Healing

Healing
57. Dengan Caramu



" Kamu serius kan Ra akan memberitahuku tentang putra kita?, atau aku terpaksa akan membawamu ke sekolahannya agar kamu bisa mempertemukan aku dengan putraku. Aku sangat ingin melihatnya meski hanya sebentar. Aku ingin melihat seperti apa wajah putraku. Dia pasti tumbuh menjadi remaja yang tampan dan pandai, berkulit putih bersih seperti kamu, dan seperti apa matanya, mirip mataku atau mirip kamu yang seperti orang Korea?, pasti banyak yang mengidolakannya di sekolah, seperti saat aku SMP dulu....".


Bisa ku lihat seulas senyum di bibir Yoga, yang sedang membayangkan wajah putranya, ternyata dia sangat ingin bertemu dan melihat Shaka. Tapi aku merasa seperti belum ikhlas memperlihatkan seperti apa wajah Shaka padanya, aku masih belum ikhlas kalau sampai mereka berdua bertemu meski Yoga hanya sekedar berkenalan dengan Shaka sebagai temanku.


" Dari pada ke sekolahnya aku tunjukkan fotonya saja, aku yakin sebagai remaja laki-laki dia akan malu kalau kakaknya menemuinya di sekolahan".


Ku ambil ponselku dan membukanya, sudah ada beberapa pesan dari Bian yang masuk, tapi sengaja belum aku buka. Dia pasti menanyakan keberadaan ku, karena sejak tadi aku belum sampai lagi di restoran.


Sengaja ku matikan data seluler, dan ku buka galeri foto di ponselku. " Ini fotonya, cukup melihat disini kamu bisa melihat dia lebih mirip siapa, nggak usah bertemu langsung, karena hanya akan membuatnya bingung". Ku berikan ponselku dan dengan sigap Yoga mengambil nya.


Yoga memberi tanda di beberapa foto Shaka mungkin maksudnya ingin mengirimkan ke nomernya.


" Siapa namaku di kontak ponselmu?", tanya Yoga, sambil mengetikkan nomor ponselnya karena sejak tadi mencoba mengetik namanya tapi tidak ada kontak yang muncul dengan nama itu.


" Tidak ada, aku tidak menyimpan nomormu. Kalau mau kirim foto kirim saja dengan mengetik nomor kamu, nyalakan data seluler nya, habis itu matikan lagi. Bian akan segera menelepon jika kamu menyalakan data seluler terlalu lama, soalnya pesan darinya belum aku baca sejak tadi, dia pasti khawatir karena aku belum kembali-kembali ke restoran".


Yoga terlihat tersenyum sinis, " Se benci itukah kamu padaku ?, bahkan sampai nomor kontak ku tidak kamu simpan", gumam Yoga terlihat kesal, berusaha tetap berbicara dengan nada rendah, meski aku bisa melihatnya mengeratkan giginya karena marah.


" Aku tidak sedekat itu denganmu, dan untuk apa aku menyimpan nomor kamu, jika sewaktu-waktu Bian mengecek ponselku, dia akan bertanya-tanya, dari mana aku bisa mempunyai nomor kontak mu", ucapku tetap melihat kearah depan.


" Cepatlah sedikit, kalau aku online terlalu lama, pasti Bian akan segera meneleponku", ucapku sambil mengambil kembali ponselku dari Yoga.


Dan benar saja, belum semua foto Shaka terkirim ke Yoga, Bian sudah meneleponku. Bahkan dia melakukan panggilan video. Ini tidak bisa diangkat begitu saja, Bian bisa melihat aku dimana dan bersama siapa.


" Tuh kan, aku bilang juga apa, Bian telepon, buruan balik ke kantor kamu, karena aku harus cepat-cepat balik ke restoran saat ini juga", ucapku dengan suara keras dan nada kesal. Karena aku memang benar-benar kesal dengan sikap Yoga yang masih sama seperti dulu, selalu melakukan semuanya sesuka hatinya.


Yoga mengambil ponselku dan membiarkan panggilan video masuk dari Bian berakhir sendiri. Kemudian Yoga mematikan data seluler diponselku.


" Sudah aku matikan lagi, nggak berisik kan?", ucap Yoga dengan entengnya.


Namun langsung ku rampas kembali ponselku dan ku nyalakan lagi data seluler nya, jelas-jelas tadi Bian sudah mengetahui ponselku aktif, bagaimana bisa aku mematikan setelah tau dia menghubungiku, justru akan membuatnya semakin khawatir.


" Kamu ini seenak kamu sendiri, justru yang kamu lakukan akan membuat Bian makin khawatir!", ucapku ketus.


Yoga malah tersenyum jahil melihat aku semakin marah dan khawatir.


" Buruan putar balik ke kantor kamu, aku harus buru-buru kembali ke restoran sekarang juga dan... !", belum selesai aku bicara Bian kembali menghubungiku. Ya Tuhan aku harus bagaimana ini?.


" Kamu ini ribet banget, tinggal di angkat saja, terus bilang lagi di mobil ku bersamaku, akan ku antar kamu ke restoran, dan akan ku suruh karyawanku untuk mengantarkan motormu ke restoran, bilang saja ban motor nya bocor, jadi harus ditinggal di bengkel dan kamu aku antar ke restoran karena aku yang memaksa, itu sih kalau kamu setuju dengan ide dan caraku".


Yoga menyalakan mobilnya dan menancap gas menuju restoran milik Bian, SMP tempat Shaka sekolah memang kelewatan jika dari perusahaan Yoga menuju ke restoran.


Ada benarnya juga yang dikatakan Yoga, tapi itu berarti aku harus berbohong pada Bian.


" Pandai sekali kamu mencari alasan dengan berbohong, apa itu sudah jadi keahlian kamu sejak dulu?, pasti sangat mudah untuk kamu membuat kebohongan-kebohongan pada orang lain", sindir ku.


" Terserah kamu Ra.... di kasih jalan keluar malah nyindir begitu, aku nggak pernah berbohong kok, kecuali terpaksa", ucap Yoga sambil kembali terkekeh.


Aku pun mengangkat panggilan video call dari Bian.


" Ya Bi... maaf baru aku angkat", dan aku pun terpaksa berbohong kepada Bian, mengatakan persis dengan yang tadi di ajarkan Yoga. Yoga pasti tersenyum bahagia karena berhasil membuatku melakukan kebohongan untuk kedua kalinya.


Bian melihatku dengan tatapan khawatir, dan langsung berterimakasih kepada Yoga karena sudah mengantarkan aku sampai restoran, tapi berbeda dengan Riko yang menatap Yoga dengan sangat tajam dan tatapan penuh kecurigaan.


Yoga memang belum tahu jika Riko dan Haidar sudah mengetahui sedikit tentang kisah masa lalu kami. Aku yang meminta mereka berdua berpura-pura tidak tahu, hanya agar semuanya tetap berjalan seperti biasanya. Namun sepertinya kali inipun Riko mencurigai Yoga, karena tatapan Riko saat ini sangat tidak bersahabat melihat ke Yoga.


" Makasih ya bro, untung saja Raya ketemu sama kamu, jadi ada yang anterin Raya balik kesini, yuk masuk, mau sekalian makan dulu ?", tanya Bian mengajak Yoga masuk ke dalam restoran.


" Iya, aku niatnya tadi mau cari makan, eh pas lewat liat Raya lagi jalan, jadi aku suruh supirku turun dan ngajak Raya naik ke mobilku, nanti supirku yang anterin motornya ke sini kalau sudah beres".


Yoga memang tidak berbohong dengan ucapannya, dia sangat pandai mengolah kata-kata, sehingga membuat Bian berpikir, seolah motorku rusak, dan dia membantuku yang sedang tertimpa kemalangan.


Bian begitu percaya pada Yoga, beda dengan Riko yang sejak tadi terus diam dan hanya menatap Yoga dengan penuh kecurigaan.


Saat Yoga duduk dan ngobrol bersama Bian sambil menunggu makanan yang sudah dipesannya, Riko memberi kode padaku untuk bicara berdua dengannya di ruangannya. Aku menurut saja, karena tamu tidak terlalu banyak dan semua sudah di handle oleh teman-teman yang lain.


" Kenapa Ko?", aku duduk setelah Riko menyuruhku duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya.


" Ngapain Steve nganterin kamu?, aku tahu betul kondisi motor yang kamu bawa itu baik-baik saja, karena aku sendiri yang mengeceknya tadi pagi, sebenarnya apa yang terjadi Ra?, apa dia maksa kamu lagi untuk melakukan sesuatu?", tanya Riko, dia memang benar, kecurigaannya sangatlah benar.


" Aku nggak bisa cerita apapun sama kamu saat ini Ko, tapi kamu nggak perlu khawatir, semuanya baik-baik saja, aku tidak akan berubah pikiran, dan tetap akan menikah dengan Bian, karena Yoga hanyalah masa laluku", ucapku sambil berdiri dan memilih keluar dari ruangan Riko,aku tidak enak jika terlalu lama berada di dalam.


Teman-teman yang lain mengira aku dipanggil karena di tanyai Riko tentang motor bocor yang kubawa.


" Ra.... duduk sini, kasihan banget wajah kamu kusut begitu, pasti capek ya nuntun motor sambil jalan, mana cuaca di luar panas banget". Rita memintaku untuk duduk di sebelahnya. Kabar motor yang bocor sudah menyebar cepat.


" Sepertinya hari ini hari yang tidak terlalu baik deh buat kamu, dari pagi sudah datang telat, siang ban motor bocor, dan dipanggil sama manager. Nih minum dulu yang banyak, biar agak plong". Rita menyodorkan gelas berisi air putih yang masih penuh.


Ku ambil gelas itu dan langsung ku minum isinya hingga habis. Aku memang haus, meski bukan karena habis menuntun motor seperti bayangan yang lain. Tapi haus karena lelah mengikuti keinginan Yoga.


" Makasih ya Rit, kamu memang paling pengertian", ucapku sambil merapikan rambutku dan mengikatnya dengan karet yang ada di saku bajuku.


Setelah minum rasanya sangat gerah dan panas, keringat langsung mengucur di kening, di leher bahkan dalam bajuku. Aku bisa merasakan aliran keringatku yang mengucur.


" Aku dengar kamu kemarin fitting baju pengantin, apa sudah nemu yang sreg Ra?", tanya Rita.


Aku mengangguk, " Sudah dapat Rit, cuma sewa sehari, soalnya kalau mau beli sayang, mahal dan nggak kepakai lagi. Kemarin sempat debat sama Bian, tapi Bian akhirnya nurutin kemauanku", jawabku.


Saat aku dan Rita masih asyik mengobrol, Bian melambaikan tangan memintaku bergabung dengannya dan Yoga. Mereka hendak makan siang, dan Bian juga memesankan aku satu tenderloin steak, karena tahu aku belum makan.


" Maaf ya Rit, aku tinggal dulu kesana, sepertinya mas Bos mau ngasih tugas negara", gumamku sambil berjalan meninggalkan Rita yang menjawab dengan mengangguk sambil masih duduk santai.


" Makan dulu bareng kita, ini Steve yang bayarin makanan kita katanya, habis dapat untung gede menang tender", ucap Bian dengan bangganya memuji Steve.


Menang tender apanya?, menang tender dariku, karena berhasil memaksaku mengirim foto Shaka dan mengajakku semobil dengannya. Begitu pandai dia berbohong.


Namun terpaksa aku berterimakasih padanya, karena sudah di traktir makan steak siang-siang begini, Riko juga bergabung bersama kami, sengaja duduk di kursi yang ada di antara aku dan Yoga, agar aku dan Yoga tidak duduk berdekatan. Setidaknya ada Riko yang menjadi penyekat.


" Menang tender apaan sih Steve?, sepertinya semakin dekat waktu pernikahan kamu dan Utari, kamu jadi makin banyak memenangkan proyek, sepertinya si Utari membawa keberuntungan dalam hidupmu", ucap Riko sengaja membahas Utari, memancing reaksi Yoga.


" Bukan karena itu aku beruntung akhir-akhir ini, tapi karena aku sudah bertemu dengan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku, aku jadi lebih semangat lagi untuk melakukan yang terbaik, dan menjadi lebih sukses dari kemarin-kemarin", ucap Yoga sangat mantap.