Healing

Healing
106. Keputusan Raya



" Nggak bisa begitu dong Ga, itu juga baru dua syarat yang aku katakan, masih ada yang ke tiga dan ke empat. Dan aku mau kamu menyetujui semuanya, baru aku mau menikah sama kamu".


" Jadi kamu dengarkan syarat yang ke tiga dan ke empatnya dulu, aku belum selesai ngomong, kamu sudah menolak mentah-mentah syarat yang ku ajukan", ucapku merasa kesal dengan sikap Yoga.


Yoga malah naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di ranjang pasien miliknya yang sangat empuk, dia sengaja memiringkan tubuhnya membelakangiku karena tangan kirinya yang diperban, membuatku harus berputar ke samping kanan ranjang agar bisa melihat wajah Yoga.


" Aku capek, kamu tega banget sih Ra, aku kan lagi sakit dan tanganku diperban, dari tadi habis maghrib sampai sekarang duduk terus nungguin kamu nggak balik-balik untuk memberikan jawaban".


" Sepertinya tangan kiri ku mulai terasa kram, bagaimana sih ini rumah sakit, kata dokternya sudah di lakukan perawatan terbaik, sudah diobatin kok tetep terasa sakit", Yoga justru menggerutu dan menyalahkan penanganan dokter dari rumah sakit.


Padahal memang seperti itulah kalau orang kecelakaan. Badan baru terasa sakit jika sudah beberapa jam usai kecelakaan terjadi.


" Pokoknya aku cuma akan menerima satu saja syarat darimu Ra... Kalau kamu mau aku setuju dengan syarat kedua yaitu memberi kamu ijin balik ke kota, dan melanjutkan hidupmu sebagai pemilik warung disana, aku bisa saja menyetujui syarat kedua. Tapi itu berarti secara otomatis syarat pertama sudah tidak berlaku. Dengan kata lain tidak masalah jika terjadi kontak fisik antara kita berdua".


" Bukankah itu lebih fair?, aku yang menjadi korban dan terluka lumayan parah hanya meminta satu syarat sama kamu, kenapa kamu yang dari keluarga pihak yang bersalah begitu banyak mengajukan syarat?".


Yoga masih saja protes karena syarat yang ku ajukan terlalu banyak katanya.


Memang benar dia hanya mengajukan satu syarat, tapi syarat yang dia ajukan itu bisa merubah masa depan seseorang, satu syarat yang dampaknya cukup besar untuk seterusnya.


Aku memilih keluar dan duduk di depan kamar Yoga bersama Haidar.


" Kamu masuk kedalam saja sana, siapa tahu Yoga butuh bantuan", ku suruh Haidar masuk, karena sejak tadi aku dan Haidar duduk bersebelahan tapi tak ada satupun yang bicara. Kami sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.


Haidar menurut saja dengan yang ku katakan, dia langsung masuk ke dalam kamar Yoga.


Sendirian membuat ku jadi bisa berpikir jernih, aku paham betul sifat Yoga itu keras kepala, dan semaunya sendiri, tapi setelah ku coba pikirkan lagi, jika aku pakai syarat pertama, berarti aku harus tinggal disini bersamanya sebagi sepasang suami istri, itu tidak mungkin. Aku belum siap untuk tinggal bersamanya.


Nanti pasti Yoga akan memanfaatkan keadaannya yang sakit untuk menyuruhku melakukan ini dan itu segala macam sekehendak hatinya. Enak saja....


Jadi mending yang ku pilih syarat ku yang kedua saja, kami menikah, dan aku diijinkan pergi ke kota. Yoga tinggal disini dan aku tinggal disana, aku kan jadi tidak perlu tinggal bersamanya, dan tidak perlu melakukan apapun yang dia suruh. Tinggal sendiri-sendiri dan tidak perlu ada yang dikhawatirkan lagi. Dia sibuk dengan kehidupannya dan aku sibuk dengan kehidupanku.


Baiklah kalau begitu, ternyata lumayan pintar juga aku ini. Akan ku sampaikan pada Yoga keputusanku saat ini juga, lebih cepat akan jadi lebih baik.


Ku ketuk pintu kamar Yoga dan masuk ke dalamnya. Haidar nampak sudah tidur di ranjang satunya.


" Mau ngapain malam-malam kesini?, sudah jam 10, apa mau nemenin aku tidur?, kalau iya, sini naik, aku bisa geser sedikit buat kasih tempat kamu tidur, muat kok, kalau tidurnya deketan, apalagi kalau pelukan, pasti muat banget, hehehe".


Bisa-bisanya Yoga terkekeh disaat kondisinya seperti itu. Tadi ngatain aku tega membiarkan dia duduk terlalu lama sampai tangannya terasa kram. Ditinggal sebentar sudah bisa bercanda lagi. Aku pun memilih untuk tetap berdiri.


" Nggak kok Ga, nanti aku tidur di ruang papa saja. Cuma mau bilang, oke kita menikah, kamu bilang lebih cepat lebih baik. Gimana kalau besok?. Kamu bisa kan nyuruh orang-orang kepercayaan kamu untuk mengurus pernikahan kita secepatnya?".


Yoga langsung bangun dari tidurannya dengan mata berbinar. " Kamu serius kan Ra?, nggak bakal kabur?", tanya Yoga.


" Ya enggak lah, emangnya kamu yang kabur waktu mau nikah. Makanya urus semuanya malam ini juga, besok kita nikah, dan batalkan tuntutan terhadap papaku. Jangan lupa bayar biaya pengobatan dan perawatan kamu sendiri!", ucapku ketus.


" Oh iya, satu lagi, syarat yang tadi aku katakan sudah tidak berlaku, kamu bilang cuma boleh satu syarat kan?, jadi aku sudah milih mana yang paling penting. Yaitu syarat ke dua. Aku mau kamu ijinin aku pergi ke kota lagi setelah pernikahan kita besok, sudah, cuma itu syaratnya aku mau hidup disana lagi karena banyak yang membutuhkan bantuan ku disana".


" Kamu boleh tidur kalau urusan untuk pernikahan besok sudah beres".


Bisa kulihat Yoga menyeringai lebar, entah apa yang membuatnya begitu bahagia, mungkin karena akhirnya kami akan menikah.


Bian mengangguk dengan cepat, " semuanya pasti beres malam ini, besok pagi penghulu sudah tiba disini sebelum kantor KUA buka, kamu maunya jam berapa?, biar menyesuaikan keinginan kamu", ucap Yoga.


" Nggak begitu juga kali.... jangan terlalu pagi, sekitar jam 10 saja, nunggu dokter visit, habis itu baru kita menikah", ucapku sambil pergi keluar dari kamar Yoga.


Sungguh pernikahan yang aneh kan?, sangat mendadak dan tidak ada acara lamaran, ini seperti sebuah pernikahan bohongan. Padahal yang sebelumnya saat aku hendak menikah dengan Bian, pacaran 3 bulan, lamaran dan hanya menunggu beberapa minggu rencananya menikah saja sudah terkesan sangat cepat.


Yang ini bahkan lebih cepat lagi. Tak ada acara lamaran, tancap gas langsung menikah, hanya dalam waktu semalam. Ini sih kalau bukan orang yang berkuasa dan punya banyak uang nggak bakalan jadi, kecuali cuma nikah siri.


Aku masuk ke ruangan papa. Ternyata mama sudah tidur sambil duduk di kursi plastik dan menyenderkan kepalanya di ranjang papa. Tapi justru papa yang sakit belum tidur, padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Aku sengaja berdiri tepat di samping kiri ranjang papa, di karena sebelah kanan ada mama yang tidur pulas.


" Kenapa papa belum tidur?", tanyaku sambil berbisik, karena khawatir mengganggu pasien yang lain.


" Papa nggak usah khawatir lagi, tadi Raya sudah menyetujui syarat yang Yoga ajukan, jadi papa nggak akan di tuntut , dan semua biaya pengobatan juga Yoga akan menanggung sendiri".


" Kami akan segera menikah, besok jam 10 pagi, semua Yoga yang akan urus, kita tinggal terima beres Pa", ucapku masih dengan suara yang lirih.


Namun justru papa tiba-tiba menangis terisak sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Papa yang berusaha menahan tangis justru membuat tubuhnya sesenggukan.


" Maafkan papa Nak...., papa sudah membuatku terpaksa harus menikah dengan laki-laki yang sangat kau benci, laki-laki yang sudah merusak hidupmu. Maaf karena keteledoran papa, kamu jadi harus berkorban".


Mama terbangun karena isak papa mengakibatkan goncangan di ranjang. " Loh, papa kenapa?", mama yang baru bangun tanpa mengetahui pembicaraan kami tadi merasa panik karena melihat papa menangis sampai sesenggukan.


Aku menggelengkan kepalaku, dan memeluk papa agar merasa lebih tenang.


" Nggak begitu kok Pa, papa jangan berpikir seperti itu. Papa dengarkan dulu Raya mau bicara, jangan salah paham".


Papa berusaha menghentikan tangisnya, dan mama menatapku dengan seksama.


" Aku setuju untuk menikah dengan Yoga kerena tadi aku sempat menelepon Juna, dan minta pendapat darinya, Juna bilang kalau dalam hatiku masih ada sedikit rasa cinta pada Yoga, maka aku harus menyetujui pernikahan ini, karena sedikit sisa cinta itu bisa kembali menjadi rasa cinta yang besar jika terus di pupuk oleh Yoga".


" Papa tahu kan kalau Yoga masih sangat mencintaiku, kata orang yang duduk di depan kamar ini tadi siang, Yoga itu sangat mencintaiku Pa..., karena mana ada pria tampan dan kaya raya mau melamar dan menikah dengan anak dari orang miskin kalau bukan karena pemuda itu sangat mencintainya".


" Juna mengatakan jika keputusan terserah padaku, karena aku yang akan menjalaninya. Dan setelah aku pikir-pikir, memang masih ada sisa cinta di hatiku untuk Yoga. jadi semua ini karena keinginanku sendiri. Aku tidak merasa terpaksa sama sekali, dan bukan karena Papa aku mau melakukan pernikahan ini. Meski bonusnya papa jadi tidak perlu dilaporkan ke pihak berwajib".


Ku coba untuk tersenyum lebar, agar papa tidak meragukan apa yang barusan aku katakan.


" Maaf....karena aku sudah banyak sekali berbohong pada kalian, aku tidak mau papa merasa bersalah padaku, demi kebebasan papa, dan kebaikan bersama. Mungkin keputusan ini adalah yang terbaik", batinku.


Mama langsung berterimakasih padaku dan memeluk papa juga, kami bertiga saling memeluk menguatkan hati satu sama lain.


Semoga saja keputusanku tidak salah, hanya itu yang aku harapkan.


" Sekarang mama dan papa istirahat saja, besok kan putri kalian akan menikah, jadi kalian harus tidur, biar besok badan sehat dan kuat. Raya ke ruang Yoga dulu, nemenin dia malam ini. Kalian istirahat ya", pamitku.


Aku keluar dari ruang papa di rawat, tapi tidak pergi ke ruang Yoga. Melainkan aku memilih untuk duduk di kursi yang ada di lorong rumah sakit, suasana malam hari di rumah sakit sangat sepi dan jarang orang lewat karena itu tidak masalah untuk tidur di sini.


Untuk sebagian orang mungkin suasana lorong rumah sakit yang sepi adalah hal yang sangat menyeramkan, seperti di film horor yang tiba-tiba akan melihat penampakan. Tapi aku tidak takut dengan hal seperti itu, buktinya setiap hari aku pergi ke pasar jam 3 dini hari, tidak pernah melihat yang aneh-aneh. Semoga saja aku bisa tidur nyenyak disini.