Healing

Healing
114. Orang Spesial



Hari ini seharusnya Yoga dan Haidar pulang, karena harus langsung masuk ke kantor, masih banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan.


Namun karena keadaanku yang belum sembuh benar, Yoga menyuruh Haidar untuk pulang terlebih dahulu dan menghandle pekerjaan yang harusnya diselesaikan secepatnya.


" Kamu balik naik kereta saja biar cepet sampai, mobil tinggalkan disini biar aku bisa pergi-pergi dengan mudah jika ada kendaraan disini".


Haidar menuruti perintah Yoga, memang belum lama Haidar menjadi asisten pribadi Yoga, tepatnya sebulan setelah gagalnya pernikahan Yoga dan Utari, Haidar baru bergabung dengan perusahaan Yoga dan menjadi asisten pribadinya.


Aku bersyukur karena yang mendampingi Yoga selama dia butuh seseorang disampingnya adalah sahabatnya sendiri, sehingga Yoga mampu untuk lekas bangkit setelah kepergian ibunya.


30 menit setelah kepergian Haidar, Yoga mengajakku pergi ke rumah sakit, kali ini Yoga memaksaku untuk menuruti keinginan nya. Meski lagi-lagi aku menolak, karena tidak mau merepotkan Yoga.


" Semua ini demi kesehatanmu, aku sudah mencari informasi dokter kulit terbaik di kota ini. Dan hari ini dokter itu buka praktek, bukan di rumah sakit, tapi di klinik pribadinya, dokternya perempuan, jadi kamu nggak perlu malu".


" Aku mau luka bakar kamu sembuh total tanpa meninggalkan bekas, semalam saat aku lihat, kulit kamu melepuh dan mulai menghitam, aku akan minta obat dan salep yang bisa membuat luka kamu sembuh total Ra".


Dan setelah menempuh empat puluh menit berkendara, kami sampai di klinik dokter kulit yang Yoga katakan. Klinik itu cukup besar, bangunannya seperti rumah biasa, tapi taman yang mengelilingi klinik itu cukup luas. Pemandangan taman yang hijau dan asri membuat klinik itu terasa sejuk dipandang.


Saat sampai aku dan Yoga langsung dipersilahkan masuk ke dalam ruangan periksa, karena ada orang suruhan Yoga yang mengambilkan antrian untuk kami, jadi saat sampai kebetulan waktunya pas nomerku dipanggil.


Dokter wanita yang sudah paruh baya itu memeriksa luka bakarku, kemudian mengangguk angguk, memberiku tiga kali suntikan, di lengan, paha dan juga sekitaran pinggang. Lalu aku diberi resep untuk di tebus di apotek yang ada di klinik itu juga, ternyata aku diberi 3 botol obat dan juga diberi salep berwarna putih. Dan yang paling mencengangkan, saat aku melihat nota pembayaran di apotek, tertulis yang harus di bayar sebesar 3 juta rupiah.


Hanya karena tersiram air panas Yoga membuang percuma uang sebesar 3 juta hanya untuk mengobati lukaku. Aku paham uang sejumlah itu tidak terlalu banyak untuknya, tapi bagiku pribadi jumlah itu cukup banyak karena itu laba ku berjualan selama sepuluh hari.


" Mahal banget berobat di dokter spesialis kulit, padahal aku beli salep yang ku oleskan semalam di pasar cuma 15 ribu", gerutu ku saat kami berada di dalam mobil untuk pulang.


" Kamu ini, masih saja perhitungan, semua ini untuk kesehatanmu Ra, jangankan tiga juta, kalau aku harus mengeluarkan puluhan, bahkan ratusan juta aku tidak masalah, yang paling penting kamu sehat".


" Kita tinggal berjauhan, dan aku ingin memastikan kamu benar-benar sembuh sebelum aku kembali ke rumah. Agar aku merasa tenang meninggalkan kamu sendiri disini".


Lagi-lagi Yoga membuat aku merasa menjadi orang yang sangat penting untuk nya. Sepanjang perjalanan menuju kontrakan Yoga menggenggam tanganku menggunakan tangan kirinya, namun baru sampai perempatan, Yoga membelokkan setir ke kiri, dia mengajakku ke hotel yang aku tunjukkan padanya semalam, hotel yang berada di samping rumah sakit.


Aku mulai berpikir negatif tentangnya, apa dia mau mengajakku tidur di hotel ?, jangan-jangan dia dengan suka rela membawaku ke dokter kulit agar aku lekas sembuh dan dia bisa dengan leluasa menuntut haknya untuk memberiku nafkah batin.


" Kenapa kita kesini?, pasti karena semalam kamu nggak bisa tidur dengan nyaman ya di kontrakan ku?, kalau mau istirahat di hotel, aku bisa pulang sendiri naik ojek, sudah tidak terlalu jauh jarak dari sini ke kontrakan", ucapku saat mobil berhenti di parkiran hotel.


Aku hendak keluar dari mobil, namun Yoga menahan ku.


" Tidak menyewa kamar, aku hanya akan mengajakmu makan di restoran yang ada di lantai 2, aku dengar rasa masakannya enak. Kamu kan lagi nggak masak, jadi kita makan di restoran sini, kamu kan juga harus minum obat, jadi makan dulu".


Yoga membukakan pintu mobil dan mengajakku masuk ke dalam lift menuju lantai 2. Kami makan bersama di restoran itu.


Aku sempat memperhatikan Yoga memberi isyarat pada seseorang, kemudian orang itu mengangguk dan membawa keluar sebuah tart berbentuk kotak, berwarna putih dengan hiasan bunga mawar merah di atasnya. Rasanya tart itu tidak asing bagiku.


Hari apa ini?, aku tidak sedang berulang tahun, ini juga bukan ulang tahun pernikahan kami, karena kami baru menikah beberapa bulan yang lalu. Tapi kenapa Yoga membuat kejutan?.


" Apa kamu bingung ini hari apa?", Yoga sepertinya bisa membaca ekspresi wajah ku yang nampak bingung.


" Hari ini seperti mimpi, salah satu dari mimpiku yang terkabul. Bisa merayakan ulang tahunku berdua bersama kamu lagi seperti dulu".


Seketika aku langsung teringat momen 13 tahun silam, saat aku dan Yoga merayakan ulang tahunnya yang ke 14. Meski tak ada hidangan mewah seperti saat ini, tapi aku ingat, aku memberinya kejutan dengan membuatkan kue tart pertama yang aku buat khusus untuknya.


Pertama kalinya aku memegang mixer dan oven, dengan bekal nekad dan video tutorial membuat tart yang ku lihat di YouTube. Dan ternyata kue tart pertama berhasil di buat meski dengan dekorasi sangat sederhana.


Sama seperti tart yang ada di hadapan kami saat ini, kue tart dengan butter cream putih dan bunga mawar merah diatasnya. Hanya saja yang ada di hadapan kami saat ini sangat rapi dan cantik, tidak seperti buatanku dulu yang masih amatir.


Aku ingat betapa bahagianya kami berdua saat itu, sebelum ada masalah pelik yang datang menghampiri kami.


" Maaf, aku lupa hari ini tanggal berapa", ucapku meminta maaf. Sebenarnya sampai sekarang aku masih ingat tanggal lahir Yoga, sejak dulu aku sangat sulit melupakan tanggal lahir nya, selalu saja teringat jika 9 September adalah tanggal lahirnya. Tiap kali melewati tanggal itu, aku mengingat Yoga, hanya saja hari ini, justru saat bersamanya, aku jadi lupa tanggal berapa sekarang, apalagi setelah insiden air panas semalam, pikiranku jadi kurang fokus.


" Selamat ulang tahun Ga, semoga apa yang kamu pinta dalam setiap doamu akan segera di kabulkan oleh Yang Maha Kuasa", ucapku tulus.


Yoga nampak tersenyum lebar, sorot matanya memancarkan kebahagiaan yang sebenarnya.


" Maaf karena aku tidak membawa hadiah ataupun sebuah kado untukmu".


Yoga mengangguk, " bolehkah aku meminta sesuatu sebagai hadiah darimu?".


Aku diam tak menjawab, aku khawatir keinginan Yoga tak bisa aku penuhi, apalagi jika dia meminta kami untuk tinggal bersama, aku belum siap untuk hal itu.


Nampak Yoga terkekeh sendiri karena aku yang bungkam dan tak memberi jawaban.


" Potongan kue pertama untuk orang yang paling spesial dalam hidupku. Makanlah kue ini, jika tidak habis bisa kita bawa pulang untuk Juna dan tetangga kontrakan mu yang sok care itu".


Yoga memberikan potongan kue pertama untukku, tanpa menyanyikan lagu selamat ulang tahun, dan tanpa ritual meniup lilin, hanya memesan kue, memotong, dan memakan bersama-sama. Memang akan terasa memalukan jika kami berdua bernyanyi di restoran hotel yang tengah rame dengan pengunjung.


Ku terima suapan kue tart dari tangan Yoga, sama seperti dulu, bedanya dulu aku yang lebih dulu menyuapi Yoga, baru yoga menyuapi aku potongan kue tart itu. Namun sekarang, aku belum bisa menyuapinya lagi, ego ku melarang ku melakukannya.


Sepertinya suasana hati Yoga jadi berubah karena aku tidak melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan olehnya, menyuapi kue tart. Aku justru mengambil piringku dan mulai makan siang, menikmati masakan restoran yang harganya mahal, tapi masih tetap enak masakanku menurutku.


Sampai di kontrakan, Yoga sudah tidak se semangat tadi waktu berangkat. Aku langsung ke dapur menaruh makanan yang sengaja kami bungkus karena masih sisa banyak, termasuk kue tart yang baru dipotong secuil untukku.


Ku minum obat dari dokter kulit tadi, agar lukaku segera sembuh dan Yoga segera pulang, tak terlalu lama menetap disini. Rasanya begitu canggung terus bersama-sama dengannya.


Aku yang membencinya, kini menjadi istrinya, dan harus bersikap baik padanya, membuatku merasa aku seperti sedang pura-pura bersikap baik, hanya karena dia menjadi suamiku, dan aku mengingat pesan papa, sebenci apapun aku padanya, aku harus tetap menghormatinya.


Saat Yoga keluar dan duduk di bangku yang ada di warung, aku sengaja masuk kamar dan mengoleskan salep yang harganya sangat mahal itu. Semoga saja benar tidak akan ada bekas luka bakar di perut dan pahaku.


Ku kira Yoga akan lama duduk di depan karena tadi ku lihat dia memeriksa ponselnya dengan wajah serius, namun ternyata belum selesai aku mengoleskan salep, Yoga masuk kedalam kamar. Aku lupa tak mengunci pintu nya. Aku kaget, begitu juga dengan Yoga. Kami sama-sama kaget, langsung ku tutupi kembali tubuhku yang tadi tengah ku olesi dengan salep, namun Yoga mendekat dan membukanya lagi.


Meski awalnya aku kaget, tapi ku biarkan Yoga meneruskan mengoleskan salep ke luka bakarku. Sentuhan tangan Yoga yang sangat lembut dan perlahan, membuat bulu kuduk ku berdiri, dan glenyeran aneh mulai aku rasakan.


Tangan Yoga mulai berpindah ke pahaku, untuk mengoleskan salep di lukaku, namun saat salep sudah dioles merata, tangannya mulai mendarat di bagian lain yang membuat tubuhku seketika memanas, mungkinkah Yoga akan menuntut haknya saat ini?.