Healing

Healing
145. Berbanding Terbalik



" Dok apa hari ini saya sudah boleh pulang?, saya rasa keadaan saya sudah baik-baik saja, tidak pusing atau lemes seperti kemarin", ucapku, menanyakan kepada dokter yang sedang visit pagi ini untuk mengecek keadaanku.


" Melihat keadaan Anda sekarang, tentu saja ibu Raya sudah boleh pulang hari ini. Kemarin sepertinya Anda pingsan karena shock mendengar kabar jika putra Anda sedang dirawat disini, setelah mengalami kecelakaan, karena itulah mulai sekarang anda harus menjaga kondisi kesehatan anda, terutama jantung anda yang lemah".


" Makan sayur dan buah yang banyak, perbanyak minum air putih, dan olahraga yang teratur, bisa menstabilkan jantung anda yang lemah".


" Olah raga tidak perlu yang berat-berat, cukup joging di pagi hari, atau senam dengan gerakan simpel saja sudah cukup", terang Pak Dokter.


Aku tidak menyangka akan mendengar hal ini dari sang dokter, dia mengatakan jika jantungku lemah, padahal sejak dulu aku baik-baik saja, mungkinkah gara-gara menikah dengan Yoga, sehingga aku tidak pernah lagi diperbolehkan melakukan pekerjaan rumah, membuat hari-hari ku kurang gerak, dan berpengaruh pada kesehatan jantungku.


Nanti setelah di rumah aku harus banyak bergerak seperti dulu lagi, supaya aku tetap sehat. Dan jika Yoga terus melarangku melakukan ini dan itu, aku tidak akan menurutinya lagi, aku harus sehat, karena aku ingin menyaksikan putra putriku tumbuh dewasa dan menjadi orang sukses.


Hari ini Yoga memang tidak pergi ke kantor, dia mengatakan ingin menjagaku di rumah sakit, tapi sekarang saat dokter visit, aku sedang sendiri, karena Yoga ikut bersama Shaka menjenguk teman Shaka yang bernama Anas.


Setelah dokter keluar dari kamarku, aku meminta pada perawat yang menjagaku untuk melepas infus yang menancap di tanganku. Rasanya ribet dengan keberadaan kabel infus itu, jadi membatasi ruang gerak ku.


Karena dokter sudah memperbolehkan aku pulang dan aku sudah sehat, aku ingin segera berkemas dan pulang ke rumah. Aku keluar dari ruang dimana aku di rawat, dan menuju ke kamar dimana Anas di rawat, tadi aku sempat mendengar percakapan Yoga dan Shaka, jika Anas di rawat di ruang Dahlia 8.


Perawat yang menjagaku sempat melarang, karena dia takut dimarahi Yoga. Sebab sebelum Yoga dan Shaka pergi, Yoga mewanti-wanti pada perawat itu, untuk menjagaku.


Namun aku tetap kekeh pergi ke kamar Anas, dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja, dan menjamin jika perawat itu tidak akan kena marah oleh Yoga. Baru perawat itu membiarkan aku pergi.


Segera aku berjalan ke kamar tempat Anas di rawat, dan mendapati ruangan itu sangat ramai karena satu ruangan di gunakan untuk 4 pasien.


Yoga nampak berdiri di dekat pintu dan terlihat seperti enggan untuk masuk kedalam, seperti seorang satpam yang menjaga pintu kamar itu.


" Ngapain berdiri di situ?, apa udahan njenguk Anas nya?", tanya ku sambil tersenyum smirk pada Yoga.


Yoga nampak kaget karena aku menyusulnya kesini, begitu juga dengan Shaka yang langsung mendekat ke arahku.


" Kamu ini lagi di rawat malah keluyuran ke sini, banyak sekali kuman dan bakteri, sebaiknya kamu segera kembali ke kamar, ini bagaimana ceritanya kok perawat yang aku titipin kamu ngebiarin pasien keluyuran di rumah sakit".


Yoga hendak menarik tanganku keluar dan kembali ke kamarku, namun aku tarik tanganku hingga terlepas.


" Aku juga mau jenguk Anas, lagian tadi dokter sudah mengijinkan aku untuk pulang, aku sudah benar-benar sehat, nanti tinggal berkemas, habis ini kita bisa pulang", ujarku sambil berjalan mendekati Anas.


Yoga tak berani mendekat lebih ke dalam karena yang di sebelah Anas ada pasien lain yang dari tadi terus batuk-batuk, juga ada korban kecelakaan, namun dengan luka yang cukup serius, dan satu lagi, pasien yang terus muntah-muntah karena sakit lambung. Yoga tidak tahan berada di dalam ruangan dengan banyak orang yang sakit, dia memang selalu protektif pada kesehatannya.


Aku melihat keadaan Anas, tidak terlalu buruk, di bagian wajahnya hanya ada goresan dan lecet-lecet sedikit, tidak seperti yang ada di bayanganku kemarin. Hanya saja tangan kirinya di perban , katanya ada dua jari yang retak. Pasti karena tangan kirinya digunakan sebagai tumpuan saat jatuh, makanya wajahnya selamat, tapi tangannya yang retak.


" Siang Tante, apa Tante benar-benar sudah sehat?", Anas mengulurkan tangan kanannya menyalamiku. Bisa kulihat ada luka dan goresan juga di siku tangan kanannya.


" Iya, Tante sudah sehat, kamu juga semoga cepat sehat ya... Oh iya, teman-teman yang jagain kamu kemana?, kata Adel semalam, temanmu bergiliran buat jaga?, apa mau Tante sewakan perawat khusus?", tanyaku sambil menarik tangan kananku, stelah bersalaman dengan Anas.


Anas menggelengkan kepalanya. " Semuanya sudah saya suruh pulang semalam Tante. Karena saya tidak mau merepotkan yang lain. Masih ada untungnya yang di gips tangan kiri, jadi saya masih bisa melakukan apa-apa sendiri".


Bisa kulihat raut kesedihan di wajah Anas, dia pasti merasa sendiri, seorang yatim yang ibunya bekerja di Arab Saudi. Apa dia juga tida punya sanak saudara disini?, aku jadi penasaran dengan kehidupannya.


" Kalau begitu biar nanti Tante minta satu perawat khusus untuk jagain kamu disini. Harusnya sih Shaka yang Tante suruh jagain kamu, tapi kamu tahu sendiri, Shaka juga butuh istirahat, karena dia juga terluka".


" Tapi saya benar-benar tidak butuh perawat untuk menjaga saya disini, Tante tidak usah menyewa perawat. Sepertinya besok juga sudah diperbolehkan pulang. Saya tidak mau terlalu lama bolos sekolah, khawatir ketinggalan pelajaran".


Aku lumayan kagum, jaman sekarang masih ada anak yang berpikir seperti Anas, mungkin karena dia hidup sendiri di kos-kosan, ibunya banting tulang di luar negeri untuk mencukupi kebutuhannya dan membiayai sekolahnya. Makanya dia serius sekolah, karena ingin menjadi orang sukses di kemudian hari.


Memang untuk kalangan menengah biaya sekolah di SMA tempat Shaka sekolah bisa dibilang cukup mahal, karena itulah sekolah itu di juluki sekolah khusus orang-orang elite, karena biaya yang mahal, tapi menurutku sebanding dengan fasilitas dan pembelajaran yang diberikan.


" Baiklah kalau begitu, Tante, Om, dan Shaka pamit dulu, kalau butuh bantuan, hubungi saja nomor Shaka", pamitku pada Shaka, karena dokter bersama rombongan perawat masuk ke kamar itu. Membuat suasana kamar semakin panas dan sempit. Aku memilih untuk keluar, mengajak Shaka dan Yoga, sekalian pamitan.


Aku tidak ingin memaksa untuk membantu Anas, aku tahu dan paham bagaimana perasaan jika berada di posisinya. Karena dulu aku pernah hidup susah, dan meski dalam posisi susah, kami tidak ingin merepotkan orang lain.


Aku, Yoga, dan Sahaka pun berniat untuk pulang ke rumah, namun saat sampai di parkiran kami berpapasan dengan Adel yang datang bersama ayahnya.


Adel lebih dulu menyapa kami, dan memperkenalkan ayahnya pada kami. Melihat aku dan Yoga yang masih sangat muda dan mempunyai putra seumuran dengan anaknya, pengacara senior yang bernama Adam itu sempat mengernyitkan keningnya menatap kami.


" Apa Tante Raya sudah sehat dan diperbolehkan pulang?", Adel bertanya seolah kami berdua sudah kenal dekat. Padahal ini pertemuan kami yang kedua setelah perkenalan semalam.


Pak Adam dan Yoga sempat mengobrol sebentar dan saling bertukar kartu nama. Seolah momen itu menjadi sebuah kebetulan yang membawa keberuntungan bagi Yoga.


Kesulitan pekerjaannya untuk mengurus pembebasan tanah di daerah yang hendak di bangun hotel oleh Yoga, berhasil di selesaikan oleh Pak Adam dalam waktu tiga bulan.


Memang sejak pertemuan tak disengaja di tempat parkir rumah sakit, Yoga sempat bertemu dengan Pak Adam beberapa kali, menceritakan permasalahan di perusahaannya, dan meminta bantuan pada pak Adam sebagai seorang pengacara untuk mengurusnya.


Dan saat ini hotel sudah mulai di bangun. Memang setelah urusan pembebasan tanah beres, Yoga tidak menunda-nunda pekerjaan, Yoga langsung fokus pada pembangunan hotel.


Sebagai ucapan terimakasih atas keberhasilan Pak Adam, Yoga mengundang Pak Adam dan keluarganya ke kediaman kami.


Ini adalah kali pertama Yoga mengundang keluarga dari partner bisnis ke rumah. Mungkin karena Yoga dan Adel adalah teman sekolah, bahkan teman sekelas, sehingga Yoga sengaja mengundang Pak Adam beserta anak istrinya.


Karena pada dasarnya Shaka dan Adel sudah saling kenal, Yoga dan Pak Adam juga sudah lumayan dekat semenjak memutuskan untuk bekerja sama. Dan saat mereka berkunjung ke rumah kami, ternyata Bu Elin (ibunya Adel ), adalah ibu-ibu yang ternyata humoris.


Bahkan beliau sampai menceritakan tentang asal usul nama Adel, putrinya.


" Jeng Raya, Adel itu sebenarnya singkatan dari Adam dan Elin, kami berdua memutuskan untuk menggabungkan nama depan kami untuk dijadikan nama panggilan anak kami".


" Soalnya kami berdua menikah sama-sama sudah berumur. Usia kami mendekati 30 tahun waktu itu, jadi saat kami dikaruniai keturunan, kami merasa sangat bersyukur. Adel seperti anugerah terindah dari Tuhan. Dia lahir setelah 5 tahun kami mengikuti program hamil".


Ternyata Adel adalah anak yang sangat di nantikan kehadirannya oleh kedua orang tuanya. Berbanding terbalik dengan putraku Shaka yang keberadaannya tidak diharapkan. Bahkan kakek dan nenek dari pihak ayahnya dulu ingin sekali melenyapkannya.


" Kalau jeng Raya, sekarang berapa usianya?, kelihatan masih sangat muda, bahkan saat masuk dan melihat jeng Raya tadi, saya kira jeng Raya itu Kakak perempuannya Shaka. Tapi ternyata ibunya", tanya Bu Elin dengan tertawa sambil menutup mulutnya.


Aku sadar suatu saat pasti yang melihatku dan Shaka akan menanyakan hal semacam ini. Berapa usiaku, apa perawatan yang aku lakukan. Karena aku lebih mirip kakak perempuan Shaka, ketimbang menjadi ibunya.


" Saya sudah tua Bu Elin, malu ngomongin umur", jawabku sekenanya, setidaknya aku tidak perlu berbohong dan mengarang cerita tentang berapa usiaku sekarang.


Dan agar tidak terus bertanya tentang umur, aku memilih untuk mengajak Bu Elin dan keluarganya untuk makan siang bersama.