
Jadi selama ini Yoga masih mengingat keinginanku, aku jadi terharu mendengar cerita Bian tentang Yoga yang masih mengingat apa keinginanku dulu.
Sudah sangat lama aku mengatakan hal itu, tapi Yoga masih terus mengingatnya, bahkan kata Haidar dan Riko, Yoga selalu seperti ini tiap kali mengikuti pendakian, memisahkan diri dan menatap bintang-bintang, bahkan sering mengambil gambar-gambar bintang yang bertaburan itu untuk di tunjukkan pada cinta pertamanya saat bertemu suatu hari nanti.
Kami sudah bertemu, bahkan berkali-kali bertemu, tapi sampai sekarang Yoga tidak pernah menunjukkan foto-foto bintang itu padaku. Atau karena aku yang selalu berusaha menghindar darinya tiap kali kami bertemu, jadi dia tidak mempunyai kesempatan untuk menunjukkan semua itu padaku.
" Cukup Raya... kamu tidak boleh terlarut dengan kisah konyol di masa lalumu. Dibelakang mu ada Bian, laki-laki paling tepat yang akan menjadi suamimu sebentar lagi. Kamu tidak boleh memikirkan laki-laki lain, apalagi laki-laki yang sudah pernah menyakitimu, laki-laki yang menjadi penyebab hancurnya hidupmu", ucapku dalam hati.
Aku tidak boleh menjadi perempuan yang tidak berpendirian, dan mudah terpengaruh seperti ini. Aku harus terus mengingat bagaimana kesedihan, hinaan dan cacian yang aku dapatkan akibat perbuatannya dulu.
Harusnya sudah tidak ada sedikitpun sisa cinta di dalam hati ini. Karena semua cinta konyol itu sudah terkubur bersama dengan kenangan buruk yang tidak perlu di ingat lagi.
" Kenapa malah pada diam begitu?, apa kalian berdua masih kedinginan meski sudah berpelukan seperti itu?". Haidar menambahkan kayu bakar yang di bawa Yoga. Ternyata Yoga sudah kembali dengan membawa kayu bakar untuk ditambahkan di api unggun.
" Nggak kok, aku sudah nggak kedinginan", jawabku cepat.
" Sudah ngambil gambar bintang-bintang lagi Steve?, coba aku lihat hasilnya, bagus apa nggak?", Bian meminta ponsel Yoga, dan langsung diserahkan begitu saja oleh Yoga.
Benar sekali Yoga mengambil begitu banyak foto bintang di langit. Semuanya begitu indah dan menakjubkan. Bian terus menggeser foto di galeri ponselnya Yoga. Dan.... lihatlah, benar dugaan ku , tadi sore saat senja Yoga mengambil beberapa fotoku yang sedang berselfy dengan Utari.
" Lihatlah sahabat kita ini, seolah acuh pada Utari, tapi diam-diam kamu mengambil fotonya. Dasar sok jaim", ucap Bian sengaja menggoda Yoga, namun Yoga buru-buru mengambil HP nya kembali dari tangan Bian.
" Sudah mulai jatuh cinta kamu sama Utari?, seharusnya sih sudah... kan Utari cantik, dia juga baik banget, sampai di bela-belain ikutan naik gunung, demi bisa bersama calon suami tercinta, kurang apa lagi coba, kalau kamu nggak mau sama Utari, aku gantiin kamu buat ijab qobul besok juga nggak masalah", canda Haidar.
Namun langsung mendapatkan toyoran di kepalanya oleh Riko. " Jangan ngomong hal-hal aneh di gunung, banyak makhluk kasat mata yang ikut mendengarkan, nanti kalau diamini bagaimana?"
" Sori sori, aku cuma bercanda, jangan diambil hati begitu dong Ko... Steve saja tidak protes, kok kamu malah yang protes begitu". Haidar menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Kalau mau begitu aku nggak masalah, tapi Utarinya mau apa nggak sama kamu?", gumam Yoga.
" Iya betul, Utari nggak bakalan mau sama Haidar yang suka genit kalau lihat cewek bening dikit. Utari kan sukanya sama tipe cowok yang dingin, pendiam, dan kalem kayak Steve, model kaleng rombeng yang banyak bicara kayak Haidar mana tertarik si Utari", Riko makin menjadi mengejek Haidar.
" Ye... sembarangan kamu, yang kaya Utari nggak mau, ya nyari yang model lain, kayak nggak ada cewek lain saja, lagian populasi cowok dan cewek di dunia ini kan 1 dibanding 7, sebagai cowok, kita itu nggak perlu khawatir nggak bakalan dapet pasangan, karena sesuai perhitungan, satu cowok bisa dapat 7 cewek, hehehe". Haidar terkekeh sendiri, mungkin dia sedang membayangkan di kelilingi 7 bidadari cantik.
" Nggak usah kebanyakan ngayal, satu saja belum dapat, mau nyari 7", ujar Riko.
Bian hanya tertawa mendengar kedua sahabatnya saling bercanda dan mengejek. Begitulah mereka jika berkumpul, asyik dengan dunia penuh canda dan tawa. Melupakan pekerjaan dan kelelahan dari rutinitas hidup yang melelahkan.
" Kalian berdua harusnya buruan nyari calon, jangan terlalu tua, takutnya keburu karatan itu 'milik kalian' kalau nggak diasah-asah", ujar Bian. Aku yang mendengarnya hanya menepuk paha Bian, karena dia mulai bicara ke hal yang menjurus.
" Tuh kan... Bian begitu sih ngomongnya, gimana kita jadi nggak berprasangka baik, kalau kalian berdua pasti sudah pernah berhubungan ranjang ya kan Ko?", Haidar langsung meminta persetujuan Riko yang duduk disebelahnya.
Dan Riko langsung setuju dengan mengangguk cepat.
" Berhubungan ranjang bagaimana, jangan ngaco kalian, nanti sebulan lagi baru aku ceritain bagaimana itu berhubungan ranjang, oke?", ucap Bian sengaja menggoda teman-temannya.
Aku melihat Yoga hanya diam tak ikut berkomentar. Matanya terus menatap ke arahku yang sejak tadi diam tak ikut bersuara. Matanya seolah ingin menyampaikan sesuatu, tapi tidak bisa diungkapkannya karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan.
" Sudah makin malam, aku tidur duluan ya Bi..., bukankah besok pagi-pagi sekali kita harus melanjutkan perjalanan menuju ke puncak Rinjani?", ucapku sambil melepas rengkuhan tangan Bian yang sejak tadi melingkar di tubuhku.
" Apa sudah ngantuk?, ya sudah kalau memang sudah ngantuk, tidur saja dulu, kalau ada apa-apa atau butuh apa-apa kamu ke tenda yang itu saja, aku dan Steve tidur di sebelah tenda kalian".
Aku mengangguk mendengar penjelasan Bian, aku ingin meluruskan kakiku di dalam tenda, ternyata perjalanan naik gunung membuat kakiku mulai merasa pegal.
Setelah masuk ke tenda, ku rebahkan tubuhku di samping Utari yang sudah tidur dengan pulas, tapi masih menggenggam ponselnya.
Aku melihat layar ponselnya masih menyala karena tersentuh jempol tangannya sejak tadi. Ku ambil ponsel Utari dan saat akan ku letakkan, aku tak sengaja melihat pesan WhatsApp yang memang sudah terbuka di layar ponsel.
Chat Utari pada Yoga yang menanyakan dimana keberadaannya. Berarti tadi saat masuk Utari tidak langsung tidur, melainkan mengirim pesan pada Yoga dan menanyakan dimana keberadaannya. Dan ternyata bukan hanya di dunia nyata, di obrolan chat pun Yoga begitu singkat menjawab pertanyaan Utari yang sangat panjang.
Kalau tadi Utari belum tidur, berarti dia juga mendengar tentang kebiasaan Yoga yang memisahkan diri demi menatap bintang dan mengambil foto-foto bintang karena teringat padaku.... cinta pertamanya. Maafkan aku Utari, meski kamu tidak tahu siapa orang itu, cinta pertama Yoga, tapi aku tahu dan aku harus tetap minta maaf kepadamu.
Ku rebahkan tubuhku di samping Utari dan mulai ku pejamkan mataku.
Tengah malam, aku terbangun karena aku kebelet buang air kecil. Tapi di pegunungan seperti ini mau buang air kecil dimana?, aku teringat tadi Yoga juga sudah buang air kecil, mungkinkah sekitar sini ada toilet umum?.
Aku keluar dari tenda dan menuju tenda Bian dan Yoga. Di luar sudah sepi, semua orang sudah tidur di dalam tenda. Seketika aku merasa merinding dan takut berjalan sendiri.
" Bian...Bi....", aku memanggil Bian dari luar tenda, berusaha membangunkan. Tapi justru yang keluar adalah Yoga.
" Kenapa malam-malam begini keluar?, Bian baru saja tidur, dia akan pusing jika dibangunkan", ucap Yoga.
Sebenarnya aku ingin Bian yang menemaniku, tapi mau bagaimana lagi, aku sudah tidak tahan menahan hasrat ingin pipis. Tidak apalah Yoga yang menemani, dari pada ngompol.
" Aku pengen buang air kecil, tapi dimana bisa melakukannya di tempat seperti ini?", tanyaku sambil menyilangkan kakiku karena merasa sudah tidak tahan ingin segera ke toilet atau kamar mandi.
" Ikuti aku, akan ku antarkan kamu ke tempat yang biasa digunakan untuk buang air", ucap Yoga, sambil menutup tenda yang ditempati nya, setelah mengambil botol air mineral yang masih penuh, dan aku berjalan mengikuti Yoga dengan pelan, karena aku benar-benar sudah tidak tahan.
" Cepatlah sedikit, tempatnya agak jauh, kalau kamu jalan pelan begitu nanti keburu keluar dijalan", ucap Yoga.
" Tapi aku tidak bisa melangkah cepat seperti kamu, ini sudah nggak tahan", ucapku dengan suara sedikit gemetar.
Yoga tiba-tiba memutar badan dan menggendong tubuhku dengan begitu mudah, " Tidak usah teriak, aku hanya ingin membantumu agar cepat sampai", ucap Yoga sambil menggotong tubuhku menuju tempat yang biasa digunakan untuk buang air kecil.
Awalnya aku ingin protes, tapi benar yang dikatakan Yoga, lebih cepat sampai, aku jadi cepat lega.
" Sudah... disini tempatnya, kalau sudah selesai panggil aku", ucap Yoga saat menurunkan aku di antara semak-semak rimbun yang sangat gelap.
" Gunakan ini untuk membersihkan", Yoga memberikan botol air mineral yang tadi dibawanya, kemudian dia berjalan menjauh dari posisiku.
" Kamu, jangan terlalu jauh, sudah disitu saja!", seruku, yang merasa takut ditinggal sendiri ditengah semak-semak rimbun yang gelap.
Yoga benar-benar berhenti di tempat nya berdiri, setelah merasa lega karena sudah bung air kecil. Aku kembali berdiri dan berjalan menuju tempat dimana Yoga berdiri.
" Ini, botol milikmu, terimakasih", ucapku dengan suara datar. " Apa sekarang kita bisa kembali ke tenda?", aku melihat cahaya temaram cukup jauh dari sisa api unggun yang masih menyala. Berarti disanalah tenda berada.
" Apa kamu tidak ingin mewujudkan keinginan kamu di masa lalu?. aku tahu dimana titik paling bagus untuk melihat bintang-bintang itu, mau aku tunjukkan?", Yoga menawarkan untuk menemaniku melihat bintang.
Sebenarnya jika aku setuju, berarti aku sudah berhasil mewujudkan mimpiku di masa lalu. Tapi aku yang sekarang bukanlah aku yang dahulu. Apa pantas aku pergi bersama Yoga melihat bintang, sementara kami berdua sama-sama sudah bertunangan dengan orang lain.
" Sekarang keadaannya sudah berbeda Ga, aku tidak bisa mengikutimu ke tempat itu. Sebaiknya kita kembali ke tenda, sebelum ada orang lain yang terbangun dan menyadari kamu dan aku tidak ada di tenda", ucapku menolak ajakan Yoga.
" Tidak ada yang akan terbangun, mereka bertiga baru saja tidur, lagian tempat yang ingin ku tunjukkan padamu tidak terlalu jauh dari sini, ayolah Ra... aku tahu kamu akan sangat menyukai tempat itu. Kali ini saja, turuti keinginan ku, mungkin ini kesempatan pertama dan terakhir Akita bersama-sama disini", pinta Yoga dengan sedikit memohon.
" Baiklah kita ke tempat yang kamu katakan tadi, tapi nggak lama", ucapku sambil berjalan mengikuti Yoga yang menjadi penunjuk jalan.
Benar, tempatnya tidak jauh dari lokasi tadi, diatas batu besar yang ada di dekat tebing. Hampir semua bintang menampakkan diri malam ini. " Tapi bagaimana aku mengabadikan keindahan ini, aku tidak bawa ponsel, ponselku di tenda", gumamku
Ckrek.... ckrek....
Yoga mengambil beberapa fotoku dengan latar langit bertabur bintang yang sangat indah.
" Sudah aku abadikan, nanti aku kirimkan padamu", ucap Yoga.
Sejak kapan Yoga punya nomerku?, bukankah tadi dia bilang akan mengirim foto itu padaku?.