
Bian mengulek cabai, kencur, bawang, garam dan bahan-bahan lainnya untuk membuat bumbu seblak. Aku membantunya memotong sayuran yang akan digunakan campuran membuat seblak.
Setelah selesai memotong sayur, ku tarik kursi yang menghadap meja makan, jadi menghadap ke arah Bian yang sedang begitu terampil memasak. Seperti seorang chef profesional, aku sampai takjub melihat ketrampilan memasaknya.
Hanya butuh waktu 7 menit, dua mangkok seblak spesial sudah matang, dan disajikan di atas meja makan.
" Tunggu anget dulu baru dimakan, ini masih panas banget, lihatlah, uapnya masih mengepul begitu. Nanti mulut bisa kebakar kalau langsung kita makan" ucap Bian.
Bian meletakkan semangkuk seblak di depanku dan satu lagi di samping tempat dudukku.
" Sini Bi, biar aku foto seblak buatan mu, sekalian sama foto kita berdua. Aku baru sadar kalau selama ini kita jarang sekali foto berdua".
" Ketolong gara-gara acara lamaran kemarin jadi aku punya foto kita yang berdua".
Bian justru berdiri dan mengambil ponselnya. " Aku juga mau mengabadikan momen ini, foto pakai HP kamu dulu, terus kirim ke ponselku juga ya Ra".
Kami berdua pun berfoto bersama, lumayan banyak foto yang kuambil, dengan berbagai macam gaya tentunya. Lalu ku kirimkan ke HP Bian.
Saat Bian melihat-lihat koleksi foto di galeri ponselnya aku diam-diam ikut melirik karena penasaran, foto apa saja yang ada di ponsel Bian.
Bian juga tidak keberatan sama sekali saat aku ikut melihat isi galeri ponselnya. Justru aku yang kaget, karena seperti seorang paparazi, Bian mempunyai begitu banyak fotoku di ponselnya.
Ternyata Bian punya kebiasaan yang tak ku ketahui, yaitu menjadi seorang penggemar rahasia yang mengambil fotoku secara diam-diam. Lihatlah begitu banyak fotoku di galerinya, ada yang diambil saat di ruang meeting saat meeting pagi-pagi. Ada juga foto saat aku sedang tertawa dan bercanda dengan Rita saat sepi pengunjung.
Sebesar itukah rasa cinta Bian terhadapku?, bagaimana bisa selama ini aku tidak menyadarinya. Atau sebenarnya aku sadar, hanya saja aku berpura-pura tidak tahu tentang perasaannya. Karena aku takut menjalin hubungan.
" Sejak kapan kamu jadi pemuja rahasiaku?, bagaimana bisa begitu banyak fotoku yang ada di galeri ponselmu,?, bahkan hampir sebagian besar foto yang tersimpan di galeri ponselmu adalah fotoku".
Bian langsung cengengesan karena sudah ketahuan mengambil foto diam-diam.
" Sudah lama, sejak kamu masih kerja di restoran yang dulu, waktu pertama kali kita ketemu setelah sekian lamanya kita berpisah. Saat itu aku kira aku salah lihat, karena melihatmu di restoran. Namun ternyata itu memang kamu".
" Saat itu aku baru merencanakan akan membuka restoran, seperti sebuah kebetulan, ternyata kamu bekerja di restoran juga. Jadi mungkin sudah jadi jalan takdirnya untuk kita bertemu".
Bian mendekatkan mangkuk isi seblak ke arahku, " Ayo makan dulu, sepertinya sudah tidak terlalu panas. Enak kan makan seblak pas lagi hangat seperti ini".
Aku mengangguk dan mulai menyantap seblak buatan Bian yang sudah tidak terlalu panas, rasanya sangat enak.
Mungkin aku memang orang paling beruntung, karena laki-laki yang mencintaiku adalah seseorang yang memiliki berbagai macam kelebihan. Selain dari tampan dan juga baik hati tentunya.
" Ini enak banget Bi, sama persis seperti yang dibuat chef di restoran. Atau jangan-jangan kamu belajar sama chef yang kerja di restoran ya?", tebak ku setelah memujinya.
Bian menggeleng, " Bukan aku yang belajar sama chef di restoran, melainkan mereka yang belajar padaku. Karena aku dapat resep seblak spesial waktu aku pergi seminar ke Bandung saat masih kuliah dulu".
Aku mendengarkan cerita Bian sambil memakan seblak spesial buatannya, Bian begitu bersemangat menceritakan saat mengikuti kegiatan seminar dulu di Bandung, dia mengatakan bahkan saat di Bandung dirinya berusaha membuka mata agar bisa melihat cewek-cewek Bandung yang terkenal cantik-cantik. Sayangnya justru yang melekat terus dikepalanya adalah wajahku.
Entah jujur, atau hanya sedang menggombal saja. Tapi yang pasti aku sekarang mulai menyukai tiap kali Bian sedang menggombaliku. Toh sah-sah saja, karena aku tahu, Bian melakukan hal itu hanya padaku saja. Aku jadi merasa semakin dicintai.
Ku cuci mangkok dan gelas kotor bekas aku dan Bian makan dan minum tadi, untung saja, mangkok yang kupegang cukup tebal, jadi saat aku kaget karena tiba-tiba Bian memeluk ku dari belakang, mangkok itu tidak pecah karena merosot dari genggamanku.
Bian melingkarkan tangannya di perutku dan menyandarkan dagunya di pundak ku, sambil berbisik, " Pulangnya nanti saja ya habis sholat Maghrib jama'ah disini, ada mukena mama yang sengaja di tinggal disini, kamu bisa pakai itu".
Aku menggeleng, " Aku belum mandi sejak pulang tadi, badanku pasti kotor setelah seharian bekerja, tapi aku juga nggak bisa mandi disini, aku nggak bawa baju ganti", ucapku menolak.
Bukan aku tidak mau, tapi rasanya tidak nyaman saja sholat di saat badanku masih kotor dan bau asem.
" Memangnya kamu punya baju daleman cewek?, kamu ini ada-ada saja Bi. Mending kamu anterin aku pulang saja sekarang. Mumpung baru terdengar adzan maghribnya".
Aku selesai mencuci mangkok dan gelas kotor, tapi Bian masih saja memeluk perutku, aku mendorongnya pelan kebelakang.
" Kamu cuma meluk begitu saja, aku sudah bisa merasakan sesuatu di bagian bawah tubuhmu yang mengeras. Sangat berbahaya kalau aku tetap disini, bisa-bisa aku habis dimakan sama kamu", ucapku tanpa malu-malu.
Saat ini kami sudah menjadi calon suami dan istri, mungkin pembahasan tentang hal seperti ini akan menjadi hal yang wajar.
Bian langsung meringis, " Iya, tapi aku masih bisa mengontrol diriku, tenang saja, meski kita hanya berduaan di rumah ini, aku masih bisa menahan diri untuk tidak kebablasan".
Aku tidak yakin dengan ucapan Bian. Marilah kita buktikan, jika sampai Bian melewati batas, maka aku akan pergi dari rumah ini secepatnya.
" Oke kalau begitu, aku mandi disini, dan pakai baju kamu buat ganti, Carikan baju kamu yang ukurannya tidak terlalu besar di tubuhku", ucapku, mari kita lihat sekuat apa pertahanan diri Bian menahan hawa nafsunya melihatku mandi dan memakai pakaiannya untuk ganti.
Bian lantas pergi ke kamarnya mengambil baju dan celana training miliknya.
" Mau mandi di kamar mandi yang diluar apa yang di dalam kamar?, biar aku mandi di kamar mandi satunya".
Aku memilih mandi di kamar mandi yang ada di luar, sehingga Bian mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
Ku bawa baju Bian yang akan aku gunakan sebagai baju ganti nanti. Dan aku masuk kamar mandi untuk mandi, adzan Maghrib sudah terdengar sejak tadi, aku pun buru-buru mandi dengan cepat.
Sayangnya saat bra yang sudah kupakain tadi hendak kupakai lagi, tiba-tiba jatuh dan menjadi basah, akhirnya aku tidak jadi memakainya. Aku hanya memakai baju Bian tanpa memakai baju dalaman.
Aku keluar dari kamar mandi berniat menghampiri Bian yang mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, letaknya berada di kamar paling depan, di samping ruang tamu. Aku berjalan dengan santai dengan memakai baju dan celana Bian tanpa memakai bra, karena tadi jatuh dan basah.
Deg...
Aku melihat Yoga yang berdiri di ruang tamu dengan baju sedikit basah, karena ternyata di luar sedang gerimis, dan Yoga sepertinya sempat kehujanan saat lari dari mobilnya menuju rumah Bian.
Yoga nampak menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan yang sangat tajam dan wajah tak bersahabat. Nafasnya terdengar begitu cepat seperti menahan amarah.
" Oh iya... kenalin, ini calon istriku Steve, gadis yang sering aku ceritakan sama kamu, cinta pertamaku saat aku masih SMP, Raya".
" Raya ini Steve, salah satu sahabat aku dari sejak SMA sampai kuliah, yang kemarin tidak bisa ikut di acara pertunangan kita".
Bian yang keluar dari kamarnya memperkenalkan aku dan Yoga, Yoga nampak mengulurkan tangannya seolah mengajakku bersalaman dan berkenalan.
" Steve...", ucapnya dengan suara yang berat dan raut wajah masih menahan amarah.
"Maaf... aku sudah wudhu, mau sholat Maghrib dulu, aku Raya....", jawabku tanpa membalas uluran tangannya.
" Oh iya, kami mau sholat Maghrib dulu, kamu bisa duduk-duduk atau bikin kopi sendiri di belakang, atau kalau mau makan, masih ada seblak di wajan dapur, tapi kami habis masak seblak. Kamu masih suka seblak buatanku kan?, makan saja dulu sembari nunggu kita sholat maghrib bro...".
Kulihat Yoga mengangguk," Aku akan duduk disini saja, tadi aku sudah makan, malah masakan dari restoran kamu yang aku pesan lewat delivery order baru sempat aku makan tadi. Kalau kopi, aku dengar dari Haidar, kopi buatan calon istri kamu enak banget, boleh dong nyobain mumpung ketemu disini".
Yoga masih saja menatapku dengan lekat. Membuatku merasa risih.
" Oh... kalau begitu duduk-duduk saja dulu, kita berdua sholat maghrib sebentar, soalnya waktu Maghrib itu sangat sebentar".
Bian menyuruh Yoga duduk di ruang tamu, dan dia sendiri berjalan menuju tempat per-sholatan di samping ruang tengah. Aku langsung mengikuti Bian masuk kedalam meninggalkan Yoga yang masih menatapku dengan tatapan yang tak bisa ku artikan.