
" Baiklah, dimana aku tidur malam ini?, aku tidak mau menempati kamar tadi, masih ada kamar lain di rumah ini kan?", tanyaku dengan nada ketus.
" Di lantai satu masih ada 2 kamar kosong yang bisa di tempati, kamu bisa pakai yang mana saja", Yoga menunjuk dua pintu kamar yang berada berdekatan di lantai satu.
" Baiklah aku akan tidur disini malam ini, besok pagi habis subuh, aku mau kamu antar aku pulang ke rumahku".
Yoga langsung mengangguk cepat, aku bisa melihat dirinya yang masih emosi, tapi berusaha menahan dengan sangat agar tidak meluap emosinya.
Aku langsung menuju salah satu kamar, dan langsung menguncinya dari dalam. Aku harus segera tidur dan istirahat setelah drama panjang yang terjadi malam ini. Ini benar-benar malam minggu, malam yang panjang, bahkan sangat panjang, seolah pagi tak kunjung datang. Aku sudah merindukan pagi, dan berharap waktu cepat berlalu, hingga aku bisa segera pulang ke rumah.
Aku masuk ke dalam kamar, tapi aku tak bisa tidur, mungkin karena tadi sudah tidur , dan juga kejadian di kamar atas yang membuatku masih tak habis pikir, kenapa aku tadi bisa-bisanya menuruti keinginan Yoga. Rasanya seperti ada dorongan dari dalam diriku yang tidak wajar. Jelas aku pasti diberi sesuatu hingga aku tertidur lelap dan tubuhku menginginkan sentuhan, mungkinkah obat perangsang?. Entahlah.... apa Yoga se putus asa itu, sampai dia memberiku obat seperti itu.
Namun ternyata semua dugaan ku itu benar adanya, Aku mengetahui itu semua pagi hari, sebelum Yoga mengantarkan aku pulang dengan mobilnya.
Sang supir mengatakan kalimat yang aneh, dan aku sempat mendengar percakapan mereka secara tidak sengaja.
Aku kembali duduk di kursi belakang, sedangkan Yoga duduk di samping bangku kemudi, karena kami di jemput oleh supir Yoga, aku melihat botol kecil yang masih tergeletak di dashboard mobil Yoga. Mungkinkah itu obat yang semalam di campurkan ke makanan atau minuman yang diberikan Yoga padaku?, tapi mungkin juga bukan, masa iya botol itu masih di mobil ini, pastinya mereka sudah membuang bukti kalau mereka sudah memberi obat di makananku.
Ternyata benar yang dikatakan ART di rumah Yoga, keluar dari rumah bisa langsung melihat pemandangan tepi pantai, dengan deburan ombak yang menghiasi perjalanan pagi ini. Rumah yang sangat unik, karena dibangun begitu dekat dengan pantai, hanya perlu keluar rumah untuk melihat pemandangan tepi pantai dan birunya laut yang sangat indah.
Perjalanan yang kami mulai usai subuh, dan sampai di depan gang menuju rumahku sekitar jam 7 pagi, itu berarti sekitar dua setengah jam perjalanan dari rumah Yoga ke rumahku, tidak terlalu jauh, tapi karena aku belum tahu, semalam aku jadi memilih tinggal di rumahnya, seandainya tahu jika rumah itu berada tidak terlalu jauh, hanya di kota sebelah, aku pasti berani pulang sendiri.
Aku langsung keluar dari mobil Yoga tanpa mengucapkan sepatah katapun saat mobil berhenti di jalan raya dekat gang menuju rumahku, sejak tadi berada di mobil selama dua setengah jam aku juga tetap diam, karena memang tidak ada yang ingin aku katakan.
Kecurangan Yoga membuatku semakin kecewa padanya. Kenapa aku kecewa?, apa aku berharap Yoga benar-benar berubah menjadi laki-laki yang baik?.
Tanpa menoleh kebelakang aku terus berjalan melewati jalan setapak yang sepi menuju ke rumahku.
Sampai di depan rumah aku melihat mama dan papa sedang berdiri di teras sedang memperhatikan motorku, ternyata motorku sudah ada di rumah lebih dulu. Pasti mama dan papa sudah menyimpan banyak pertanyaan untuk di ajukan padaku.
"Assalamualaikum", ucapku. Mama dan Papa seketika menengok, dan langsung menghampiriku.
Mama yang paling tidak sabaran dan mencariku masuk ke dalam rumah
" Sebenarnya apa yang terjadi?, kemarin mama pulang lebih awal dari perkemahannya karena mama masuk angin. Mama nggak tahu kalau kamu nyusul kesana. Terus kamu menginap dimana?, ini motor juga siapa yang ngantar kesini?, mama tidak bertemu dengan orang yang nganterin motor ini, pas mama bangun tidur dan buka pintu, motor ini sudah berada disini".
Aku yang juga tidak tahu apa-apa jadi bingung mau menjawab apa. " Raya juga baru pulang, semalam nginep di rumah teman karena motor ini mogok di jalan, padahal motornya Raya tinggal di depan masjid yang terlewati kalau mau ke perkemahan. Tapi kok bisa sudah ada disini?, apa masih macet atau sudah dibenerin?", aku mencoba menyalakan mesin motorku dan ternyata menyala. Apa sebenarnya yang terjadi semalam, apa motorku juga di sabotase oleh Yoga?.
Akhirnya aku terus berprasangka buruk terhadap Yoga, karena aku mengetahui jika dirinya telah memasukkan obat di makananku semalam. Mungkinkah itu rencana dadakan, atau semuanya sudah di rencanakan sejak awal, aku sendiri kurang paham akan hal itu.
" Papa dan mama sangat khawatir saat tahu motor kamu mogok, tadinya papa mau jemput kamu ke sana, tapi ternyata kamu menginap di rumah teman kamu, apa kamu punya kenalan di daerah sana?", tanya papa seolah mengintrogasi ku, aku bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin aku jujur pada papa jika semalam aku tidur di rumah Yoga, bisa kumat darah tinggi Papa.
Ku beri tahu tentang rumah yang berada di sekitar masjid yang kami lewati jika menuju perkemahan, dan di rumah itulah aku menginap semalam. Padahal semalam rumah itu kosong dan gelap gulita. Ku ceritakan juga kejadian Jumat malam saat penghuni rumah itu meminta tolong pada Bian untuk mengantarkan ke rumah sakit. Jadilah papa dan mama percaya dengan ceritaku.
" Ma, Pa, Raya mau mandi dulu, sebentar lagi Raya harus berangkat kerja, sudah jam 7 lewat, Raya juga belum sarapan. Raya masuk ke dalam dulu ya". Aku sengaja masuk agar tidak lebih banyak pertanyaan lagi yang diajukan mama dan papa, agar tidak semakin banyak kebohongan yang aku katakan. Maafkan aku karena harus terpaksa berbohong pada mama dan papa.
10 menit aku keluar dari kamar mandi, sudah menggunakan seragam restoran, dan ternyata Bian sudah menjemputku, dan sedang duduk di ruang tamu bersama mama. Papa sepertinya udah pergi narik ojek saat tadi aku sedang mandi.
" Sudah lama Bi?", tanyaku sambil mengeringkan rambutku yang basah menggunakan handuk.
Jujur aku keramas dan membersihkan diriku karena semalam sudah bersentuhan dengan Yoga. Kami sudah hampir melakukannya. Dan kurasa mandi biasa akan membuat tubuhku tetap kotor dengan bekas sentuhan Yoga semalam. Karena itulah aku memilih berkeramas, agar semua sentuhan Yoga sisa semalam di setiap bagian tubuh ku bisa larut bersama guyuran air yang dingin ini.
Apalagi saat aku membuka bajuku di kamar mandi tadi, begitu banyak tanda merah, bahkan ada juga yang sampai berwarna hitam, yang dibuat Yoga di dadaku, bekas kecupan dan gigitannya semalam, aku semakin merasa bersalah pada Bian karena sudah menjadi calon istri yang gagal menjaga kehormatannya.
Namun nasi sudah menjadi bubur, untung saja semalam kami tidak melakukan sampai adegan akhir, jika iya, mungkin pagi ini aku tidak berani menemui Bian, jelas aku bersalah besar terhadapnya. Dan aku tidak mungkin bertemu Bian dengan kesalahan sebesar itu.
" Mau sarapan sekalian Bi?", tanyaku mengajak Bian sarapan bersama, namun Bian menolak dengan alasan sudah sarapan dirumahnya.
Usai aku sarapan, kami berdua berangkat ke restoran bersama dengan motornya. Sengaja ku peluk erat tubuh Bian saat aku membonceng motor nya. Sebagai ungkapan permintaan maaf ku karena perasaan bersalah setelah apa yang aku lakukan bersama Yoga semalam.
" Lagi kenapa?, di tinggal sehari saja kaya udah kangen banget. Tahu begitu sejak kemarin-kemarin aku nginep di rumah ayah, biar kamu meluk aku kayak gini", canda Bian, sambil terkekeh.
Aku tahu Bian sedang menggodaku, tapi aku tidak merubah posisi ku, tetap memeluknya dengan erat.
" Kangen banget ya?, maaf ya Ra... semalam aku tidur lebih awal, dan nggak tahu kamu telepon aku, HP ku aku carge di atas lemari, dan aku silent, makanya nggak tahu kalau kamu telepon aku berkali-kali. Pas aku lihat pesan dari kamu sudah jam 1 malam, dan kamu bilang sudah sampai di rumah, jadi aku tidur lagi", ucap Bian menjelaskan.
Semuanya memang ulah Yoga, dia yang membalas pesan dari Bian dan juga pesan dari papa. Sungguh licik ulahnya.
" Tapi saat aku tidur lagi, aku mimpiin kamu Ra, mimpinya aneh banget, aku melihat kamu dililit ular yang sangat besar. Ular itu terlihat jinak, tapi dia terus melilit tubuh kamu hingga kamu kesakitan. Aku pengen bantuin kamu melepaskan diri dari lilitan ular itu, namun sayangnya belum sempat aku melakukan apa-apa aku sudah terbangun, dan sudah pagi".
Aku mendengarkan Bian bercerita tentang mimpinya, dan tahu-tahu kami sudah sampai di restoran. Aku pun turun dari motor Bian, dan sangat kaget saat melihat Yoga dan supirnya sudah berada di restoran mengobrol bersama Riko di kursi yang ada di bawah pohon besar depan restoran.
" Wah, ada tamu kehormatan sepagi ini, mau apa Steve kesini, sepertinya kami tidak ada temu janji hari ini. Kita kesana yuk Ra, gabung sama Riko dan Steve", ajak Bian. Namun aku menolaknya.
" Itulah wujud nyata ular yang melilit tubuhku dalam mimpimu Bi, tapi kenapa kamu tidak menyadarinya", batinku.
" Maaf Bi, aku langsung masuk ke dalam saja, nggak enak sama teman-teman karyawan yang lain. Mereka sudah mau beres-beres, masa aku malah ngobrol santai sama kalian. Aku kedalam dulu ya, kalau bukan waktu kerja, aku pasti gabung sama kalian".
Aku langsung masuk ke dalam restoran tanpa menyapa Yoga maupun Riko, hanya menatap ke arah mereka sejenak, melihat ekspresi Yoga yang kesal karena aku mengacuhkannya dan melihat ekspresi Riko yang kesal melihat Yoga yang terus menatapku.