
Acara selamatan empat bulanan kehamilanku berlangsung dengan khidmat dan lancar. Yoga sekaligus memperkenalkan aku pada para tetangganya. Karena selama dua bulan aku tinggal di rumah ini, aku jarang keluar dan belum pernah bersosialisasi dengan lingkungan. Bukan karena aku individualis, tapi karena Yoga melarang ku kecapekan. Dan semua ART di rumah ini akan di marahi jika aku kecapekan.
Alhasil sampai dua bulan tinggal di rumah ini aku belum mengenal satupun tetangga rumah. Dan yang mengejutkan ku, karena salah satu tetangga sebelah rumah kami adalah kakak kelas jaman aku SMP dulu, aku sendiri sebenarnya lupa dan tidak ingat sama sekali dengan kakak kelasku itu, apalagi sudah belasan tahun tak pernah melihat, tentu saja wajahnya juga sudah berubah lebih dewasa. Tapi kakak kelasku itu masih mengenaliku.
Dia menawarkan bantuan jika aku hendak memeriksakan kandunganku, karena kakak kelasku itu kini menjadi seorang dokter spesialis kandungan. Baru mendapatkan gelar barunya belum lama ini.
Aku yang sebenarnya tidak terlalu kenal dengannya, dan bahkan tidak mengetahui siapa namanya hanya bisa tersenyum dan mengangguk-angguk saja. Dan sepertinya Yoga paham dengan kesulitan yang sedang aku alami.
" Apa kabar dokter Adrian?, sudah lumayan lama tidak bertemu, saya dengar dokter baru saja mendapatkan gelar barunya, wah... namanya semakin panjang saja, selamat atas pencapaiannya", ujar Yoga sambil melirik memberi kode padaku.
Jadi orang di depanku ini namanya Adrian, apa iya ada kakak kelasku yang namanya Adrian?, bahkan aku tidak mengingatnya sama sekali, payah sekali aku ini, ingatanku sangat buruk.
" Terima kasih Tuan Steve, tak ku sangka jika istri anda adalah adik kelas waktu aku SMP dulu, jika anda dan istri satu angkatan berarti Tuan Steve adik kelas saya juga, tapi Anda bisa sangat sukses dalam berbisnis di usia yang masih sangat muda ini, saya kagum pada anda", ucap Adrian.
Dan obrolan pun semakin asyik dan lama, hingga para tamu pamit untuk pulang karena waktu sudah semakin malam.
Yoga langsung menyuruhku masuk kamar untuk tidur, saat jam menunjukkan pukul 9 malam, tidak perduli masih ada beberapa tamu yang belum pulang, tapi Yoga begitu disiplin, melarangmu begadang, karena akan berpengaruh pada kesehatanku dan janinku.
Aku tidak keberatan dengan hal itu, aku bahkan jadi menyadari, jika sebenarnya Yoga adalah sosok ayah yang sangat penyayang, dan perduli pada keluarganya. Hanya saja itu baru ku ketahui sekarang.
Meski belum mengantuk, aku harus tetap patuh pada suamiku masuk ke kamar dan beristirahat. Mama dan Papa melihat sikap Yoga yang seperti itu awalnya hendak protes, tapi setelah aku melarangnya dan menyuruh merek untuk kembali memikirkan jika perintah Yoga untuk kebaikan aku dan bayiku, mama dan papa mengurungkan niatnya.
Sampai di kamar ku pejamkan mataku berusaha untuk tidur, meski tidak mengantuk, tapi dengan memejamkan mata, lama kelamaan aku tertidur hingga pulas.
_
_
" Selamat pagi sayang, apa semalam kamu anteng di dalam perut mama?".
Itulah rutinitas Yoga tiap kali bangun tidur semenjak janin dalam perutku mulai bergerak.
Memang setelah acara empat bulanan dua minggu yang lalu, dan setelah melakukan USG di rumah sakit, Yoga jadi lebih protek menjagaku, janin dalam perutku adalah perempuan, tebakan papa yang benar.
Yoga memang tidak mempermasalahkan akan mempunyai anak laki-laki ataupun perempuan, hanya saja jelas terlihat ada ekspresi khawatir di wajah Yoga saat mengetahui jika janin dalam perutku adalah perempuan.
Mungkin Yoga bercermin pada dirinya sendiri, dulu dia sudah melakukan hal yang salah terhadapku, semoga saja putri kami terhindar dari yang namanya hukum karma.
Aku hanya bisa berusaha menenangkan Yoga, karena aku sendiri juga merasakan hal yang sama. Tapi bukankah seharusnya kami berpikir positif dalam hidup. Karena aku pernah membaca dalam sebuah artikel, jika sesuatu yang kita pikirkan akan lebih bisa menjadi kenyataan jika pikiran itu sampai tertanam di alam bawah sadar kita.
Karena itulah aku berusaha untuk tetap berfikir positif selama ini, agar yang terjadi pun adalah sesuatu yang positif juga.
Semakin hari perutku semakin membuncit, rasanya semakin susah bergerak, Yoga juga jadi jarang keluar kota dan jarang lembur. Yoga selalu pulang tepat waktu, jam 4 sore sudah sampai di rumah.
Bahkan saat kandunganku memasuki trimester ketiga, Yoga sudah tidak pernah lagi keluar kota, semua pekerjaan yang mengharuskan pergi keluar kota di wakilkan pada Haidar , karena Yoga sedang berusaha menjadi ayah yang siaga.
" Aku ingin, saat kamu lahiran nanti, aku berada di sampingmu, karena saat dulu kamu melahirkan Shaka aku tidak bisa menemanimu berjuang, aku merasa sangat buruk saat itu".
" Tentu saja kamu harus berada di sampingku saat aku melahirkan nanti, kan kamu harus mengadzani putri kita", ujarku sambil menggeliat karena Yoga tengah mengelus-elus perut buncit ku yang akan langsung bergelombang tiap Yoga mengusapnya.
" Nih, anak ayah gelian banget, cuma ayah sentuh lirih, dia langsung bergerak-gerak terus dalam perut ibunya" .
Yoga seperti menemukan hobi barunya, yaitu mengelus-elus perut buncit ku. Apalagi kalau pas janin dalam perutku bergerak-gerak, dia akan semakin senang mengusapnya.
" Ga, besok aku ijin keluar rumah boleh ya?", tanyaku saat Yoga sedang asyik menatap perutku.
" Mau kemana?, kalau pengen apa-apa tinggal bilang saja, suruh pak Surya cariin yang kamu mau, dia itu sudah jadi supir puluhan tahun, dan paham banget daerah sini", ujar Yoga .
Ku manyun kan bibirku dan berpura-pura seakan aku kecewa." Tapi aku pengen keluar, beli baju dan berbagai macam keperluan persalinan", ucapku dengan nada sedikit merengek.
Yoga menatapku heran, " Apa kamu belum menyiapkan keperluan melahirkan dan keperluan calon anak kita?".
" Kan perkiraan kamu melahirkan tinggal sisa tiga minggu, aku kira kamu sudah siapin semuanya", ujar Yoga.
Memang awalnya aku ingin membeli semuanya secara online, tapi setelah kupikir-pikir, mungkin sebaiknya aku beli secara langsung, selain tanpa ongkos kirim, membeli secara langsung lebih puas bagiku.
" Aku sengaja beli setelah mendekati persalinan, kalau kata orang dulu pamali beli perlengkapan bayi terlalu awal, katanya bayinya bisa kenapa-kenapa, amit-amit", ucapku sambil mengetuk kepalaku sendiri pelan.
Dan esok harinya, Yoga sengaja tidak berangkat ke kantor untuk menemaniku pergi berbelanja keperluan melahirkan ,dan keperluan untuk calon bayi.
Tapi lagi-lagi Yoga bersikap over, aku yang awalnya hanya ingin membeli seperlunya, justru Yoga memasukkan begitu banyak baju bayi dan perlengkapan bayi lainnya.
Yoga juga membawa kursi roda untuk aku duduki, karena sejak tadi aku terus berdiri saat memilih2 barang yang hendak kami beli, belanja cukup lama dan berdiri lama memang membuat kakiku terasa pegal.
Sudah 1 jam lebih kami berkeliling di toko itu dan Yoga terlihat belum puas untuk belanja, sungguh lucu sikapnya, harusnya aku sebagai perempuan yang suka belanja, ini malah Yoga yang begitu berantusias.
Apalagi calon anak kami adalah perempuan, bisa di bayangkan betapa cantik-cantik model baju bayi untuk baby girl, dengan model girly dan motif lucu-lucu.
Begitu banyak barang belanjaan kami, dari mulai bak mandi bayi, lemari pakaian, box bayi, kasur bayi, sampai keperluan melahirkan juga, dan berbagai keperluan lain semuanya serba baru. Betapa beruntungnya calon putriku, belum lahir saja sudah begitu disayang oleh ayahnya, dibelanjakan barang-barang dengan kualitas terbaik, tanpa mempertimbangkan harganya, mahal bukan masalah untuk Yoga.
Hal ini membuatku langsung teringat Shaka, jaman dulu melahirkan Shaka semua keperluan melahirkan bekas mama semua, untung mama menyimpan pakaian bayi Juna dan masih layak pakai, sehingga bisa dipakai oleh Shaka. Semua yang dipakai Shaka dulu adalah bekas baju Juna. Aku tidak mampu untuk membelikan yang baru, untuk biaya persalinan saja mama dan papa yang menyiapkan. Meski akhirnya uang persiapan persalinan tidak digunakan, karena Bidan Ara menggratiskan semua biaya persalinan. Karena itulah aku berhutang Budi begitu besar pada beliau.
Aku dan Yoga pergi ke kasir setelah merasa semua kebutuhan persalinan dan perlengkapan untuk si kecil sudah dibeli semuanya.
Semua barang belanjaan ini dibayar menggunakan kartu hitam milik Yoga, dan menghabiskan sampai puluhan juta, untung ada jasa pengiriman dari toko, sehingga kami tidak bingung bagaimana harus membawa semua barang belanjaan kami pulang.
Setelah membayar dan memberikan alamat rumah kami, Yoga mengajakku makan siang di salah satu restoran yang terletak tak jauh dari sana.
" Bumil pasti mudah lapar kan?, kata dokter Adrian begitu, karena makanannya harus berbagi sama si kecil, jadi kita makan dulu sebentar, baru kita pulang ke rumah".
Yoga memesan begitu banyak makanan untuk kami. Aku sampai bingung harus makan yang mana terlebih dahulu.