertanyaan Rasid, karena aku sendiri tidak tahu harus jawab apa. Yoga tiap bulannya mengirimkan uang belanja untukku, dia menafkahiku secara material dalam jumlah yang cukup besar meski kami hidup berpisah, dan aku tidak pernah melayaninya sebagai seorang istri.


Mungkin saja egoku yang masih terlalu besar, membuatku merasa jika aku bersikap selayaknya istri yang baik pada Yoga, itu berarti aku kalah mempertahankan harga diriku.


Entah benar atau salah sikapku ini, yang jelas kedatangan Yoga disini membuat ku merasa, ini adalah awal sesungguhnya dari kehidupan kami setelah menikah.