Healing

Healing
123. Mendekati HPL



Loh Tuan Steve, sedang tidak ngantor?, atau lagi istirahat kerja dan ketemuan sama istri disini?, bisa kebetulan banget ketemu disini", ujar Dokter Adrian yang datang bersama seorang temannya yang terlihat lebih senior darinya.


" Owh, dokter Adrian, iya, hari ini lagi nggak ngantor, tadi habis nyari keperluan buat persalinan Raya, ternyata menyenangkan membeli baju-baju untuk calon baby, lucu-lucu sekali modelnya, pengennya beli semua, tapi Raya nggak setuju, katanya cuma dipakai sebentar, karena bayi biasanya tumbuh kembang nya cepat.


Adrian mengangguk, " Memang benar yang dikatakan Raya, sayang kalau beli baju banyak, tapi nggak bisa dipakai lama karena kekecilan".


" Dokter kok bisa disini juga, apa tidak ada jadwal periksa di rumah sakit?, atau habis ada kegiatan di luar?", tanya Yoga.


Adrian mengangguk, " Betul sekali, tadi habis mengikuti acara di hotel depan, mewakili rumah sakit di persatuan dokter obgyn, bersama senior saya ini".


" Oh iya, perkenalkan ini dokter Dwi, beliau seniorku, salah satu dokter panutanku selama ini, beliau yang menginspirasi ku untuk menjadi seorang spesialis obgyn". Terang Adrian.


" Dokter Dwi, mereka ini tetangga rumah saya, ini Raya dan ini suaminya, namanya tuan Steve. Pengusaha muda yang sukses dan tampan", Adrian juga memperkenalkan aku pada temannya.


Aku dan Yoga bersalaman dengan dokter Dwi.


" Sepertinya dokter Adrian berlebihan, tapi saya aminkan saja, siapa tahu beneran jadi pengusaha sukses, katanya ucapan itu adalah doa", ujar Yoga.


Ternyata suamiku rendah hati juga, dia tidak sombong dan berbangga diri saat orang lain memujinya.


" Mari silahkan duduk disini saja, kita makan siang bersama, mumpung ketemu disini, jarang-jarang kan ada kebetulan semacam ini", Yoga mengajak Adrian dan dokter Dwi untuk bergabung dan makan satu meja bersama kami.


Mereka menerima tawaran kami dengan senang hati.


" Pasti anaknya bakalan cantik banget ini, ayahnya tampan, dan ibunya cantik. Semoga diberi kemudahan saat lahiran nanti. Kalau dilihat dari perutnya, sepertinya baby nya cewek dan akan lahir hanya dalam hitungan hari, tidak sampai seminggu lagi", ujar Dokter Dwi memprediksi sebagai seorang dokter spesialis kandungan yang sudah berpengalaman lama memeriksa ibu hamil.


" Benarkah Dok?, bagaimana dokter bisa tahu kalau calon bayi dalam perut istri saya ini berjenis kelamin perempuan?, wah ini sih harus belajar langsung sama ahlinya. Tapi perkiraan melahirkan masih 3 minggu lagi, apa tidak papa kalau masih kurang dari tiga minggu tapi sudah lahir?", Yoga yang tidak tahu menahu hal tentang kehamilan dan melahirkan langsung terlihat mencari tahu.


Dokter Dwi tersenyum ramah, " Tentu tidak papa, kalau kurangnya 3 minggu dari hari perkiraan melahirkan, berarti usia janin sudah 37 minggu, itu usia yang sudah cukup untuk bayi dalam perut dilahirkan", ujar Dokter Dwi.


Mendengar penjelasan dokter Dwi aku langsung tersenyum sumringah, " Wah kalau begitu syukur alhamdulilah, lebih cepat lahiran akan lebih baik, saya sudah merasa kesulitan melakukan semua hal, tidur dengan berbagai macam posisi sudah tidak nyaman, bahkan duduk saja sudah cepat lelah Dok", ucapku sekalian curhat.


Dokter Dwi mengangguk, " Wajar jika ibu hamil di trimester ketiga merasakan hal itu, apalagi kalau hamil anak pertama, belum berpengalaman, pasti akan jadi pelajaran hebat, oh ternyata begini rasanya orang hamil, oh ternyata begini rasanya kontraksi, oh ternyata begini rasanya melahirkan. Seperti itu, akan jadi pengalaman yang tak terlupakan".


Ternyata dokter Dwi adalah orang yang asyik diajak ngobrol, aku senang tidak sengaja bertemu dengan mereka disini, jadi nambah ilmu gratis langsung ke pakarnya. Seperti konsultasi tapi di restoran, bukan di klinik.


Tapi mereka salah duga, yang mereka tahu ini kehamilan pertamaku, padahal ini yang kedua. Dan aku tetap diam, tak berniat menjelaskan apapun pada mereka berdua.


" Mari silahkan dinikmati makanannya, sudah sejak tadi tersedia, nanti malah jadi dingin, ngobrolnya di lanjut nanti setelah selesai makan" , ujar Yoga, mengalihkan pembicaraan.


Dan obrolan terjeda sejenak karena kami makan siang terlebih dahulu. Untung saja ada teman makan lainnya, jadi tidak sayang makanan yang sudah dibeli Yoga, sangat banyak dan tidak akan habis jika dimakan hanya berdua saja, dan hanya akan dibuang menjadi sampah.


Setelah makan siang selesai kami melanjutkan obrolan kami cukup lama.


" Oh iya, teman Tuan Steve yang juga pernah menjadi adik kelasku, sudah jadi salah satu pasien dokter Dwi, benar kan Dok?, yang menikah dengan dokter Utari", Adrian berusaha menjelaskan.


Dokter Dwi nampak mengingat-ingat, " Oh... iya, si Bian pemilik restoran itu ya?, maaf maaf, karena saya sudah mendapatkan ribuan pasien sejak mulai menjadi dokter obgyn, karena itulah tidak bisa langsung tahu si A si B, jika harus mengingat seseorang butuh waktu".


Dari penjelasan Adrian, berarti Bian dan Utari menjadi pasien dokter Dwi, tapi kenapa justru Bian yang jadi pasiennya?, bukan Utari?, apa yang terjadi padanya?.


" Kenapa Bian jadi pasien dokter kandungan?, apa dia sakit?, lalu apa mereka sudah punya anak?, mereka menikah setengah tahun lebih awal dari kami berdua, ", ujar Yoga yang nampak tidak terlalu suka membahas tentang mereka, tapi harus bertanya karena merasa penasaran, Bian sakit apa.


" Belum, mereka belum beruntung seperti kalian, belum punya anak, sepertinya akan sedikit sulit".


Ucapan dokter Dwi membuat otakku memunculkan begitu banyak pertanyaan. Namun aku urungkan karena ada Yoga disini, jika aku banyak bertanyalah tentang keadaan Bian, aku khawatir Yoga akan salah sangka. Nanti dikira aku masih perduli pada Bian. Padahal aku cuma penasaran kenapa Bian jadi pasien Dokter Dwi.


Kami bertiga menggelengkan kepala, sehingga Yoga memanggil pelayan dan menyerahkan black card nya untuk membayar


semua tagihan makanan kami.


" Terimakasih untuk traktirannya hari ini Tuan Steve, padahal tidak perlu repot-repot kami bisa bayar sendiri", ujar Adrian.


" Tidak papa Dok, jangan terlalu perhitungan. Tadi saja secara tidak sengaja kami konsultasi secara gratis pada dokter berdua. Terimakasih banyak untuk pengetahuan yang sangat berguna bagi kami ini. Semoga saja bisa bertemu lagi dilain kesempatan".


Kami saling berjabat tangan dan berpisah, karena mereka berdua akan kembali ke rumah sakit terlebih dahulu. Sedangkan aku dan Yoga langsung pulang ke rumah.


" Apa pengen sesuatu lagi?", tanya Yoga saat berada di mobil bersamaku.


Ku gelengkan kepalaku, " Kita langsung pulang saja, kakiku pegel, aku capek", ucapku sambil menyandarkan kepala ke sandaran jok mobil. Setelah kenyang karena habis makan, aku jadi merasa ngantuk, apalagi AC mobil yang sangat sejuk, membuatku ingin memejamkan mata dan tidur sejenak.


Yoga yang melihatku menyandar dia membiarkan aku menyandarkan kepalaku untuk tidur di mobil.


Pak Surya membawa mobil dengan sangat pelan, perjalanan yang seharusnya 1 jam, bisa molor sampai satu setengah jam saking pelannya. Itu permintaan Yoga pada Pak Surya agar aku tidak terbangun gara-gara goncangan di dalam mobil.


Sampai di rumah aku terbangun dari tidurku, ku rasakan tidur di mobil tadi sangatlah berkualitas, karena akhir-akhir ini aku sudah mulai susah untuk tidur, perutku yang sudah sangat besar membuatku merasa tidak nyaman setiap kali mencari posisi terbaik saat hendak tidur. Miring kanan salah, miring kiri salah, terlentang salah, apalagi tengkurep nggak bisa.


Dan saat tidur di mobil tadi sambil duduk dan bersandar di bahu Yoga, aku merasa bisa tidur dengan pulas. Sudah cukup lama aku tidak merasa tidur senyaman tadi.


Kami turun dari mobil dan hendak masuk kedalam rumah, namun pak Roso si penjaga rumah kami, memanggil kami dan memberi tahukan jika di depan ada mobil pickup yang membawa banyak perabotan dan menanyakan alamat rumah ini.


Itu pasti mobil dari toko yang mengantarkan barang-barang belanjaan kami tadi.


" Suruh masuk saja Pak Roso, itu barang-barang yang baru saja kami beli tadi. Minta sama pengantarnya bawa masuk sekalian ke dalam rumah, tolong dibantu ya Pak, biar cepet selesai", ucap Yoga.


Kami kembali melanjutkan berjalan masuk ke dalam rumah.


Namun baru sampai ruang tamu, tiba-tiba perutku terasa keram, aku langsung duduk di kursi terdekat. Yoga yang melihatku meringis sambil mengelus perut langsung panik.


" Kamu kenapa Ra?, apa sudah mau melahirkan?, kita ke mobil lagi ya, biar aku antar kamu ke rumah sakit", ucap Yoga


Aku menempelkan jari telunjukku di depan bibir, memberi kode menyuruhnya diam.


" Aku belum mau melahirkan, tapi perutku keram, seperti tadi makannya terlalu banyak, atau karena sudah jalan-jalan lumayan lama. Sebentar lagi juga sembuh", ucapku mencoba menjelaskan.


" Kamu duduk saja, nanti pasti sembuh sendiri", ujarku sengaja merahasiakan jika memang ini adalah kontraksi, tapi kontraksi palsu.


Sudah sejak kemarin aku sesekali merasakan perutku kencang, dan hari ini mulai terasa kontraksinya. Mungkin benar kata dokter Dwi tadi, jika sebentar lagi aku akan melahirkan, hanya menunggu hitungan hari.


Tapi aku tidak mau Yoga panik, dia terlihat sangat panik saat tadi tahu jika perutku sakit. Justru kepanikannya akan membuat aku yang berusaha tenang jadi ikut-ikutan merasa panik.


" Kamu kesakitan begitu, mungkin saja kamu hendak melahirkan, makanya aku ajak ke rumah sakit",


" Aku kan sudah pernah melahirkan Shaka dulu, jadi sudah tahu seperti apa rasanya orang yang mau melahirkan, bukan seperti ini, beda", ucapku berbohong.


Ini masih kontraksi palsu dengan durasi sakit yang masih sebentar, dan jaraknya masih jaun, tunggu sampai kontraksi semakin lama dengan durasi lebih cepat, baru aku akan meminta Yoga mengantarkan aku ke rumah sakit.


Sebaiknya sekarang aku mempersiapkan keperluan persalinan, memasukkan semua barang yang mungkin akan di butuhkan saat persalinan nanti ke dalam tas .