Healing

Healing
20. Mencari Alasan



Setelah hampir dua jam aku dan Bian mengobrol bermacam-macam hal, dari menceritakan kenangan di masa lalu, membahas tentang hobi, dan sempat membicarakan tentang pekerjaan juga, akhirnya Bian pamit untuk pulang.


Bukan pulang ke rumahnya sendiri, melainkan pulang ke rumah orang tuanya di kota lain. Kata Bian perjalanan akan memakan waktu dua jam jika membawa motor sendiri, tentu saja dengan memilih jalan terobosan.


Aku mengetuk pintu kamar mama dan papa karena Bian hendak berpamitan, tadinya aku menyuruh Bian untuk pulang saja tanpa berpamitan, tapi Bian tetap bersikeras ingin berpamitan pada mama dan papa.


Malam ini malam pertamanya datang ke rumah dengan status pacarku, tentu saja Bian ingin meninggalkan kesan yang baik di mata kedua orang tuaku.


" Bapak..., ibu..., Bian permisi dulu, maaf kalau ganggu istirahat bapak dan ibu yang sedang kurang enak badan", ujar Bian.


" Besok biar Bian suruh teman Bian yang jadi dokter buat periksa keadaan ibu, biar lekas sembuh", ujar Bian sambil menatap mama yang memang terlihat seperti orang sakit. Padahal mama baik-baik saja, wajah mama itu sedikit pucat dan lesu karena ekspresi orang bangun tidur, jadi surem.


" Nggak usah Bi, mama sudah sehat kan ma?, lagian mama sudah minum obat dan sudah nggak pusing lagi", ujarku, menolak tawaran Bian untuk memeriksakan mama pada kawannya yang menjadi seorang dokter.


Wah... keren...pasti teman-teman Bian banyak yang menjadi orang sukses, seperti dirinya yang sudah punya restoran di usia muda dan masih bujangan. Apalagi Bian dulu tinggal bersama ayah dan ibunya di kota besar, di sekolahan favorit yang terkenal anak-anak yang pintar dan berduit. Sudah pasti banyak temannya yang menjadi orang sukses sekarang.


" Iya, betul kata Raya, mama sudah sehat, tadi sudah minum obat, dan sekarang sudah tida merasa pusing sama sekali, jadi nggak usah nyuruh teman kamu yang dokter itu buat kesini memeriksa keadaan mama", suara mama menyadarkan ku dari hayalan ku.


" Nak Bian sudah mau pulang ya, yang hati-hati di jalan ya, sudah malam, jangan ngebut, takut ada lobang di jalan nggak kelihatan karena gelap", ujar mama berpesan pada Bian.


Aku pun menjelaskan pada kedua orang tuaku jika Bian mau ke rumah orang tuanya.


" Bian mau pulang ke rumah orang tuanya Ma, bukan ke rumahnya sendiri, mau nginep di rumah orangtuanya katanya", terang ku.


" Loh, jauh dong kalau pulang ke rumah orang tuamu, bukannya mereka tinggal di kota X?", tanya papa yang sejak tadi hanya diam mendengarkan kami mengobrol.


Bian mengangguk, " Benar Pak, tapi saya harus kesana malam ini juga", jawab Bian begitu yakin, kulihat papa mengernyitkan keningnya.


" Bian ingin menceritakan tentang hubungan Bian dan Raya pada orang tua Bian, Bian pengin minta restu pada bapak dan ibu, juga pada ayah dan ibu Bian dirumah, Bian berencana untuk serius dengan Raya, jadi mohon restu dan doanya, semoga semua keniatan Bian bisa terwujud".


Aku langsung spitchles tak bisa berkata-kata dengan kepercayaan diri Bian, dan juga kebulatan tekad nya. Dia benar-benar serius padaku dan tanpa basa basi meminta restu pada orang tuaku.


Ku lihat mama dan papa saling berpandangan, lalu papa menatap Bian. " Nak Bian... kamu itu adalah pemuda yang baik, semoga apa yang kamu niatkan dimudahkan oleh Yang Maha Kuasa, dan diberi kelancaran", ucap Papa memberi dukungan. Itu berarti mama dan papa setuju aku berhubungan serius dengan Bian.


Tentu saja setuju, karena aku tahu papa dan mama sudah ingin sekali melihatku menikah dengan orang yang mencintai ku, dan ku cintai juga tentunya. Apalagi Bian pemuda yang sangat baik, mana ada orang tua yang akan menolak jika Bian mengatakan hal itu pada mereka. Laki-laki yang sopan dan juga baik hati.


" Terimakasih banyak atas doanya, Bian pasti akan segera mengajak ayah dan ibu Bian untuk datang ke mari bersilaturahmi, Bian pamit dulu assalamualaikum".


Kami semua serempak.menjawab salamnya.


Bian keluar dari rumah setelah sungkem, mencium punggung tangan papa dan mama. The real cowok sopan.


Sepeninggal Bian, mama duduk diruang tamu sambil menyomot martabak manis yang tadi dibawa Bian. Sudah dingin... karena sudah cukup lama di letakkan di piring. Tapi mama kelihatan sangat menikmati martabak itu, mungkin mama lapar karena sejak tadi belum makan malam, dan baru keluar juga dari kamar.


" Belum ma, mungkin sebentar lagi, mama istirahat lagi saja kalau masih ngantuk, nanti biar Raya yang kunci pintu jika Shaka sudah pulang", ucapku, namun justru mama menggeleng dan menatap ke luar rumah, memastikan Shaka belum pulang .


" Mama senang kamu sudah ada kemajuan dengan Bian, kalau nanti dia meminta padamu menikah secepatnya, setujui saja Ra, mama ingin kamu segera menikah dengan pemuda yang baik seperti Bian, mama nggak mau kamu terus sendiri, nanti ada orang yang ke geer an dikira kamu belum bisa move on darinya".


Aku sangat tahu orang yang mama maksud adalah Yoga. Mama ingin aku segera menikah agar Yoga tidak berpikir bahwa aku masih mencintainya, dan tidak bisa bersama dengan laki-laki lain.


Tentu saja aku paham dengan maksud ibu, tapi sebagai perempuan tentu saja aku harus jaim, menunggu Bian membawa orang tuanya kerumah, dan mengikuti keluarga mereka kapan mau mengadakan pernikahan kami.


Masa iya aku yang minta pada Bian untuk buru-buru di nikahi, akan sangat memalukan jika hal itu kulakukan.


Aku memang sudah pernah bertemu dengan ayah dan ibunya Bian, dulu, waktu masih SMP, dan sekarang belum pernah bertemu lagi. Tapi aku tahu kedua orang tua Bian sangat baik padaku. Mungkin karena mereka hanya mempunyai dua anak laki-laki, makanya saat aku pernah main kerumah Bian bersama teman-teman ku yang lain untuk belajar kelompok dulu, ibunya Bian begitu baik kepada kami yang perempuan.


Bahkan meminta jika ada tugas kelompok suruh dikerjakan di rumah Bian terus, karena Ibunya Bian sering kesepian, jika sang ayah yang dulu bekerja sebagai masinis sedang melakukan perjalanan.


Jika sekarang sih dari yang ku dengar dari Bian, ayahnya sudah di tempatkan di kantor, karena usianya yang tidak muda lagi, digantikan oleh karyawan baru yang masih muda dan sigap.


Namun ada untungnya, bekerja di kantor jadi bisa setiap hari pulang, tidak seperti dulu saat masih jadi masinis, hari-harinya dihabiskan di atas rel kereta api.


Dulu kudengar ibunya Bian bekerja menjadi guru TK, tapi karena sering berpindah rumah mengikuti sang suami dimana ditempatkan kerja, akhirnya ibunya Bian memilih menjadi ibu rumah tangga saja, agar bisa terus bersama-sama dengan sang suami.


Aku juga ingin seperti beliau, mengikuti sang suami kemanapun suami berada. Namun calon suamiku bekerja sebagai pemilik restoran tempatku kerja, jadi aku tidak harus kemana-mana, hanya perlu terus membantu sang calon suami hingga akhir.


" Mama tenang saja, Raya tahu maksud ucapan mama, sekarang yang Raya butuhkan adalah doa dari mama dan papa, agar nanti orang tua Bian setuju Bian melamar Raya secepatnya".


Papa dan mama langsung mengangguk, dan obrolan terjeda saat Shaka pulang ke rumah.


" Malam sekali Ka...., lihat sudah jam 10, meski besok nggak sekolah, tapi kamu harusnya pulang jangan terlalu larut, nggak baik anak remaja seusia mu bermain-main sampai larut malam", Papa langsung menceramahi Shaka saat Shaka masuk kedalam rumah.


" Iya, maaf Pa, tadi pas Shaka mau pulang Shaka lihat motor Mas Bian masih didepan, jadi Shaka keluar lagi sama teman-teman. Takut ganggu obrolan Kak Raya sama Mas Bian".


Shaka begitu pandai mencari alasan agar dirinya tidak disalahkan, dan justru membuat Bian menjadi alasan keterlambatan pulangnya, dasar anak cerdik, harusnya kamu jadi pengacara yang hebat kelak, pandai sekali mencari alasan.


Kalau tidak jadi pengacara... mungkin Shaka cocok bekerja sebagai juru bicara, dia pandai sekali ngomong.


" Dasar kamu, bisa-bisanya menjadikan mas Bian sebagai alasan kamu pulang telat. Mau pulang tinggal pulang saja, nggak perlu sok-sokan pakai alasan nggak enak ganggu obrolan kakak sama kak Bian, kamu itu pinter banget cari alasan", protes ku pada Shaka.


Shaka langsung tersenyum cengengesan saat aku protes dengan alasannya yang membawa-bawa aku dan Bian.


" Sudah sana tidur sudah malam, jangan lupa cuci tangan dan kaki, muka juga di basuh, biar tidur nyenyak, pasti kamu habis nongkrong di pinggir jalan yang berdebu kan, lihat wajah kamu cemong begitu", ucapku menyuruh Shaka tidur.


Ku lihat Shaka berjalan ke dalam untuk mencuci muka di kamar mandi. Aku tahu Shaka sengaja menuruti ucapan ku agar tidak lebih lama mendengarkan ceramah dari mama dan papa.