Healing

Healing
74. Motivasi



" Tumben pagi-pagi kucel banget mukanya, kenapa Mba?, berangkat sendiri lagi?, apa Mas Bos nggak jemput lagi?", Hani yang sudah berada di dalam restoran menebak-nebak. Karena wajah kusut ku setelah melihat Yoga di depan.


" Bian ada di depan, lagi ngobrol sama teman-temannya. Kita mulai bersih-bersih saja yuk Han, sudah berangkat semua kan?, lagian sudah jam 8, lebih cepat beres, lebih baik", ucapku. Dan yang lain setuju untuk memulai bersih-bersih di pagi hari.


" Berangkat sama mas bos tapi kok mukanya di tekuk begitu, apa lagi marahan?, bentar lagi mau nikah malahan pake marahan segala, apa biar pas malam pertamanya lebih berkesan karena habis marahan?". Hani semakin sok tahu dan bicara ngasal.


" Kamu itu, jangan bicara ngasal, siapa yang marahan, orang aku dan Bian baik-baik saja, dan wajahku, apanya yang salah?, orang lagi seneng, di bilang wajahnya di tekuk. Kamu yang ngarang Han", protesku karena Hani terus saja nyerocos.


Hani hanya cengar-cengir namun tidak meminta maaf, karena dia merasa apa yang diucapkannya adalah apa yang dilihat.


Riko, Bian, dan Yoga masuk kedalam restoran saat aku dan yang lain selesai bersih-bersih. Mereka bertiga masuk ke dalam ruang meeting, tumben sekali Yoga ikut-ikutan masuk ke ruang meeting. Apa lagi yang direncanakannya kali ini. Rasanya ruang gerakku menjadi sangat sempit semenjak bertemu lagi dengannya.


Kenapa Bian musti kenal Yoga, dan kenapa mereka justru bersahabat, keadaan ini membuatku serba salah. Karena Yoga yang masih saja berusaha mendekatiku. Aku yang sudah terang-terangan menolak setiap ajakan Yoga, tapi seolah Yoga tidak pernah mau berhenti mendekatiku.


" Oke semuanya saja yang bekerja di sini, sekedar pemberitahuan, Jum'at depan adalah hari H acara pernikahan klien kita Tuan Steve, karena acara pesta dilaksanakan pagi, sekitar pukul 10. Maka semua karyawan akan berangkat di shift pagi. Makanan, minuman, dan juga desert, harus sudah siap jam 9 pagi. Karena itu hari Jum'at jadwal masuk untuk shift pagi kita ajukan, anggap saja lembur pagi, dan tentu saja akan mendapatkan uang lembur", terang Riko. " Sang pemilik acara juga ingin menyampaikan sesuatu pada kalian semua".


Riko memberi waktu pada Yoga untuk bicara secara langsung pada semua karyawan restoran tentang konsep yang di inginkannya. Yoga pun langsung memberitahukan semua hal yang di inginkannya secara mendetail.


Dan dilanjut kembali oleh Riko yang memimpin breefing.


" Untuk hari yang sama, bos kita juga akan melangsungkan pernikahan nya dengan Raya, karena itu nantinya yang akan mengawasi di hotel adalah aku. Usai dari hotel kita bisa langsung menuju kerumah Raya untuk menghadiri ijab qobul mereka yang akan dilaksanakan jam 2 siang. Bisa dimengerti semuanya?", imbuh Riko menjelaskan jadwal hari Jum'at yang sangat padat.


" Sedangkan untuk jadwal hari ini.......", Riko terus menerangkan apa yang harus kami kerjakan hari ini, ada beberapa booking ruang dan juga delivery order.


Aku tidak begitu memperhatikan karena mulai hari ini, aku sudah tidak diperbolehkan menjadi pengantar makanan, kerjaan ku hanya di restoran, membantu melayani tamu yang datang. Tentu saja semua itu perintah dari Bian, katanya demi keselamatan diriku mendekati hari pernikahan, harus di minimalisir bepergian membawa kendaraan sendiri.


Dan hari Rabu aku sudah mulai mengambil cuti, sampai hari minggu, hari Senin baru aku mulai berangkat kerja lagi, itupun jika Bian mengijinkan. Mungkin seterusnya aku hanya akan datang ke restoran dan membantu pekerjaan yang lain sebisaku. Seperti ucapan Bian beberapa hari yang lalu.


" Oke karena tidak ada pertanyaan berarti semuanya sudah jelas ya.... kalau begitu breefing pagi ini seperti itu saja. Semangat bekerja untuk kita semua". Riko mengakhiri breefing pagi ini, semua karyawan menuju tempat kerja masing-masing. Termasuk Riko dan Bian yang langsung menuju ke ruangan mereka. Begitu juga denganku yang berjalan bersama Hani ke depan, melayani jika ada pengunjung datang.


" Bro aku juga mau terus ke kantor ya, sudah siang, makasih sudah memberi waktu untukku bicara pagi ini". Aku mendengar Yoga berpamitan untuk langsung ke kantornya.


Namun saat melewati ku, Yoga sengaja berhenti dan berkata lirih, " Aku sengaja belum mandi agar aroma tubuhmu tetap melekat di tubuh ku, tapi sepertinya pagi ini kamu sengaja keramas untuk menghilangkan jejak percintaan kita semalam".


" Sekedar saranku, jangan sampai Bian membuka bajumu untuk seminggu kedepan, karena ada banyak sekali tanda cinta yang ku tinggalkan di sana", ucap Yoga sambil berlalu meninggalkan aku yang masih tetap diam dengan menahan emosiku yang sudah memuncak.


Apa itu tujuan Yoga pagi-pagi datang kemari, hanya untuk membuatku emosi. Untung saja Hani sedang berada cukup jauh dariku, sehingga dia tidak mendengar apa yang dikatakan Yoga padaku barusan.


Kalau sampai ada yang mendengar, bisa kacau balau semuanya.


_


_


Semua bekerja dengan baik hari ini, hari minggu seperti biasa tamu yang datang lumayan ramai, hingga semua terlihat sangat kelelahan saat pergantian shift di sore hari.


Aku pulang bersama Bian, dan untuk mengganti hari kemarin karena kami tidak berangkat dan pulang bersama, pulang kerja kami sengaja mengambil rute memutar, dan jalan jalan terlebih dahulu, Bian juga mampir membeli martabak manis untuk dibawa pulang ke rumah.


Saat sampai di depan rumah sudah jam setengah enam, sebentar lagi masuk waktu maghrib. Namun suasana di dalam rumahku nampak ramai. Aku penasaran ada tamu siapa di dalam.


Dan ketika aku masuk kedalam rumah, dua pemuda tampan memelukku bersamaan. Aku langsung terharu karena kejutan dari mereka berdua. Shaka dan Juna, mereka berdua sudah kembali ke rumah. Dan menyambut kedatanganku dengan pelukan.


" Kapan kalian sampai di rumah?", tanyaku menatap dua remaja yang kini sudah tumbuh tinggi dengan sangat cepat.


" Aku sampai jam 10 tadi pagi, Shaka baru sampai jam 2 tadi siang. Duluan aku sampainya kak", terang Juna sambil merenggangkan pelukannya.


" Lihat kak Raya bawa martabak, kita makan bareng yuk", Bian yang sejak tadi berdiri di belakangku mengangkat kantong berisi martabak manis yang dibelinya.


" Waah.. kak Raya lagi banyak duit ya?, kemarin pas ke perkemahan bawa 3 box martabak, sama nih kaya yang dibawa ini, atau jangan-jangan kemarin martabak dari kak Bian ya?", tebak Shaka.


Bian langsung menatap ke arahku, karena penjual martabak yang kami beli tadi, tempat jualannya lumayan jauh dari restoran, dan bukan berada di jalur pulang ke rumah, tapi justru menjauh dari rumah.


" Kamu bawa martabak buat Shaka kemarin?, beli di penjual yang sama dengan yang kita beli tadi?", Bian menatapku penuh tanya.


" Bukan kaya gini kok, aku beli di pinggir jalan yang mau ke perkemahan. Mungkin karena malam hari, jadi Shaka nggak jelas lihat box martabaknya".


" Sebaiknya sekarang aku buatin teh manis buat kalian semua, biar nanti buat teman makan martabak, mumpung masih anget, kan enak tuh makannya".


Aku sengaja ke belakang meninggalkan Bian, Shaka, dan Juna.


" Oh iya, mama dan papa kemana Ka?", tanyaku sambil berteriak dari dalam rumah, karena sejak tadi aku pulang, belum melihat mama maupun papa.


" Mama dan papa tadi pamit mau ke rumah pak Lik, mau ngabarin soal pernikahan kakak Jumat depan", seru Shaka dari ruang tamu.


Ternyata Mama dan papa sedang ke rumah Pak Lik, kalau begitu mungkin mama dan papa akan pulang sampai larut malam.


Aku keluar dengan 4 gelas teh manis hangat. Dan ternyata ketiga pemuda itu sedang mengobrol asyik di ruang tamu sambil menikmati martabak manis.


Sebenarnya aku sangat menyesal tadi, lagi-lagi aku berbohong karena Yoga, kenapa martabak saja pakai belinya di tempat yang sama, apa selera Yoga dan Bian itu selalu sama, bukan hanya tentang menyukai perempuan yang sama, tapi langganan martabak juga sukanya sama, belinya di tukang yang sama. Sungguh kesamaan yang merepotkan.


" Jadi kamu minta ijin kerja berapa hari Jun?, kamu pulang hari ini, apa nggak terlalu lama ambil cutinya?", tanyaku pada Juna. Karena Juna karyawan magang, aku khawatir jika ijin terlalu lama akan membuatnya mendapatkan masalah.


Juna menggelengkan kepalanya, " Aku bahkan tidak perlu ijin kak, karena kemarin aku baru saja selesai training, dan ini disuruh oleh pihak PT untuk menyiapkan berkas-berkas untuk kontrak kerja Senin depan, diberi waktu pulang kampung selama satu minggu. Dan pas banget bertepatan dengan waktu pernikahan kak Raya, jadi kebetulan banget kan?".


Ya, kebetulan yang sangat tepat waktunya. Juna jadi bisa menyaksikan pernikahanku dengan Bian dan tidak perlu repot-repot ijin ke tempat kerjanya.


" Apa betah kerja di perantauan?, kalau suatu hari nanti merasa sudah tidak betah bisa kerja disini saja bantu kakak di restoran, nggak harus bisa masak dan jadi chef, karena pekerjaan lain selain masak juga banyak di restoran".


Juna mengangguk mendengar penawaran Bian. " Mungkin saat ini aku sedang betah-betahnya kerja di perantauan kak, karena belum menemukan ketidak cocokan disana, aku menyukai pekerjaan ku sekarang", ucap Juna.


" Baguslah kalau begitu, mumpung masih muda, harus semangat bekerja ngumpulin modal, kalau sudah terkumpul bukalah usaha sendiri, agar tidak terus jadi suruhan orang lain", pesan Bian sebagai calon kakak ipar yang berusaha memotivasi adik iparnya agar tidak terus jadi karyawan, tapi harus berani mengambil langkah untuk membuka usaha dan menjadi bos seperti dirinya.


Aku setuju dengan pemikiran Bian, pemikiran seorang pengusaha muda yang memotivasi generasi muda lainnya.


" Kalau kamu Ka, apa kamu sudah punya cita-cita ingin berprofesi apa di masa depan?", kini Bian berganti pada Shaka.


Shaka nampak berpikir, mungkinkah dia berani bercita-cita, karena mungkin dia sama seperti Juna yang tidak berani bercita-cita, melihat keadaan ekonomi keluarga yang sangat pas-pasan, keinginan setelah lulus SMA hanyalah langsung ingin bekerja di perantauan karena gaji bekerja di kota besar jauh lebih besar dari pada di sini.


" Cita-cita Shaka... banyak banget yang tiba-tiba terlintas pas Kak Bian tadi tiba-tiba bertanya. Belum pasti sih yang benar-benar Shaka mau itu jadi apa, masih dipikirkan", jawaban Shaka membuat Bian dan Juna tersenyum, karena kepolosan Shaka yang belum bisa menentukan sebenarnya ingin jadi apa kelak.


Apapun yang Shaka pilih, selama itu profesi yang baik dan tidak merugikan orang lain, tentu sebagai ibunya aku akan mendukungnya.