Healing

Healing
128. Puncak



Hari yang ditunggu tiba, kami sekeluarga berlibur bersama ke Fila milik almarhum Bu Herni. Bu Herni memang memiliki sebuah Fila yang luas di kawasan puncak, Fila itu dibeli oleh ayah Bu Herni (kakek Yoga). Dan saat beliau meninggal dunia, Fila itu diwariskan pada ibunya Yoga, anak perempuan satu-satunya.


Saudara kandung Bu Herni ada dua, dan semuanya kini tinggal di luar negeri. Wajar saja jika dulu beliau sangat menentang hubungan ku dan Yoga, karena beliau berasal dari keluarga yang kaya semenjak kakek buyutnya. Sedangkan aku...., siapalah aku ini.


Juna yang rencananya pulang hari ini, justru kemarin sudah sampai, Juna sengaja pulang lebih awal dari rencana, dia langsung pulang ke rumahku masih dengan baju seragam pabrik, hanya di tutupi jaket kain berwarna hitam. Dan baru pulang ke rumah mama malam harinya.


Sehingga pagi ini semuanya sudah berkumpul di rumahku, mama, papa dan Juna sudah sampai sejak jam 7 pagi. Mereka memang sengaja datang lebih awal dari jam keberangkatan, Juna ingin sekali bertemu dengan Syifa.


Ku biarkan Syifa bermain-main dengan Juna di taman samping. Mereka berdua memang sudah sangat akrab, bahkan kadang Syifa harus diumpetin dulu jika Juna hendak pulang ke rumah, atau kembali ke kontrakan. Jika tidak Syifa bisa menangis karena tidak mau ditinggalkan oleh Juna.


Aku mempersiapkan baju dan keperluan ku, Yoga dan Syifa, yang harus aku bawa untuk menginap di puncak nanti.


Karena di sana dataran tinggi, mungkin malam hari akan terasa lebih dingin, sama seperti saat aku ke Rinjani dulu. Berarti aku harus membawa baju yang tebal untuk dipakai malam harinya.


" Mau mama bantu Ra...?", mama mengetuk pintu kamarku yang sengaja sejak tadi tidak ku tutup.


" Iya ma, boleh, mama masukkan baju dan keperluan Syifa saja, biar aku mengurus pakaian ku dan Yoga", ujarku.


" Kemarin Juna sudah ngomong sama kamu tentang rencananya?".


Ternyata mama kesini karena ingin membahas rencana Juna untuk membuka bengkel di daerah sini.


" Sudah ma, kalau menurut mama gimana?", tanyaku, sembari memasukkan baju Yoga ke dalam koper.


Mama berhenti memasukkan baju Syifa karena sudah cukup banyak yang dimasukkan ke koper.


" Kalau menurut pengamatan mama bengkel motor di daerah sini itu tidak selalu ramai, mungkin pemasukan Juna tidak akan sebesar saat dirinya kerja di pabrik. Tapi mama juga nggak mau terlalu lama hidup berjauhan dengan anak-anak mama, karena itu mama merestui rencana Juna".


Aku tersenyum mendengar ucapan mama, " memang benar jika hanya bengkel motor biasa yang menunggu jika ada orang yang motornya rusak atau perlu di servis baru dapat pelanggan mungkin bengkel memang akan sepi, tapi jika kita melakukan promosi ke banyak tempat mungkin bisa saja bengkel ramai".


" Lokasi bengkel juga harus yang strategis dan mudah di cari".


" Apa Juna tidak bilang kalau Raya usul untuk buka bengkel mobil sekalian ?, Raya mau menambah modal Juna, dan Raya mau bantu mempromosikan bengkel Juna ke sesama wali murid di SMA Shaka sekolah, juga pada para guru, terus sama karyawan Yoga juga. Raya yakin bengkel Juna bisa ramai Ma, yang penting yakin, berdoa dan berusaha".


Aku mencoba meyakinkan mama yang sejak tadi merasa tidak yakin dengan rencana Juna membuka bengkel.


" Sudah siap belum?, biar Shaka bantu bawa kopernya ke mobil".


Shaka masuk kamar membuat obrolan kami terjeda.


" Sudah ", jawabku sambil menutup koper dan menyerahkan pada Shaka.


Kami berangkat seusai sarapan pagi bersama, perjalanan ke puncak menggunakan mobil di akhir pekan seperti saat ini memakan waktu lebih lama, karena banyaknya mobil yang sama-sama menuju arah puncak membuat polisi harus membuat rekayasa lalulintas, untuk mengurai kendaraan agar tidak macet.


Alhasil kami sampai di puncak jam 2 siang. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu 4 jam, kini sampai memakan waktu 6 jam.


Sampai di puncak beruntung makanan sudah tersedia, karena penjaga vila dan seorang ART yang tinggal di Fila sebagai tenaga kebersihan sudah memesankan makanan, Yoga memang sengaja menelepon saat kami sedang di jalan tadi.


Untung saja tadi bawa biskuit, jadi bisa untuk menunda lapar saat di mobil, dan ketika sampai di Fila, kami semua langsung menuju meja makan usai menaruh koper di kamar masing-masing.


Untung saja di Puncak sudah terang, padahal tadi saat di jalan hujan cukup deras, aku kira sampai di puncak masih hujan deras, namun ternyata justru hujan sudah reda, meninggalkan tanah dan pepohonan yang basah. Itu berarti rencana kami untuk mengadakan pesta barbeque di taman depan Fila akan terealisasikan.


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, aku masih sangat ingat bagaimana saat dulu melahirkan Shaka di rumah Bu Ara. Dan sekarang Shaka sudah tumbuh besar menjadi pemuda yang beberapa jam lagi usianya tepat 17 tahun.


Sore harinya aku bermain-main dengan Syifa dan mama di taman depan rumah. Memandang indahnya bunga-bunga yang sedang mekar, hijaunya daun yang berkilau setelah tadi siang tersiram air hujan. Dan juga bau tanah basah, benar-benar ciri khas di pegunungan. Terasa nafas begitu lega.


Aku dan mama duduk di bangku yang ada di taman, kami terlalu asyik mengobrol sampai tak menyadari Syifa lari keluar dan melewati pintu gerbang. Saat aku menyadari Syifa tidak ada di taman, aku dan mama langsung panik dan berlari keluar rumah untuk mencarinya.


Dan pemandangan yang kulihat membuat jantungku langsung berdegup dengan sangat cepat. Syifa berlutut ditengah jalan, tepat di depan mobil yang ku dengar bunyi gesekan ban mobilnya dengan aspal mendecit sangat keras saat mobil itu mengerem mendadak.


" Syifa...!", Mama langsung mengejar Syifa dan merengkuhnya kedalam pelukan, kemudian menggendongnya.


" Kamu nggak papa sayang?, maafkan nenek yang nggak perhatiin kamu, gara-gara asyik ngobrol sama ibumu", mama terus menciumi seluruh bagian wajah Syifa saking bersyukurnya karena Syifa baik-baik saja. Padahal ada mobil di depannya persis, berarti Syifa adalah anak yang sangat beruntung.


Syifa menggelengkan kepalanya, " Nggak sakit nek",


Pengendara mobil keluar dan langsung meminta maaf berkali-kali padaku saat aku tengah mengecek keadaan Syifa.


" Syifa nggak papa Bu, maaf....", ucap Syifa dengan suara lirih tertahan.


" Maafkan kami, tadi tiba-tiba putri anda lari ke tengah jalan, untung saja dia tidak terluka parah, sekali lagi kami mohon maaf".


Aku mendengar suaranya seperti tidak asing, dan ternyata dua orang yang ada dimobil adalah Bian dan Utari. Entah sudah berapa lama kami tidak saling bertemu.


" Utari, ini aku raya, bagaimana kabar kalian berdua?", tanyaku sambil menatap mereka bergantian.


Bian terlihat tambah berisi, lebih gendutan sekarang, sedangkan Utari masih sama seperti dulu, langsing.


" Raya...., jadi gadis kecil yang hampir tertabrak mobil kami itu putrimu?".


Aku mengangguk mendapatkan pertanyaan dari Utari barusan.


" Jadi Fila Bu Herni sudah di kunjungi lagi. Sudah hampir 4 tahun hanya melihat tukang kebun dan ART keluar dari rumah itu".


" Oh iya yang itu Fila milik keluargaku, kalau ada waktu senggang mari kita bicara". Ujar Utari padaku.


" Kalian berdua baru sampai?, kalau nanti malam tidak ada kesibukan, datanglah ke Fila kami, akan diadakan pesta barbeque untuk merayakan ulang tahun Shaka", ujarku.


Merekapun masuk ke mobil lagi, dan memasuki Fila yang berada tepat di sebelah Fila kami, Fila itu juga tak kalah luas dari Fila ibunya Yoga.


Jam 8 malam semua sudah berkumpul di taman depan Fila, benar perkiraan ku tadi, disini udaranya sangat dingin, mirip seperti saat di Rinjani dulu. Untung saja aku membawa baju-baju tebal, sehingga tubuh tetap terasa hangat. Apalagi Syifa yang masih kecil, sudah ku pakaikan baju tebal, ku rangkap lagi dengan sweater bulu tebal, jadi dia tidak merasa kedinginan, dan tetap bermain kejar-kejaran dengan Juna dan Shaka.


Aku senang karena semua keluargaku berkumpul dan berbahagia malam ini. Seolah kesedihan, kesengsaraan dan kesusahan di masa lalu sudah terobati.


Rasa benci yang begitu besar terhadap Yoga, kini sudah berubah menjadi rasa cinta yang lebih besar lagi dari sebelumnya.


Aku yang dulu hanya merasakan semua hal yang tidak mengenakkan sejak ketahuan hamil diluar nikah, kini bisa kembali merasakan kebahagiaan dalam hidup ku.


Sebelumnya aku khawatir jika tidak akan pernah lagi merasakan yang namanya bahagia. Tapi ternyata Yang Maha Kuasa masih memberikan kesempatan kepada ku untuk bangkit dari keterpurukan, dan kembali merasakan kebahagiaan.